of 59 /59
12 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1. Hikayat Hikayat berasal dari India dan Arab, berisikan cerita kehidupan para dewi, peri, pangeran, putri kerajaan, serta raja-raja yang memiliki kekuatan gaib. Kesaktian dan kekuatan luar biasa yang dimiliki seseorang, yang diceritakan dalam hikayat kadang tidak masuk akal. Namun dalam hikayat banyak mengambil tokoh-tokoh dalam sejarah. Dan salah satu bentuk sastra karya prosa lama yang isinya berupa cerita, kisah, dongeng maupun sejarah. Umumnya mengisahkan tentang kephalawanan seseorang, lengkap dengan keanehan, kekuatan/ kesaktian, dan mukjizat sang tokoh utama. Ciri - ciri hikayat ada adalah sebagai berikut ini: 1. Berisi kisah - kisah kehidupan lingkungan istana (istana sentris) 2. Banyak peristiwa yang berhubungan dengan nilai - nilai Islam 3. Nama nama tokoh dipengaruhi oleh nama - nama Arab 4. Ditemukan tokoh dengan karakter diluar batas kewajaran karakter manusia pada umumnya 5. Tidak ada`pembagian bab atau judul 6. Juru cerita tidak pernah disebuntak secara eksplisit (anonim) 7. Sulit membedakan peristiwa yang nyata dan peristiwa yang imajinatif 8. Banyak menggunakan kosakata yang kini tidak lazim digunakan dalam komunikasi sehari hari

12 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1. Hikayat

Embed Size (px)

Text of 12 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1. Hikayat

  • 12

    BAB IIKAJIAN PUSTAKA

    2.1 Kajian Pustaka

    2.1.1. Hikayat

    Hikayat berasal dari India dan Arab, berisikan cerita kehidupan para

    dewi, peri, pangeran, putri kerajaan, serta raja-raja yang memiliki kekuatan

    gaib. Kesaktian dan kekuatan luar biasa yang dimiliki seseorang, yang

    diceritakan dalam hikayat kadang tidak masuk akal. Namun dalam hikayat

    banyak mengambil tokoh-tokoh dalam sejarah. Dan salah satu bentuk sastra

    karya prosa lama yang isinya berupa cerita, kisah, dongeng maupun sejarah.

    Umumnya mengisahkan tentang kephalawanan seseorang, lengkap dengan

    keanehan, kekuatan/ kesaktian, dan mukjizat sang tokoh utama. Ciri - ciri

    hikayat ada adalah sebagai berikut ini:

    1. Berisi kisah - kisah kehidupan lingkungan istana (istana sentris)

    2. Banyak peristiwa yang berhubungan dengan nilai - nilai Islam

    3. Nama nama tokoh dipengaruhi oleh nama - nama Arab

    4. Ditemukan tokoh dengan karakter diluar batas kewajaran karakter

    manusia pada umumnya

    5. Tidak ada`pembagian bab atau judul

    6. Juru cerita tidak pernah disebuntak secara eksplisit (anonim)

    7. Sulit membedakan peristiwa yang nyata dan peristiwa yang imajinatif

    8. Banyak menggunakan kosakata yang kini tidak lazim digunakan dalam

    komunikasi sehari hari

  • 13

    9. Seringkali menggunakan pernyataan yang berulang ulang

    10. Peristiwa seringkali tidak logis

    11. Sulit memahami jalan ceritanya

    12. Bersifat istana centris

    13. Anonim (nama pengarang tidak di cantumkan)

    14. Berkembang secara stetis

    15. Bersifat imajinatif, hanya bersifat khayal

    16. Lisan, karena di sebarkan lewat mulut ke mulut

    17. Berbahasa klise, meniru bahasa penutur sebelumnya

    18. Bersifat logis

    Hikayat mencakup istilah sejarah, mistik, satire, alegori dan lain-lain.

    Dalam The Encyclopedia of Islam dinyatakan Gibb et all. , (1965) sebagai

    berikut:

    Hikayat is regarded here as referring in classical Persian literature tothe short prose story which cannot be said to form a true literary genrein Persian tradition, since hikayat are inserted in many other types ofliterary composition (history, mystic, writings, satire, ect. ) in additionto the collection of hikayat properly so called.

    Adapun unsur-unsur dalam Hikayat yaitu :

    1. Unsur Intrinsik

    a) Tema dan Amanat

    Tema ialah persoalan yang menduduki tempat utama dalam karya

    sastra. Tema mayor ialah tema yang sangat menonjol dan menjadi

    persoalan. Tema minor ialah tema yang tidak menonjol.

  • 14

    Amanat ialah pemecahan yang diberikan oleh pengarang bagi persoalan

    di dalam karya sastra. Amanat biasa disebut makna. Makna dibedakan

    menjadi makna niatan dan makna muatan. Makna niatan ialah makna

    yang diniatkan oleh pengarang bagi karya sastra yang ditulisnya.

    Makna muatan ialah makana yang termuat dalam karya sastra tersebut.

    b) Tokoh dan Penokohan

    Tokoh ialah pelaku dalam karya sastra. Dalam karya sastra biasanya

    ada beberapa tokoh, namun biasanya hanya ada satu tokoh utama.

    Tokoh utama ialah tokoh yang sangat penting dalam mengambil

    peranan dalam karya sastra.

    Penokohan atau perwatakan ialah teknik atau cara-cara menampilkan

    tokoh. Ada beberapa cara menampilkan tokoh. Cara analitik, ialah cara

    penampilan tokoh secara langsung melalui uraian pengarang. Jadi

    pengarang menguraikan ciri-ciri tokoh tersebut secara langsung.

    c) Alur dan Pengaluran

    Alur disebut juga plot, yaitu rangkaian peristiwa yang memiliki

    hubungan sebab akibat sehingga menjadi satu kesatuan yang padu bulat

    dan utuh.

    Pengaluran, yaitu teknik atau cara-cara menampilkan alur. Menurut

    kualitasnya, pengaluran dibedakan menjadi alur erat dan alur longggar.

    Alur erat ialah alur yang tidak memungkinkan adanya pencabangan

    cerita. Alur longgar adalah alur yang memungkinkan adanya

    pencabangan cerita.

  • 15

    Alur lurus ialah alur yang melukiskan peristiwa-peristiwa berurutan

    dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus ialah alur yang

    melukiskan tidak urut dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus

    bisa menggunakan gerak balik (backtracking), sorot balik (flashback),

    atau campuran keduanya.

    d) Latar dan Pelataran

    Latar disebut juga setting, yaitu tempat atau waktu terjadinya peristiwa-

    peristiwa yang terjadi dalam sebuah karya sastra. Latar atau setting

    dibedakan menjadi latar material dan sosial, sedangkan pelataran ialah

    teknik atau cara-cara menampilkan latar.

    e) Pusat Pengisahan

    Pusat pengisahan ialah dari mana suatu cerita dikisahkan oleh pencerita.

    Pencerita di sini adalah pribadi yang diciptakan pengarang untuk

    menyampaikan cerita.

    2. Unsur Ekstrinsik

    Unsur ekstrinsik ialah unsur yang membentuk karya sastra dari luar

    sastra itu sendiri. Untuk melakukan pendekatan terhadap unsur ekstrinsik,

    diperlukan bantuan ilmu-ilmu kerabat seperti sosiologi, psikologi, filsafat,

    dan lain-lain.

    Walaupun istilah hikayat awalnya berasal dari India dan Arab, tetapi

    dengan perkembangan bentuk di Nusantara (tanah Melayu), maka hikayat

    mempunyai hakikat yang berbeda karena cerita-cerita yang digunakan dalam

    hikayat seperti cerita narasi atau sejarah misalnya dalam sastra Melayu dikenal

  • 16

    Hikayat raja-raja Pasai, Hikayat Siak, Tradisi Lisan, Hikayat Malin Demen,

    hikayat yang berunsur Islam seperti Hikayat Nabi Yusuf, bahkan cerita

    autobiografi seperti Hikayat Abdullah. Hikayat Abdullah/ The life of

    Abdullah adalah autobiografi dari Abdullah, anak dari seorang juru tulis

    Melayu yang terhormat. Ia pernah ditugaskan oleh Pemerintahan Belanda di

    Batavia untuk menjelajahi negri-negri Melayu di gugusan pulau Nusantara

    dengan tujuan mengumpulkan naskah-naskah Melayu. Ia seorang anak Melaka;

    raut mukanya Arab. Ia memiliki daya pikir yang tangguh serta pengetahuan

    mengenai bahasa ibundanya yang amat terperinci dan luas. Selama kira-kira

    tiga puluh tahun yang lalu, ia mengabdi kepada orang Eropa sebagai guru

    bahasa Melayu. Sir Stamford Raffles, Crawfurd, Dr. Morrison, Dr. Milne dan

    beberapa orang terkemuka lainnya pernah menjadi muridnya. Salah seorang

    missionaris yang memainkan peran dalam karir Abdullah mengusulkan

    kepadanya supaya ia menulis riwayat hidupnya sendiri, ia enggan karena

    katanya, ia bukan orang yang terkenal, apalagi hidupnya tidak diwarnai

    peristiwa yang penting. Missionaris tersebut menjawab bahwa orang Eropa

    akan sangat tertarik minatnya pada sebuah buku yang berisi segala sesuatu

    yang dapat diingatnya mengenai raja-raja Melayu, haji-haji tua yang pulang

    dari Mekah, cerita Melayu lama, adat, prasangka dan bias-bias, ketakhayulan,

    pembajakan di laut, malah hal apa saja tentang orang Melayu. Tidak lama

    kemudian Abdullah mulai menulis riwayat mengenai ayahnya, peristiwa

    semasa kecil, bagaimana ia berkenalan dengan Dr. Milne, dan sebagainya. Ia

    segera menjadi asyik sekali mengerjakan usaha ini. Makin lama makin banyak

  • 17

    terkumpul bahan, sehingga buku inilah hasilnya, Hikayat Abdullah. Bukunya

    merupakan sesuatu yang baru dan dari beberapa aspek menarik sekali. Hikayat

    Abdullah ini mempunyai dua wujud karena terdiri dari dua naskah. Edisi

    pertama naskah dan edisi 1849 yang telah dicetak ulang 14 kali di Singapura,

    sedangkan edisi ke dua edisi 1880 dicetak dengan litografi dan dicetak ulang

    dengan huruf Jawi juga dalam aksara latin pada tahun 1903, 1907-1908, 1916

    dan 1917. (Sweeney, 2008). Penelitian ini menggunakan edisi pertama.

    2.1.2. Konsep Metafora

    Kata 'metafora' berasal dari kata Yunani: meta- dan phor. Meta- adalah

    prefiks yang biasa dipakai untuk menggambarkan perubahan, sedangkan kata

    phor berasal dari kata pherein yang berarti 'membawa'. Dengan demikian,

    metafora bisa diartikan sebagai 'membawa perubahan makna'. Berbagai bahasa

    juga menggunakan metafora sebagai salah satu modus berbahasa, khususnya

    untuk menciptakan makna baru. Metafora merupakan bagian penting dalam

    pengalaman berbahasa. Namun, ini tidak mudah dijelaskan oleh para ahli

    linguistik, sulit untuk menjelaskan dari mana datangnya sebuah makna.

    Linguistik dapat menjelaskan makna literal, namun makna kiasan di dalam

    metafora sulit untuk dijelaskan. Dalam berbagai karya sastra metafora

    digunakan sebagai bahasa kiasan, yakni salah satu unsur untuk mendapatkan

    kepuitisan. Keberadaannya menyebabkan suatu karya sastra seperti sajak

    menjadi menarik perhatian.

  • 18

    Keterangan ini dikutip oleh Hester dari tulisan Wheelwright dalam

    bukunya "Metaphor and Reality" (Bloomington, 1962:3536) yang ditulis

    kembali oleh Hester dalam bukunya "The Meaning of Poetic Metaphor

    (1967:17). Hester juga menyebutkan bahwa metafora sangat baik karena

    memiliki kekuatan untuk menyatakan suatu hal, khususnya untuk menciptakan

    karya sastra, seperti yang dinyatakan dalam kalimat The best metaphors

    display a fision of diaphor and epiphor. . . . . . gives the metaphor its power.

    Hester, (1976:1617) (dalam Antara, 2007) menyebutkan metafora merujuk

    pada dua komplemen yang sejajar yakni epiphor dan diaphor. Epiphor berarti

    metafora yang mengimplikasikan makna (semantik) konteks seluas-luasnya.

    Diaphor berarti 'tipe yang ada dalam batin'.

