of 195/195
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Tn“I” DENGAN GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL : POST OPERASI (PEMASANGAN PLATE) FRAKTUR TIBIA FIBULA 1/3 DISTAL TERBUKA DI RUANG PERAWATAN BEDAH RAJAWALI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA MAKASSAR TANGGAL 5-11 JANUARI 2010 OLEH : DEWA ANUGRAH NIM : 07.01.061 \ AKADEMI KEPERAWATAN MAPPA OUDANG MAKASSAR 2010

114152470 Fraktur Tibia Fibula Distal Terbuka

  • View
    212

  • Download
    10

Embed Size (px)

Text of 114152470 Fraktur Tibia Fibula Distal Terbuka

  • ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TnI DENGAN GANGGUAN

    SISTEM MUSKULOSKELETAL : POST OPERASI (PEMASANGAN

    PLATE) FRAKTUR TIBIA FIBULA 1/3 DISTAL TERBUKA

    DI RUANG PERAWATAN BEDAH RAJAWALI

    RUMAH SAKIT BHAYANGKARA MAKASSAR

    TANGGAL 5-11 JANUARI 2010

    OLEH :

    DEWA ANUGRAH

    NIM : 07.01.061

    \

    AKADEMI KEPERAWATAN MAPPA OUDANG

    MAKASSAR

    2010

  • 12

    ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TnI DENGAN GANGGUAN

    SISTEM MUSKULOSKELETAL : POST OPERASI (PEMASANGAN

    PLATE) FRAKTUR TIBIA FIBULA 1/3 DISTAL TERBUKA

    DI RUANG PERAWATAN BEDAH RAJAWALI

    RUMAH SAKIT BHAYANGKARA MAKASSAR

    TANGGAL 5-11 JANUARI 2010

    KARYA TULIS ILMIAH

    Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Pendidikan Diploma III

    Akademi Keperawatan Mappa Oudang Makassar

    OLEH :

    DEWA ANUGRAH

    NIM : 07.01.061

    AKADEMI KEPERAWATAN MAPPA OUDANG

    MAKASSAR

    2010

  • 13

    HALAMAN PERSETUJUAN

    Karya Tulis Ilmiah ini Berjudul: ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

    TnI DENGAN GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL : POST

    OPERASI (PEMASANGAN PLATE) FRAKTUR TIBIA FIBULA 1/3 DISTAL

    TERBUKA DI RUANG PERAWATAN BEDAH RAJAWALI

    RUMAH SAKIT BHAYANGKARA MAKASSAR TANGGAL 5-11 JANUARI

    2010

    Telah disetujui untuk diujikan dan dipertahankan. Di depan penguji

    Akademi Keperawatan Mappa Oudang Makassar

    Pada Hari Kamis, 19 Agustus 2010

    Pembimbing

    SYAHARUDDIN, SKM, S.Kep, Ns

    NIDN : 0904047301

    Diketahui OlehDirektur

    Akademi keperawatan Mappa Oudang

    Makassar

    dr. Hj. A. NURHAYATI, DFM, M. Kes

    AKBP NRP. 59030832

    HALAMAN PENGESAHAN

  • 14

    Karya Tulis Ilmiah dengan judul : ASUHAN KEPERAWATAN PADA

    KLIEN TnI DENGAN GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL : POST

    OPERASI (PEMASANGAN PLATE) FRAKTUR TIBIA FIBULA 1/3 DISTAL

    TERBUKA DI RUANG PERAWATAN BEDAH RAJAWALI

    RUMAH SAKIT BHAYANGKARA MAKASSAR. Telah diuji dan dipertahankan

    di hadapan Tim Penguji pada hari kamis 19 Januari 2010 di Akper Mappa Oudang

    Makassar.

    Tim Penguji

    1. Syaharuddin, SKM, S.Kep Ns ( )

    2. Hamzah Tasa, S.Kep Ns, M.Kes ( )

    3. Hj. Aminah, S. Kep Ns ( )

    Mengetahui,

    Direktur Akademi Keperawatan Mappa Oudang

    Makassar

    dr. Hj. A. NURHAYATI, DFM, M.Kes

    AKBP NRP. 59030832

  • 15

    DAFTAR RIWAYAT HIDUP

    A. IDENTITAS PENULIS

    Nama : DEWA ANUGRAH

    Tempat/Tgl lahir : WATANSOPPENG, 27 Januari 1989

    Suku/Bangsa : Bugis/Indonesia

    Jenis kelamin : Laki-laki

    Agama : ISLAM

    Alamat : Jl. Baji Gau No. 182 Makassar 90223

    B. RIWAYAT PENDIDIKAN

    Pendidikan formal

    1. Pada Tahun 1994-1995 TK Perwanida

    2. Pada Tahun 1995-2001 SD Negeri 166 Laburawung

    3. Pada Tahun 2001-2004 SLTP Negeri 2 Watansoppeng

    4. Pada Tahun 2004-2007 SMA Negeri 1 Watansoppeng

    5. Pada Tahun 2007-2010 Akademi Keperawatan Mappa Oudang Makassar

  • 16

    KATA PENGANTAR

    Alhamdulillah, segala Puji bagi Allah SWT Rabb semesta alam, yang

    Maha Menciptakan, Menghidupkan dan Mematikan, yang Rahmat-Nya meliputi

    langit dan bumi, dunia dan akhirat dan kepada-Nyalah semua akan kembali.

    Shalawat serta salam mudah-mudahan terlimpah kepada Nabiullah Muhammad

    SAW, yang membawa umat manusia dari alam gelap gulita ke alam yang terang

    benderang.

    Tak lupa pula penulis mensyukuri segala Rahmat dan Karunia yang telah

    dilimpahkan sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini

    dengan judul ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TN. R

    DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN : HERNIA INGUINAL DI

    RUANG PERAWATAN KENARI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA MAPPA

    OUDANG MAKASSAR.

    Karya Tulis Ilmiah ini disusun dalam rangka menyelesaikan pendidikan

    Diploma III Keperawatan pada Akademi Keperawatan Mappa Oudang Makassar.

    Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis banyak menghadapi hambatan,

    tetapi berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak Karya Tulis Ilmiah ini

    dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Untuk itu perkenankanlah penulis

    mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :

  • 17

    1. Bapak dewan pembina AKPER Mappa Oudang Makassar, yang telah

    menyediakan sarana dan prasarana selama pendidikan di Akper Mappa

    Oudang Makassar.

    2. Ibu dr. Hj. A. Nurhayati, DFM, M. Kes selaku Direktur AKPER Mappa

    Oudang Makassar yang telah banyak memberikan bimbingan dan ajaran

    seperti anaknya sendiri kepada penulis selama mengkuti pendidikan di Akper

    Mappa Oudang Makassar.

    3. Kepala RS. Bhayangkara Makassar beserta staf yang telah memberikan

    izin, membantu menyediakan sarana dan prasarana, meluangkan waktu untuk

    memperoleh data serta memberikan bimbingan dalam melaksanakan asuhan

    keperawatan.

    4. Bapak Syaharuddin, SKM, S. Kep, Ns selaku pembimbing dan penguji I

    yang begitu banyak memberikan sumbangsih pemikiran, saran, nasehat dan

    dengan penuh kesabaran dan ketelatenan selama proses bimbingan di dalam

    penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.

    5. Bapak Hamzah Tasa, S. Kep Ns, M. Kes sebagai penguji II yang begitu

    banyak memberikan masukan dan saran demi kelengkapan Karya Tulis

    Ilmiah ini.

    6. Ibu Hj. Aminah, S.Kep, Ns sebagai penguji III yang telah memberikan

    bimbingan dan masukan dalam penyususnan karya tulis ilmiah ini.

    7. Bapak & Ibu Dosen beserta Staf Pengajar Akademi Keperawatan Mappa

    Oudang Makassar yang telah memberikan kuliah dan bimbigan kepada penulis

  • 18

    selama mengikuti pendidikan di Akademi Keperawatan Mappa oudang

    Makassar.

    8. Special buat ayahanda Ramli Mahmud dan ibunda tercinta Nuhera Sinar

    dan saudara- saudaraku tersayang Dedy Saputra, Dewi Purnama dan Dela

    Safitri, serta semua keluarga yang tidak sempat dituliskan namanya dalam

    lembaran ini terimakasih banyak telah memberikan doa, support, kasih

    sayang serta dukungan moril yang tak terhitung nilainya sehingga penulis

    dapat menyelesaikan studinya.

    9. Special buat sahabat-sahabatku, Agus junaedi dahlan (Ajudan), Muhaimin

    (india), Muh. Yusuf(Sufu), Arfiansyah (Ettu), Sumardi (Suma), Masdar

    (Mas), Agusman (Sagu), Jumain (Jumbo), Ansar (Anshay), syamsuddin

    (same), Fadil (fade), Faharuddin (Aco), Sofyan (Sofy), A. Ibrahim

    (Ibeleng), Hasanuddin (Kacang), longa (Ahmad Khair), dan semua teman-

    teman yang tidak sempat penulis tuliskan dalam lembaran ini yang sudah mau

    berbagi suka dan duka bersama penulis, juga memberikan support, dan

    semangat kepada penulis selama bersama-sama dalam mengikuti pendidikan.

    10. Tak lupa juga saya menghanturkan banyak terima kasih kepada Pak dardin,

    Pak Herman, Bu Asni, Kak Ridho, Kak Indri, Kak Sahar, Kak Ahmad,

    Kak Hikma, Kak Halim, Astaga hampir lupa juga ma Mba Sri dan Mba

    Erna yang senantiasa merelakan barang jualannya untuk saya habiskan

    sebelum dibayar (utang), begitupun dengan bapak Madjid sekeluarga yang

    senantiasa memberikan dispensasi dengan penunggakan uang kos dan listrik

  • 19

    dan suguhan buka puasa yang hampir setiap hari menyelematkan perut

    keronconganku bersama teman-teman.

    11. Teman-teman kelompok bedah Jumain, Masdar, Fadil, Nona, Nurmi,

    Mustaina, Sry, Erni, Terimah kasih atas kerja samanya dan kekompakannya

    selama ujian akhir program.

    12. Rekan-rekan aktivis BEM periode I yang telah membantu penulis dalam

    mencapai kedewasaan dalam berfikir.

    13. Para adinda ku di AKPER MAPPA OUDANG dan SMK PRATIDINA

    yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu terimah kasih banyak atas

    kerjasamanya dalam penyusunan karya tulis ini

    Semoga tuhan yang Maha Esa memberikan balasan yang setimpal atas

    segala bantuan yang diberikan

    Akhir kata penulis berharap semoga Karya Tulis ini dapat bermanfaat bagi

    masyarakat umumnya dan tenaga keperawatan khususnya dalam memberikan

    Asuhan Keperawatan. Akhirnya penulis memohon kepada Allah SWT semoga

    apa yang telah diperbuat bernilai ibadah disisi-Nya.

