17
LAPORAN PENDAHULUAN ABSES MANDIBULA A. PENGERTIAN Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi akibat atau infeksi bakteri. (www.,medicastore.com,2004) Abses adalah infeksi kulit dan subkutis dengan gejala berupa kantong berisi nanah. (Siregar, 2004). Sedangkan abses mandibula adalah abses yang terjadi di mandibula. Abses dapat terbentuk di ruang submandibula atau salah satu komponennya sebagai kelanjutan infeksi dari daerah leher. (Smeltzer dan Bare, 2001) B. PENYEBAB Menurut Siregar (2004) suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui beberapa cara antara lain : 1. Bakteri masuk kebawah kuit akibat luka yang berasal dari tusukan jarum yang tidak steril

134379700 Laporan Pendahuluan Abses Kelp Pandan Arang

Embed Size (px)

DESCRIPTION

trauma tumpul abdomen

Citation preview

Page 1: 134379700 Laporan Pendahuluan Abses Kelp Pandan Arang

LAPORAN PENDAHULUAN

ABSES MANDIBULA

A. PENGERTIAN

Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi akibat atau

infeksi bakteri. (www.,medicastore.com,2004)

Abses adalah infeksi kulit dan subkutis dengan gejala berupa kantong

berisi nanah. (Siregar, 2004).

Sedangkan abses mandibula adalah abses yang terjadi di mandibula.

Abses dapat terbentuk di ruang submandibula atau salah satu komponennya

sebagai kelanjutan infeksi dari daerah leher. (Smeltzer dan Bare, 2001)

B. PENYEBAB

Menurut Siregar (2004) suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses

melalui beberapa cara antara lain :

1. Bakteri masuk kebawah kuit akibat luka yang berasal dari tusukan jarum yang

tidak steril

2. Bakteri menyebar dari suatu infeksi dibagian tubuh yang lain

3. Bakteri yang dalam keadaan normal hidup di dalam tubuh manusia dan tidak

menimbulkan gangguan, kadang bisa menyebabkan terbentuknya abses.

Lebih lanjut Siregar (2004) menjelaskan peluang terbentuknya suatu abses akan

meningkat jika :

1. Terdapat kotoran atau benda asing di daerah tempat terjadinya infeksi

Page 2: 134379700 Laporan Pendahuluan Abses Kelp Pandan Arang

2. Darah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang kurang

3. Terdapat gangguan sisitem kekebalan.

Menurut Hardjatmo Tjokro Negoro, PHD dan Hendra Utama, (2001),

abses mandibula sering disebabkan oleh infeksi didaerah rongga mulut atau gigi.

Peradangan ini menyebabkan adanya pembengkakan didaerah submandibula yang

pada perabaan sangat keras biasanya tidak teraba adanya fluktuasi. Sering

mendorong lidah keatas dan kebelakang dapat menyebabkan trismus. Hal ini

sering menyebabkan sumbatan jalan napas. Bila ada tanda-tanda sumbatan jalan

napas maka jalan napas harus segera dilakukan trakceostomi yang dilanjutkan

dengan insisi digaris tengah dan eksplorasi dilakukan secara tumpul untuk

mengeluarkan nanah. Bila tidak ada tanda- tanda sumbatan jalan napas dapat

segera dilakukan eksplorasi tidak ditemukan nanah, kelainan ini disebutkan

Angina ludoviva (Selulitis submandibula). Setelah dilakukan eksplorasi diberikan

antibiotika dsis tinggi untuk kuman aerob dan anaerob. Abses bisa terbentuk

diseluruh bagian tubuh, termasuk paru-paru, mulut, rektum, dan otot. Abses yang

sering ditemukan didalam kulit atau tepat dibawah kulit terutama jika timbul

diwajah.

C. PATOFISIOLOGI

Jika bakteri menyusup kedalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi

infeksi. Sebagian sel mati dan hancur, meninggalakan rongga yang berisi jaringan

dan se-sel yang terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh

dalam melawan infeksi, bergerak kedalam rongga tersebut, dan setelah menelan

Page 3: 134379700 Laporan Pendahuluan Abses Kelp Pandan Arang

bakteri. Sel darah putih akan mati, sel darah putih yang mati inilah yang

membentuk nanah yang mengisi rongga tersebut. Akibat penimbunan nanah ini,

maka jaringan disekitarnya akan terdorong jaringan pada akhirnya tumbuh di

sekeliling abses dan menjadi dinding pembatas. Abses hal ini merupakan

mekanisme tubuh mencepai penyebaran infeksi lebih lanjut jka suatu abses pecah

di dalam tubuh maka infeksi bisa menyebar kedalam tubuh maupun dibawah

permukaan kulit, tergantung kepada lokasi abses .(www.medicastre.com.2004).