    Mooij (1976:14) berpendapat bahwa dalam kalimat Napoleon is a wolf

    menggambarkan Nopeleon kejam ('Napoleon is cruel'). Kekejaman Napoleon

    diibaratkan dengan kekejaman serigala. Fitur srigala yang paling tepat untuk

    melukiskan kekejaman yang dimiliki Napoleon. Unsur-unsur yang membangun

    metafora disusun dari beberapa identitas simbol lingual, di antaranya berupa

    kelas kata, seperti nomina, adjektiva, dan verba. Simbol lingual metafora dapat

    berupa sesuatu (the things), seseorang (person), ide (ideas), periode (periods),

    wilayah (areas), kualitas (qualify), disposisi (dispositions), hubungan

    (relations) dan lain-lain. Foss, 1976:61 (dalam Antara, 2007) menambahkan

    bahwa penggunaan metafora dalam bentuk tuturan kalimat lebih memiliki

    kekuatan dibandingkan dalam bentuk sebuah kata.

  • 19

    Konsep metafora menurut Searle (1979) yang menyebutkan bahwa

    kedudukan metafora dalam keseluruhan bahasa kias atau figuratif dapat

    diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu (1) metafora yang diposisikan dalam

    pengertian luas atau sebagai payung untuk semua bahasa kias, dan (2)-metafora

    dalam arti yang sempit. Posisi sebagai payung tersirat dalam pandangan yang

    dikonsepkan Searle (dalam Ortony, ed. 1979:92123). Di sini Searle

    menyatakan istilah metafora sebagai sebuah ekspresi kebahasaan yang

    bermakna figuratif. Dia juga mengemukakan bahwa dua tipe teori metafora,

    yaitu teori perbandingan (comparison theories) dan teori interaksi semantik

    (semantic interaction theories). Kedua teori ini menekankan bahwa konteks

    yang terdapat dalam ungkapan metafora mengandung dua sisi makna, yaitu sisi

    yang satu bermakna metaforis dan sisi yang lainnya bermakna harafiah.

    Hakikat metafora menurutnya adalah membandingkan dua hal, yakni yang

    dibandingkan/ terbanding dengan yang dipakai untuk membandingkan/

    pembanding. Hakikat pembicaraan metafora merujuk pada semua tuturan yang

    bermakna kias.

    Konsep metafora menurut Saussure (1988:6369) dikaitkan dengan

    istilah sign berarti tanda, simbol, atau lambang. Teori tanda banyak

    dikembangkan oleh Pierce, dalam bidang linguistik oleh Saussure.

    2.1.2. Teori Metafora

    Beragam pendapat dan penjelasan tentang metafora telah banyak

    dijumpai. Salah satu di antaranya adalah pendapat dan penjelasan yang

  • 20

    diungkapkan oleh Beardsley (1981:134135) yang menyebutkan bahwa ada

    tiga jenis teori yang perlu dipertimbangkan dalam kaitannya dengan metafora,

    yaitu: (a) teori emotif, (b) teori supervenience, dan (c) teori literal. Teori

    pertama, sebagai akibat intensitas emosi, memandang metafora dan bentuk-

    bentuk kias pada umumnya merupakan dislokasi dan disfungsi bahasa. Dilihat

    dari struktur bahasa formal metafora seolah-olah salah tempat, salah

    penggunaan, dan dengan demikian akan menimbulkan salah penafsiran.

    Sebaliknya, dengan pertimbangan bahwa metafora dan penyusunan bahasa

    sastra pada umumnya dimaksudkan untuk memperoleh makna karya secara

    maksimal, maka penyimpangan seperti ini justru merupakan keunggulan

    penggunan bahasa. 'Pisau bedah' misalnya, yang semula mengacu pada

    pengertian benda konkret kemudian menjadi 'dasar teori' yang digunakan untuk

    mengungkap suatu fenomena secara ilmiah. Ketajaman pisau bedah dirujuk

    sebagai ketajaman dan ketepatan pemilihan sebuah teori untuk mengungkap

    fenomena keilmuan secara tepat agar hasil yang diperoleh juga tepat.

    Ketajaman teori dalam mengungkap suatu fenomena jelas mengevokasi emosi

    untuk memahaminya.

    Di samping itu, pisau bedah bermakna ketelitian yang tinggi karena

    salah dalam memilih satu pisau bedah akan berakibat menghilangkan nyawa

    seseorang. Foss (1949:6162) menyebutkan bahwa makna metaforis

    terkandung di dalam proses bukan dalam kata-kata tunggal. Teori ini

    memandang metafora sebagai jenis bahasa khas.

  • 21

    Teori kedua, teori supervenience mencoba memahami kemampuan

    sekaligus kelebihan bahasa sastra, khususnya metafora dibandingkan dengan

    bahasa secara harafiah. Dalam metafora makna tidak lahir secara literal, makna

    tidak ada dalam kamus, sehingga seolah-olah tidak ada hubungan atara kata-

    kata dengan acuan, masing-masing unsur berdiri secara independen. Makna

    lahir secara tak terduga, seolah-olah tidak diharapkan. Metafora lebih sebagai

    pemecahan teka-teki. Makna literal yang terkandung lenyap, digantikan oleh

    makna metaforis.

    Teori ketiga, teori literal merupakan teori harafiah dan sekaligus

    mempertentangkan bahasa sehari-hari dengan metafora itu sendiri, bahasa kias

    pada umumnya. 'Mobilnya seperti mobilku' misalnya, dianggap sebagai

    perbandingan langsung, simile, sedangkan metafora adalah kiasan (simile)

    tersembunyi. Beardsley (1981:138) menjelaskan bahwa simile terdiri atas dua

    jenis yaitu simile terbuka dan simile tertutup. Metafora dikategorikan pada

    simile tertutup karena memiliki cara kerja yang sama. Makna perbandingan

    langsung dan simile terbuka terkandung dalam konteks. Sebaliknya konteks

    dalam metafora secara terus menerus dihilangkan sebab kehadirannya

    mengurangi terjadinya produksi makna. Metafora dengan demikian bukan

    perbandingan tak langsung melainkan perbandingan itu sendiri. Berbeda

    dengan teori pertama, sebagai teori emotif, teori kedua dan ketiga bersifat

    kognitif.

    Lakoff dan Johnson (1980) berfokus pada dua hal utama. Yang pertama

    ialah metafora sebagai proses kognitif dan merupakan hasil pengalaman. Oleh

  • 22

    sebab itu mereka menyebutkan bahwa metafora adalah sebagai proses kognitif

    eksperimental. Atas dasar proses kognitif ini, tuturan dapat dianalisis tema-

    temanya yang tersirat yang mempunyai makna metafora.

    Metafora juga dinyatakan sebagai ekspresi linguistik. Artinya adalah

    bahwa metafora memiliki karakteristik bahasa dan merupakan sebuah

    perspektif. Di samping itu juga metafora adalah: merupakan masalah imajinasi

    rasionalitas. Dalam hal ini, konsep tersebut di atas tidak hanya menyangkut

    masalah intelektualitas tetapi juga di dalamnya memuat semua pengalaman

    yang alami sehingga pemahaman makna metafora didasarkan atas aspek

    pengalaman, di antaranya pengalaman estetika. Dengan dasar itu, keberadaan

    metafora dinyatakan sebagai pengungkapan jenis dari sesuatu yang bermakna

    figuratif dan metafora dikaitkan dengan jenis bahasa figuratif lainnya seperti

    personifikasi dan metonimi.

    Lakoff dan Johnson (1980:53) juga menyebutkan bahwa metafora

    terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Ditambahkan bahwa berdasarkan

    pengalaman konsep metafora meliputi tiga hal, yaitu (1) ide (makna) untuk

    menandai sesuatu yang berupa objek, (2) ekspresi linguistik yaitu berupa kata-

    kata sebagai wadahnya (kontainer), dan (3) cara komunikasi atau cara penutur

    menyampaikan maksud secara figuratif.

    Sebagai salah satu kajian linguistik, metafora dapat dianalisis

    berdasarkan unsur-unsur kalimat atau struktur kalimat. Melalui kajian

    linguistik dapat diketahui bahwa unsur yang terdapat dalam metafora berupa

    ekspresi harafiah dan ekspresi imajinasi metaforis. Esensi konsep metafora

  • 23

    berupa pemahaman dan pengungkapan jenis sesuatu yang bemakna metaforis.

    Untuk memahaminya sangat diperlukan penerapan dasar teori perbandingan.

    Dicontohkan, kalimat A adalah B akan dianggap sama maknanya dengan

    kalimat A sama seperti B. Pengertian ini menunjukkan bahwa metafora

    menduduki posisi yang lebih luas untuk semua pengertian yang mengandung

    makna perbandingan. Ini didasarkan atas pemahaman tentang metafora melalui

    proses kognitif.

    Berbeda dengan teori di atas, Luxemburgh, dkk. (1984:187)

    mengutarakan bahwa untuk memberikan intensitas terhadap gaya bahasa dapat

    digolongkan ke dalam dua bagian, yaitu metafora (perumpamaan) dan

    metonimia (sinekdoke). Sinekdoke yang paling kerap digunakan adalah

    konsep-konsep berdampingan dengan ciri bagian mewakili totalitas atau

    sebaliknya. Meskipun metafora dan perumpamaan dianggap sama tetapi

    keduanya pada dasarnya juga memiliki perbedaan. Perbandingan dalam

    metafora terjadi secara implisit, dalam perumpamaan secara eksplisit, biasanya

    dengan menggunakan kata-kata penghubung, di antaranya adalah 'seperti',

    'umpama', 'laksana', dan 'bak'. Dalam kalimat 'Ayahku mendidikku sebagai

    seorang guru" adalah perumpamaan, sedangkan 'Ayahku guruku' adalah

    metafora. Dalam perumpamaan, dengan perbandingan secara eksplisit maka

    motif lebih terbatas, misalnya, sebagai guru dengan unsur pendidik. Sedangkan

    dalam metafora dengan tidak adanya kata penghubung 'sebagai', maka

    interpretasi terjadi secara lebih bebas sehingga dimungkinkan untuk

    menunjukkan motif-motif secara terbatas. Seorang ayah di samping mampu

  • 24

    mendidik anaknya secara moral spiritual, ia harus mampu pula mengajarkan

    ilmu pengetahuan. Dengan kalimat lain, makin singkat baris yang digunakan

    untuk melukiskan suatu objek, maka makin kayalah penafsiran yang

    dihasilkan.

    Teori lain tentang metafora digagas oleh Cormac (1985) dalam bukunya

    berjudul A Cognitive Theory of Metaphor membahas tentang metafora

    berdasarkan proses kognitif. Dengan dasar kognitif ini metafora dipandang

    menduduki posisi kunci atau sebagai payung dari semua tuturan yang

    metaforis, baik metafora yang konvensional maupun metafora yang berbentuk

    struktur dari hasil imajinasi atau kreativitas. Dengan kreasi berbahasa telah

    tercipta keragaman bentuk metafora dengan arti yang baru.

    Dari uraian konsep metafora di atas (Beardsley, 1981; Lakoff dan

    Johnson, 1980; Luxemburg, dkk. , 1984; dan Cormac, 1985) dapat disimpulkan

    bahwa metafora merupakan payung bagi semua jenis ungkapan yang

    mengandung konsep perbandingan. Anggapan yang mendudukkan posisi

    metafora bahasa Melayu Klasik sebagai payung didasarkan pada konsep

    perbandingan antara yang ditandai (terbanding) dengan yang menandai

    (pembanding).

    2.2. Kerangka Teoritis

    2.2.1. Parera (2004)

    Parera (2004:119) yang membedakan metafora atas empat kelompok,

    yakni (1) klasifikasi metafora bercitra antropomorfik, (2) metafora bercitra

  • 25

    hewan, (3) metafora bercitra abstrak ke konkret, dan (4) metafora bercitra

    sinestesia atau pertukaran tanggapan/ persepsi indra. Metafora antropomorfik

    dalam banyak bahasa dapat dicontohkan sebagai "mulut botol", "jantung kota",

    "bahu jalan", dan lain-lain.

    Metafora bercitra hewan biasanya digunakan juga oleh pemakai bahasa

    untuk menggambarkan satu kondisi atau kenyataan dalam alam.

    Metafora bercitra abstrak ke konkret, adalah mengalihkan ungkapan-ungkapan

    yang abstrak ke ungkapan yang lebih konkret. Seringkali pengalihan ungkapan

    itu masih bersifat transparan tetapi dalam beberapa kasus penelusuran

    etimologi perlu dipertimbangkan untuk memenuhi metafora tertentu.