    Makassar, Januari 2010

    DEWA ANUGRAH

  • 20

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i

    HALAMAN PERSETUJUAN ................................................................................ ii

    HALAMAN PENGESAHANiii

    DAFTAR RIWAYAT HIDUP...iv

    KATA PENGANTAR ............................................................................................. v

    DAFTAR ISI .......................................................................................................... ix

    DAFTAR LAMPIRAN.xi

    BAB I PENDAHULUAN

    Latar Belakang ............................................................................................. 1

    Tujuan Penulisan .......................................................................................... 3

    Manfaat Penulisan ........................................................................................ 4

    Metodologi ................................................................................................... 5

    Sistematika Penulisan ................................................................................... 7

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA

    Konsep Dasar Medis ........................................................................... 8

    Pengertian ...................................................................................... 8

    Anatomi Fisiologi ......................................................................... 8

    Etiologi ........................................................................................ 21

    Patofisiologi ................................................................................ 24

    Manifestasi Klinik ....................................................................... 25

    Pemerikasan Diagnostik .............................................................. 26

    1. Penatalaksanaan Medik ............................................................... 27

    Konsep Dasar Keperawatan .............................................................. 28

    Pengkajian ................................................................................... 28

    Penyimpangan KDM .................................................................. 29

    Diagnosa Keperawatan................................................................ 30

    Rencana Keperawatan ................................................................ 30

    BAB III TINJAUAN KASUS

    Pengkajian ........................................................................................ 36

  • 21

    Data Fokus ................................................................................. 46

    Analisa Data ............................................................................... 47

    Diagnosa Keperawatan ..................................................................... 49

    Rencana Keperawatan (Intervensi) ................................................... 50

    Catatan Tindakan (Implementasi) .................................................... 54

    Catatan Perkembangan (Evaluasi) .................................................... 57

    BAB IV PEMBAHASAN

    Pengkajian ......................................................................................... 60

    Diagnosa Keperawatan...................................................................... 62

    Intervensi ........................................................................................... 64

    Implementasi ..................................................................................... 65

    Evaluasi ............................................................................................. 66

    BAB V PENUTUP

    Kesimpulan ....................................................................................... 67

    Saran .................................................................................................. 68

    DAFTAR PUSTAKA

  • 22

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Seiring deengan kemajuan dan perkem bangan ilmu pengetahuan

    disegala bidang khususnya kemajuan IPTEK kesehatan dan keperawatan

    yang merupakan salah satu komponennya dituntut terus berkembangsecara

    dinamis dengan masalah keperawatan/kesehatan di masyarakat yang kian

    kompleks.

    Dalam meningkatkan derajat kesehatan yang optimal perawat

    merupakan salah satu komponen pembangunan di bidang kesehatan yang

    perlu dilaksanakan karenan perawat akan memberikan pelayanan kepada

    manusia secara utuh meliputi biologis, psikososial, dan spiritual yang

    dapat menunjuang proses penyembuhan penyakit klien.

    Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawah

    dampak terhadap kompleksnya permasalahan kesehatan di rumah sakit,

    juga mengalami perkembangan akibat meningkatnya tuntunan kebutuhan

    masyarakat akan asuhan keperawatan yang diberikan terutama pada pasien

    fraktur atau patah tulang.

    Patah tulang (fraktur) adalah retaknya tulang, biasanya disertai

    dengan cedera di jaringan sekitarnya, dimana sebagian patah tulang

    merupaka akibat dari cedera, seperti kecelakaan mobil, olah raga atau

    karena jatuh. Adapun tanda dan gejalanya yaitu nyeri, bengkak,

    deformitas, alat gerak tidak berfungsi sebagaimana mestinya, berkurangya

  • 23

    sensasi yang dapat terjadi karena adanya gangguan saraf dimana saraf itu

    dapat terjepit atau terputus oleh frangmen tulang. Dan adapun

    penatalaksanaan dari fraktur adalah dengan cara traksi, gips, fiksasi

    internal dan fiksasi eksternal. (www. Medicastro dan Anugrah-Argon.com,

    23-09 2007).

    Dengan makin pesatnya kemajuan lalu lintas di indonesia baik dari

    segi pemakaian jalan, jumlah kendaraan, jumlah pemakai jasa angkutan,

    bertambahya jaringa jalan dan kecepatan kendaraan maka mayoritas

    terjadinya fraktur adalah akibat kecelakaan lalu lintas.

    Menurut data dari kepoloisian Republik Indonesia rata-rata setiap

    hari terjadi 40 kecelakaan yang menyebabkan 30 kematian dan menurut

    data dari RS. Sumber waras jakarta angka kejadian fraktur akibat

    kecelakan lalu lintas adalah sebesar 2.5 % (http://penjelajah

    waktu.blogspot.com).

    Data yang diperoleh dari RS.Bhayangkara Mappa Oudang

    Makassar pada tahun 2004-2006 adalah sebagai berikut :

    No Tahun Laki-laki Perempuan Total

    1

    2

    3

    2005

    2006

    2007

    31

    17

    261

    11

    8

    132

    42

    25

    393

  • 24

    Derdasarkan data tersebut diatas maka penulis mengangkat kasus

    dengan judul ; ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TN I

    DENGAN GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL : POST

    OPERASI (PEMASANGAN PLATE) FRAKTUR TIBIA FIBULA 1/3

    DISTAL TERBUKA DI RUANG PERAWATAN BEDAH RAJAWALI

    RS.BHAYANGKARA MAPPA OUDANG MAKASSAR. PADA

    TANGGAL 5-11 JANUARI 2010

    B. Tujuan

    1. Tujuan Umum :

    Untuk mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata tentang

    pelaksanaan Asuhan Keperawatan mulai dari pengkajian sampai

    pendokumentasian yang terjadi pada klien dengan Gangguan System

    Musculoskeletal : Fraktur.

    2. Tujuan Khusus :

    Tujuan khusus yang akan dicapai dalam penulisan karya ilmiah ini

    untuk mendapatkan gambaran dalam :

    a. Memperoleh pengalaman nyata dalam pengkajian, analisa data dan

    perumusan diagnosa keperawatan yang terjadi pada klien dengan

    Gangguan System Musculoskeletal : Fraktur Di Ruang Perawatan

    Bedah Rajawali RS.Bhayangkara Mappa Oudang Makassar.

    b. Memperoleh pengalaman nyata dalam menetapkan perencanaan

    keperawatan yang terjadi pada klien dengan Gangguan System

  • 25

    Musculoskeletal : Fraktur Di Ruang Perawatan Bedah Rajawali

    RS.Bhayangkara Mappa Oudang Makassar.

    c. Memperoleh pengalaman nyata dalam melaksanakan perencanaan

    asuhan keperawatan yang terjadi pada klien dengan Gangguan

    System Musculoskeletal : Fraktur Di Ruang Perawatan Bedah

    Rajawali RS.Bhayangkara Mappa Oudang Makassar.

    d. Memperoleh pengalaman nyata dalam melaksanakan evaluasi

    asuhan keperawatan yang terjadi pada klien Dengan Gangguan

    System Musculoskeletal : Fraktur Di Ruang Perawatan Bedah

    Rajawali RS.Bhayangkara Mappa Oudang Makassar.

    e. Memperoleh pengalaman nyata dalam memdokumentasikan hasil

    asuhan keperawatan yang terjadi pada klien dengan Gangguan

    System Musculoskeletal : Fraktur Di Ruang Perawatan Bedah

    Rajawali RS.Bhayangkara Mappa Oudang Makassar.

    C. Manfaat Penulisan

    1. Akademik

    a. Sebagai bahan masukan bagi institusi pendidikan dalam

    meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang asuhan

    keperawatan klien dengan Gangguan System Musculoskeletal :

    Fraktur Di Ruang Perawatan Bedah Rajawali RS.Bhayangkara

    Mappa Oudang Makassar.

    b. Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa di institusi kesehatan

    khususnya pada diploma III Bhayangkara Makassa.

  • 26

    2. Rumah Sakit

    a. Sebagai bahan masukan bagi rumah sakit khususnya didalam usaha

    meningkatkan pelayanan perawatan dalam pengembangan kwalitas

    asuhan keperawatan pada klien dengan Gangguan System

    Musculoskeletal : Fraktur Di Ruang Perawatan Bedah Rajawali

    RS.Bhayangkara Mappa Oudang Makassar.

    b. Dapat menjadikan masukan bagi perawat dalam menetapkan dan

    meningkatkan kwalitas asuhan keperawatan khususnya bagi klien

    yang mengalami Gangguan System Musculoskeletal : Fraktur Di

    Ruang Perawatan Bedah Rajawali RS.Bhayangkara Mappa

    Oudang Makassar.

    3. Klien dan Keluarga

    a. Agar klien dan keluarga mendapatkan pengalaman nyata tentang

    cara dan tehnik pencegahan, perawatan dan pengobatan yang

    terjadi pada klien dengan Gangguan System Musculoskeletal :

    Fraktur Di Ruang Perawatan Bedah Rajawali RS.Bhayangkara

    mappa Oudang Makassar.

    b. Agar keluarga memahami dan mengetahui cara yang baik dan

    benar dalam perawatan dan pencegahan suatu penyakit

    4. Penulis

    a. Sebagai bahan tambahan pengetahuan dan pengalaman bagi

    penulis dalam mengklasifikasikan ilmu yang telah didapatkan

    selama pendidikan.

  • 27

    b. Hasil penulisan diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis untuk

    menambah pengetahuan dan keterampilan didalam menangani

    klien dengan gangguan system musculoskeletal : Fraktur di Ruang

    Perawatan Bedah Rajawali RS.Bhayangkara Mappa Oudang

    Makassar.

    D. Metode Penulisan

    Pelaksanaan Asuhan Keperawatan dilakukan Pada Klien Gangguan

    System Musculoskeletal : Post Operasi (Pemasangan Plate) Fraktur Tibia

    Fibula 1/3 Distal Terbuka di Ruang Perawatan Bedah Rajawali

    RS.Bhayangkara Mappa oudang Makassar mulai dari tanggal 5-11 Januari

    2010. adapun metodologi yang digunakan dalam penulisan laporan ini

    adalah :

    1. Tempat

    Ruang Keperawatan Bedah Rajawali RS.Bhayangkara Mappa Oudang

    Makassar.

    2. Waktu

    Mulai dari Tanggal 5 s/d 11 Januari 2010

    3. Tehnik Pengumpulan Data

    Dalam sistem penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis menggunakan

    berbagai metode yaitu :

    1) Study Kepustakaan

    Mempelajari literatur yang berhubungan atau yang berkaitan dengan

    Karya Tulis Ilmiah tentang asuhan keperawatan pada klien dengan

  • 28

    gangguan system musculoskeletal : Post Operasi (Pemasangan

    Plate) Fraktur Tibia Fibula 1/3 Distal Terbuka di Ruang Perawatan

    Bedah Rajawali RS.Bhayangkara Mappa Oudang Makassar, sebagai

    kerangka teoritis yang dapat mengarahkan pemikiran yang

    realistisk.

    2) Study Kasus

    Pendekatan yang digunakan dalam studi kasus adalah proses

    keperawatan yang komprehensif yang meliputi : pengkajian,

    perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Sedangkan untuk

    menghimpun data dan mengkaji dengan menggunakan tehnik

    adalah sebagai berikut :

    a. Wawancara

    Tanya jawab untuk memperoleh data riwayat kesehatan yang

    akurat, antara tenaga kesehatan dan keluarga klien maupun

    dengan klien sendiri (Auto Anamnese dan Allo Anamnese).

    b. Pengkajian fisik

    Tehnik yang digunakan dalam pengkajian ada 4 yaitu :

    1) Observasi atau inspeksi yaitu memperoleh data melihat

    secara langsung untuk mendeteksi tanda-tanda vital yang

    berhubungan dengan status fisk.

