106422648 Skripsi Alya Abay

  • View
    66

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of 106422648 Skripsi Alya Abay

1 BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman sulit bagi hampir semua pasien. Berbagai kemungkinan buruk yang akan membahayakan bagi pasien bisa saja terjadi sehingga diperlukan peran penting perawat dalam setiap tindakan pembedahan dengan melakukan intervensi keperawatan yang tepat untuk mempersiapkan klien baik secara fisik maupun psikis (Rondhianto, 2008) Sebelum pemulangan pasien dan keluarganya harus mengetahui bagaimana cara memanejemen pemberian perawatan di rumah dan apa yang diharapakan di dalam memperhatikan masalah fisik yang berkelanjutan karena kegagalan untuk mengerti pembatasan atau implikasi masalah kesehatan (tidak siap menghadapi pemulangan) dapat menyebabkan peningkatan komplikasi pada pasien (Perry & Potter, 2006). Ketidaksiapan pasien menghadapi pemulangan juga dapat terjadi karena pasien terlalu cepat dipulangkan sehingga hal ini juga beresiko terhadap terjadinya komplikasi pasca bedah setelah di rumah dan juga dikarenakan pemulangan yang tidak direncanakan yang dapat berakibat kepada hospitalisasi ulang (Torrance, 1997) Ada berbagai macam jenis pembedahan, salah satunya

Appendictomy. Pembedahan untuk mengambil apendic disebut apendictomy, dan ini dilakukan jika peradangan tanpa adanya rupture (Reeves, 1999). Apendictomy dilakukan segera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi

2(Smeltzer, 2001). Setelah tindakan pembedahan, abdomen memiliki resiko untuk terjadinya infeksi akibat terjadinya stres yang sangat serius kepada tubuh. Sistem imun tubuh menjadi lemah dan fungsi gastrointestinal berubah sehingga menyebabkan status nutrisi insuffiensien (Noname, 2004). Andra (2007) menyatakan pasca pembedahan abdomen dengan etiologi non infeksi insiden terjadinya kurang dari 2% pasca pembedahan untuk penyakit inflamasi tanpa perforasi (misalnya Appendicytis, diverticulitis, kolesistitis). Oleh karena itu perlu diberikan informasi kepada pasien agar mampu mengenali tanda bahaya untuk dilaporkan kepada tenaga medis. Data tentang kasus appendic dari tahun ke tahun meningkat di RSUD Syamrabu Bangkalan. Tahun 2010 angka kejadian Post op Apendictomy 315 pasien sedangkan tahun 2011 Meningkat mencapai 415 pasien. Idealnya pasien siap dalam menghadapi pemulangan, tetapi berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan peneliti dari 15 pasien post op appendictomy terdapat 66% pasien yang tidak siap menghadapi pemulangan (tanpa dilakukan discharge planning). Hal ini menunjukkan masih tingginya angka ketidaksiapan pasien Appendictomy menghadapi pemulangan. Hal tersebut di atas sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Willams (2006) bahwa mayoritas pasien yang menerima informasi tentang nyeri dan manajemen luka, aktivitas, nutrisi, dan komplikasi pada umumnya merasakan bahwa tidak mengalami perasaan khawatir yang membuat mereka akan mengadakan kunjungan tidak rutin ke fasilitas kesehatan setelah dipulangkan. Sedangkan pasien yang tidak mendapat informasi tentang nyeri dan manajemen luka menurut William (2006) mengalami kekhawatiran yang post op

3memaksa mereka untuk melakukan kunjungan tidak rutin kepada suatu fasilitas kesehatan setelah dipulangkan. Vaughan dan Taylor (1988 dalam Torrance 1997) dalam penelitian juga menemukan bahwa pasien post op appendictomy mengalami defisiensi dalam hal mandi, berpakaian, diet, buang air besar, serta dalam hal aktifitas seksual setelah mereka dipulangkan. Oleh karena itu pasien perlu dipersiapkan untuk menghadapi pemulangan Orem (1985 dalam Alligood & Tomey, 2006) mengatakan bahwa intervensi keperawatan diri sebagai akibat dari adanya keterbatasan. Salah satu bentuk intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah discharge planning (perencanaan pemulangan pasien) untuk mempromosikan tahap kemandirian tertinggi kepada pasien, teman-teman, dan keluarga dengan menyediakan, memandirikan aktivitas perawatan diri ( The Royal Marsden Hospital 2004). Discharge planning yang tidak baik dapat menjadi salah satu faktor yang memperlama proses penyembuhan di rumah (Wilson-Barnett dan Fordham, 1982 dalam Torrace, 1997. Kesuksesan tindakan discharge planning menjamin pasien mampu melakukan tindakan perawatan lanjutan yang aman dan realistis setelah meninggalkan Rumah Sakit (Hou, 2001 dalam Perry & Potter, 2006). Mengingat pentingnya dilakukan discharge planning terhadap pasien post op appendictomy, peneliti merasa tertarik untuk menyelidiki bagaimana perbedaan kesiapan Post Op Appendictomy menghadapi

pemulangan sebelum dan sesudah dilakukan Discharge Planning. Secara khusus dalam hal ini peneliti ingin meneliti Perbedaan Kesiapan Post Op

4Appendictomy menghadapi pemulangan sebelum dan sesudah dilakukan Discharge Planning di RSUD Syamrabu Bangkalan. Mengingat rumah sakit ini merupakan rumah sakit rujukan sehingga kemungkinan banyak ditemukan kasus Post Op Appendictomy.