    Dicontohkan oleh Parera, secepat kilat 'satu kecepatan yang luar biasa',

    moncong senjata 'ujung senjata', dan lain-lain.

    Metafora bercitra sinestesia, merupakan salah satu tipe metafora

    berdasarkan pengalihan indra, pengalihan dari satu indra ke indra yang lain.

    Dalam ungkapan sehari-hari orang sering mendengar ungkapan "enak

    didengar" untuk musik walaupun makna enak selalu dikatakan dengan indra

    rasa; "sedap dipandang mata" merupakan pengalihan dari indra rasa ke indra

    lihat.

    Konsep teori yang diungkapkan Parera (2004) digunakan untuk

    menjawab permasalahan penelitian 1, 2, dan 3 seperti yang termaktub dalam

    subbab 1.2.

  • 26

    2.2.2. Kovecses (2006)

    Kovecses (2006) menekankan bahwa berdasarkan tingkatan

    kovensionalitasnya, ada tiga kelompok metafora, antara lain (i) fungsi, (ii)

    sifat, dan (iii) generalitasnya. Ia juga menyebutkan bahwa metafora konseptual

    merefleksikan apa yang dipersepsikan, dialami, dan dipikirkan orang tentang

    kenyataan dunia. Semua yang dialami, dipersepsikan, dan dipikirkan merasuk

    dalam memori semantik yang dapat digunakan kapan saja. Untuk dapat

    menggunakannya, seseorang kemudian mengaktifkan memori itu untuk

    direalisasikan dalam bentuk verbal yang digunakan dalam komunikasi.

    Sehingga ungkapan-ungkapan metaforis kadang lebih dipilih dibandingkan

    dengan ungkapan yang tidak metaforis karena ungkapan metaforis

    mengandung muatan yang diutamakan, diperhatikan, dan emosi yang ada

    dalam ungkapan sesuai dengan yang diinginkan pengguna ungkapan.

    Metafora digunakan untuk memahami konsep abstrak yang dikaitkan

    dengan konsep lain yang lebih nyata. Secara linguistik kognitif hal ini disebut

    dengan memahami suatu ranah konsep dengan cara lainnya. Pandangan

    kognitif ini mengisyaratkan bahwa ranah konsep (A) adalah ranah konsep (B)

    yang kemudian membentuk metafora konseptual (Kovecses, 2002:4). Contoh

    yang diberikan di sini adalah ungkapan linguistik he shot down all of our

    arguments, (dia menembak jatuh semua argumen kami) menjadi metafora

    konseptual bahwa AN ARGUMENT IS WAR (SEBUAH ARGUMEN

    ADALAH PERANG).

  • 27

    Dua ranah metafora konseptual berupa ranah sumber dan ranah sasaran.

    Ranah sumber terdiri atas konsep nyata yang digunakan untuk memahami

    konsep yang lebih abstrak yang menyepakati ranah sasarannya yang oleh

    Kovecses (2002:4) disebut dengan teori emosi dan ide. Ciri-ciri ranah tersebut

    sangat penting dan keduanya tidak dapat mengubah yang satu dengan lainnya.

    Proses metafora biasanya dari yang lebih nyata ke yang lebih abstrak bukan

    sebaliknya (Kovecses, 2002:6).

    Metafora memiliki dua komponen, yaitu: target dan sumber. Pendapat

    Kovecses (2006) memperkuat pernyataan dan penjelasan Lakoff dan Johnson

    (1980; 2003), yang menyebutkan target biasanya lebih abstrak, dan sumber

    lebih konkret. Untuk dapat memahami maksud yang terkandung dalam

    metafora ditemukan kesamaan karakteristik yang dimiliki antara target dan

    sumber. Membandingkan karakteristik yang dimiliki keduanya, akan

    ditemukan dasar suatu metafora yang dipilih dan digunakan.

    Pemilihan suatu sumber tertentu untuk suatu target dilakukan karena

    didasarkan pada pengalaman yang dirasakan tubuh ketika mengalami kondisi

    yang dirasakan, misalnya, dicontohkan oleh Kovecses (2006:117) dalam

    kalimat affection is warmth. Kalimat ini muncul karena ada sesuatu yang

    didasari oleh pengalaman ketika mendapatkan kasih sayang dari orang lain

    (affection), seseorang merasakan hangat (warmth), sehingga muncul metafora

    itu.

    Metafora konseptual mengindikasikan suatu proses yang ada dalam

    ranah untuk menjelaskan suatu entitas yang didasarkan pada perasaan,

  • 28

    pengalaman, dan pikiran tentang realitas yang benar-benar ada atau yang

    dibayangkan ada, dengan menggunakan entitas lain yang lebih konkret atau

    dapat divisualisasikan atau dirasakan oleh tubuh. Oleh karena itu, menurut

    Kovecses (2006) ada komponen-komponen yang dapat dijelaskan, yaitu :

    (1) ranah sumber,

    (2) ranah target, dan

    (3) dasar metafora.

    Ketiga komponen ini merupakan komponen dasar dalam metafora

    konseptual. Ranah sumber yang memiliki ciri lebih konkret merupakan dasar

    untuk menjelaskan target yang bersifat lebih abstrak. Misalnya, dalam metafora

    life is a journey, dapat dipahami bagaimana kehidupan (life) yang bersifat

    abstrak itu digambarkan sehingga lebih mudah untuk dipahami karena

    dibandingkan dengan perjalanan (journey). Dalam kalimat tersebut dapat

    dimengerti apa yang dimaksud dengan kehidupan (life) yang menjadi target

    berdasarkan kesamaan ciri yang dimiliki oleh perjalanan (journey) sebagai

    sumber. Kesamaan ciri atau karakteristik yang ada dalam kedua komponen itu

    menjadi patokan dasar metafora, sebagai contoh dalam perjalanan setidaknya

    ada unsur-unsur tujuan, rintangan, jarak yang ditempuh, dan dalam kehidupan

    juga ada kesulitan hidup sebagai rintangan, kemajuan hidup, tujuan hidup, dan

    seterusnya. Pengalaman yang dirasakan tubuh dapat memotivasi hubungan

    antara sumber dan target. Untuk menguatkan penjelasan ini, Kovecses

    memberi contoh dalam kalimat affection is warmth kasih sayang itu

    kehangatan dapat ditunjukkan hubungan kasih sayang dengan kehangatan.

  • 29

    Penjelasannya adalah apa yang dirasakan oleh tubuh ketika mendapatkan

    pelukan sebagai bentuk rasa sayang, misalnya, tubuh merasa hangat, nyaman,

    dan tenang. Apa yang dirasakan merasuk ke dalam memorinya, kemudian

    mencari kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana affection itu.

    Selain itu, kesamaan antara sumber dan target juga dapat menunjukkan

    hubungan antara sumber dan target. Menurut Kovecses lagi, kesamaan tidak

    selalu menjadi dasar untuk menunjukkan hubungan antara target dengan

    sumbernya. Lebih lanjut, Kovecses (2006) menambahkan ada korespondensi

    konseptual yang mendasar dan esensial yang dinamakan pemetaan antara ranah

    sumber dan ranah target. Pemetaan harus disusun sehingga dapat menunjukkan

    ungkapan linguistik metaforis tertentu. Inferensi yang oleh Kovecses disebut

    entailment dan entailment yang potensial merupakan pemetaan tambahan.

    Ranah sumber sering memetakan gagasan melebihi gagasan yang ada dalam

    ranah target. Pemetaan tambahan dinamakan entailment atau inferensi. Aspek

    konsep yang terlibat dalam metafora hanya aspek tertentu yang ada baik di

    sumber maupun target yang ada dalam metafora; tidak semua aspek digunakan,

    hanya yang utama yang digunakan.

    Istilah blends yakni penyatuan ranah sumber dan ranah target juga

    dipakai oleh Kovecses. Penyatuan ranah dapat mengakibatkan blends atau

    percampuran, yaitu: materi konseptual yang baru sebagai akibat dari kedua

    ranah, yaitu: sumber dan target. Di samping itu realisasi nonlinguistik juga

    diperkenalkan untuk memahami konsep metafora. Metafora konseptual kadang

    diwujudkan dalam ungkapan nonlinguistik, misalnya dalam ungkapan

  • 30

    important is central , misalnya direalisasikan dengan posisi yang berbeda

    dengan orang yang tidak memiliki posisi sosial lebih tinggi.

    Cakupan metafora konseptual sering menimbulkan model kultural atau

    frame yang ada di dalam pikiran. Misalnya, konsep tentang waktu, karena

    waktu dikonseptualisasikan sebagai entitas yang bergerak maka lahirlah

    metafora time is a moving path, yang menimbulkan ungkapan metaforis waktu

    berjalan dengan cepat, waktu sudah tiba, waktu berlari sangat cepat, dan

    sebagainya.

    Konsep teori yang disarankan Kovecses (2004) ini digunakan untuk

    menjawab permasalahan penelitian 5 sebagaimana termaktub dalam subbab

    1.2.

    2.2.3. Lakoff & Johnson (2003)

    Senada dengan teori ini (lihat Lakoff & Johnson (2003); Langacker,

    (2008:51); dan Geeraerts (2010:204) yang mendasari teori mereka dengan

    linguistik kognitif. Pendekatan ini memandang metafora secara alamiah yaitu

    proses kognitif fundamental, yang juga merupakan aspek fundamental dari

    bahasa, bukannya sekadar pemanis retoris, permasalahan linguistik semata, dan

    merupakan aspek pinggiran dari pikiran dan bahasa (Lakoff & Johnson, 2003).

    Gagasan inilah yang disebut dengan metafora konseptual. Jika mengikuti

    Geeraerts (2010:204), maka hakikat kognitif merupakan pilar pertama dari

    pencirian metafora konseptual. Jika metonimi merupakan pemetaan intra-

    ranah, sehingga hanya melibatkan satu ranah pengetahuan, maka metafora

  • 31

    adalah pemetaan konseptual antar dua ranah yang berbeda (Kvecses, 2010;

    Langacker, 2008:51), yaitu aspek pengetahuan dari ranah sumber, yang

    umumnya lebih konkret, dipetakan untuk membentuk struktur pengetahuan

    ranah target, yang cenderung lebih abstrak, seperti metafora BAHAGIA

    ADALAH ATAS (Lakoff & Johnson, 2003). Pemetaan adalah pilar kedua dari

    teori metafora konseptual. . Pengetahuan ranah sumber yang dipetakan adalah

    khasanah prototipikal yang relevan bagi pemahaman ranah target. Pada

    metafora BAHAGIA ADALAH ATAS, pengetahuan dari ranah sumber,

    PERGERAKAN DAN ARAH KE ATAS yang dipandang berciri positif,

    dipetakan ke ranah target EMOSI khususnya BAHAGIA. Metafora konseptual

    terjelma dalam ekspresi metaforis. Di sini dicontohkan, ekspresi Im feeling up

    dan Feeling on the top of the world (Deignan, 2005:14) adalah bukti ekspresi

    linguistik metaforis nyata dari metafora konseptual BAHAGIA ADALAH

    ATAS. Pilar ketiga menyatakan bahwa metafora mengakar pada beragam

    pengalaman badaniah biologis manusia serta budaya (Geeraerts, 2010:207).

    Dicontohkan juga, dengan berbasis pada postur tegak tubuh manusia, maka

    manusia memiliki skema-gambaran ATAS-BAWAH (Lakoff, 1987). Skema

    ini dapat berfungsi sebagai ranah sumber dan mendasari beragam perluasan

    makna metaforis dengan memetakannya ke beragam ranah pengalaman,

    misalnya ranah kuantitas (LEBIH ADALAH ATASprice is rising up),

    evaluasi (BAIK ADALAH ATAShigh quality). (Lakoff & Johnson, 2003).

    Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya bahwa metafora

    merupakan persoalan konsep yang terdapat dalam pikiran. Metafora berada

  • 32

    dalam kerangka pengalaman hidup. Pikiran manusia bekerja sesuai dengan cara

    tubuh berinteraksi dengan dunia. Inilah yang dimaksud dengan pengalaman

    (experience). Pengalaman ini bukan pengalaman perorangan, tetapi

    pengalaman yang berkaitan dengan pengalaman sosiokultural dan historis dari

    suatu komunitas. Konsep inilah yang dianut oleh salah satu cara pikir

    lunguistik kognitif tentang metafora.

