50
Kardiologi Panduan Pelayanan Medik PAPDI 2.2 KARDIOLOGI

1. Kardiologi

Embed Size (px)

DESCRIPTION

aa

Citation preview

Kardiologi

Panduan Pelayanan Medik PAPDI

BRADIARITMIABradiaritmia adalah perlambatan denyut jantung di bawah 50 kali menit yang dapat disebabkan oleh disfungsi sinus node, hipersensitivitas/ kelainan sistem persarafan dengan dan atau adanya gangguan konduksi atrioventrikular. Dua keadaan yang sering ditemukan :

1. Gangguan pada sinus node (sick sinus syndrome)

2. Gangguan konduksi atrioventrikular/ blokA V (AV block) : blok AV derajat satu, blok AV derajat dua, blok AV total.

DIAGNOSISGangguan pada sinus node (sick sinus syndrome)Keluhan :

Penurunan curah jantung yang bermanifestasi dalam bentuk letih, pening, limbung, pingsan

kongesti pulmonal dalam bentuk sesak napas

Bila disertai takikardia disebut braditakiaritmia ; terdapat palpitasi, kadang-kadang disertai angina pektoris atau sinkop (pingsan)

Dapat pula menyebabkan kelainan/perubahan kepribadian, lupa ingatan, dan emboli sistemik

EKG monitoring baik selama dirawat inap di RS maupun dalam perawatan jalan (ambulatory / holter ECG monitoring), dapat menemukan kelainan EKG berupa bradikardia sinus persisten.Blok AV Blok AV Derajat Satu

Irama teratur dengan perpanjangan interval PR melebihi 0,2 detik Blok AV Derajat dua

Mobitz tipe I (Wenckebach), Gelombang P bentuk normal dan irama atrium yang teratur, pemanjangan PR secara progresif lalu terdapat gelombang P yang tidak dihantarkan, sehingga terlihat interval RR memendek dan kemudian siklus tersebut berulang kembali Mobitz tipe II, Irama atrium teratur dengan gelombang P normal. Setiap gelombang P diikuti gelombang QRS kecuali yang tidak dihantarkan dan bisa lebih dan I gelombang P berturut-turut yang tidak dihantarkan. Irama QRS bisa teratur atau tidak teratur tergantung pada denyut yang tidak dihantarkan. Kompleks QRS bisa sempit bila hambatan terjadi pada berkas his, namun bisa lebar seperti pada blok cabang berkas bila hambatan ini pada cabang berkas Blok AV Total (Complete AV Block): terjadi hambatan total konduksi antara atrium dan ventrikel. Atrium dan ventrikel masing-masing mempunyai frekuensi sendiri (frekuensi ventrikel < frekuensi atrium) Keluhan : Sinkop, vertigo, denyut jantung ( 60 mmHg dangan 02 konsentrasi dan aliran tinggi , retensi C02, hipoventilasi,atau tidak mampu mengurangi cairan edema secara adekuat: dilakukan intubasi Endotrakeal, suction dan ventilator/bipep

3. Infus emergensi

4. Monitor tekanan darah, monitor EKG oksimetri bila ada

5. Nitroglisenin sublingual atau intravena. Nitrogliserin per oral 0,4-0,6mg tiap 5-10 menit. Jika tekanan darah sistolik>95 mmHg bisa diberikan nitroglisenin intravena mulai dosis 3-5 ug/kgBB. Jika tidak memberi hasil memuaskan maka dapat diberikan nitroprusid. Nitroprusid IV dimulai dosis 0,1 ug/kgBB/menit bila tidak membebani respons dengan nitrat, dosis dinaikkan sampai didapatkan perbaikan klinis atau sampai tekanan darah sistolik 85-90 mmHg pada pasien yang tadinya mempunyai tekanan darah normal atau selama dapat dipertahankan perfusi yang adekuat ke organ-organ vital

6. Morfin sulfat: 3-5mg iv, dapat diulangi tiap 25 menit sampai total dosis 15mg 7. Diuretik : furosemid 40-80 mg IV bolus dapat diulangi atau dosis ditingkatkan tiap 4 jam atau dilanjutkan drip kontinu sampai dicapai produksi urin 1 ml/kgBB/jam8. Bila perlu (tekanan darah turun/tanda hipoperfusi): Dopamin 2-5 ug/kgBB/menit atau dobutamin 2-10 ug/kgBB/menit untuk menstabilkan hemodinamik. Dosis dapat ditingkatkan sesuai respons klinis atau keduanya.