    2) Palpasi, dilakukan dengan menggunakan sentuhan atau

    rabaan untuk mengetahui ciri-ciri jaringan atau oragn.

  • 29

    3) Perkusi, adalah metode pemeriksaan dengan cara untuk

    menentukan batas-batas organ atau bagian tubuh dengan

    cara merasakan variasi yang ditimbulkan akibat adanya

    gerakan yang diberikan kebawah jaringan, dengan perkusi

    kita dapat membedakan apa yang ada dibawah jaringan

    (udara, cair, zat padat).

    4) Auskultasi, merupakan metode pengkajian yang

    menggunakan stetoskop untuk memperjelas pendengaran

    (bunyi jantung, paru-paru, bunyi usus, serta mengukur

    tekanan darah dan denyut nadi).

    c. Study Dokumentasi

    Melihat dan membaca langsung status klien di Ruang Perawatan

    Bedah Rajawali Badan Pengelola Rumah Sakit Umum

    Bhayangkara Mappa Oudang Makassar, pada klien dengan

    gangguan sistem system musculoskeletal : Post Operasi

    (Pemasangan Plate) Fraktur Tibia Fibula 1/3 Distal Terbuka di

    Ruang Perawatan Bedah Rajawali RS. Bhayangkara Mappa

    Oudang Makassar sistem batasan atau ruang lingkup masalah

    mulai tanggal 5 s/d 11 januari 2010.

    E. Sistematika Penulisan

  • 30

    Adapun sistematika penulisan Karya Tuklis Ilmiah ini dibagi dalam 5

    BAB dimana setiap BAB akan diuraikan kedalam sub-sub dengan susunan

    sebagai berikut:

    BAB I : Pendahuluan

    Pendahuluan meliputi latar belakang, tujuan penulisan, manfaat

    penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

    BAB II : Tinjaun Teoritis

    Tinjaun Teoritis meliputi konsep dasar medis yang meliputi

    pengertian, anatomi fisiologi, etiologi, insiden, patofisiologi,

    manifestasi klinik, proses penyembuhan tulang, komplikasi,

    panatalaksanaan fraktur, test diagnostik. Dan konsep dasar

    keperawatan meliputi : pengkajian dampak KDM, diagnosa,

    perencanaan dan evaluasi.

    BAB III : Tinjauan Kasus

    Tinjauan kasus menguraikan laporan asuhan keperawatan

    mulai dari pengkajian, pengumpulan data, pengelompokan

    data, analisa data, diagnosa keperawatan yang muncul, rencana

    tindakan, penatalaksanaan tindakan keperawatan serta evaluasi

    tindakan (SOAP).

    BAB IV : Pembahasan

    Pembahasan menguraikan mengenai kesenjangan antara teori

    dan praktek yang ada. Dalam praktek serta pemecahan

  • 31

    masalahnya (pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi,

    implementasi dan evaluasi).

    BAB V : Penutup

    Pada Bab ini disimpulkan hasil pelaksanaan study kasus yang

    dilaksanakan dan berisi saran-saran yang merupakan alternatif

    tujuan.

  • 32

    BAB II

    TINJAUAN TEORITIS

    A. KONSEP DASAR

    1. Pengertian

    Fraktur adalah terputusnya kontuinitas jaringan tulang atau tulang

    rawa yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa (Arief Mansjoer, dkk

    2000).

    Fraktur adalah terputusnya kontuinitas tulang dan ditentukan sesuai

    jenis dan luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenal stress yang lebih

    besar dari yang dapat diabsorsinya(Brunner & Suddarth. 2000).

    Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang (Doenges. 2000)

    Fraktur adalah retaknya tulang, biasanya disertai dengan cedera di

    jaringan sekitarnya (www.mediacastro.com)

    Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau

    tenaga fisik (Syilvia A. Priver.2005).

    Fraktur adalah terputusnya kontuinitas jaringan tulang yang dapat

    disebabkan oleh dorongan langsung pada tulang, kondisi patologik,

    kontraksi otot yang sangat kuat dan secara tiba-tiba atau dorongan secara

    tidak langsung (Pengantar Ilmu Keperawatan anak, A.Azis Alimul

    Hidayat. 2005. Hal 141).

  • 33

    2. Anatomi & fisiologi

    a. Pengertian tulang

    Tulang adalah suatu jaringan dinamis yang disusun dari tiga sel :

    osteoblas, osteosoit, dan osteoklas, osteoblas, membangun tulang

    membentuk kolagen tipe I dan proteoglikan sebagai matriks tulang

    atau jaringan tulang osteoid melalui suatu proses yang disebut

    asifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid, osteoblas

    mensekresikan sejumlah besar fosfatase alkali, yang memegang

    peranan penting dalam nengendapkan kalsium dan fosfat kedalama

    matriks tulang (Syilvia A. Priver, 2005).

    b. Fungsi tulang

    1) Fungsi tulang secara umum.

    a) Formasi kerangka: tulang-tulang membentuk rangka tubuh

    untuk menentukan bentuk dan ukuran tubuh, tulang-tulang

    menyokong struktur tubuh yang lain.

    b) Formasi sendi: tulang-tulang membentuk persendian yang

    bergerak dan tidak bergerak tergantung dari kebutuhan

    fungsional, sendi yang bergerak menghasilkan bermacam-

    macam pergerakan.

    c) Perlekatan otot: tulang-tulang menyediakan permukaan untuk

    tempat melekatnya otot, tendo, dan ligamentum untuk

    melaksanakan pekerjaannya.

  • 34

    d) Sebagai pengungkit: untuk bermacammacam aktivitas selama

    pergerakan.

    e) Menyokong berat badan: memelihara sikap tegak tubuh

    manusia dan menahan gaya tarikan dan gaya tekanan yang

    terjadi pada tulang, dapat menjadi kaku dan menjadi lentur.

    f) Proteksi: tulang rongga yang mengandung dan melindungi

    struktur yang halus seperti otak, medulla.

    g) Hemopoesis: sumsum tulang tempat pembentukan sel-sel

    darah, terjadinya pembentukan sel darah merah sebagian besar

    pada sumsum tulang merah.

    h) Fungsi immunologi: limfosit B dan makrofag dibentuk dalam

    system retikuleondotel sumsum tulang. Limposit B diubah

    menjadi sel-sel plasma membentuk antibody guna keperluan

    keperluan kekebalan kimiawi sedangkan makrofag berfungsi

    sebagai fagositotik.

    i) Penyimpanan kalsium: tulang mengandung 97% kalsium yang

    terdapat dalam bentuk baik dalam bentuk anorganik maupun

    garam-garam terutama kalsium posfat. Sebagian besar fosfat

    disimpan dalam tulang dan kalsium dilepas dalam darah bila

    dibutuhkan.

  • 35

    2) Fungsi tulang secara khusus.

    a) Sinus-sinus paranasalisdapat menimbulkan nada pada suara.

    b) Email gigi dikhususkan untuk memoton, menggigit dan

    mengilas makanan, email merupakan struktur yang terkuat dari

    tubuh manusia.

    c) Panggul wanita khusunya untuk memudahkan proses kelahiran.

    ( Anatomi Fisiolongi untuk mahasiswa keperawatan, Syaifuddin.

    2006 halaman 67-68)

    c. Klasifikasi tulang

    1) Tulang panjang (Femur, Humerus, Tibia, dan Fibula )

    Terdiri dari dua bagian batang dan bagian ujung tulang pipa ini

    bekerja sebagai alat ungkit dari tubuh dan kemungkinan bergerak.

    2) Tulang pendek (Carplas)

    Bentuk tidak teratur, sebagian besar terbuat dari jaringan tulang

    jarang karena diperkuat sifat yang ringan padat dan tipis.

    3) Tulang ceper(Tulang Tengkorak)

    Terdiri dari tulang padat dengan lapisan luar adalah tulang

    cacellous.

    4) Tulang tidak beraturan vertebratae (sama dengan tulang pendek)

    5) Tulang sesamoid

    Tulang terkecil, terpendek sekitar tulang persendiaan dan didukung

    oleh tendon dan jaringan faksial misalnya patella (cap lutut).

    (Perawatan Medical Bedah Barbara C. Long

  • 36

    3. Etiologi

    Sebagian besar patah tulang merupakan akibat dari cedera, seperti

    kecelakaan mobil, olahraga atau terjatuh (www.medicastro.com, 2008)

    Secara garis besarnya, penyebab fraktur dibagi tiga, yaitu :

    a. Kekerasan atau trauma langsung

    Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya

    kekerasan, fraktur demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan

    garis patah melintas atau miring.

    b. Kekerasan atau trauma tidak langsung

    Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang di tempat yang

    jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah

    bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan.

    c. Trauma ringan

    Trauma karena tulang itu sendiri sudah rapuh (fraktur patologik).

    (www.medicastro.com, 2008)

  • 37

    4. Pembagian Patah Tulang

    Ada lebih dari 150 klasifikasi fraktur, yang utama adalah :

    a. Incomplete : Fraktur yang hanya melibatkan bagian

    potongan menyilang tulang. Salah satu sisi

    patah dan yang lain hanya bengkok

    (greenstick).

    b. Complete : Garis fraktur melibatkan seluruh potongan

    menyilang dari tulang, dan fragmen tulang

    biasanya berubah tempat.

    c. Tertutup (simple) : Fraktur tidak meluas melewati kulit.

    d. Terbuka (compound) : Fraktur tulang meluas melewati otot dan kulit,

    dimana potensial untuk terjadi infeksi.

    e. Patologis : Fraktur terjadi pada penyakit tulang (seperti

    penyakit kanker, osteoporosis), dengan tak ada

    trauma atau hanya minimal.

    (Doenges. M.E. dkk, Edisi 3 Hal. 761, 2000).

    Berikut ini adalah berbagai jenis fraktur yaitu :

    a. Grreanstick : Fraktur dimana salah satu sisi tulang patah

    sedang sisi lainnya membengkok.

    b. Transveral : Fraktur sepanjang garis tengah tulang.

    c. Oblik : Fraktur membentuk sudut dengan garis tengah

    tulang (lebih tidak stabil dibanding

    transversal).

  • 38

    d. Spiral : Fraktur memuntir seputar batang tulang.

    e. Komunitif : Fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa

    frafmen.

    f. Depresi : Fraktur dengan patahan terdorong kedalam

    (sering terjadi pada tulang tengkorak dan

    tulang wajah).

    g. Kompresi : Fraktur dimana tulang mengalami kompresi

    (terjadi pada tulang belakang).

    h. Avulsi : Tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau

    tendo pada perlekatannya.

    i. Epofisial : Fraktur melalui epifisis.

    j. Impaksi : Fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke

    fragmen tulang lainnya.