    Pada hakikatnya, perbedaan yang paling mendasar dari kedua

    pandangan tersebut di atas adalah dalam pandangan linguistik kognitif,

    metafora lebih dari sekedar gaya bahasa, sarana retorika, atau puisi, tetapi

    merupakan bagian dari pikiran dan tingkah laku. Linguistik kognitif

    memandang metafora sebagai suatu yang lebih dari itu, sesuatu yang lebih

    dalam dan berpengaruh. Metafora meresap di dalam kehidupan sehari-hari

    manusia, tidak hanya di dalam bahasa tetapi juga dalam pikiran dan tingkah

    laku, di mana pikiran manusia tidak hanya berisi unsur intelegensi tetapi juga

    berfungsi mengatur hidup manusia sampai ke hal yang sekecil-kecilnya.

    Metafora adalah bagian dari sistem kognisi kita sebagai manusia. Metafora

    adalah modus kita dalam berpikir dan bertindak. Manusia berpikir dengan

    melihat kemiripan satu pengalaman dengan yang lainnya. Fenomena metafora

    dalam bahasa adalah salah satu cara berpikir manusia.

    Dalam pandangan linguistik klasik, sebuah klausa yang berbunyi

    dunia pangguang sandiwara, hanya akan dimaknai sebagai sebuah bentuk

    perbandingan yang berfungsi untuk mendukung unsur kepuitisan atau

    memberikan sensasi tersendiri bagi pendengarnya. Tetapi dalam pandangan

  • 33

    linguistik kognitif, klausa tersebut tidak sekedar dimaknai secara tekstual atau

    dipermukaan saja seperti haknya pandangan linguistik klasik. Apabila ada

    metafora yang berbunyi dunia panggung sandiwara, hal itu harus didukung

    oleh sejumlah pernyataan-pernyataan yang mendukung metafora tersebut atau

    diwujudkan dalam bentuk metafora ekspresi linguistik.

    Lebih lanjut, ada set pemetaan antara target dan sumber yang

    digunakan untuk menggambarkan analogi dan kesimpulan. Dalam klausa

    tersebut di atas, kata dunia dikonseptualisasikan dengan panggung/tempat

    pementasan karena kedua ranah tersebut memiliki sejumlah persamaan; mati

    laju darahku takluk sudah hebatku dia butakan hatiku hilang akal

    sehatku. Artinya, dalam linguistik kognitif, dunia panggung sandiwara ini

    tidak sekedar sarana retorika melainkan juga merupakan bagian dari sistem

    pikir, yang kemudian mempengaruhi tingkah laku sehari-hari dalam konteks

    memandang seorang wanita misalnya.

    Namun, dari kedua pandangan tersebut sekilas juga memiliki

    persamaan, sekalipun mungkin dikonseptualisasikan dengan istilah yang

    berbeda. Misalnya, dalam pandangan linguistik klasik ada konsep mengenai

    istilak pokok (tenor) dan istilah kedua (vehicle). Istilah pokok atau tenor

    menyebutkan hal yang dibandingkan, sedang istilah kedua atau vehicle yaitu

    hal yang untuk membandingkan. Dalam linguistik kognitif, juga terdapat

    istilah source domain dan target domain yang pada dasarnya juga mengacu

    pada hal yang sama dengan istilah tenor dan vehicle. Contohnya, LIFE IS A

    JOURNEY. Linguistik kognitif akan menyebut LIFE sebagai target domain

  • 34

    dan JOURNEY sebagai source domain. Sementara itu, linguistik klasik akan

    menyebut LIFE sebagai tenor (istilah pokok) dan JOURNEY sebagai vehicle

    atau (istilah kedua).

    Namun demikian, pada intinya, konsep pokok tentang metafora antara

    linguistik kognitif dengan linguistik klasik tersebut memang jauh berbeda.

    Metafora dalam linguistik klasik hanya berupa penghias karya sastra atau

    sarana retorika, sedangkan metafora dalam linguistik kognitif benar-benar

    merupakan bagian dari sistem berfikir manusia yang terrealisasikan dalam

    bentuk tingkah laku hidupnya. Bahkan dalam persamaan yang saya sebut di

    atas pun, kalau mau ditelusuri juga memiliki konsep awal yang berbeda.

    Source domain dan target domain didasarkan pada ranah/kelompok ide,

    sedangkan term pokok dan istilah kedua sesuai dengan namanya didasarkan

    pada term istilah/hal apa yang yang dibandingkan. Demikianlah, sekalipun

    kedua pandangan teori tersebut berbeda, tapi seperti halnya agama meskipun

    tentu saja agama bukan teori, setiap teori memiliki tempat dan mimbarnya

    masing-masing di hati tiap-tiap penganutnya.

    Konsep teori yang disarankan Kovecses (2004) dan Lakoff & Johnson,

    (2003) ini digunakan untuk menjawab permasalahan penelitian 5 sebagaimana

    termaktub dalam subbab 1.2.

    2.2.4. Langacker (2004)

    Dalam penelitian ini yang menjadi kerangka teroritis adalah teori

    Langacker (2004) memaknai metafora sebagai bahasa kiasan dalam retorika

  • 35

    tradisional, yang sekarang lebih sebagai metodologi kognitif yang diakui oleh

    para psikolog kognitif dan linguis. Metafora dalam retorika tradisional, sebagai

    gambaran bahasa kiasan, sekarang menjadi metodologi kognitif yang sangat

    penting ditandai oleh para pakar psikologi dan linguis. Eksperimentalisme

    internal meyakinibahwa konsep abstrak adalah metaforis. Langacker (2004)

    menjelaskan struktur semantik sebagai sebuah konsep struktur yang berfungsi

    sebagai kutub semantik sebuah ungkapan linguistik. Struktur semantik bersifat

    internal selama makna merupakan fenomena mental yang harus dideskripsikan

    dengan merujuka pada proses kognitif, dan konsep diasumsikan menjadi suatu

    gambaran mental atau perumpamaan. Dalam menentukan prinsip-prinsip

    linguistik kognitif, Langacker (2004) menyebutkan bahwa struktur semantik

    tidak universal; linguistik kognitif merupakan bahasa khusus untuk suatu

    derajat yang dapat dipertimbangkan. Struktur semantik didasarkan pada bahasa

    perumpamaan yang konvensional dan ditandai dengan pengetahuan struktur.

    Konsep teori yang disarankan Langacker (2004) ini digunakan untuk

    menjawab permasalahan penelitian 4 sebagaimana termaktub dalam subbab

    1.2.

    2.3 Ragam Metode Analisis Metafora

    Teori metafora Lakoff dan Johnson (1980, 1999) menjadi dasar untuk

    menjelaskan struktur kognitif setiap kali menggunakan model lingusitik dan

    dengan demikian akan memungkinkan mengungkapkan pola kolektif dan

    individu dalam berpikir dan bertindak. Lakoff dan Johnson tidak

  • 36

    mengembangkan sistem yang dapat dikerjakan untuk melakukan penelitian

    kualitatif. Dalam disertasi ini yang diuraikan adalah dasar pendekatan dan

    pengajuan prosedur untuk rekonstruksi konsep metafora. Biasanya dalam kasus

    penelitian kualitatif, beberapa pedoman hanya dapat menunjukkan permainan

    antara kemampuan peneliti untuk memahami pengertian dari hal-hal yang

    berkaitan dengan aturan metodologi. Tinjauan interpretasi khusus

    mengembangkan analisis metafora yang kemungkinan besar dapat dilakukan.

    Dalam metode kualitatif, bahasa berada pada satu bagian dan subjek

    waktu dan medium. Ini digunakan sebagai bahan yang mengacu kepada bahasa

    di luar konten : pola hubungan, struktur, strategi komunikatif, dan lain-lain.

    Lakoff dan Johnson (1980, 1999) melakukan hal ini dalam merumuskan

    kerangka menyeluruh sebagai linguistik kognitif. Lebih lanjut mereka

    menyebutkan bahwa teori metafora ini mengilhami berbagai pendekatan

    terhadap analisis metafora sebagai prosedur penelitian kualitatif.

    2.3.1 Metafora sebagai instrumen dan kritikan

    Karakteristik pendekatan ini, yang bekerja dengan metafora adalah

    metafora individu yang mengambil konteks tanpa rekonstruksi sistematis; ini

    sering digunakan, dan secara kritis dikomentari sebagai bukti terhadap posisi

    yang berlawanan. Piterman (2004) misalnya menulis tentang praktek

    perawatan kesehatan yang menyatakan bahwa metafora pasar bisnis menjadi

    metafora dominan sejauh menyangkut kebijakan sosial dan menyatakan bahwa

    pasar adalah buta terhadap ekuitas (hak menurut keadilan, kewajaran),

  • 37

    kebutuhan dan belas kasihan, serta emosi yang terjadi. Tidak diragukan lagi

    bahwa metafora pasar menjadi salah satu yang dominan. Dalam frase yang

    biasa digunakan untuk menjelaskan reformasi sistem kesehatan, kita

    menemukan beberapa metafora dari pemeliharaan ketika memperhitungkan

    distribusi dari sumber yang ada. Bagaimana diputuskan sisi dominannya, agar

    atau metafora pemeliharaan ? Dengan melihat dari dekat, ditemukan metafora

    yang berbaur dalam teks atas reformasi sistem kesehatan, dengan

    membedakan fokus yang tergantung pada konteks politik. Terlihat sangat

    masuk akal untuk menentukan fungsi ideologi bagi kedua uraian metafora.

    Pada teks Piterman, tidak membangun apakah metafora lanjutan menentukan

    pembahasan reformasi sehingga secara potensial membatasi atau melemahkan

    dampak dari metafora yang tercatat. Refleksi metode empiris adalah umumnya

    mengalami kekurangan dalam pendekatan; semuanya ini diarahkan pada titik

    yang penting ketika itu ada disini. Metafora ini diarahkan pada apa yang telah

    lewat, tanpa pretensi diri refleksi diferensiasi atas kemungkinan dan membatasi

    pemikiran metafora.

    2.3.2 Metafora sebagai alat terapi

    Penggunaan terapi metafora telah menjadi tradisi yang lama, terutama

    di dalam terapi keluarga. Penggunaan metafora ini harus disebutkan di sini

    karena definisi yang berbeda dan cara tradisi dalam penanganan metafora yang

    sering mengakibatkan kesalahpahaman. Dalam konteks terapi, tujuan bagi

    terapis adalah mengembangkan metafora dan alegori, yang menghadirkan

  • 38

    masalah klien dalam kerangka yang bersahabat dengan solusi. Pendekatan

    terbaru mengasumsikan bahwa pengembangan metafora solusi harus sedekat

    mungkin dengan bahasa klien. Di sini metafora terlihat sebagai alat yang

    digunakan dengan sengaja dan secara bebas. Pembahasan metafora dalam ilmu

    sosial, khususnya setelah Lakoff dan Johnson, ditujukan untuk konsep

    metafora lainnya, salah satunya yang mengacu pada catatan yang berbeda di

    mana metafora itu dapat dibentuk. Sebagai individu, kelompok, dan dalam

    kultur yang memiliki pola pemikiran metafora tidak menyadari, yang dapat

    diambil sebagai sesuatu yang penting. Tujuan analisis metafora adalah untuk

    mengembangkan pola berpikir metafora. Lakoff dan Johnson menjelaskan

    konsep metafora ini sebagai waktu adalah uang sebagaimana ditemukan

    dalam kalimat berikut Ban kempis menyita waktu saya selama satu jam; di

    sini tidak dapat menggunakan waktu dengan lebih menguntungkan dan anda

    perlu menganggarkan waktu anda. Mereka yang mengunakan pola metafora

    itu akan lebih menyadarinya; kedalamannya dalam budaya juga telah mulai

    diketahui. dalam kultur WAKTU ADALAH UANG dalam berbagai cara;

    pesan telepon, upah per jam, sewa ruang hotel, anggaran tahunan, bunga

    pinjaman dan pembayaran hutang kepada masyarakat dengan waktu

    pelayanannya.

    Terlihat dalam hal ini, metafora yang tidak hanya menjadi alat tetapi

    lebih dari itu akan membentuk struktur di mana kita hidup. Analisis metafora,

    yang dijelaskan di sini tidak dimaksudkan untuk menggunakan metafora secara

    terapi atau retorika, namun berusaha membawa penggunaan metafora dan juga

  • 39

    praktek yang terkait dengan hal ini pada tingkat kesadaran; misi ini adalah

    lebih mendapatkan sorotan yang kadangkala lebih kritis dari ideologi yang

    lebih menonjol.