9. Trombolitik atau revaskularisasi pada pasien infark miokard

10. Intubasi dan ventilator pada pasien dengan hipoksia berat, asidosis atau tidak

11. Berhasil dengan terapi oksigen Atasi anitmia atau gangguan konduksi

12. Operasi pada komplikasi akut infark jantung akut, seperti regurgitasi, VSD, dan ruptur dinding ventrikel atau korda tendinae.KOMPLIKASIGagal napasPROGNOSISTergantung penyebab, beratnya gejala, dan respons terapi

WEWENANG RS pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan PPDS Penyakit Dalam dengan konsultasi pada konsulen Penyakit Dalam

RS non pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam

UNIT YANG MENANGANI RS pendidikan : Depantemen Ilmu Penyakit Dalam Divisi Kardiologi

RS non pendidikan : Bagian Ilmu Penyakit Dalam

UNIT TERKAIT

RS pendidikan : ICCU, Departemen Anestesi, Bedah toraks

RS non pendidikan : Bagian Anestesi, ICCU/ICU, Bedah

REFERENSI1. Panggabean MM Suryadipraja RM Gagal Jantung Akut dan Gagal Jantung Kronik. In: Simadjbrata M Setiati S. Alwi, Maryantoro, Gani RA, Mansjoer A, eds. Pedoman Diagnosis dan Terapi di Bidang Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian ilmu Penyakit Dalam FKUI; 1999.p. 140-54.

ENDOKARDITIS INFEKTIFPENGERTIANEndokarditis infektif adalah Inflamasi pada endokard yang biasanya melibatkan katup dan jaringan sekitarnya yang terkait dengan agen penyebab infeksiDIAGNOSISKriteria Klinis Duke untuk Endokarditis Infektif (EI) :

EI definite : Kriteria Patologis

Mikroorganisme : ditemukan dengan kultur atau histologi dalam vegetasi yang

mengalami emboli atau dalam suatu abses intrakardiak

Lesi patologis : vegetasi atau terdapat abses intrakardiak yang dikonfirmasi dengan histologis yang menunjukkan endokarditis aktif

Kriteria klinismenggunakan definisi spesifik , yaitu : Dua kriteria mayor atau satu mayor dan tiga kriteria minor atau lima kriteria minorKriteria Mayor:

1 Kultur darah positif untuk endokarditis Infektif (EI)

A. Mikroorganisme khas konsisten untuk El dan 2 kultur darah terpisah seperti tertulis di bawah ini :

Streptococci viridans, streptococcus bovis atau grup HACEK atau

Community acquired Staphylococcus aureus atau enterococci tanpa ada fokus primer atau

B. Mikroorganisme konsisten dengan El dan kultur darah positifpersisten didefinisikan sebagai:

2 kultur dan sampel darah yang diambil terpisah > 12 jam atau

Semua dan 3 atau mayonitas dari 4 kultur darah terpisah (dengan sample awal dan akhir diambil terpisah > 1 jam)

2 Bukti keterlibatan kardial

A. Ekokardiografi positifuntuk El didefinisikan sebagai:

Massa intrakardiak oscilating pada katup atau struktur yang menyokong, di jalur aliran jet regurgitasi atau pada material yang diimplantasikan tanpa ada altenatif anatomi yang dapat menerangkan, atau

Abses, atau

Tonjolan baru pada katup prostetik atau

B. Regurgitasi valvular yang baru terjadi (memburuk atau berubah dan murmur yang ada sebelumnya tidak cukup)

Kriteria Minor :

1. Predisposisi : predisposisi kondisi jantung atau pengguna obat intravena

2. Demam: suhu > 38C

3. Fenomena vaskular: emboli arteri besar, infark pulmonal septik, aneurisma mikotik, perdarahan intrakranial, perdarahan konjungtiva, dan lesi Janeway.

4. Fenomena imunologis : glomerulonefritis, Oslers nodes, Roth Spots, dan faktor reumatoid.

5. Bukti mikrobiologi : kultur darah positif tetapi tidak memenuhi kriteria mayor seperti tertulis diatas atau bukti serologis infektif aktif oleh mikroorganisme konsisten dengan El

6. Temuan kardiografi : konsisten dengan El tetapi tidak memenuhi kriteria Seperti tertulis di atas

El possible

Temuan konsisten dengan El turun dan kriteria definite tetapi tidak memenuhi kriteria rejectedEl Rejected

Diagnosis alternatif tidak memenuhi manifestasi endokarditis atau resolusi manifestasi endokarditis dengan terapi antibiotik selama < 4 hari atau Tidak ditemukan bukti patologis El pada saat operasi atau autopsi setelah terapi antibiotik > 4 hariDIAGNOSIS BANDING

Demam rematik akut dengan karditis, sepsis tuberkulosis milier, lupus eritematosus, sistemik glomerulonefritis pasca streptokokus,poliarteritis nodosa, reaksi obatPEMERIKSAAN PENUNJANG

Darah rutin, EKG foto toraks, ekokardiografi, transesofageae ekokardiografi, kultur darah

TERAPIPrinsip terapi adalah oksigenasi, cairan intravena yang cukup, antipiretik, antibiotika Regimen yang dianjurkan (AHA)

1. Endokarditis katup ash karena Streptococcus viridans dan Sir Bovis:

Penisilin G kristal 1 2-28 juta unit/24 jam iv kontinu atau 6 dosis terbagi selama minggu atau seftriakson 2 g 1kali/hari iv atau im selama 4 minggu