    (Brunner & Suddart, 2001)

  • 39

  • 40

    avulsion comminuted displaced greenstick

    impacted interarticularlongitudinal oblique

    pathologic spiral stress transverse

    avulsion comminuted displaced greenstick

    impacted interarticularlongitudinal oblique

    pathologic spiral stress transverse

  • 41

    Untuk menjelaskan keadaan fraktur, hal-hal yang perlu di deskipsikan

    adalah:

    1. komplit atau tidak komplit

    a. Fraktur komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang

    atau melalui kedua korteks tulang .

    b. Fraktur tidak komplit bila garis patah tidak melalui seluruh

    penampang tulang seperti:

    1) Hairline fraktur (patah retak rambut).

    2) Buckle fraktur atau Torus fraktur, bila terjadi lipatan dari

    sesuatu korteks dari kompresi tulang spongiosa di bawahnya,

    biasanya pada distal radius anak-anak.

    3) Greenstick fraktur, mengenai satu korteks dengan anulasi

    korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang anak.

    2. Berdasarkan garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma.

    a. Garis Patah Melintang : trauma angulasi atau langsung

    b. Garis Patah Olik : trauma angulasi

    c. Garis Patah Spiral : trauma rotasi

    d. Fraktur Kompresi : trauma aksilla-fleksi pada tulang spongiosa

    e. Fraktur Avulsi : trauma tarikan/traksi otot pada insersinya ditulang

    misalnya fraktur patella.

  • 42

    3. Berdasarkan Jumlah Garis Patah

    1) Fraktur Kominutif :Garis patah lebih dari satu dan saling

    disebutdisebut pula frsktur bifokal

    2) Fraktur Segmental : Garis patah lebih dari satu tetapi tidak

    berhubungan

    3) Fraktur Multiple : Garis patah lebih dari dari satu tetapi pada

    tulang yang berlainan tempatnya fraktur

    femur, fraktur krusis, dan fraktur tulang

    belakang.

    4. Berdasarkan pergeseran anatomis fragmen tulang

    a. Fraktur Undisplaced, garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak

    bergeser , periosteumnya masih utuh

    b. Fraktur Displaced, terjadi pergeseran fragmenfragmen fraktur

    1) Pergeseran searah dengan sumbu dan overlapping

    2) Pergeseran yang membentuk sudut.

    3) Pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauhi.

    5. Berdasarkan jenisnya

    a. Fraktur tertutup, bila tidak terdapat hubungan dengan antara

    fragmen tulang dengan dunia luar.

    b. Fraktur terbuka, bila terdapat hubungan antara fragmen tulang

    dengan dunia luar akibat adanya perlukaan di kulit di bagi atas tiga

    derajat yaitu:

    1) Derajat 1

  • 43

    a) Luka < 1 cm

    b) Kerusakan jaringan lunak sedikit , tak ada tanda luka remuk

    c) Fraktur sederhana,transfersal, oblik, atau kominutif ringan

    d) Kontaminasi minimal

    2) Derajat II

    a) Laserasi > 1 cm

    b) Kerusakan jaringan lunak , tidak luas

    c) Fraktur kominutif sedang

    d) Kontaminasi sedang

    3) Derajat 111

    Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur

    kulit, otot, dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat

    tinggi.derajat terbagi atas :

    a) Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat,

    meskipun terdapat laserasi luas atau fraktur segmental

    sangat kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi

    tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luka.

    b) Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang

    terpapar atau kontaminasi pasif .

    c) Luka pada pembuluh arteri / saraf yang harus diperbaiki

    tanpa melihat kerusakan jaringan lunak.

    (Arif Manjoer, dkk. 2000. Halaman 346-347)

  • 44

    5. Insiden

    Fraktur tulang rusuk adalah yang paling Banyak terjadi pada orang

    dewasa, fraktur femur adalah fraktur yang paling banyak terjadi pada usia

    muda atau umur setengah baya. Pada pasien yang lebih tua yang sering

    terjadi adalah fraktur pada pinggul dan pada pergelangan tangan.

    Kecelakaan merupakan pembunuh nomor tiga di Indonesia setelah

    penyak jantung dan stroke. Menurut data dari kepeolisian republik

    indonesia tahun 2003, jumlah kecelakaan dijalan mencapai 13.399

    kejadian dengan mencapai 9.865 orang, 6.142 orang mengalami luka berat

    dan 8.694 mengalami mluka ringan dengan data rata-rata setiap hari

    terjadi 40 kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan 30 orang meninggal

    dunia, data dari Sulawesi Selatan jumlah kecelakaan lalu lintas juga

    cenderung bmeningkat di mana pada tahun 2001 jumlah korban mencapai

    1.717 orang, tahun 2004 jumlah meningkat 3.972 orang, tahun 2005 dari

    januari sampai september korban mencapai 3.620 orang dengan korban

    meninggal 903 orang (http/www,medikaster.com)

    6. Patofisiologi

    Tulang bersifat rapuh , namun memiliki kekuatan dan gaya pegas untuk

    menahan tekanan, tetapi jika tulag terkena tekanan yang lebih besar dari

    yang dapat diabsorbsinya maka akan terjadi fraktur. Meskipun tulang yang

    patah tapi jaringan disekitarnya juga akan terpengaruh,mengakibatkan

    edema jaringan lunak, perdarahan ke otot dan sendi, dislokasi sendi,

    rupture tendo, kerusakan saraf, dan kerusakan pembuluh darah. Pada

  • 45

    mulanya akan terjadi perdarahan disekitar patahan tulang, yang disebabkan

    oleh terputusnya pembuluh darah. Reaksi peradangan hebat timbul setelah

    fraktur.sel-sel darah putih dan sel mast berakumulasi menyebabkan

    peningkatan aliran darah ketempat tersebut fagositosis dan pembersihan

    sisa-sisa sel mati dimulai. Ditempat patah terbentuk bekuan fibrin

    (hematoma fraktur). Osteoblast segera terangsang dan terbentuk tulang

    baru imatur yang disebut kalus. Bekuan fibrin secara perlahan mengalami

    remondelling untuk membentuk tulang sejati. Tulang sejati menggantikan

    kalus dan secara perlahan mengalami kalsifikasi. Penyembuhan

    memerlukan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan.

    (Corwin, j.E, 2000, dan Prince, A, S, dan Wilson M, L, I995)

  • 46

    7. Manifestasi klinik

    Manifestasi klinik dari fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi,

    deformitas,pemendekan ekstremitas,krepitasi, pembengkakan local, dan

    perubahan warna.

    a. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang

    dimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk

    bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar

    fragmen tulang

    b. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan

    cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar

    biasa).Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai

    menyebabkan deformitas ekstremitas yang diketahui dengan

    membandingkan dengan ekstremitas yang normal. Ekstremitas tak

    dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung

    pada integritas tulang tempat melekatnya otot.

    c. Pada fraktur panjang terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya lah

    ciderkarena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat

    fraktur.Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5

    sampai 5 cm .

    d. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang

    dinamakan krepitasi yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu

    dengan lainnya

  • 47

    e. Pembengkakan dan perubahan warna local pada kulit terjadi sebagai

    akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.Tanda ini bisa

    baru terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cidera.

    f. Krepitus dapat terdengar sewaktu tulang digerakkan akibat pergeseran

    ujung-ujung patahan tulang satu sama lain .

    ( Corwin J. E, 2000,Brunner & suddarth, 2000.)

    8. Komplikasi

    Komplikasi awal pada fraktur adalah

    a. Syok . Syok hipovolemik atau trumatik akibat perdarahan .

    b Sindrom emboli lemak. Pada saat terjadi fraktur globula lemak dapat

    masuk kedalam darah karena tekanan sum-sum tulang lebih tinggi

    daripada tekanan kapiler atau karena ketokelamin yang dilepaskan oleh

    reaksi stress pasien akan memobilisasi asam lemak dan memudahkan

    terjadinya globula lemak dalam aliran darah, Globula lemak akan

    bergabung dengan trombosit membentuk emboli yang kemudian

    menyumbat pembuluh darah kecil.

    (Brunner & Suddarth, 2001, 2365)

    Komplikasi penyembuhan fraktur adalah :

    a. Malunion

    Fraktur sembuh dengan deformitas (angulasi, perpendekan atau rotasi)

    b. Delayed union

    Fraktur sembuh dalam jangka waktu yang lebih dari normal

  • 48

    c. Nonunion

    Fraktur yang tidak menyambung yang juga disebut psuedartrosis.

    Disebut nonunion jika tidak menyambung dalam waktu 20

    minggu.Pada fraktur dengan kehilangan fragmen sehingga ujung-ujung

    tulang berjauhan, maka dari awal sudah potensial menjadi nonunion

    dan boleh diberlakukan sebagai nonunion

    Komplikasi fraktur yang penting adalah :

    a. Komplikasi dini

    1. Lokal

    a) Vaskuler : compartemen syndrome , truma vaskuler

    b) Neurologist : lesi medulla spinalis atau saraf ferifer.

    2. Sistemik

    a) Emboli lemak

    b) Komplikasi lanjut

    3. Local

    a) Kekakuan sendi / kontraktur

    b) Disuse atrofi otot-otot

    c) Malunion

    d) Nonunion / infected nonunion

    e) Gangguan pertumbuhan (fraktur epifisis)

    f) Osteoporosis post trauma

    (Soelarto Reksoprodjo,dkk, 1995, 511)

  • 49

    9. Pemeriksaan Diagnostik

    - Hasil laboratorium

    Tidak ada tes laboratorium yang khusus untuk pasien dengan fraktur,

    yang perlu diketahui. Hb, hemotokrit sering rendah disebabkan

    pendarahaan. Laju endap darah meningkat bila kerusakan jaringan

    lunak sangat luas.

    - Hasil radiografik

    Pemeriksaan rontgen : menentukan lokasi (luasnya fraktur/trauma) Scan

    tulang, tomogram, CT scan/MRI : memperlihatkan fraktur, juga dapat

    digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.

    10. Proses Penyembuhan Tulang

    Waktu penyembuhan fraktur bervarisi dari 6-24 minggu, tergantung dari

    beratnya fraktur.

    Untuk penyembuhan fraktur (patah tulang) diperlukan imobilisasi.

    Imobilisasi dilakukan dengan cara sebagai berikut:

    a. Pembidaian physiologi

    Pembidaian semacam ini terjadi alami karena menjaga, mencegah

    pemakaian dan spasmus otot karena rasa sakit pada waktu digerakkan

    b. Pembidaian secara orthopedic eksternal

    Ini digunakan dengan gips dan traksi

    c. Fiksasi internal

    Pada metode ini kedua ujung tulang yang patah dikembalikan ke posisi

    asalnya dan di fiksasi dengan plat dan skrup atau diikat dengan kawat.

  • 50

    Beberapa faktor yang mempengaruhi penyembuhan tulang:

    1) Faktor yang mempercepat penyembuhan fraktur.

    a) Imobilisasi fragmen tulang.

    b) Kontrak fragmen tulang maksimal.

    c) Masukan darah yang memadai.

    d) Nutrisi yang baik.

    e) Latihan pembebanan berat badan untuk tulang panjang.

    f) Hormon-hormon pertumbuhan, tiroid, kalsitonin, vitamin D,

    streroid anabolic.