    2.3.3 Metafora yang digunakan untuk menjelaskan hasil penelitiankualitatif

    Penelitian kualitatif akan menghasilkan besaran informasi heterogen,

    yang juga memuat beberapa struktur yang lebih komplek. Metafora dapat

    digunakan untuk mengurangi kompleksitas dan pola struktur yang jelas. Aita,

    McLlvain, Suman dan Crabtree (2003) menjelaskan tiga pola berpikir metafora

    dan aksi yaitu praktek sebagai hak monopoli (franchise), praktek sebagai misi

    dan praktek sebagai pemeliharaan keluarga. Sangat mengagumkan untuk

    melihat pada cakupan mana konsepsi metafora ini menentukan bagaimana

    dokter dalam institusi respektif berpikir dan bertindak. Permukaan metafora

    selama pembahasan dan proses evaluasi yang adalah untuk sebagian besar

    bagian yang ada, tidak terdokumentasi, meninggalkan kita dengan sebuah

    sistem yang jelas untuk mengidentifikasikan metafora. Metafora ini tidak

    terlalu penting berasal dari orang yang diwawancarai meskipun mereka merasa

    lebih baik dijelaskan oleh metafora. Di samping itu, terlihat bahwa melalui tiga

    lembaga yang telah ada penelitian kualitatif berfungsi sepanjang ruang lingkup

    kajian metafora.

    Beberapa konsepsi metafora murni terlihat tidak sama dalam dunia nyata. Hal

    ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan Callahan, Maldonado dan

  • 40

    Efinger (2003:37) yang menjelaskan pelatihan terhadap keputusan untuk

    mengakhiri hidup dengan metafora.

    Aubusson (2002:65) juga berpendapat bahwa penelitian kualitatif dapat

    dilakukan berkaitan dengan metafora ini. Dalam melakukan hal itu, dia

    memanfaatkan berbagai pertimbangan bagaimana menyesuaikan metafora

    dengan data penelitian. Penelitian yang dilakukan tentang psikologi dan

    bantuan sosial dalam kerangka kerja ini (meski peneliti masih merasa skeptis)

    tapi sudah dapat diperlihatkan fenomena tertentu yang dapat dilihat pada

    beberapa metafora yang terkontradiksi. Dapat juga dicatat di sini bahwa

    metafora dapat digunakan untuk menunjukkan hasil penelitian kualitatif.

    2.3.4 Metafora menjelaskan proses penelitian kualitatif

    Tidak hanya sebagai sesuatu yang terkomplikasi untuk menghadirkan

    penelitian kualtiatif tetapi proses penelitian itu sendiri terbukti lebih komplek;

    metafora berfungsi untuk memberikan beberapa orientasi bagi peneliti dalam

    berbagai usaha dan presentasi mereka. Schalwyk (2002:17) menjelaskan

    metafora sebagai kerangka disertasi yang berbeda dengan penggunaan skenario

    pembelian mobil dan juga untuk berbagai perjalanan sebagai jenis heurisitk

    metafora guna membahas opsi yang terbuka untuk keputusan dan tekanan

    untuk memilih penelitian kualitiatif. Dommer (1997:32) menggunakan

    berbagai bentuk yang digunakan oleh wanita untuk menggambarkan bentuk

    penelitian kualitatif termasuk penelitian kuantitatif.

  • 41

    Berbagai metafora yang digunakan untuk proses penelitian kualitatif

    memperlihatkan bahwa pengurangan dari proses penelitian menjadi satu

    metafora secara aktual masih menjadi penyederhanaan yang tampak

    dipaksakan. Pada sisi lain, fakta bahwa setiap metafora terlihat memiliki

    genggaman (gripping) yang berpengruh terhadap penciptanya, yang

    memberikan hasil yang mengarah pada metafora dan implikasi kognitifnya

    yang belum didokumentasikan. Bagaimana cara mengurangi kompleksitas

    dunia secara metaforis tanpa melihat isinya? Apa model metafora yang

    digunakan untuk membahas penelitian kualitatif yang ada ? Rathmayr (1991)

    mencatat lima metafora untuk menjelaskan peneliti berbagai penelitian sosial

    kualitatif; pemburu, khalayak ramai, ornitolog (ahli tentang burung), detektif,

    dan peretas program komputer (hiker).

    2.3.5 Penelitian untuk metafora khusus

    Peneliti lainnya berusaha untuk mengarahkan mereka pada metafora

    dengan filsafat khusus. Penelitian berikut ini mengarahkan konsep dari Pepper

    (1942). Dalam penelitian dengan kedua unsur kuantitatif dan kualitatif, Super

    dan Harkness (2003) menganalisis metafora sentral menurut metafora dasar

    (asal) dari Pepper (mekanisme formalisme, kontekstualisme, organisme).

    Dalam melihat orang tua dan psikiatrik profesional yang terlihat untuk ekspresi

    berkaitan dengan perkembangan manusia. Mereka menemukan preferensi

    sambil untuk medan metafora tertentu dan membahas implikasi untuk

    pemahaman perilaku anak. Seifert (2000) mengemukakan hal yang sama atas

  • 42

    dasar penelitian terhadap konstruksi sosial dari anak-anak, yang juga

    didasarkan atas penelitian Popper dan empat medan metafora yang tersebut di

    atas. Bila kita mengasumsikannya, seperti yang dilakukan oleh Lakoff dan

    Johnson, maka akan ada bebagai jumlah metafora yang terjalin dalam dunia

    sehari-hari, mengurangi wawancara untuk metafora akan spesifik yang juga

    memperlihatkan batasan problematik, baik secara konten maupun secara

    metodik. Sebagai perbandingan, Lakoff dan Johnson menghitung 24 metafora

    primer representatif untuk memahami dunia : Saya menemukan duapuluh

    konsep metafora yang berbeda dalam bahasa Jerman untuk topik penyakit jiwa

    yang lebih spesifik.

    2.3.6 Metafora untuk proses refleksi diri dari para peneliti atau metafora yang diteliti

    Penggunaan metafora dalam penelitian sejauh ini telah mengasumsikan

    bahwa kita meneliti secara langsung metafora tertentu pada metafora bentuk

    sadar dan material untuk memberikan hasil atau menjelaskan proses. Danziger

    (2000) menyuarakan pertimbangan dalam konteks sejarah psikologi, di mana

    teori ilmiah lahir ke dalam rangkaian pola pikir metafora, yang jarang

    dibentuk.

    Danziger (2000:331) menyebutkan . . . analisis metafora ini menjadi

    hal yang menarik secara historis, terutama kita dapat menggunakan untuk

    memperbaiki pemahaman pola berpikir psikologis yang telah menjadi karakter

    dari periode, atau sebuah kultur, atau komunitas intelektual tertentu. Metafora

    ini digunakan secara pervasif dengan rangkaian periode dan khususnya dari

  • 43

    pengguna yang tidak mengarah pada metafora apa tetapi dengan beberapa

    ekspresi kebenaran literal.

    Danziger tidak memperoleh sisi kreatif dan metafora berpikir tetapi

    pada kondisi laten, gambaran linguistik yang tidak dikenal sebagai metafora.

    Beberapa analisis telah dilaksanakan untuk bidang psikologi tertentu, sebagai

    metafora spirit dalam konteks penelitian yang lebih baik dan sebagai kajian

    komprehensif untuk psikologi dari memori yang membandingkan asal usul

    Perancis dengan translasi Inggris dari Piaget dan memperlihatkan bahwa

    beberapa metafora biologi yang selalu berubah menjadi salah satu sisi

    mekanika atau juga menghilangkannya bersama-sama. Pemahaman akan Piaget

    di antara penutur bahasa Inggris adalah sebagai hasil temuan Jurzak, yang

    berbeda dari pemahaman Piaget di antara penutur bahasa Perancis. Untuk

    penelitian kualitatif, Aite dkk. (2003) menyatakan bahwa: besarnya keinginan

    kita menyoroti bahasa metafora dari penelitian kita yang secara kritis mengarah

    pada bahasa metafora dari pekerja lapangan kita dan uraian dari praktik dan

    bahasa metafora untuk peserta penelitian. Chanil (1990. 1991a) menyatkaan

    bahwa terapis penelitian membuat mereka menyadari metafora yang mereka

    gunakan di dalam terapi dan melihat apakah metafora ini akan membuka pintu

    untuk penelitian yang ada. Demikian juga referensi yang menunjukkan bahwa

    penelitian ini ditentukan oleh metafora, batas kognitif dari apa yang telah ada.

    Cara lain yang dimungkinkan untuk bekerja dengan metafora dalam

    penelitian kualitatif adalah mengembangkannya langsung dari subjek

    penelitian. Deacon (2000) dalam penelitian pasar menekankan bahwa peserta

  • 44

    menjelaskannya sebagai sesuatu yang terjadi relevan dari segi warna, sebagai

    hikayat, sebagai pertunjukan televisi, objek, dan juga musik, dan lain-lain.

    Dengan menggunakan transformasi metafora dia mampu mendapatkan narasi

    yang berharga dan bernilai.

    Christensen dan Olson (2002) termasuk juga Zaltman (2003)

    mengajukan pertanyaan kepada subjek penelitian untuk memberikan gambaran

    yang memperlihatkan sikap dan peranan terhadap produk dengan mereka yang

    diwawancarai. Mereka diminta menjelaskan setiap gambaran dan pengertian,

    sehingga memperlakukannya sebagai sebuah metafora. Dalam membicarakan

    gambar, maka metafora verbal muncul dengan cerminan yang dijelaskan lebih

    mendalam.

    2.3.7 Rekonstruksi sudut pandang metafora subjek penelitian dan jugafenomena budaya

    Salah satu penelitian yang dapat dipertimbangkan di sini adalah

    penelitian yang telah dilakukan oleh Beneke (1982) yang terinspirasi oleh

    Lakoff dan Johnson yakni yang menyangkut pelanggaran seksual. Dalam

    percakapan keduanya meyakini bahwa pelecehan seksual juga tidak terlepas

    dari penggunaan metafora yang efektif. Beneke (1982) menemukan dunia

    imagi dalam bahasa mereka, yang membuat pelanggaran seksual dapat

    dipahami, bahkan lebih penting di mata mereka. Seksualitas adalah

    keberhasilan, performa, dan kemenangan; metafora berburu dan perang

    (pembunuh anak gadis, penakluk, tidak menempatkan sesuatu sebagai

    hambatan, menyerah) lebih mendominasi. Laki-laki lebih menyukai

  • 45

    perempuan, menggunakan metafora, sebagai sesuatu yang mengontrol suatu

    objek, berupa makanan , hewan atau anak. Seksualitas adalah kegilaan yang

    tidak terkontrol atau pelanggaran fisik. Organ seksual laki-laki dibicarakan

    secara metaforis sebagai senjata, sperma sebagai beban dan amunisi. Kesan

    dan rekonstruksi dari dunia ini tentu membuat laki-laki berpikir dan bertindak

    dari segi sesuatu yang tidak terinspirasi dalam proyek penelitian dalam bidng

    ini.

    Dalam perdebatan konstruktif dengan Lakoff dan Johnson, Quinn

    (1987, 1991) menemukan delapan metafora yang berbeda untuk perkawinan

    di antara penduduk pribumi Amerika Serikat, di wilayah tengah Selatan. Dia

    menemukan metafora kebersamaan, kekekalan, manfaat bersama,

    kompatibilitas, kesulitan, usaha, keberhasilan dan kegagalan dan resiko.

    Dia melihat lapisan model budaya untuk pemahaman dunia yang lebih dalam

    dibandingkan dengan konsep metafora; metafora jauh dari produksi

    pemahaman, yang biasanya sangat dibatasi oleh pemahaman. Dia juga

    mengkritik linguistik kognitif yang meninggalkan kesan bahwa semua

    pemahaman ini didominasi oleh proyeksi metafora. Quinn dapat berbagi

    kritikan, tetapi tidak mengikuti tesisnya bahwa ada model budaya,

    independensi dari ekspresi metafora dalam bahasa.

    Penelitian lain juga telah berkembang; Horton (2002) menganalisis

    metafora untuk perubahan paru usia dan menghadirkan lima studi kasus

    dimana masing-masing pernyataan diarahkan pada metafora terpusat. Seperti

    dalam dua penelitian sebelumnya, informasi terhadap metode yang digunakan

  • 46

    untuk membangun metafora dalam konteks masih sangat kekurangan.

    Sementara analisis sebelumnya juga berhubungan dengan kasus analisis

    kelompok, Nerlich, Hamiltoin dan Rowe (2002) yang menghadirkan analisis

    metafora yang digunakan oleh media dan politik dalam penanganan penyakit

    Kaki dan Mulut di Inggris Raya.