Pathway (Hardjatmo Tjokro Negoro, PHD dan Hendra Utama, 2001)

Page 4: 134379700 Laporan Pendahuluan Abses Kelp Pandan Arang

PATHWAY

Bakteri Staphylococcus aureus

Menginvasi jaringan sehat

Infeksi

Kematian sel

Pelepasan Sitokin

Meninggalkan rongga berisi

jaringan & sel mati

Akumulasi pus dalam rongga

Mendorong jaringan sekitarnya

Terbentuk dinding oleh sel-sel sehat

ABSES

Memicu inflamasi

Menarik kedatangan leukosit

Leukosit melawan infeksi

Kematian leukosit

Hipotalamus

P↑ suhu tubuh

Gangguan rasa nyaman

Kerusakan integritas jaringan kulit

Nyeri

Sensi nyeri

Nyeri telan

Anoreksia

P↓ intake nutrisi

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan

Penurunan produksi energi

Kelemahan

Intoleransi aktivitas

Page 5: 134379700 Laporan Pendahuluan Abses Kelp Pandan Arang

C. TANDA DAN GEJALA

Menurut Smeltzer dan Bare (2001), gejala dari abses tergantung kepada lokasi dan

pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ saraf. Gejalanya bisa berupa :

1. Nyeri 

2. Nyeri tekan

3. Teraba hangat

4. Pembengakakan

5. Kemerahan

6. Demam 

Suatu abses yang terbentuk tepat dibawah kulit biasanya tampak sebagi

benjolan. Adapun lokasi abses antar lain ketiak, telinga, dan tungkai bawah. Jika

abses akan pecah, maka daerah pusat benjolan akan lebih putih karena kulit

diatasnya menipis. Suatu abses di dalam tubuh, sebelum menimbulkan gejala

seringkali terlebih tumbuh lebih besar. Abses dalam lebih mungkin menyebarkan

infeksi keseluruh tubuh. Adapun tanda dan gejala abses mandibula adalah nyeri

leher disertai pembengkakan di bawah mandibula dan di bawah lidah, mungkin

berfluktuasi.

D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Menurut Siregar (2004), abses dikulit atau dibawah kulit sangat mudah

dikenali. Sedangkan abses dalam sering kali sulit ditemukan. Pada penderita abses,

biasanya pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih.

Page 6: 134379700 Laporan Pendahuluan Abses Kelp Pandan Arang

Untuk menetukan ukuran dan lokasi abses dalam biasanya dilakukan pemeriksaan

rontgen,USG, CT, Scan, atau MRI.

E. PENGOBATAN

Menurut FKUI (1990), antibiotika dosis tinggi terhadap kuman aerob dan

anaerob harus diberikan secara parentral. Evaluasi abses dapat dilakukan dalam

anaksi lokal untuk abses yang dangkal dan teriokalisasi atau eksplorasi dalam

narkosis bila letak abses dalam dan luas. Insisi dibuat pada tempat yang paling

berfluktuasi atau setinggi tiroid, tergantung letak dan luas abses. Pasien dirawat

inap sampai 1-2 hari gejala dan tanda infeksi reda. Suatu abses seringkali membaik

tanpa pengobatan, abses akan pecah dengan sendirinya dan mengeluarkan

isinya.kadang abses menghilang secara perlahan karena tubuh menghancurkan.

infeksi yang terjadi dan menyerap sisa-sisa infeksi, abses pecah dan bisa

meninggalkan benjolan yang keras. Untuk meringankan nyeri dan mempercepat

penyembuhan, suatu abses bisa ditusuk dan dikeluarkan isinya. Suatu abses tidak

memiliki aliran darah, sehingga pemberian antibiotik biasanya sia-sia Antibiotik

biasanya diberikan setelah abses mengering dan hal ini dilakukan untuk mencegah

kekambuhan. Antibiotik juga diberikan jika abses menyebarkan infeksi kebagian

tubuh lainnya.

Page 7: 134379700 Laporan Pendahuluan Abses Kelp Pandan Arang

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

1. Identitas Pasien

Identitas klien Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama,

suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, alamat, dan nomor register.

2. Riwayat Keperawatan

Riwayat Kesehatan saat ini : keluhan nyeri pada luka post operasi

apendektomi, mual muntah, peningkatan suhu tubuh, peningkatan leukosit.

Riwayat Kesehatan masa lalu

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Menurut T. Heather Herdman, et.al (2007), diagnosa keperawatan yaitu :

1. Nyeri Akut yang berhubungan dengan agen injuri biologi

2. Hipertermi yang berhubungan dengan proses penyakit

3. Kerusakan Integritas kulit yang berhubungan dengan trauma mekanik.

4. Cemas yang berhubungan dengan terdiagnose kanker serviks sekunder

kurangnya pengetahuan tentang kaker serviks, penanganan dan prognosenya.

5. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan nafsu

makan.