    2) Faktor yang menghambat penyembuhan fraktur.

    a) Trauma local ekstensi.

    b) Kehilangan tulang.

    c) Immobilisasi yang tidak memadai.

    d) Rongga atau jaringan diantara fragmen tulang.

    e) Inspeksi.

    f) Keganasan local.

    g) Penyakit tulang metabolik (misalnya penyakit paged).

    h) Radialis tulang (Nekrosis Radialis).

    i) Nekrosis Avaskuler.

    j) Usia (lansia sembuh lebih lama)

    k) Kortikosteroid (menghambat kecepatan perbaikan).

    (Prince, A. S dan Wilson M, L. 1995)

  • 51

    11. Penatalaksanaan

    Penatalaksanaan fraktur ini mengalami banyak perubahan dalam

    waktu 10 tahun terakhir ini. Traksi dan spica casting atau cast bracing,

    mempunyai banyak kerugian dalam hal memerlukan masa berbaring

    dan rehabilitasi yang lama, meskipun merupakan penatalaksanaan non-

    invasif pilihan untuk anak-anak. Oleh karena itu, tindakan ini tidak

    banyak dilakukan pada orang dewasa.(www.Cermin Dunia

    Kedokteran.com)

    Bila keadaan penderita stabil dan luka telah diatasi, fraktur dapat

    diimobilisasi dengan salah satu dari empat cara berikut ini.

    a. Traksi

    Comminuted frakture dan fraktur yang tidak sesuai untuk

    intra medullary nailing paling baik diatasi dengan menipulasi

  • 52

    dibawah anestesi dan balanced suding skeletal traction yang

    dipasang melalui tibial pin.

    Traksi longitudinal yang memadai diperlukan selama 24 jam

    untuk mengatasi spasme otot dan mencegah pemendekan, dan

    fragmen harus dipotong di posterior untuk mencegah

    perlengkungan. Enam belas pon biasanya cukup, tetapi penderita

    yang gemuk memerlukan beban yang lebih besar dari penderita

    yang kurus membutuhkan beban yang lebih besar dari penderita

    yang kurus membutuhkan yang kecil. Lakukan pemeriksaan

    radiologis setelah 24 jam untuk mengetahui apakah berat beban

    tepat bila terdapat over distraction, berat beban dikurangi, tetapi

    jika terdapat tumpang tindih, berat ditambah. Pemeriksaan

    radiologi selanjutnya perlu dilakukan dua kali seminggu selama

    dua minggu yang pertama dan setiap minggu sesudahnya untuk

    memastikan apakah posisi dipertahankan. Jika hal ini tidak

    dilakukan, fraktur dapat berselip perlahan-lahan dan menyatu

    dengan posisi yang buruk. (www.Cermin Dunia Kedokteran.com)

  • 53

    b. Fiksasi interna

    Intro medullary nail ideal untuk frktur transversal, tetapi

    untuk fraktur lainnya kurang cocok. Fraktur dapat diperlurus dan

    terhadap panjangnya dengan nail, tetapi fiksasi mungkin tidak

    cukup kuat untuk mengontrol rotasi. Nailin diindikasikan jika hasil

    pemeriksaan radiologi memberi bahwa jaringan lunak mengalami

    interposisi diantara ujung tulang karena hal ini hampir selalu

    menyebabkan nonlinion.

    Keuntungan intra medullary nailing adalah dapat memberikan

    stabilitas longitudinal serta kesejajaran (alignment) membuat

    penderita dapat dimobilisasi cukup cepat untuk meninggalkan

  • 54

    rumah sakit dalam waktu 2 minggu setelah kerugian meliputi

    anestesi, trauma bedah tambahan dan infeksi.

    Closed nailing memungkinkan mobilisasi yang tercepat

    denagn trauma yang minimal, tetapi paling sesuai untuk transversal

    tanpa pemendekan. Comminuted fracture paling baik dirawat

    dengan locking nail yang dapat mempertahankan panjang dan

    rotasi

    c. Fiksasi eksternal

    Bila fraktur yang dirawat dengan traksi stabil dan kalus

    terlihat pada pemeriksaan radiologis, yang biasanya pada minggu

    keenam, cast brace dapat dipasang. Fraktur dengan intramedullary

    nail yang tidak memberi fiksasi yang digid juga cocok untuk

    tindakan ini.

  • 55

    B. Proses Keperawatan

    Di dalam memberikan asuhan keperawatan digunakan system atau

    metode proses keperawatan yang dalam pelaksanaannya dibagi menjadi 5

    tahap yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan

    evaluasi.

    1. Pengkajian

    a. Pengumpulan data

    1) Anamnese

    a) Identitas klien

    Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama,

    bahasa yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan,

    asuransi, golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa

    medis.

    b) Keluhan utama

    Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah

    rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan

    lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang

    lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan :

    (1) Provoking Incident : apakah ada peristiwa yang menjadi

    yang menjadi faktor presipitasi nyeri.

    (2) Quality of Pain : seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau

    digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut,

    atau menusuk.

  • 56

    (3) Region : radation, rellef : apakah rasa sakit bisa reda,

    apakah rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa

    sakit terjadi.

    (4) Severoity (Scale) of Pain : seberapa jauh rasa nyeri yang

    dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien

    menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi

    kemampuan fungsinya.

    (5) Time : berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah

    bertambah buruk pada malam hari atau siang hari.

    c) Riwayat penyakit sekarang

    Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan

    sebab dari fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat

    rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi

    terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan

    kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena.

    Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya

    kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain.

    d) Riwayat penyakit dahulu

    Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab

    fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan

    menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang

    dan penyakit pagels yang menyebabkan fraktur patologis yang

    sering sulit untuk menyambung. Selain itu, penyakit diabetes

  • 57

    dengan luka di kaki sangat beresiko terjadinya osteomyelitis

    akut maupun kronik dan juga diabetes menghambar proses

    penyembuhan tulang.

    e) Riwayat penyakit keluarga

    Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit

    tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya

    fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada

    beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung

    diturunkan secara genetik.

    f) Riwayat psikososial

    Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang

    dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat

    serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya

    baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.

    g) Pola-pola fungsi kesehatan

    (1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat

    Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan

    terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani

    penatalaksanaan kesehatan untuk membantu

    penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian juga

    meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat

    steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium,

    pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu

  • 58

    keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga

    atau tidak.

    (2) Pola nutrisi dan metabolisme

    Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi

    melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat

    besi, protein, vit. C dan lainnya untuk membantu proses

    penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien

    bisa membantu menentukan penyebab masalah

    muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari

    nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein

    dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan

    faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama

    pada lansia. Selain itu juga obesitas juga menghambat

    degenerasi dan mobilitas klien.

    (3) Pola eliminasi

    Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan

    pada pola eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga

    dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada

    pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri

    dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah.

    Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan, atau tidak.

  • 59

    (4) Pola tidur dan istirahat

    Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan

    gerak, sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan

    kebutuhan tidur klien. Selain itu juga, pengkajian

    dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan,

    kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat

    tidur.

    (5) Pola aktivitas

    Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka

    sama bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan

    kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal

    ini yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien

    terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk

    pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding

    pekerjaan yang lain.

    (6) Pola hubungan dan peran

    Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan

    dalam masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat

    inap.

    (7) Pola persepsi dan konsep diri

    Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul

    ketidakutan akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas,

    rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara

  • 60

    optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah

    (gangguan body image).

    (8) Pola sensori dan kognitif

    Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama

    pada bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain

    tidak timbul gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri

    akibat fraktur.

    (9) Pola reproduksi seksual

    Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa

    melakukan hubungan seksual karena harus menjalani

    rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang

    dialami klien. Selain itu juga, perlu dikaji sattus

    perkawinanya termasuk jumlah anak, lama

    perkawinannya.

    (10) Pola penanggulangan stress

    Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang

    keadaan dirinya, yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada

    diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang

    ditempuh klien bisa tidak efektif.

    (11) Pola tata nilai dan keyakinan

    Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan

    kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan

  • 61

    konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan

    keterbatasan gerak klien.

    b. Pemeriksan Fisik

    Pemeriksaan fisik meliputi keadaan umum, BB, TTV (TD, nadi, suhu,

    pernapasan). Menurut Donges ME. dkk pada pasien yang mengalami

    fraktur adalah sebagai berikut :

    1) Aktivitas/Istirahat

    Gejala : Keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang

    terkena (mungkin segera, fraktur itu sendiri, atau terjadi

    secara sekunder, dari pembengkakan jaringan, nyeri).

    Sirkulasi :

    Tanda : Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respons

    terhadap nyeri/ansietas) atau hipotensi (kehilangan

    darah).

    Takikardia (respons stress, hipovolemia)

    penurunan/tidak ada nadi pada bagian distal yang

    cedera : pengisian kapiler lambat, pucat pada bagian

    yang terkena.

    2) Neurosensori

    Gejala : Hilang gerakan/sensori, spasme otot.

    Kesemutan

  • 62

    Tanda : Deformitas lokal : angulasi abnormal, pemendekan,

    rotasi, krepitasi (bunyi berjerit), spasme otot, terlihat

    kelemahan/hilang fungsi.

    Angitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri) ansietas

    atau trauma lain

    3) Nyeri/Kenyamanan

    Gejala : Nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin

    terlokalisasi pada area jaringan/kerusakan tulang ; dapat

    berkurang pada mobilisasi) ; tak ada nyeri akibat

    kerusakan saraf.

    Spasme/kram otot (setelah imobilisasi)

    4) Keamanan

    Tanda : Laserasi kulit, ovulasi jaringan, perdarahan, perubahan

    warna.

    Pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap

    atau tiba-tiba).

  • 41

    Timbulnya berbagai

    gejala (manifestasi

    klinik)

    Kesalahan interpretasi

    informasi

    Kurang pengetahuan

    mengenai kondisi

    prognosis dan

    pengobatan

    Perubahan status

    kesehatan

    Kurang informasi Kesalahan menginterpretasi

    masalah

    Pelepasan mediator

    kimia (bradikinin,

    histamin, serotonin dan

    prostaglandi)

    Stimulasi nociceptor

    Thalamus

    Korteks serebri Nyeri dipersepsikan Nyeri

    Terputusnya

    kontinuitas jaringan

    tulang

    Kerusakan pembuluh

    darah dan jaringan

    sekitar

    Fraktur terbuka

    Jalan masuk

    mikroorganisme,

    perawatan inadekuat

    Resiko infeksi

    Penurunan aliran

    darah ke jaringan

    Resiko disfungsi

    neuromuskuler

    perifer

    Kehilangan fungsi

    untuk beraktivitas

    Resiko cedera

    (tambahan)

    Terapi restruktif

    (immobilisasi)

    Kerusakan

    mobilitas fisik

    Fraktur

    Menekan fragmen tulang

    Trauma

    Kerusakan integritas kulit

    Sum-sum tulang hancur

    Serpihan sum-sum masuk ke

    pembuluh darah

    Emboli

    Emboli masuk ke

    pembuluh darah paru

    Hambatan transpor O2 dan

    CO2 di paru

    Resiko kerusakan

    pertukaran gas

    2. Dampak KDM

    --

  • 103

    3. Diagnosa Keperawatan

    Merupakan pernyataan yang menjelaskan status kesehatan baik

    aktual maupun potensial. Perawat memakai proses keperawatan dalam

    mengindentifikasi dan mengsintesa data klinis dan menentukan intervensi

    keperawatan untuk mengurangi, menghilangkan atau mencegah masalah

    kesehatan klien yang menjadi tanggung jawabnya.