    Pada penelitian terdahulu yang dapat dianalisis adalah pekerja sosial

    dan psikolog yang ditentukan oleh departemen Tenaga kerja sosial untuk

    bekerja dengan orang yang mengalami cacat psikososial. Data penelitian ini

    dapat diidentifikasi metafora yang terdapat pada pekerja sosial dan bantuan

    psikologi dalam perawatan masyarakat. Juga ada sembilan metafora konseptual

    yang diperoleh, antara lain: (1) membangun untuk menyertai seseorang pada

    jalur yang tidak dapat dilalui dan membawa mereka ke dalam jalur yang benar,

    (2) membantu mendukung setiap orang yang mengalami beban berat, (3)

    membantu membuat situasi yang gelap menjadi terang benderang, (4)

    membantu orang untuk belajar, (5) membantu memfasilitasi ikatan antara

    orang yang sendirian terpisah dari jaringan sosial dan membebaskan orang

    yang terperangkap ke dalam kondisi yang sangat terbatas, (6) membantu

    berbicara tentang sesuatu, membawa, membicarakan tentang, berbicara,

    berbicara kepada, memberikan argumen (7) membantu bekerja melalui

    masalah psikologi dan menghasilkan sesuatu dalam hubungan terapi, (8)

    membantu adalah menyebabkan orang membuka pikirannya dan menetapkan

    keterbatasan bagi seseorang yang tidak dapat melakukannya sendiri, dan (9)

  • 47

    membantu memberikan suatu substansi (yaitu cinta, perhatian, perawatan) bagi

    mereka.

    Yang dikembangkan analisis metafora sebagai metode alternatif di

    sini adalah untuk menemukan pola pikir sub-budaya dan mendefinisikannya

    sebagai sebuah langkah penelitian yang handal dan dapat dijalankan. Berkaitan

    dengan kredibilitasnya, kondisi analisis dimaksud, khususnya dalam rangkaian

    fakta bahwa banyak fenomena komplek berdasarkan aturan dapat dijelaskan

    menggunakan lebih dari satu metafora. Ketiga, dalam pendekatan yang

    dipaparkan di sini lebih memfokuskan pada metafora tidak sadar dari bahasa

    sehari-hari atau yang ditemukan dalam dokumen yang dikumpulkan dan tidak

    mencoba melakukan metafora sendiri ke dalam sebuah proses. Keempat,

    analisis metafora sistematis adalah usaha untuk mengungkapkan potensi teori

    lingusitik kognitif dari Lokoff dan Johnson, menggunakannya secara luas

    dibandingkan dengan apa yang dilakukan dalam kajian hingga sekarang ini.

    Dengan memaparkan latarbelakang ini, diperkenalkan asumsi dalam

    pendekatan Lakoff dan Johnson.

    2.3.8 Asumsi sentral yang dibuat oleh Lakoff dan Johnson

    Contoh dalam asumsi sentral yang dibuat oleh Lakoff dan Johnson

    ini memberikan kejelasan tenang asumsi yang dibuat oleh Lakoff dan Johnson :

    Konsep metafora. Metafora tidak muncul dalam keterasingan tetapi

    membentuk konsep metafora, yang dapat dibangun. Jumlah konsep metafora

    yang mendasar sangat terbatas sehingga dari sejumlah metafora bantuan

  • 48

    psiko-sosial maka ada sembilan konsep yang dapat disusun. Pengalaman

    terhadap pemahamannya menekankan bahwa akan ada fokus penelitian dan

    kemudian diarahkan pada bidang penyelidikan di mana konsep metafora itu

    dapat dirumuskan secara khusus.

    2.3.9 Homologi berpikir dan berbicara

    Dalam homologi berpikir dan dan berbicara, hubungan metafora ini

    bukan menjadi masalah kesempatan tetapi sebagai indikasi dari pola berpikir,

    persepsi, komunikasi, dan aksi yang sesuai dalam semua bidang yang akan

    dimainkan. Lakoff dan Johnson mengasumsikan homologi berpikir dan

    berbicara. Hal ini menjadi titik awal bagi kemungkinan dan relevansi analisis

    metafora dalam ilmu sosial. Penelitian tertua dari Bock (1981) terhadap

    perilaku pemecahan masalah sebagaimana dianggap sebagai psikologi

    eksperimen, merujuk pada hubungan yang tertutup antara kognisi metafora dan

    juga perencanaan aksi.

    2.3.10 Relevansi ilmu sosial dan psikologi

    Relevansi analisis metafora dapat dibahas pada berbagai tingkatan,

    misalnya Metafora lintas budaya. Lakoff dan Johnson menanyakan bahwa

    skema sebagai kebaikan selalu di atas dapat diperoleh dalam semua budaya

    dan tidak dapat dibobotkan sama untuk semuanya dengan struktur spasial lain

    (pusat/tepi, di depan dan di belakang, di dalam/di luar) yang barangkali

    menjadi lebih dominan. Di samping itu konsep yang terhubung pada sumber

    imagi ini tumpang tindih secara parsial dari satu budaya ke budaya yang lain.

  • 49

    Dengan demikian dalam penelitiannya tentang AIDS, Wolf (1996)

    membandingkan metafora peran dari dunia pertama (misalnya membasmi

    penyakit dan sel pembunuh) dengan dana metafora yang digunakan di Malawi,

    di mana virus AIDS dikonseptualisasikan di atas semua metafora makanan;

    virus, yang dinyatakan sebagai cacing, memakan manusia, hanya sebagai

    bagian dari penyimpangan sosial yang mengambil makanan dari manusia lain

    dan bahan terkait dengan tubuh yang hidup.

    Dalam wilayah agraria, seksualitas juga dinyatakan sebagai istilah

    utama dari metafora makanan. Sehingga Wolf tidak merasa terkejut

    menemukan bahwa paket kondom dengan gambaran perisai dan tombak,

    menggambarkan pahlawan Afrika tetapi pada saat yang sama menggunakan

    konsep Eropa untuk menyerang, bertemu tanpa berhasil dalam populasi.

    Mempertanyakan sejumlah laki-laki atas penerimaannya tentang kondom dia

    mendapatkan balasan yang secara metaforis diucapkan dalam kalimat : Anda

    tidak dapat memakan manisan dalam bungkusannya.

    2.3.11 Keberadaan metafora secara budaya

    Secara budaya subjek ini tentu diteliti dalam sejumlah kesempatan, terutama

    dari sudut pandang linguistik. Nieraad (1977) menjelaskan metafora fasisme itu

    dan aksi dari motivasi yang ada sebagai penakluk perang, Fuhrer sebagai fitur

    dari legitimasi demokratis dan perubahan; dan disain dari perlawanan politik

    seperti tikus dan cacing dan pelaksanaan program biologi untuk

    pengentasannya. Penulis ini menggambarkan sebuah survey konsep metafora

  • 50

    untuk krisis psikologi atau penyakit bagi semua jenis dari Austrasten hingga

    Zerrissenheit.

    2.3.12 Keberadaan metafora dalam sub kelompok

    Dalam bidang bantuan psiko sosial profesional terdapat beberapa

    paper yang menganalisis metafora lingkungan spesifik dan implikasi untuk

    tindakan manusia. Schachtner (1999, 2002) meneliti strategi terapi dan

    diagnosis di antara praktisi umum dengan mengacu kepada gambar linguistik

    yang memandu aksi yang telah ada. Persepsi metafora dan pentahapan pada

    kontak antar manusia dalam psikologi berbasis bangsal telah dijelaskan oleh

    Buchloz dan von Kleist (1997). Survey konsep metafora yang digunakan dalam

    kerangka menyeluruh dari bantuan psiko-sosial ini telah disebutkan.

    2.3.13 Metafora sebagai mekanisme pengarah interaksi

    Buchlotz dan von Kleist (1995) menjelaskan pengarahan interaksi

    manusia melalui metafora dalam kondisi terapi. Mereka menganalisis, dengan

    mengacu kepada satu contoh spesifik apa yang dikembangkan oleh klien dan

    terapi sebagai metafora dari pekerjaan mereka, dengan memberlakukan

    metafora dalam interaksi yang telah ada, dan juga kemungkinan kendala meta

    linguistik untuk komunikasi menggunakan metafora. Kajian kuantitatif pada

    penggunaan metafora dalam terapi ditemukan dalam Pollio, Barlwo, Fina, dan

    Polio (1977).

  • 51

    2.3.14 Keberadaan individu metafora

    Dalam penelitian yang telah disebutkan di atas, keberadaan metafora

    itu menjadi sebuah isu pada berbagai tingkatan. Dengan studi kasus ini, analisis

    metafora dapat memberikan rangsangan terhadap penelitian biografi dan pada

    evaluasi proses terapi.

    Penelitian kualitatif memperlihatkan berbagai ketegangan yang ada

    di dalam hubungan antara subjektivitas, refleksi diri dan ketaatan pada

    prosedur metode. Contohnya adalah berkisar dari Mayring (1983) dengan

    analisis konten berbasis aturan yang direfleksikan atas bagian subjek dari

    perkembangan kategori, bagi posisi yang diambil oleh Huber (2001) yang

    membatasi ketaatan terhadap metodologi yang kurang penting bagi penelitian

    dibandingkan dengan subjektivitas estetika. Ilustrasi yang dapat digambarkan

    dari hasil analisis tersebut adalah faktor timbal balik dalam hubungannya

    antara subjektivitas dan prosedur metodologi menggunakan metode penelitian

    yang telah dikembangkan berupa analisis metafora sistematis.

    Analisis metafora sistematis berusaha membangun model berpikir,

    bahasa, dan tindakan. Ini mengikuti indikator yang ditemukan dalam tulisan

    historis terhadap filsafat yang mana model metafora itu menentukan pikiran

    bahkan selama paparan abstrak yang ada, termasuk dari praktek terapi di mana

    metafora itu digunakan sebagai komunikasi yang sangat vital yang mampu

    memahami pengertian yang telah ada, khususnya dalam kondisi yang lebih

    sulit.

  • 52

    Dalam kondisi penelitian yang berbeda, penelitian dalam psikologi

    eksperimen memperlihatkan bahwa metafora itu mempengaruhi proses kognitif

    dan arahan perhatian. Kontribusi bidang lingustik pada peran dan fungsi

    metafora, dalam bahasa tulisan dan lisan, meningkatkan berbagai bagian dalam

    beberapa dekade. Kontribusi dari berbagai disiplin saling berbagi kesimpulan

    di mana metafora memberikan orientasi pra konsepsi dengan mengacu kepada

    pemikiran dan pengalaman yang sulit diakses, atau hanya dapat diakses dalam

    bantuan analitik dalam pembahasan yang rasional. Penelitian kualitatif

    membutuhkan pendekatan yang memungkinkan refleksi sistematis dari

    metafora di mana melalui hal itu dapat diterima, berbicara, berpikir dan

    bertindak. Analisis sistematik dari metafora itu digambarkan atas hasil

    linguistik kognitif oleh Lakoff dan Johnson, menambahkan rekonstruksi

    sistematis step by step dari model metafora. Prosedur penelitian yang secara

    sistematis menganalisa pengertian metafora memanfaatkan gerakan penolakan.

    Dalam hal ini, literatur seringkali memuat pemahaman etimologi dan juga

    penekanan yang sangat ekstrim dari metafora individu yang kemudian akan

    dapat dijelaskan sebagai subjek yang telah ada.

    Berbeda dengan hal ini, publikasi terakhir dari Lakoff dan Johnson

    ini mengarah pada asumsi bahwa model metafora yang membentuk kerangka

    kerja untuk berpikir kolektif telah dapat diidentifikasikan dalam berbagai

    bentuk dasar. Posisi keduanya mengarah pada tugas identifikasi metafora dan

    rekonstruksi pengertian kontekstual. Juga dalam kedua kasus ini tidak ada

    uraian metodologi sistematis dalam mengekstrak pemahaman yang telah ada.

  • 53

    Namun demikian, bahkan dalam menghadapi defisit analisis sistematis dari

    metafora, sebagai proses hermeneutik, masih tetap menjadi seni terapan.

    Rekonstruksi model metafora ini tidak bersifat otomatis; proses ini hanya dapat

    dipelajari. Pemahaman penelitian dari seseorang tentu menggambarkan sisi

    lingustik yang dibawa melalui rentang subjek historis; karakter sosial,

    pengalaman hidup dan tingkat pendidikan yang memungkinkan dan membatasi

    pemahaman ini. Aturan praktis untuk koleksi bahan dan prosedur

    pemrosesannya tidak terbatas pada peneliti, selain mengundang penemuan

    konsep berpikir metafora, perasaan dan tindakan yang kemudian dirajut ke

    dalam pemahaman multi lapisan dan disajikan dalam cara yang meyakinkan

    dan bisa dipahami.