Page 8: 134379700 Laporan Pendahuluan Abses Kelp Pandan Arang

C. RENCANA KEPERAWATAN

1. Nyeri Akut yang berhubungan dengan Agen Injury Biologi

a. Tujuan 

Level nyaman.

b. Kriteria hasil :

1. Melaporkan secara fisik sehat 

2. Meloporkan puas dapat mengontrol gejala 

3. Mengekspresikan puas dengan fisiknya 

4. Mengekspresikan kepuasan dengan berhubungan Sosial 

5. Mengekspresikan kepuasan secara spiritual 

6. Melaporkan puas dengan kemandiriannya 

7. Melaporkan puas dengan kontrol nyeri

c. Intervensi

1. Manajemen Nyeri

a) Kaji nyeri secara komprehensif meliputi lokasi, karakteristik durasi,

frekuensi, dan faktor presipitasi.

b) Observasi reaksi non verbal dari ketidak nyamanan

c) Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan

d) Berikan analgesik untuk mengurangi nyeri, kolabrasi dengan dokter

jika ada komplai dan tindakan nyeri yang tidak berhenti

e) Ajarkan teknik non farmakologi, lbiotedback, leahsasi, distraksi,

anagenh administrasi

Page 9: 134379700 Laporan Pendahuluan Abses Kelp Pandan Arang

f) Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas dan derajat nyeri sebelum

obat 

g) Cek riwayat alergi

h) Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama

kali

i) Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat sesuai

program

j) Evaluasi efektifitas analgesik tanda dan gejala efek samping

k) Laksanakan terapi dokter untuk pemberian obat

2. Hipertermi yang berhubungan dengan proses penyakit

a. Tujuan : 

Status termoregulasi 

b. Kriteria hasil :

1. Suhu tubuh dalam batas normal 

2. Perubahan warna kulit 

3. Tidak ada kegelisahan kelelahan 

4. Perubahan dalam batas normal 

5. Tidak ada ditensi pernapasan 

c. Intervensi

1) Menangani panas

a) Monitor temperatur tiap 8 jam 

b) Monitor warna kulit dan temperatur tiap 8 jam

Page 10: 134379700 Laporan Pendahuluan Abses Kelp Pandan Arang

c) Monitor TTV tiap 8 jam

d) Tingkatkan pemasukan cairan melalui mulut

2) Pengaturan suhu

a) Monitor suhu paling sedikit 2 hari sesuai kebutuhan

b) Monitor temperatur baru sampai stabil

c) Monitor gejala hipertermi

d) Monitor TTV 

e) kolaborasi dalam pemberian antipiretik

f) Atur suhu lingkungan sesuai kebtuhan pasien

g) Berikan pemasukan nutrisi dan cairan yang adekuat.

3. Kerusakan Integritas kulit yang berhubungan dengan trauma mekanik

a. Tujuan 

Integritas kulit dan jaringan yang normal setelah dilakukan perawatan

b. Kriteria hasil : 

1. Temperatur jaringan dalam batas normal

2. Sensasi  

3. Elastisitas jaringan bagus

4. hidrasi  

5. Respiasi bagus

6. warna sama dengan warna kulit

7. ketebalan bagus

8. keutuhan kulit 

Page 11: 134379700 Laporan Pendahuluan Abses Kelp Pandan Arang

c. Intervensi

1) Perawatan luka 

a) Catat karakteristik luka

b) Catat karakteristik drainese

c) Gunakan saleb kulit

d) Pakaikan pakaian yang longgar

e) Gunakan prinsip steril untuk perawatan luka

f) Ajarkan keluarga dan pasien prosedur perawatan luka

4. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan nafsu

makan.

a. Tujuan :

- Setelah dilakukan perawatan kebutuhan nutrisi klien akan terpenuhi

b. Kriteria hasil :

- Tidak terjadi penurunan berat badan

- Porsi makan yang disediakan habis.

- Keluhan mual dan muntah kurang

c. Intervensi :

- Jelaskan tentang pentingnya nutrisi untuk penyembuhan

- Berika makan TKTP

- Anjurkan makan sedikit tapi sering

- Jaga lingkungan pada saat makan

- Pasang NGT jika perlu

- Beri Nutrisi parenteral jika perlu.

Page 12: 134379700 Laporan Pendahuluan Abses Kelp Pandan Arang

DAFTAR PUSTAKA

1. (Smeltzer dan Bare, 2001) Askep Medikal Bedah, Volume 2, EGC, Jakarta.

2. T. Heather Herdman, et.al (2007), Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, EGC, 2000,

Jakarta.

3. Johnson, Marion Meridean Maas dan Sue Moorhead, ed (2000)

4. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi III, EGC, 2000, Jakarta.

5. Hardjatmo Tjokro Negoro, PHD dan Hendra Utama, (2001),Buku saku

Patofisiologi, EGC, Jakarta.

6. (Joane C, Mc.Closkey, 1996) Keperawatan Medikal Bedah (Pendekatan

Gastrointestinal), EGC, Jakarta.