    Diagnosa keperawatan adalah penilaian atau kesimpulan yang

    diambil dari pengkajian keperawatan, menjelaskan status kesehatan,

    masalah aktual, resiko, maupun potensial yang dapat diproritaskan.

    Adapun diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada klien dengan

    fraktur antara lain :

    a. Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot, gerakan fargmen tulang,

    edema, dan cedera pada jaringan lunak, alat traksi atau immobilisasi,

    stress, ansietas.

    b. Resiko tinggi terhadap trauma tambahan berhubungan dengan

    kehilangan integritas tulang (fraktur).

    c. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan

    dengan penurunan atau interupsi aliran darah, hepovolemia.

    d. Resiko tinggi terhadap kerusakan gas berhubungan dengan perubahan

    aliran darah, perubahan membran alveolar atau kapiler.

  • 104

    e. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan

    neuromuskuler, nyeri/ketidaknyamanan, terapi restriktif, immobilisasi

    tungkai.

    f. Kerusakan integritas jaringan kulit berhubungan dengan cedera tusuk,

    fraktur terbuka, bedah perbaikan, pemasangan traksi pen, kawat,

    sekrup.

    g. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya

    pertahanan primer, prosedur invasif, intraksi tulang.

    h. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan

    pengobatan berhubungan dengan kurang terpanjang atau mengingat,

    salah interpretasi informasi atau tidak mengenal sumber informasi.

    4. Rencana keperawatan

    Setelah diagnosa ditegakkan, maka langkah selanjutnya adalah

    menyusun rencana keperawatan untuk meminimalisir masalah tersebut.

    Adapun rencana keperawatan untuk masing-masing diagnosa antara lain :

    a. Resiko tinggi terhadap trauma tambahan berhubungan dengan

    kehilangan integritas tulang (fraktur).

    Tujuan : Mempertahankan stabilisasi dna posisi fraktur.

    Kriteria :

    1) Menunjukkan mekanika tubuh yang meningkatkan stabilitas pada

    sisi fraktur.

    2) Menunjukkan pembentukan kalus atau mulai penyatuan fraktur

    dengan tepat.

  • 105

    Intervensi keperawatan :

    NO INTERVENSI RASIONAL

    1)

    2)

    3)

    4)

    Pertahankan tirah baring/

    ekstremitas sesuai indikasi.

    Berikan sokongan sendi diatas

    dan dibawah fraktur bila

    bergerak/membalik.

    Letakkan papan dibawah

    tempat tidur atau tempatkan

    pasien pada tempat tidur

    ortopedik.

    Sokong fraktur dengan bantal/

    gulungan selimut. Pertahankan

    posisi netral pada bagian yang

    sakit dengan bantal pasir,

    pembebat, gulungan trokanter,

    papan kaki.

    Tugaskan petugas yang cukup

    1) Meningkatkan stabilitas,

    menurunkan

    kemungkinan gangguan

    posisi/ penyembuhan.

    2) Tempat tidur lembut atau

    lentur dapat membuat

    deformasi gips yang

    masih basah,

    mematahkan gips yang

    sudah kering atau

    mempengaruhi penarikan

    traksi.

    3) Mencegah gerakan yang

    tidak perlu dan perubahan

    posisi. Posisi yang tepat

    dari bantal juga dapat

    mencegah tekanan

    deformitas pada gips

    yang kering.

    4) Gips panggul/tubuh atau

  • 106

    5)

    6)

    untuk membaik pasien.

    Hindari menggunakan papan

    abduksi untuk membalik

    pasien dengan gips spika.

    Evaluasi pembebat ekstremitas

    terhadap resolusi edema.

    Pertahankan posisi/integritas

    traksi

    Pertahankan posisi/integritas

    multipel dapat membuat

    berat dan tidak praktis

    secara eksterm.

    Kegagalan untuk

    menyokong ekstremitas

    yang digips dapat

    menyebabkan gips patah.

    5) Pembebat koaptasi

    (contoh jepitan Jones-

    Sugar) mungkin

    digunakan untuk

    memberikan imobilisasi

    fraktur dimana

    pembengkakan jaringan

    berlebihan. Seiring

    dengan berkurangnya

    edema, penilaian kembali

    pembelat atau

    penggunaan gips plester

    mungkin diperlukan

    untuk mempertahankan

    kesejajaran fraktur.

    6) Traksi memungkinkan

  • 107

    7)

    8)

    traksi (contoh, Buck, dunlop,

    Pearson, Russel).

    Yakinkan bahwa semua klem

    berfungsi. Minyak katrol dan

    periksa tali terhadap tegangan.

    amankan dan tutup ikatan

    dengan pelster perekat.

    Pertahankan katrol tidak

    terhambat dengan beban bebas

    menggantung ; hindari

    mengangkat/menghilangkan

    berat.

    tarikan pada aksis

    panjang fraktur tulang

    dan memengatasi

    tegangan otot/

    pemendekan untuk

    memudahkan posisi/

    penyatuan. Traksi tulang

    (pen, kawat, jepitan)

    memungkinkan

    penggunaan, berat lebih

    besar untuk penarikan

    traksi daripada digunakan

    untuk jaringan kulit.

    7) Yakinkan bahwa susunan

    traksi berfungsi dengan

    tepat untuk menghindari

    interupsi penyambangan

    fraktur.

    8) Jumlah beban traksi

    optimal dipertahankan.

    Catatan : Memastikan

    gerakan bebas beban

    selama menggantu posisi

  • 108

    9)

    10)

    11)

    Bantu meletakkan beban di

    bawah roda tempat tidur bila

    diindikasikan.

    Kaji ulang tahanan yang

    mungkin timbul karena terapi,

    contoh pergelangan tidak

    menekuk/duduk dengan traksi

    Buck atau tidak memutar di

    bawah pergelangan dengan

    traksi Russel.

    Kaji integritas alat fiksasi

    eksternal.

    pasien menghindari

    penarikan berlebihan tiba-

    tiba pada fraktur yang

    menimbulkan nyeri dan

    spasme otot.

    9) Membantu posisi tepat

    pasien dan fungsi traksi

    dengan memberikan

    keseimbangan timbal

    balik.

    10) Mempertahankan

    integritas tarikan traksi.

    11) Traksi Hoffman

    memberikan stabilitasasi

    dan sokongan kaku untuk

    tulang fraktur tanpa

    menggunakan katrol, tali

    atau beban,

  • 109

    12)

    13)

    Kaji ulang foto/evaluasi

    Berikan/pertahankan stimulasi

    listrik bila digunakan.

    memungkinkan mobilitas/

    kenyamanan pasien lebih

    besar dan memudahkan

    perawatan luka. Kurang

    atau berlebihannya

    keketatan klem/ikatan

    dapat mengubah tekanan

    kerangka, menyebabkan

    kesalahan posisi.

    12) Memberikan bukti visual

    mulainya pembentukan

    kalus/ proses

    penyembuhan untuk

    menentukan tingkat

    aktivitas dan kebutuhan

    perubahan/ tambahan

    terapi.

    13) Mungkin diindikasikan

    untuk meningkatkan

    pertumbuhan tulang pada

    keterlambatan

    penyembuhan/tidak

    menyatu.

  • 110

    b. Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot, gerakan fargmen tulang,

    edema, dan cedera pada jaringan lunak, alat traksi atau immobilisasi,

    stress, ansietas.

    Kemungkinan dibuktikan oleh :

    1) Keluhan nyeri.

    2) Distraksi, fokus pada diri sendiri atau fokus menyempit, wajah

    menunjukkan nyeri.

    3) Perilaku berhati-hati, melindungi, perubahan tonus otot, respon

    otnomik.

    Tujuan : Menyatakan nyeri hilang.

    Kriteria :

    1) Menunjukkan tindakan santai, mampu berpartisipasi dalam

    aktivitas/istirahat dengan tepat.

    2) Menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas

    terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual.

    NO INTERVENSI RASIONAL

    1)

    Pertahankan mobilisasi

    bagian yang sakit dengan

    tirah baring, gips, pembebat,

    atau traksi (Rujuk ke DK :

    Trauma, risiko tinggi

    terhadap).

    1) Menghilangkan nyeri dan

    mencegah kesalahan

    posisi tulang/tegangan

    jaringan yang cedera.

  • 111

    2)

    3)

    4)

    5)

    Hindari penggunaan sprei/

    bantal plastik di bawah

    ekstremitas dalam gips.

    Tinggikan penutup tempat

    tidur; pertahankan linen

    terbuka pada ibu jari kaki.

    Evaluasi keluhan nyeri/

    ketidaknyamanan, perhatikan

    lokasi dan karakteristik,

    termasuk intensitas (skala 0-

    10)/Perhatikan petunjuk nyeri

    nonverbal (perubahan pada

    tanda vital dan emosi/

    perilaku)

    Dorong pasien untuk

    mendiskusikan masalah

    sehubungan dengan cedera.

    2) Meningkatkan aliran

    balik vena, menurunkan

    edema, dan menurunkan

    nyeri.

    3) Dapat meningkatkan

    ketidaknyamanan karena

    peningkatan produksi

    panas dalam gips yang

    kering.

    4) Mempengaruhi pilihan/

    pengawasan keefektifan

    intervensi. Tingkat

    ansietas dapat

    mempengaruhi persepsi/

    \reaksi terhadap nyeri.

    5) Membantu untuk

    menghilangkan ansietas.

    Pasien dapat merasakan

    kebutuhan untuk

    menghilangkan

    pengalaman kecelakaan.

  • 112

    6)

    7)

    8)

    9)

    10)

    Jelaskan prosedur sebelum

    memulai.

    Beri obat sebelum perawatan

    aktivitas.

    Lakukan dan awasi latihan

    rentang gerak pasif/aktif.

    Berikan alternatif tindakan

    kenyamanan, contoh pijatan,

    pijatan punggung, perubahan

    posisi.

    Dorong menggunakan teknik

    manajemen stres, contoh

    relaksasi progresif, latihan

    6) Memungkinkan pasien

    untuk siap secara mental

    untuk aktivitas juga

    berpartisipasi dalam

    mengontrol tingkat

    ketidaknyamanan.

    7) Meningkatkan relaksasi

    otot dan meningkatkan

    partisipasi.

    8) Mempertahankan

    kekuatan/mobilitas otot

    yang sakit dan

    memudahkan resolusi

    inflamasi pada jaringan

    yang cedera.

    9) Meningkatkan sirkulasi

    umum; menurunkan area

    tekanan lokal dan

    kelalahan otot.

    10) Memfokuskan kembali

    perhatian, meningkatkan

    rasa kontrol, dan dapat

  • 113

    11)

    12)

    13)

    napas dalam, imajinasi

    visualisasi. Sentuhan

    teraputik.

    Identifikasi aktivitas

    terapeutik yang tepat untuk

    usia pasien, kemampuan fisik,

    dan penampilan pribadi.