    Di samping optimisme ini, analisis metafora sistematis sebagai

    metode evaluasi hanya dapat menjadi bagian dari prosedur penelitian yang

    sesuai dengan subjek. Pembatasan dan kepentingan ini dalam pengembangan

    langkah untuk memastikan kebenaran. Prosedur yang diajukan untuk

    intrpretasi teks ini didasarkan atas analisis metafora dalam kerangka kerja

    penelitian kualitatif yang dibagi ke dalam lima tahapan sebagai berikut. Yang

    pertama mengidentifikasikan bidang target untuk analisis metafora. Tahapan

    ini tentu dapat ditemukan lebih atau kurang eksplisit dalam semua pengantar

    metode penelitian kualitatif : menentukan topik, memutuskan pertanyaan yang

    tepat dan membuat draft rencana untuk survey dan evaluasi. Analisis metafora

    ini membutuhkan topik yang dipilih lebih lanjut sehingga penelitian dapat

    dibuat untuk pengisian metafora. Kemudian lebih menarik untuk menemukan

  • 54

    jawaban bagi pertanyaan apakah itu lebih baik bagi analisis metafora atau

    metode evaluasi teks lainnya yang terhubung pada subjektif tertentu tetapi

    tidak disadari berbagai penelitian dalam bidang ini. Schachtner (1999)

    memperlihatkan bahwa dokter medis menggunakan metafora yang bersumber

    dari pengalaman individu. Ini mengarah pada berbagai keanekaragaman dari

    model metafora, yang terbukti berbagai aspek konsisten dan yang sama

    digunakan oleh dokter. Kajian kualitatif yang dapat dibandingkan ke dalam

    model penelitian kualitatif model metafora yang digunakan untuk menjelaskan

    aktivitas pemahaman, penelitian atau temuan mereka masih belum terlaksana.

    Langkah kedua dalam proses ini, latarbelakang pengumpulan metafora

    yang luas dan tidak sistematis berfungsi sebagai persiapan untuk penelitian dan

    dokumentasi ruang lingkup budaya yang ada untuk menjelaskan fenomena

    yang ada. Selama fase persiapannya para peneliti berusaha mencari metafora

    dalam berbagai rentang bahan yang mengacu kepada topik yang diteliti

    (ensiklopedia, jurnal, buku yang ditulis para ahli untuk publik, dan lain-lain).

    Literatur akademik juga harus direkam untuk konseptualisasi metafora. Daftar

    yang diciptakan akan memungkinkan tinjauan awal dari konsep metafora yang

    sesuai yang digunakan untuk merefleksikan sebuah topik. Metodologi yang

    diajukan mendorong para peneliti untuk membuat catatan persaingan model

    metafora untuk wilayah sasaran dari bidang ilmu dan juga dari dunia sehari-

    hari, sehingga memberikan kesempatan untuk lebih sesuai dan pantas dalam

    berbagai imagi fenomena lingusitik khusus yang termasuk dalam rutinitas

    penelitian.

  • 55

    Penelitian yang tidak sistematis dalam konteks penelitian yang lebih

    sempit akan memberikan draft bagi rangkaian budaya yang menyoroti

    ketiadaan model metafora tertentu. Koleksi dalam bahasa sehari-hari dan

    tulisan teoretis membantu menemukan konsep yang dimanfaatkan dalam

    evaluasi wawancara dan teks lain. Aturan yang ada mengasumsikan bahwa teks

    tersedia sebagai bahan untuk analisis lebih lanjut. Langkah ini termasuk

    menganalisis ekspresi verbal dari sub kelompok untuk menetapkan metafora

    mana yang akan digunakan untuk menjelaskan bidang penelitian ini. Hal ini

    tentu berlangsung dalam dua tahapan, yang dimulai dengan identifikasi

    metafora melalui segmentasi teks dan diikuti oleh rekonstruksi konsep

    metafora.

    Analisis dimulai dengan mengidentifikasikan metafora yang ada di

    dalam teks. Tugas ini tidak mudah dicapai dalam kelompok kerja sesuai

    dengan frase atau kata yang diidentifikasikan sebagai metafora apabila

    memenuhi persyaratan sebagai berikut : (a) Kata atau frasa dapat dipahami

    dalam pengertian harafiah dan konteks (b) Pengertian harafiah berasal dari area

    pengalaman kultural dan sensorik, dan (c) Yang kemudian ditransfer kedalam

    bidang yang kedua.

    Prosedur praktis adalah pertama kali untuk meniru metafora yang

    digunakan (di dalam target itu telah diteliti termasuk konteks teks) dan

    kemudian memasukkannya ke dalam daftar terpisah. Bentuk teks yang lainnya

    kemudian direkam untuk menemukan dan mengekstrak semua uraian metafora

    lanjutan dari topik yang diteliti, hingga hanya menghubungkan kata, teks yang

  • 56

    tidak relevan dengan target dan abstrak tanpa hubungannya dengan metafora.

    Dalam penelitiannya, Schulze (2005) merekomendasikan dan ikut serta dalam

    pandangan diri sendiri. Sebelum semua wawancara lain berlangsung maka

    peneliti diwarancarai atas topik itu dan mengidentifikasikan dan mengekstrak

    metaforanya sendiri.

    Logika metafora dalam rekomendasi bahasa sehari-hari, dalam kasus ini

    sebagai aturan pelaksanaan, kelompok menengah hingga kelompok ekstrim.

    Beberapa konsep metafora umum kadangkala dibedakan secara acak, baik oleh

    kelompok sosial maupun individu. Di sini penelitian kualitatif dapat

    memberlakukan rekonstruksi model metafora khusus dalam bahan kelompok

    dan biografi khusus pula. Proses alokasi idiom metafora ini pada konsep

    metafora dilanjutkan hingga semua metafora dicatat dalam konsep. Dalam

    disiplin penentuan kelompok semua metafora menurut referensi kolektif, ruang

    lingkup untuk interpretasi konsep metafora itu dibatasi oleh adanya konsep

    yang bersaing sehingga, ada perbedaan yang jelas antara analisis metafora

    sistematis dan bebas. Dalam bagian terakhir, proses ini masih tidak lengkap

    dan metafora ditemukan pada awalnya sebagai bagian dari interpretasi.

    Formulasi dari konsep metafora ini menuntut pendekatan yang lebih

    kreatif dan sintesis. Aturan praktis ini untuk kemampuan subjektif adalah

    menemukan berbagai konstruksi lingusitik dan untuk mengidentifikasikan

    konsep yang telah didefinisikan. Pelatihan dan pengembangan contoh sangat

    membantu. Namun demikian, metode pemahaman penelitian itu tergantung

    pada faktor personal seperti praktik, tingkat pengetahuan akan konsep dan

  • 57

    biografi dan karakteristik metafora, dan kemampuan untuk mengambil

    keputusan termasuk perkembangan yang ada melalui bahan yang ada. Ada juga

    usaha untuk menemukan dan mengembangkan berbagai model yang menurut

    Poiaget menuntut berbagai asimialsi dan adaptasi dari bahan menggunakan

    sistem yang tersedia. Rekonstruksi konsep metafora untuk Lakoff dan Johnson

    tidak merumuskan aturan yang lebih terbuka untuk pengaruh subjektif dari

    pada identifikasi metafora.

    Keterkaitan antara pemanfaatan keberadaan subjektif dari pengetahuan

    dan aturan praktis yang mengikutinya juga dibahas dalam metode evaluasi teks

    dengan menggunakan berbagai jarak yang lebih familiar. Divisi ini tentu

    terlihat di antara dua fase pengumpulan dan rekonstruksi terhadap kesiapan

    untuk membuat penilaian dan menghindari bahaya yang datang setelah

    kesimpulan pertama dari imagi lingusitik ditemukan. Sejumlah temuan

    eksperimen membuktikan bahwa distraksi metafora ini adalah kejadian yang

    sering terjadi. Analisis metafora, tidak dapat didahului sebelumnya bila teknik

    tidak digunakan untuk pengembangan kebiasaan membaca secara rutin.

    Destruksi dari struktur teks, dengan memotong frasa metafora, menghilangkan

    berbagai metafora yang sama dari teks dan memungkinkan penilaian dari unsur

    tekstual. Uraian Hitzler dari penggunaan hermeneutik umum dapat diadopsi

    untuk analisis metafora.

    Penggunaan model metafora ini termasuk pada praktek sosial dan etno-

    metode komunikasi diri sendiri dan orang lain. Sangat dimungkinkan untuk

    melakukan analisis biografi terhadap latarbelakang kejadian kolektif dari

  • 58

    metafora. Imagi linguistik yang bersifat independen dan juga kurangnya satu

    konvensi menjadi hal yang lebih baik bila membandingkan temuan itu dengan

    kelompok. Proses ini sama seperti saling pengaruh di antara aturan praktis dan

    kemampuan subjektif.

    Yang perlu dipahami adalah membangun konsep metafora seperti

    seseorang dalam wadah? Frase metafora itu tentu tidak memiliki lebih dari

    satu titik dalam petak, yang terlihat lebih sesuai. Pengetahuan dalam konsep

    metafora hanya dapat digunakan bila membuat interpretasi yang

    dimungkinkan.

    Pemahaman hermeneutik adalah proyeksi subjek ke dalam dunia dan

    (lingusitik, intelektual dan praktis) adalah pra syarat bagi upaya

    mengungkapkan koneksi lain dalam dunia yang memiliki struktur secara

    simbolik. Langkah-langkah dalam prosedur dan pengetahuan dari kesimpulan

    itu sangat dimungkinkan membantu mencapai pemahaman yang lebih baik

    dalam awal pembentukan pengalaman dan juga pencapaian batas yang telah

    ada. Pemahaman ini adalah terutama tidak sempurna; konsep kejenuhan

    teoretis dalam pengertian teori yang dihadirkan sebagai kriteria pragmatik

    untuk membawa penelitian lebih dekat.

    Perbandingan konsep metafora ini diperhitungkan untuk sejumlah

    tindakan dan pengalaman yang berbeda. Bakrfelt (2003) misalnya dalam

    kajiannya terhadap metafora depresi, ditemukan dalam tulisan autobiografinya,

    pekerjaan yang dialami oleh berbagai penulis dalam penyakitnya antara

    kontrast terang dan gelap. Yang lain menjelaskannya sebagai serangan yang

  • 59

    mengenali mereka secara tiba-tiba. Perbandingan dari kedua konsep metafora

    ini mengacu kepada pengalaman penyakit yang berbeda yang digambarkan

    pada kecepatan yang berbeda. Penggunaan metafora dalam pengertian terang

    gelap memberikan persepsi transisi sehingga memungkinkan ruang bagi

    manuver yang padat mungkin ketika depresi itu diangap sebagai serangan.

    Dalam sisi terakhir, pada sisi lain, penyakit itu lebih jelas didefinisikan sebagai

    musuh berbahaya dan personal dibandingkan dalam konsep metafora. Dari

    kondisi ini, Barkfelt mendapatkan sejumlah opsi berbeda untuk intervensi

    terapi dan linguistik. Tetapi secara umum, perbandingan konsep metafora

    dengan model aksi ini memuat beberapa bidang keilmuan khusus. Kesimpulan

    ini hanya dimungkinkan bila konteks ini dapat dipahami secara penuh. Barkfelt

    hanya mampu menarik kesimpulan karena ia mampu mengenali implikasi yang

    telah ada dengan apa yang telah dihasilkan.

    2.4 Penelitian Yang Relevan.

    2.4.1 Ho Vin My Linh (2011) : Kajian Metafora dalam Surat Kaba (Bahasa Inggris tandingan Bahasa Vietnam )

    Judul diatas membahas permasalahan bahasa yang muncul berkaitan

    dengan metafora yang secara produktif digunakan dalam bahasa surat kabar.

    Dalam penelitian ini penulis berpendapat bahwa para jurnalis sering

    menggunakan kemampuan bahasanya khususnya dalam penggunaan metafora.

    Metafora merupakan salah satu perangkat bahasa yang menimbulkan kesulitan.

    Menggunakan metafora dalam surat kabar memuaskan keingintahuan dan

  • 60

    kepuasan pembaca meski kadang menimbulkan kesulitan dalam

    memahaminya.