1.2 Identifikasi Penyebab Masalah Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi ketidaksiapan pasien Post Op Appendictomy dalam menghadapi pemulangan yaitu : Faktor Internal : - Pendidikan - Pengetahuan - Pengalaman __-- Perawatan diri yang Kurang Faktor Eksternal : - Lingkungan - Informasi yang kurang - Sistem Keperawatan

Masih tingginya angka kejadian ketidaksiapan pasien post op appendictomy menghadapi pemulangan

Gambar 1.1 Identifikasi Masalah

1.2.1

Faktor Internal : a. Pendidikan Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup. Ki Hajar Dewantara dalam Hasbullah (2005). Sehinga semakin

5tinggi tingkat pendidikan semakin tinggi pula tingkat Kesiapan Pasien menghadapi Pemulangan. b. Pengetahuan. Pendapat dari WHO (1992) bahwa pengetahuan diperoleh dari pengalaman, selain itu juga dari guru, orang tua, buku, dan media masa. Sedangkan menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan merupakan hasil dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Tingkat pengatahuan yang luas akan mempengaruhi Kesiapan Pasien menghadapi Pemulangan. c. Pengalaman Pengalaman adalah kejadian yang pernah dialami (dijalani, dirasai, ditanggung dsb) baik yang sudah lama atau baru saja terjadi. Jadi jika ada pasien berpengalaman riwayat post operasi, maka pasien akan lebih siap menghadapi pemulangan. d. Perawatan Diri yang kurang Orem (2001, dalam Alligood dan Tomey, 2006) mengatakan bahwa defisiensi perawatan diri merupakan bagian penting dalam perawatan secara umum di mana segala perencanaan keperawatan diberikan pada saat perawatan dibutuhkan. Keperawatan dibutuhkan seseorang pada saat tidak mampu atau terbatas untuk melakukan self carenya secara terus menerus. 1.2.2 Faktor Eksternal : a. Lingkungan

6Lingkungan adalah sesuatu yang berada di luar atau sekitar mahluk hidup. Lingkungan yang kurang nyaman akan menyebabkan ketidaksiapan pasien post op appendectomy menghadapi pemulangan. b. Informasi yang kurang. Dengan kurangnya informasi tentang penting personal hygine, keluarga pasien dan pasien mengangap remeh kebersihan, sehingga menyebabkan luka infeksi. Sehingga menyebabkan ketidaksiapan pasien post op appendictomy menghadapi pemulangan. c. Sistem Keperawatan Orem (1985 dalam Basford, 2006) menjelaskan system keperawatan sebagai Serangkaian tindakan kontinu yang dihasilkan ketika perawat menghubungkan satu sejumlah cara membantu pasien dengan tindakannya sendiri atau tindakan seseorang dibawah perawatan yang di arahkan untuk memenuhi tuntutan perawatan diri terpeutik orang tersebut atau untuk mengatur perawatan diri mereka 1.3 Batasan Masalah Apakah ada Perbedaan Kesiapan Pasien Post Op Appendictomy menghadapi pemulangan sebelum dan sesudah dilakukan Discharge Planning di RSUD Syamrabu Bangkalan.

1.4 Rumusan Masalah Apakah ada Perbedaan Kesiapan Pasien Post Op Appendictomy menghadapi pemulangan sebelum dan sesudah dilakukan Discharge Planning di RSUD Syamrabu Bangkalan?

71.5 Tujuan Penelitian 1.5.1 Tujuan Umum Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Perbedaan Kesiapan Pasien Post Op Appendictomy menghadapi pemulangan sebelum dan sesudah dilakukan Discharge Planning di RSUD Syamrabu Bangkalan. 1.5.2 Tujuan Khusus Penelitian ini memiliki tujuan khusus untuk : a. Mengidentifikasi Tingkat Kesiapan Pasien Post Op Appendictomy menghadapi pemulangan sebelum dilakukan Discharge Planning di RSUD Syamrabu Bangkalan. b. Mengidentifikasi Tingkat kesiapan Pasien Post Op Appendictomy menghadapi pemulangan sesudah dilakukan Discharge Planning di RSUD Syamrabu Bangkalan. c. Untuk menganalisis tingkat Perbedaan Kesiapan Pasien Post Op Appendictomy menghadapi pemulangan sebelum dan sesudah dilakukan Discharge Planning di RSUD Syamrabu Bangkalan.

1.6 Manfaat Penelitian 1.6.1 Bagi Responden

8Dapat membantu pasien terutama pasien post op appendictomy dalam menghadapi pemulangan. Sehingga mempercepat proses

penyembuhan luka post op appendictomy. 1.6.2 Bagi Rumah Sakit Hasil penelitian ini diharapkan dipergunakan sebagai bahan pertimbangan untuk RSUD Syamrabu dalam meningkatkan asuhan keperawatan khususnya pemberian discharge Planning yang dilakukan perawat terhadap kesiapan pasien post op appendictomy menghadapi pasien pulang. 1.6.3 Bagi Institusi Pendidikan Hasil penelitian ini diharapkan akan digunakan oleh institusi pendidikan dalam pemberian materi Perbedaan Kesiapan Post Op Appendictomy menghadapi pemulangan sebelum dan sesudah dilakukan Discharge Planning. 1.6.4 Bagi Peneliti Selanjutnya Sebagai masukan untuk meningkatkan pemahaman tentang

Kesiapan Pasien Post Op Appendictomy menghadapi pemulangan sebelum dan sesudah dilakukan Discharge Planning di RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

9

2.1 Konsep Dasar Teori 2.1.1 Konsep Dasar Appendicytis Akut Pada pembahasan konsep dasar appendicytis akut ini akan membahas tentang anatomi appendicytis, etiologi appendicytis, insiden appendi