    Selidiki adanya keluhan nyeri

    yang tak biasa/tiba-tiba atau

    dalam, lokasi progresif/buruk

    tidak hilang dengan

    analgesik.

    Lakukan kompres dingin/es

    24-48 jam pertama dan sesuai

    keperluan.

    meningkatkan

    kemampuan koping

    dalam manajemen nyeri,

    yang mungkin menetap

    untuk periode labih lama.

    11) Mencegah kebosanan,

    menurunkan tegangan,

    dan dapat meningkatkan

    kekuatan otot; dapat

    meningkatkan harga diri

    dan kemampuan koping.

    12) Dapat menandakan

    terjadinya komplikasi,

    contoh infeksi, iskemia

    jaringan, sindrom

    kompartemen (Rujuk ke

    DK : Perfusi jaringan,

    perubahan : perifer,

    risiko tinggi terhadap)

    13) Menurunkan edema/

    pembentukan hematoma,

    menurunkan sensasi

    nyeri.

  • 114

    14)

    15)

    Berikan obat sesuai inbdikasi

    : narkotik dan analgesik non

    narkotik : NSAID injeksi

    contoh ketoralak (Todadol);

    dan/atau relaksan otot,

    contoh siklobenzaprin

    (Flckseril), hidroksin

    (vistaril). Berikan narkotik

    sekitar pada janinnya selama

    3-5 hari.

    Berikan/awasi analgesik yang

    dikontrol pasien (ADP) bila

    indikasi.

    14) Diberikan untuk

    menurunkan nyeri

    dan/atau spasme otot.

    Penelitian Toradol telah

    diperbaiki menjadi lebih

    efektif dalam

    menghilangkan nyeri

    tulang, dengan masa

    kerja lebih lama dan

    sedikit efek samping bila

    dibandingkan dengan

    agen narkotik. Catatan :

    Vistaril sering digunakan

    untuk efek poten dari

    narkotik untuk

    memperbaiki/menghilang

    kan nyeri panjang.

    15) Pemberian rutin ADP

    mempertahankan kadar

    analgesik darah adekuat,

    mencegah fluktuasi

    dalam penghilangan

    nyeri sehubungan dengan

  • 115

    tegangan otot/spasme.

    c. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan

    dengan penurunan atau interupsi aliran darah, hipovolemia.

    Tujuan : Mempertahankan perfusi jaringan dibuktikan oleh

    terabanya nadi.

    Kriteria :

    1) Kulit hangat atau kering.

    2) Sensasi normal.

    3) Tanda vital stabil

    4) Pengeluaran urine adekuat.

    NO INTERVENSI RASIONAL

    1)

    2)

    Lepaskan perhiasan dari

    ekstremitas yang sakit.

    Evaluasi adanya/kualitas nadi

    perifer distal terhadap cedera

    melalui palpasi/Doppler.

    Bandingkan dengan

    ekstremitas yang sakit.

    1) Dapat membendung

    sirkulasi jika terjadi

    oedema.

    2) Penurunan/tak adanya

    nadi dapat

    menggambarkan cedera

    vaskuler dan perlunya

    evaluasi medik segera

    terhadap sattus sirkulasi.

    Waspadai bahwa kadang-

    kadang nadi dapat

    terhambat oleh bekuan

  • 116

    3)

    Kaji aliran kapiler, warna

    kulit, dan kehangatan distal

    pada fraktur.

    halus dimana pulsasi

    mungkin teraba. Selain

    itu, perfusi melalui arteri

    lebih besar dapat

    berlanjut setelah

    meningkatnya tekanan

    kompartemen yang telah

    mengempiskan sirkulasi

    arteriol/venula otot.

    3) Kembalinya warna harus

    cepat (3-5 menit). Warna

    kulit menunjukkan

    gangguan arterial.

    Sianosis diduga karena

    ada gangguan vena.

    Catatan : Nadi perifer,

    pengisian kapiler, warna

    kulit, dan sensasi

    mungkin normal

    meskipun ada sindrom

    kompartemen, karena

    sirkulasi superfisial

    biasanya tidak

  • 117

    4)

    5)

    6)

    7)

    Lakukan pengkajian

    neuromuskuler. Perhatikan

    perubahan fungsi motor/

    sensori. Minta pasien untuk

    melokalisasi nyeri/

    ketikdanyamanan.

    Tes sensasi saraf perifer

    dengan menusuk pada kedua

    selaput antara ibu jari pertama

    dan kedua dan kaji

    kemampuan untuk dorsofleksi

    ibu jari bila diindikasikan.

    Kaji jaringan sekitar akhir gips

    untuk titik yang kasar/tekanan.

    Seliidiki keluhan rasa

    terbakar di bawah gips.

    Awasi posisi/lokasi cincin

    penyokong hebat.

    dipengaruhi.

    4) Gangguan perasaan

    kebas, jeemutan,

    peningkatan/ penyebaran

    nyeri terjadi bila sirkulasi

    pada saraf tidak adekuat

    atau saraf rusak.

    5) Panjang dan posisi saraf

    perineal meningkatkan

    risiko cedera pada

    adanya fraktur kaki,

    edema/sindrom

    kompartemen, atau

    malposisi alat traksi.

    6) Faktor ini disebabkan

    atau mengindikasikan

    tekanan jaringan/iskemia,

    menimbulkan keruaskan/

    nekrosis.

    7) Alat traksi dapat

    menyebabkan tekanan

    pada pembuluh

    darah/saraf, terutama

  • 118

    8)

    9)

    Pertahankan peninggian

    ekstremitas yang cedera

    kecuali dikontraindikasikan

    dengan meyakinkan adanya

    sindrom kompartemen.

    Kaji keseluruhan panjang

    ekstremitas yang cedera untuk

    pembengkakan/pembentukan

    edema. Ukur ekstremitas yang

    cedera dan bandingkan dengan

    yang tak cedera. Perhatikan

    penampilan/luasnya

    hematoma.

    pada aksila dan lipat

    paha, mengakibatkan

    isklemia dan kerusakan

    saraf permanen.

    8) Meningkatkan drainase

    vena/ menurunkan

    edema. Catatan : Pada

    adanya peningkatan

    tekanan kompartemen,

    peninggian ekstremitas

    secara nyata

    menghalangi aliran arteri

    menurunkan perfusi.

    9) Peningkatan lingkar

    ekstremitas yang cedera

    dapat diduga ada

    pembengkakan jaringan/

    edema umum tetapi

    dapat menunjukkan

    perdarahan. Catatan :

    Peningkatan 1 inci pada

    paha orang dewasa dapat

    sama dengan akumulasi

  • 119

    10)

    11)

    12)

    Perhatikan keluhan nyeri

    ekstrem untuk tipe cedera atau

    peningkatan nyeri pada

    gerakan pasif ekstremitas,

    terjadinya parestesia, tegangan

    otot/nyeri tekan dengan

    eritema, dan perubahan nadi

    distal. jangan tinggikan

    ekstremitas. Laporkan gejala

    pada dokter saat itu.

    Selidiki tanda iskemia

    ekstremitas tiba-tiba, contoh

    penurunan suhu kulit, dan

    peningkatan nyeri.

    Dorong pasien untuk secara

    1 unit darah.

    10) Perdarahan/pembentukan

    edema berlanjut dalam

    otot tertutup dengan

    fasial ketat dapat

    menyebabkan gangguan

    aliran darah dan iskemia

    miositis atau sindrom

    kompartemen, perli

    intervensi darurat untuk

    menghilangkan tekanan/

    memperbaiki sirkulasi.

    Catatan : Kondisi ini

    memerlukan kedaruratan

    medik dan memerlukan

    intervensi segera.

    11) Dislokasi faktur sendi

    (khususnya lutut) dapat

    menyebabkan kerusakan

    arteri yang berdekatan,

    dengan akibat hilangnya

    aliran darah ke distal.

    12) Meningkatkan sirkulasi

  • 120

    13).

    14)

    15)

    rutin latihan jari/sendi distal.

    Ambulasi sesegera mungkin

    Selidiki nyeri tekan,

    pembengkakan pada

    dorsofleksi kaki (tanda Homan

    positif).

    Awasi tanda vital. Perhatikan

    tanda-tanda pucat/sianosis

    umum, kulit dingin, perubahan

    mental.

    Tes feses/aspirasi gaster

    terhadap darah nyata.

    Perhatikan perdarahan lanjut

    pada sisi trauma/injeksi dan

    perdarahan terus menerus dari

    membran mukosa.

    dan menurunkan

    pengumpulan darah

    khususnya pada

    ekstremitas bawah.

    13) Terdapat peningkatan

    potensial untuk

    tromboflebitis dan

    emboli paru pada pasien

    imobilisasi selama 5 hari

    atau lebih.

    14) Ketidakadekuatan

    volume sirkulasi akan

    mempengaruhi sistem

    perfusi jaringan.

    15) Peningkatan insiden

    perdarahan gaster

    menyertai fraktur/trauma

    dan dapat berhubungan

    dengan stres dan kadang-

    kadang menunjukkan

    gangguan pembekuan

    yang memerlukan

    intervensi lanjut.

  • 121

    16)

    17)

    18)

    19)

    Berikan kompres es sekitar

    fraktur sesuai indikasi.

    Bebat/buat spalk sesuai

    kebutuhan.

    Kaji/awasi tekanan

    intrakompartemen.

    Siapkan untuk intervensiu

    bedah (contoh, fibulektmi/

    fasiotomi) sesuai indikasi.

    16) Menurunkan oedema/

    pembentukan hematom

    yang dapat menggangu

    sirkulasi.

    17) Mungkin dilakukan pada

    keadaan daurat untuk

    menghilangkan restrikso

    sirkulasi yang

    diakibatkan oleh

    pembentukan edema

    pada ekstremitas yang

    cedera.

    18) Peninggian tekanan

    (biasanya sampai 30

    mmHg atau lebih)

    menunjukkan kebutuhan

    evaluasi segera dan

    intervensi.

    19) Kegagalan untuk

    menghilangkan tekanan/

    memperbaiki sindrom

    kempartemen dalam 4

    sampai 6 jam dari

  • 122

    20)

    21)

    22)

    Awasi Hb/Ht, pemeriksaan

    koagulasi, contoh kadar

    protrombin.

    Berikan warfarin natrium

    (Coumadin) bila

    diindiaksikan.

    Berikan kaus kaki

    antiembolitik/tekanan

    berurutan sesuai indikasi.

    timbulnya dapat

    mengakibatkan

    kontraktur

    berat/kehilangan fungsi

    dan kecacatan

    ekstremitas distal cedera

    atau perlu amputasi.

    20) Membantu dalam

    kalkulasi kehilangan

    darah dan membutuhkan

    keefektifan terapi

    pengantin.

    21) Mungkin diberikan

    secara profilaktik untuk

    menurunkan trombus

    vena dalam.

    22) Menurunkan

    pengumpulan vena dan

    dapat meningkatkan

    aliran balik vena,

    sehingga menurunkan

    risiko pembentukan

    trombus.

  • 123

    d. Resiko tinggi terhadap kerusakan gas berhubungan dengan perubahan

    aliran darah, perubahan membran alveolar/kapiler.