    Metafora ada sebagai fakta umum di semua bahasa di dunia ini tidak

    bahasa Vietnam yang kemudian dibandingkan dengan bahasa Inggris dalam

    penggunaannya di surat kabar. Analisis ini sebagai kontribusi pada bidang

    linguistik khususnya mengenai persamaan dan perbedaan metafora dalam

    bahasa Vietnam dan bahasa Inggris dan membantu para penulis, pembaca, guru

    bahasa, mahasiswa, penerjemah dalam memahami kedua bahasa secara efektif.

    Penelitian ini untuk menganalisis ujaran-ujaran metaforis yang terdapat dalam

    surat kabar berbahasa Vietnam dan bahasa Inggris dan mencari persamaan dan

    perbedaannya khususnya yang berkaitan dengan fitur-fitur sintaksis dan

    semantik. Kemudian, fitur-fitur tersebut dibandingkan dan dicari kesamaan dan

    perbedaannya. Akhir dari penelitiannya diperoleh implikasi yang dikaitkan

    dengan pembelajaran bahasa.

    Untuk mencapai tujuan-tujuan yang disebutkan di atas dirumuskan

    permasalahan penelitian sebagai berikut, (1) fitur-fitur sintaksis apasajakah

    yang terdapat dalam ujaran metaforis dalam surat kabar Vietnam dan bahasa

    Inggris? (2) fitur-fitur semantik apasajakah yang terdapat dalam ujaran

    metaforis dalam surat kabar berbahasa Vietnam dan bahasa Inggris?, dan (3)

    kesamaan dan perbedaan apasajakah antara metafora bahasa Vietnam dan

    bahasa inggris khususnya yang berkaitan dengan fitur-fitur sintaksis dan

    semantik? Untuk memperoleh jawaban dari ketiga rumusan tersebut, peneliti

    menggunakan beberapa teori metafora, antara lain Halliday (1989) khususnya

  • 61

    yang berkaitan dengan definisi metafora; Galperin (1981) tentang hubungan

    antara kamus dan makna logis kontekstual yang berdasarkan kesamaan

    perangkat bahasa tertentu terhadap dua konsep korespondensi; Lakoff dan

    Johnson (1980) khususnya yang berkaitan dengan peran metafora dalam

    menentukan realita bahasa sehari-hari. Dalam linguistik kognitif, metafora

    diartikan sebagai pemahaman suatu domain konseptual untuk domain

    koseptual lainnya. Lakoff (1980) yang menegaskan bahwa metafora bukan

    permasalahan pikiran dan alasan. Bahasa masalah kedua. Masalah yang utama

    justru terletak pada pemetaan.

    Untuk mendapatkan firtur-fitur sintaksis, peneliti menggunakan

    kategorisasi frasa yang ada dalam metafora kedua bahasa tersebut. Yang

    dimaksud kategori frasa di sini adalah kata-kata yang secara terstruktur ada

    dalam membentuk metafora.

    Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kombinasi

    deskriptif dan komparatif. Sampel yamg dikumpulkan dalam bentuk ujaran

    metafora dari berbagai surat kabar kedua bahasa yang diteliti dalam bentuk

    korpus sebanyak 400 sampel (200 dalam bahasa Vietnam dan 200 dalam

    bahasa Inggris.

    Hasil analisis yang diperoleh fitur sintaksis bahasa Inggris adalah

    sebagai berikut:

    (1) Noun phrases

    a) N;

    b) ART + N;

  • 62

    c) ADJ + N;

    d) NP + PP (PREP + N/NP);

    e) NPs + N; f) N + PP; f) COMPOUND N;

    (2) Adjective Phrases:

    a) ADJ;

    b) COMPOUND ADJ;

    c) PAST PARTICIPLE / PRESENT PARTICIPAL;

    (3) Verb Phrases: a) V.

    Hasil analisis fitur semantik bahasa Inggris berdasarkan pada gabungan

    kesamaan warna, bentuk, fungsi dan ciri, metafora dapat dikelompokkan

    menjadi:

    (1) metafora yang merujuk pada warna;

    (2) metafora yang merujuk pada cuaca;

    (3) metafora yang merujuk pada perang;

    (4) metafora yang merujuk pada kesehatan;

    (5) metafora yang merujuk pada binatang;

    (6) metafora yang merujuk pada makanan;

    (7) metafora yang merujuk pada perjalanan; dan

    (8) metafora yang merujuk pada sifat.

    Penelitian ini berkontribusi khususnya dalam menganalisis fitur

    sintaksis dan semantiknya. Metode analisis ini diterapkan dalam analisis

    metafora Hikayat Abdullah. Perbedaannya adalah dalam penelitian yang

  • 63

    dilakukan oleh Ho Vin My Linh (2011) ini dengan yang sedang peneliti

    lakukan adalah disamping jenis genre yang berbeda, tidak adanya bandingan

    makna metafora sebagai salah satu bahasa figuratif dari segi ilmu sastra dengan

    makna kognitif metafora dari segi kajian linguistik.

    2.4.2. Abdullah, I. H. (2011), Analisis Kognitif Semantik PeribahasaMelayu Bersumberkan Anjing (Canis Familiaris) :

    Makalah yang ditulis oleh Abdullah ini mengungkap secara spesifik

    kajian metafora dikaitkan dengan hewan. Konsep hewan yang diketengahkan ia

    sebut rantaian makhluk utama (RUM) dan metonimi spesifik generik yang

    melambangkan semantik peribahasa Melayu berkaitan dengan binatang anjing.

    Penulis berpendapat bahwa mekanisme kognitif dalam berkomunikasi

    manusia selalu membentuk metafora dengan mengaitkan atau melibatkan

    hewan yang kerap ditemui dalam kehidupannya sehari-hari. Di sini penulis

    memilih hewan anjing yang kerap digunakan dalam peribahasa berkaitan

    dengan hewan yang dapat dijumpai dalam hampir semua bahasa dan budaya.

    Makalah ini membahas mekanisme kognitif yang membolehkan manusia

    membentuk peribahasa dengan melibatkan hewan dari sudut linguistik kognitif.

    Peneliti melambangkan metafora yang ia teliti berazaskan pada budaya

    rakyat (folk culture) dikaitkan dengan hirarki makhluk dalam dunia hakiki.

    Peneliti berpendapat bahwa mekanisme kognitif dalam berkomunikasi manusia

    selalu membentuk metafora dengan mengaitkan atau melibatkan hewan yang

    kerap ditemui dalam kehidupannya sehari-hari. Di sini penulis memilih hewan

    anjing yang kerap digunakan dalam teks yang diteliti, yaitu yang berkaitan

  • 64

    dengan budaya rakyat (folk culture). Pandangan bahwa setiap hewan secara

    prototipe mempunyai tingkah laku naluri masing-masing, namun secara

    universal dengan pengalaman manusia yang berbeda-beda dalam

    memperlakukan, dan memanfaatkan hewan tersebut secara berbeda, bentuk dan

    makna metafora yang diambil dari jenis binatang yang sama akan mempunyai

    makna yang berbeda pula. Makna-makna tersebut tidak terlepas dari budaya

    masyarakat penuturnya. Oleh sebab itu, di sini penulis disertasi ini mengambil

    satu budaya sebagai budaya asal metafora tersebut dibentuk, yaitu budaya

    Melayu. Beberapa teori digunakan dalam penelitian ini, namun yang menarik

    untuk ditelusur adalah teori Kvecses (2002) dan Lakoff & Turner (1989).

    Teori ini berfokus pada aspek mental, yaitu berasaskan satu situasi khusus

    dapat dipahami.

    Penelitian ini menghasilkan dari 35 peribahasa Melayu yang dianalisis,

    14 (40. 0%) memaparkan anjing sebagai Pelaku (protagonis) suatu perbuatan,

    11 (31. 4%) memaparkan anjing sebagai objek atau antagonis perbuatan

    manusia. Selebihnya, 10 peribahasa (28. 6%) merujuk kepada bahagian anjing

    seperti ekor anjing (n = 5), mulut anjing, leher anjing, atau atribut anjing

    seperti tuah anjing dan semangat anjing serta objek berkaitan anjing - tali

    anjing (masing-masing n = 1).

    Menurut pandangan Lakoff & Turner, (1989) anjing dilihat sebagai

    hewan yang bisa diharap dan setia. Namun berdasarkan analisis peribahasa

    anjing dalam penelitian ini, dari segi budaya Melayu, anjing adalah hewan

    yang hina, lemah dan, jahat. Oleh sebab itu diperoleh hasil bahwa ada

  • 65

    perbedaan antara proposisi dan skema metaforis dalam semantik metafora

    hewan.

    Kontribusi penelitian ini terhadap penelitian yang sedang dilakukan

    adalah teori yang digunakan, yaitu teori Kvecses (2002) dan Lakoff & Turner

    (1989). Perbedaannya adalah dalam penelitian yang dilakukan oleh Abdullah,

    I. H. (2011) ini dengan yang sedang peneliti lakukan adalah di samping jenis

    genre yang berbeda, tidak adanya bandingan makna metafora sebagai salah

    satu bahasa figuratif dari segi ilmu sastra dengan makna kognitif metafora dari

    segi kajian linguistik.

    2.4.3. Tina Krennmayr (2011) : Metapor dalam surat kabar

    Penelitian Metafora dalam Surat Kabar oleh Krennmayr (2011) dari

    universitas VRIJE Belanda berlatarbelakang bahwa metafora merupakan

    subjek perdebatan yang panas dan yang paling banyak diteliti oleh para linguis.

    Hal ini sangat aneh: mengapa para linguis begitu tertarik dengan bidang kajian

    sastra ini? Jawabannya berkaitan dengan linguistik kognitif, sebuah cara ampuh

    dalam melihat bahasa dan pemikiran. Penelitian-penelitian yang telah

    dilakukan sebelumnya cenderung mempertimbangkan masalah bahasa terlepas

    dari kemampuan kognitif, linguistik kognitif memandang bahasa sebagai cara

    interaksi dengan persepsi, memori, dan pemberian alasan. Penekanannya

    adalah walaupun kelihatannya aspek bahasa manasuka (arbitrary), seperti

    dalam beberapa bahasa pemilihan kata depan menjadi masalah besar, tetapi

  • 66

    kata depan yang dimaksud mempunyai pondasi makna yang sistematik dalam

    pikiran.

    Peneliti dalam disertasi ini mengungkapkan bahwa tulisan jurnalistik

    kerap digunakan sebagai sumber analisis metafora. Telah banyak penelitian

    metafora yang mengangkat isu-isu berita di berbagai surat kabar . Dicontohkan

    di sini metafora yang berkaitan dengan imigran (Santa Ana, 1999); metafora

    komunikasi

    dalam laporan berita di Inggris (Heywood & Semino, 2007); fungsi metafora

    perang dalam berita majalah bisnis (Koller, 2002), dan masih banyak lagi yang

    lainnya.

    Penelitian yang dilakukan oleh Krennmayr (2011) ini memberi

    pandangan pada penggunaan contoh konsep atau metafora linguistik dalam

    suregister atau pada topik-topik khusus, metafora yang digunakan di surat

    kabar sebagai suatu keseluruhan register. Teori yang digunakan, di samping

    teori dasar yang diutarakan oleh Lakoff and Johnsons (1980), peneliti juga

    mengkombinasikan beberapa teori, antara lain (Boers, 1999; Cameron, 2003;

    Charteris-Black, 2004; Deignan, 2005; Koller, 2004; Musolff, 2006; Semino,

    2002; Steen et al. , 2010).

    Dari hasil penelitian ini, telah dibangun database bahasa dari empat

    register yang berbeda, yaitu berita, fiksi, teks akademik dan percakapan

    dilengkapi metafora yang berdasar pada kejelasan, arahan identifikasi metafora

    yang sistematis yang dirujuk dari Prosedur Identifikasi Metafora, (the

    Metaphor Identification Procedure (MIP)) (Pragglejaz Group, 2007). Prosedur

  • 67

    metode ini bekerja dari bawah ke atar (bottom-up) yaitu hanya berfokus pada

    pengidentifikasian metafora linguistik, bukan konsep struktur.

    Database yang ditemukan dikatakan sangat unik, yang dapat membuka

    peluang semua penelitian dalam bidang ilmu yang baru yang selama ini tidak

    terlalu memperhatikan pendekatan linguistik kognitif terhadap metafora

    variasi bahasa metafora yang digunakan dalam jenis wacana yang berbeda.

    Rumusan masalah yang dikemukakan berkaitan dengan frekuensinya bahasa

    metafora digunakan dalam surat kabar dibanding dengan jenis register lainnya,

    distribusi melalui kelas kata dan hubungannya dengan register,