Click here to load reader

1 pe garuh ki erja li gku ga hidup perusahaa serta sistem ma ajeme

  • View
    215

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of 1 pe garuh ki erja li gku ga hidup perusahaa serta sistem ma ajeme

  • 1

    PEGARUH KIERJA LIGKUGA HIDUP PERUSAHAA

    SERTA SISTEM MAAJEME LIGKUGA HIDUP PERUSAHAA

    TERHADAP KIERJA KEUAGA PERUSAHAA

    PEDAHULUA

    Dewasa ini, semakin nyata adanya permintaan bagi perusahaan untuk memperlihatkan

    tidak hanya pencapaian di bidang kinerja keuangan (Financial Performance) namun juga kinerja

    sosialnya (Social performance) sebagai cerminan dari tanggung jawab sosial perusahaan

    (Corporate Social responsibility). Hal ini dikarenakan falsafah tanggung jawab sosial perusahaan

    dan kaitannya dengan pembangunan yang berkelanjutan (Sustainable development) adalah dua

    hal yang semakin umum dalam dunia bisnis saat ini.

    Menurut Wood (1991) salah satu aspek penting dalam kinerja social perusahaan adalah

    kinerja lingkungan hidup perusahaan. Hal ini pun ternyata dirasakan oleh para pebisnis, di

    Amerika semakin banyak pebisnis yang beranggapan bahwa menjalankan bisnis dengan

    menekankan pada aspek kinerja lingkungan (going green) akan berpengaruh secara positip

    terhadap kinerja keuangannya (Starovic, 2004; dan Steiner, 2002).

    Hubungan mengenai kinerja sosial (termasuk didalamnya kinerja lingkungan hidup)

    merupakan isu yang menarik dalam penelitian mengenai tanggung jawab sosial perusahaan dan

    pembangunan keberlanjutan. Karena hingga sejauh ini hasil-hasil penelitian di bidang ini

    memperlihatkan hasil yang beragam (Al Tuwaijri, 2004). Beberapa penelitian memperlihatkan

    adanya hubungan negatif, sementara sebagian lainnya memperlihatkan hubungan positip.

    Bahkan ada pula hasil penelitian yang memperlihatkan hasil yang netral.

  • 2

    Di Indonesia sendiri konsep kinerja lingkungan adalah sesuatu yang masih belum begitu

    dianggap umum di Indonesia. Bahkan belum ada suatu keharusanpun bagi para perusahaan untuk

    mencantumkan informasi-informasi mengenai lingkungan hidup didalam laporan keuangannya.

    Semuanya masih sebatas anjuran. Namun, dengan arus informasi yang saat ini makin tiada batas,

    menyebabkan isu-isu lingkungan hidup terkini di belahan dunia manapun dapat dengan cepat

    diserap dan disuarakan di dalam lingkup nasional. Pada beberapa kebijakan pemerintah mulai

    terlihat jelas adanya keberpihakan terhadap isu-isu lingkungan, misal dengan dikeluarkannya

    program PROPER sejak tahun 2002 serta adanya peraturan BI no 7/2005 atas perlunya kinerja

    lingkungan dalam penelaahan persetujuan kredit. Bahkan sejak lima tahun belakangan ini

    pemberitaan pers mengenai isu-isu kerusakan lingkungan oleh perusahaan-perusahaan mulai

    marak dan terbuka.

    Khusus mengenai PROPER, sejak tahun 2002 kementrian negara lingkungan hidup

    bekerja sama dengan Bapedal dan instansi terkait lainnya mencanangkan program PROPER

    (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup)

    berdasarkan UU No. 3/1997 dan KepMen 127/MENLH/2002. PROPER dikondisikan sebagai

    reputation award dan merupakan perwujudan transparansi dan public partisipasi dalam

    pengelolaam lingkungan. Program ini melakukan pemeringkatan perusahaan dari yang terbaik

    sampai yang terburuk dalam hal ketaatan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Perusahaan yang

    dimasukkan dalam kegiatan pemeringkatan ini meliputi perusahaan BUMN, PMA dan PMDN,

    yang termasuk dalam sektor industri manufaktur, prasarana dan jasa, sektor pertambangan,

    energi dan migas serta sektor pertanian dan kehutanan. Terdapat lima kategorisasi yang

    tercermin dalam peringkat warna yaitu kategori EMAS, HIJAU, BIRU, MERAH dan HITAM.

  • 3

    Dimana warna EMAS mencerminkan peringkat terbaik (insentif reputasi tertinggi), sementara

    HITAM mencerminkan peringkat terburuk (disinsentif reputasi tertinggi).

    Sejauh ini program PROPER telah dilakukan sebanyak 3 kali (20022003, 2003-2004

    serta 2004-2005). Dengan jumlah peserta yang makin meningkat setiap tahun penilaiannya (85,

    251 serta 466 perusahaan untuk setiap tahun penilaian secara berturutan). PROPER dianggap

    cukup berhasil dalam meningkatkan jumlah ketaatan perusahaan, hal ini dibuktikan dengan

    meningkatnya jumlah ketaatan sebesar 13.15% dari tahun 2003-2004 ke tahun 2004-2005

    (Rasudin, 2005). Bahkan program ini juga diadopsi oleh beberapa negara seperti Filipina,

    Kolombia, Mexico, Cina dan India (Siaran Pers KLH, 2004).

    Sungguhpun program ini terlihat begitu menarik dan menjanjikan, namun dalam setiap

    tahun penilaian kinerja perusahaan-perusahaan di Indonesia umumnya berada dalam tataran biru,

    merah dan hitam. Jumlah perusahaan dikategori peringkat hijau senantiasa berkisar kurang dari

    5%, bahkan tidak pernah ada perusahaan yang mencapai peringkat emas. Selain itu tidak ada

    satupun sanksi hukum pun bagi perusahaan di kategori merah dan hitam. Sanksi yang

    diberlakukan lebih kepada sanksi sosial, yaitu reputasi di mata masyarakat.