    Tujuan : Mempertahankan fungsi pernafasan adekuat.

    Kriteria :

    1) Tak adanya dispnea atau sianosis.

    2) Frekuensi pernafasan dan GDA dalam batas normal.

    NO INTERVENSI RASIONAL

    1.

    2)

    Awasi frekuensi pernapasan

    dan upayanya. Perhatikan

    stridor, penggunaan otot

    bantu, retraksi, terjadinya

    sianosis sentral.

    Auskultasi bunyi napas

    perhatikan terjadinya ketidak

    samaan, bunyi hiperesonan,

    1) Takipnea, dispnea, dan

    perubahan dalam mental

    dan tanda dini

    insufisiensi pernapasan

    dan mungkin hanya

    indikator terjadinya

    emboli paru ada tahap

    awal. Masih adana

    tanda/gejala

    menunjukkan ditress

    pernapasan

    luas/cenderung

    kegagalan.

    2) Perubahan dalam/adanya

    bunyi adventisius

    menunjukkan terjadinya

  • 124

    3)

    4)

    5)

    juga adanya gemericik/ronki/

    mengi dan inspirasi mengorok/

    bunyi sesak napas.

    Atasi jaringan cedera/tulang

    dengan lembut, khususnya

    selama beberapa hari pertama.

    Instruksikan dan bantu dalam

    latihan nafas dalam dan batuk.

    Reposisi dengan sering.

    Perhatikan peningkatan

    kegelisahan, kacau, letargi,

    komplikasi pernapasan,

    contoh atelektasis,

    pneumonia, emboli,

    SDPD. Inspirasi

    mengorok menunjukkan

    edema jalan napas atas

    dan diduga emboli

    lemak.

    3) Ini dapat mencegah

    terjadinya emboli lemak

    (biasanya terlihat pada

    12-72 jam pertama), yang

    erat berhubugan dengan

    fraktur, khususnya tulang

    panjang dan pelvis.

    4) Meningkatkan ventilasi

    alveolar dan perfusi.

    Reposisi meningkatkan

    drainase sekret dan

    menurunkan kongesti

    pada area paru dependen.

    5) Gangguan pertukaran

    gas/ adanya emboli paru

  • 125

    6)

    7)

    8)

    9)

    10)

    stupor.

    Observasi sputum untuk tanda

    adanya darah.

    Inspeksi kulit untuk petekie di

    atas garis puting; pada aksila,

    meluas ke abdomen/tubuh;

    mukosa mulut, palatum keras,

    kantung konjungtiva dan

    retina.

    Kolaborasi :

    Bantu dalam spirometri

    insentif.

    Berikan tambahan O2 bila

    diindikasikan.

    Awasi pemeriksaan

    laboratorium, contoh :

    dapat menyebabkan

    penyimpangan pada

    tingkat kesadaran pasien

    seperti terjadinya

    hipoksemia/ asidosis.

    6) Hemodialisa dapat terjadi

    dengan emboli paru.

    7) Ini adalah karaktetistik

    paling nyata dari tanda

    emboli lemak, yang

    tampak dalam 2-3 hari

    setelah cedera.

    8) Memaksimalkan

    ventilasi/ oksigenasi dan

    meminimakan

    atelektasis.

    9) Meningkatkan sediaan O2

    untuk oksigenasi optimal

    jaringan.

    10) Menurunnya PaO2 dan

    peningkatan PaCO2

  • 126

    11)

    Seri GDA, Hb, kalsium, LED,

    lipase serum, lemak,

    trombosit.

    Berikan obat sesuai indikasi :

    Heparin dosis rendah.

    Kortikosteroid.

    menunjukkan gangguan

    pertukaran gas/terjadinya

    kegagalan.

    Anemia, hipokalsemia,

    peningkatan LED dan

    kadar lipase, gelembung

    lemak dalam

    darah/urine/sputum dan

    penurunan jumlah

    trombosit

    (trombositopenia) sering

    berhubungan dengan

    emboli lemak.

    11) Blok siklus pembekuan

    dan mencegah

    bertambahnya

    pembekuan pada adanya

    tromboflebitis.

    Steroid telah digunakan

    dengan beberapa

    keberhasilan untuk

    mencegah/mengatasi

    emboli lemak.

  • 127

    e. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka

    neuromuskuler, nyeri atau ketidaknyamanan, terapi restriktif,

    hemobilisasi tungkai.

    Kemungkinan dibuktikan oleh :

    1) Ketidakmampuan untuk bergerak sesuai tujuan dalam lingkungan

    fisik, dilakukan pembatasan.

    2) Menolak untuk bergerak, keterbatasan rentang gerak.

    3) Penurunan kekuatan atau kontrol otak.

    Tujuan : Meningkatkan atau mempertahankan mobilitas pada tingkat

    paling tinggi yang mungkin mempertahankan posisi

    fungsional.

    Kriteria :

    1) Meningkatkan kekuatan atau fungsi yang sakit dan mengkompasasi

    bagian tubuh.

    2) Ketiga menunjukkan teknik yang memampukan melakukan

    aktivitas.

    NO INTERVENSI RASIONAL

    1)

    Kaji derajat imobilisasi yang

    dihasilkan oleh cedera/

    pengobatan perhatikan

    persepsi pasien terhadap

    imobilisasi.

    1) Pasiun mungkin dibatasi

    oleh pandangan

    diri/persepsi diri tentang

    keterbatasan fisik aktual,

    memerlukan

    informasi/intervensi

  • 128

    2)

    3)

    4)

    Dorong partisipasi pada

    aktivitas terapeutik/rekreasi.

    Pertahankan rangsang

    lingkungan contoh, radio, TV,

    koran, barang milik pribadi/

    lukisan, jam, kalender,

    kunjungan keluarga/teman.

    Instruksikan pasien untuk/

    bantu dalam rentang gerak

    pasien/aktif pada ekstremitas

    yang sakit dan yang tidak

    sakit.

    Dorong pengunana latihan

    isometrik mulai dengan

    tungkai yang tak sakit.

    untuk meningkatkan

    kemajuan kesehatan.

    2) Memberikan kesempatan

    untuk mengeluarkan

    energi, memfokuskan

    kembali perhatian,

    meningkatkan rasa

    kontrol diri/harga diri,

    dan membantu

    menurunkan isolasi

    sosial.

    3) Meningkatkan aliran

    darah ke otot dan tulang

    untuk meningkatkan

    tonus otot,

    mempertahankan gerak

    sendi, mencegagah

    kontraktur/atrofi dan

    resorpsi kalsium karena

    tidak digunakan.

    4) Kontraksi otot isometrik

    tanpa menkuk sendi atau

    menggerakkan tungkai

  • 129

    5)

    6)

    7).

    Berikan papan kaki, bebat

    pergelangan, gulungan

    trokanter/tangan yang sesuai.

    Tempatkan dalam posisi

    telentang secara periodik bila

    mungkin, bila traksi

    digunakan untuk menstabilkan

    fraktur tungkai bawah.

    Instruksikan/dorong

    menggunakan trapeze dan

    pasca posisi untuk fraktur

    tungkai bawah.

    dan membantu

    mempertahankan

    kekuatan dan masa otot.

    Catatan : Latihan ini

    dikontraindikasikan pada

    perdarahan akut/edema.

    5) Berguna dalam

    mempertahankan posisi

    fungsional ekstremitas,

    tangan/kaki, dan

    mencegah komplikasi

    (contoh kontraktur/kaki

    jatuh).

    6) Menurunkan risiko

    kontraktur fleksi

    panggul.

    7) Memudahkan gerakan

    selama

    higiene/perawatan kulit,

    dan penggantian linen,

    menurunkan ketidak

  • 130

    8)

    9)

    Bantu/dorong perawatan

    diri/kebersihan (contoh mandi,

    mencukur)

    Berikan/bantu dalam

    mobilisasi dengan kursi roda,

    kruk, tongkat, sesegera

    mungkin. Instruksikan

    keamanan dalam

    menggunakan alat mobilitas.

    nyamanan dengan tetap

    datar di tempat tidur.

    Pasca posisi

    melibatkan penempatan

    kaki yang sakit datar di

    tempat tidur dengan lutut

    menekuk sementara

    mengenggam trapeze dan

    mengangkat tubuh dari

    tempat tidur.

    8) Meningkatkan kekuatan

    otot dan sirkulasi,

    meningkatkan kontrol

    pasien dalam situasi, dan

    meningkatkan kesehatan

    diri langsung.

    9) Mobilisasi dini

    menurunkan komplikasi

    tirah baring (contoh,

    flebitus) dan

    meningkatkan

    penyembuhan dan

    normalisasi fungsi organ.

  • 131

    10)

    11).

    12)

    Awasi TD dengan melakukan

    aktivitas.perhatikan keluhan

    pusing.

    Ubah posisi secara periodik

    dan dorong untuk latihan

    batuk/napas dalam.

    Auskultasi biring usus. Awasi

    kebiasaan eliminasi dan

    berikan keteraturan defekasi

    Belajar memperbaiki cara

    menggunakan alat

    penting untuk

    mempertahankan

    mobilisasi optimal dan

    keamanan pasien.

    10) Hipotensi postural adalah

    masalah umum menyertai

    tirah baring lama dan

    memerlukan intervensi

    khusus (contoh

    kemiringan meja dengan

    peninggian secara

    bertahap sampai posisi

    tegak).

    11) Mencegah/menurunkan

    insiden komplikasi kulit/

    pernapasan (contoh

    dekubitus, atelektasi,

    pneumonia).

    12) Tirah baring, penggunaan

    analgesik, dan perubahan

    dalam kebiasaan diet

  • 132

    13)

    14)

    rutin. Tempatkan pada pispot,

    bila mungkin, atau

    menggunakan bedpan fraktur.

    Berikan privasi.

    Dorong peningkatan masukan

    ciaran sampai 2000-3000

    ml/hari, termasuk air asam/jus.

    Berikan diet tinggi protein,

    karbohidrat, vitamin, dan

    mineral. Pertahankan

    penurunan kandungan protein

    sampai setelah defekasi

    dapat memperlambat

    peristaltik dan

    menghasilkan konstipasi.

    Tindakan keperawatan

    yang memudahkan

    eliminasi dapat

    mencegah/membatasi

    komplikasi. Bedpan

    fraktur membatasi fleksi

    panggul dan mengurangi

    tekanan lumbal/gips

    ekstremitas bawah.

    13) Mempertahankan hidrasi

    tubuh, menurunkan risiko

    infeksi urinarius,

    pembentukan batu, dan

    konstipasi.

    14) Pada adanya cedera

    musculoskeletal, nutrisi

    yang diperlukan untuk

    penyembuhan berkurang

    dengan cepat, sering

  • 133

    15)

    pertama.

    Tingkatkan jumlah diet kasar.

    Batasi makanan pembentuk

    gas.

    mengakibatkan

    penurunan BB 20-30 pon

    selama traksi tulang. Ini

    mempengaruhi massa

    otot, tonus dan kekuatan.

    Catatan : Makanan

    protein meningkat

    kandngannya pada usus

    halus, mengakibatkan

    pembentukan gas dan

    konstipasi, sehingga

    fungsi GI harus secar