    Walaupun pemerintah mulai tahun 2005 melalui peraturan BI no 7/2005 mewajibkan

    perlunya kinerja lingkungan dalam penelaahan persetujuan kredit (perusahaan tidak akan

    mendapat akses kredit jika mendapat rating merah atau hitam). Namun sepertinya hal tersebut

    belum banyak membantu peningkatan jumlah perusahaan yang berada di rating hijau. Ini berarti

    perusahaan di indonesia cenderung bersikap sekedarnya ketimbang memperlihatkan kinerja

    lingkungan yang baik. Kemungkinan hal ini terjadi karena belum banyaknya bukti empiris yang

    memperlihatkan keterkaitan kinerja PROPER dengan kinerja keuangan perusahaan. Mengingat

    sifat pengusaha yang senantiasa mempertimbangkan manfaat dan biaya dalam mengambil

  • 4

    keputusan (enlightment self-interest theory), amat penting untuk melihat ada tidaknya keterkaitan

    antara keduanya. Dengan mendapatkan bukti empiris, maka akan memberikan keyakinan bagi

    kalangan bisnis mengenai efektivitas kinerja lingkungan dalam suatu perusahaan.

    Penelitian ini mencoba mengisi kekosongan atas bukti-bukti empiris di Indonesia dalam

    hal tanggung jawab sosial lingkungan hidup, yaitu dengan mencoba melihat hubungan antara

    kinerja keuangan dan kinerja lingkungan berdasarkan peringkat PROPER atas perusahaan-

    perusahaan di Indonesia. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk melihat hubungan dan

    bagaimana arah hubungan yang terjadi antara kinerja lingkungan terhadap kinerja keuangan dari

    perusahaan-perusahaan PROPER di Indonesia. Dalam pengamatan juga dilihat interaksi antara

    variable manajemen lingkungan hidup serta level pengungkapan informasi perusahaan.

    LADASA TEORI

    Penelitian mengenai hubungan antara kinerja lingkungan dan kinerja keuangan umumnya

    terkait dengan kerangka besar penelitian mengenai tanggung jawab sosial perusahaan serta

    bagaimana perusahaan melaporkan aktivitas tanggung jawab sosial tersebut dalam laporan

    pengungkapan informasi lingkungannya. Adanya kepercayaan bahwa kinerja sosial

    berhubungan dengan kinerja keuangan merupakan suatu hal yang ingin dibuktikan oleh banyak

    peneliti di bidang ini.

    Hasil berbagai penelitian yang melihat hubungan antara kinerja sosial perusahaan dengan

    kinerja ekonomi perusahaan belum memiliki kesimpulan yang bulat. Ada peneliti yang

    menemukan hubungan positif (Bowman dan Haire, 1975; Sturdivant dan Ginter, 1977, Waddock

    dan Graves, 1991; Wu, 2006), ada yang menemukan hubungan negatif (Vance, 1975), namun

  • 5

    ada pula yang tidak menemukan hubungan signifikan antara kedua hal tersebut (Abott and

    Monsen, 1979; Alexander and Buchholz, 1978; Aupperle et al., 1985).

    Hubungan yang positif dapat diartikan bahwa aktivitas sosial perusahaan meningkatkan

    reputasi perusahaan sebagai good citizen (Nikolai, Bazley, and Brummet, 1976, dalam Wu,

    2006). Reputasi itu akan menguntungkan perusahaan dengan banyak cara, yang terkadang tidak

    dapat diukur. Sehingga, biaya aktual dari aktivitas tanggung jawab sosial menjadi minimal

    dengan hasil yang maksimal (Waddock dan Graves, 1997). Hubungan yang negatif

    mengindikasikan bahwa biaya dari menyelenggarakan aktivitas tanggung jawab sosial

    menempatkan perusahaan pada posisi yang tidak menguntungkan dibanding perusahaan lain

    yang kurang bertanggung jawab secara sosial (Aupperle et al., 1985; Vance, 1975).

    Hasil seperti ini telah diprediksi oleh Ullmann (1985), bahwa penelitian dibidang ini akan

    memberikan hasil yang secara umum tidak seragam, meliputi hubungan antara kinerja

    ekonomi/keuangan dan kinerja sosial, antara kinerja sosial dan pengungkapan informasi

    lingkungan, serta antara pengungkapan informasi sosial dan kinerja keuangan. Hal ini terjadi

    karena ketidakseragaman dalam pengambilan dan pengukuran variable dan sampel terkait serta

    perbedaan metode dalam menganalisa sampel terkait.

    Dalam lingkup kinerja lingkungan hidup sebagai bagian dari kinerja sosial, hasilhasil

    penelitian yang ada pun memberikan hasil yang beragam, walaupun umumnya memberikan hasil

    yang positip (Al-Tuwaijri, 2004). Bahkan belum ada penelitian dibidang ini yang memberikan

    hasil yang negatip secara signifikan. Keberagaman hasil ini umumnya dikarenakan ketidak

    seragaman sebagaimana yang telah ditenggarai oleh Ullmann (1985) sebelumnya.

    Pemilihan variabel proxy kinerja keuangan misalnya, bisa menggunakan variable

    accounting based atau market based perfomance. Dimana masing-masingnya pun memiliki

  • 6

    beberapa variasi lebih lanjut. Kebanyakan peneliti yang menggunakan accounting based measure

    menggunakan ROA atau ROE (misal Pr

Search related