Penisilin G kristal 12-28 juta unit/24 jam iv kontinu atau 6 dosis terbagi selama minggu dengan gentamicin sulfat 1 mg/kgBB im atau iv tiap 8 jam selama 2 minggu

Vankomisin hidrokiorida 30 mg/kgBB/24 jam iv dalam 2 dosis terbagi, tidak>2g/24 jam kecuali kadar serum dipantau selama 4 minggu

2. Endokarditis katup asli karena Str. Viridans dan Str. Bovis relatif resisten terhadap Penisilin G

Penisilin G kristal 18 juta unit/24 jam iv kontinu atau dalam 6 dos is terbagi selama 4 minggu dengan gentamicin sulfat 1 mglkgBB im atau iv tiap 8 jam selama 2 minggu

Vankomisin hidrokiorida 30 mg/kgBB/24 jam iv dalam 2 dosis terbagi, tidak> 2g/24 jam kecuali kadar serum dipantau selama 4 minggu

3. Endokarditis karena Enterococci Penisilin G knistal 18-30juta unit/24 jam iv kontinu atau dalam 6 dosis terbagi selama 4-6 minggu dengan gentamisin sulfat I mg/kgBB im atau iv tiap 8 jam selama 4-6 minggu

Ampisilin 12 g/24 jam/24 jam iv kontinu atau dalam 6 dosis terbagi selama 4 6 minggu dengan gentamisin sulfat 1 mg/kgBB im atau iv tiap 8 jam selama 4-6 minggu

Vankomisin hidrokionida 30 mg/kgBB/24 jam iv dalam 2 dosis terbagi, tidak > 2g/24 jam selama 4-6 minggu dengan gentamisin sulfat 1 mg/kgBB im atau iv tiap 8 jam selama 4-6 minggu

4. Endokarditis karena Stafilokokus tanpa materi prostetik.

a. Regimen untuk Methicilin Succeptible Staphylococci Nafsilin atau oksasilin 2 g 1V tiap 4 jam selama 4-6 minggu dengan opsional ditambah gentamisin sulfat 1 mg/kgBB im atau iv tiap 8 jam selama 3-5 hari b. Regimen untuk pasien alergi beta laktam

Cefazolin (atau sefalosporin generasi I laian dalam dosis setara) 2 g iv tiap 8 jam selama 4-6 minggu dengan opsional ditambah gentamisin sulfat 1mg/kgBB im atau ivt iap 8jam selama 35 hari

Vankomisin hidroklorida 30 mg/kgBB/24 jam iv dalam 2 dosis terbagi, tidak > 2g/24 jam kecuali kadar serum dipantau selama 4-6 minggu

Operasi dilakukan bila

Bakteremia yang menetap setelah pemberian terapi medis yang adekuat, gagal jantung kongestif yang tidak respontif terhadap terapi medis, vegetasi yang menetap setelah emboli sistemik, dan ekstensi penivalvular

KOMPLIKASIGagal jantung, emboli, aneurisma nekrotik, gangguan neurologi, perikanditisPROGNOSISTergantung beratnya gejala dan komplikasiWEWENANG

RS pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan PPDS Penyakit Dalam dengan konsultasi pada konsulen Penyakit Dalam

RS non pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit DalamUNIT YANG MENANGANI

RS pendidikan : Departemen Penyakit Dalam Divisi Kardiologi

RS non pendidikan : Bagian Penyakit DalamUNIT TERKAIT

RS pendidikan : Departemen Bedah

RS non pendidikan : Bagian BedahREFERENSI

Alwi I. Diagnosis dan Penatalaksanaan Endokarditid Infektif pada Penyalah guna Obat Intravena. In : Setiati S, Sudoyo AW, Alwi I, Bawazier LA, soejono CH, Lydia A, Etal, editors. Naskah Lengkap Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Penyakit Dalam 2000. Jakarta : Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI ; p. 171 86

FIBRILASI ATRIALPENGERTIAN

FIBRILASI ATRIAL (FA) adalah Adanya irregulanitas kompleks QRS dan gambaran gelombang P dengan frekuensi antara 3 50-650 per menit.DIAGNOSISGambaran EKG berupa adanya irregularitas kompleks QRS dan gambaran gelombangP dengan frekuensi antara 3 50-650 per menitKlasifikasi FA Berdasarkan ada tidaknya penyakit jantung yang mendasari:

1.Primer : bila tidak ditemukan kelainan struktur jantung dan kelainan sistemik yang menimbulkan aritmia.

2.Sekunder : bila tidak ditemukan kelainan struktur jantung tetapi ada kelainan yang dapat menimbulkan aritmia.Klasifikasi FA berdasarkan waktu timbulnya Fibrilasi atrial (FA) serta kemungkinan keberhasilan usaha konversi ke irama sinus :

1.Paroksismal, bila FA berlangsung kurang dari 7 hari, berhenti dengan sendirinya intervensi pengobatan atau tindakan apapun2.Persisten, bila FA menetap lebih dari 48 jam, hanya dapat berhenti dengan intervensi pengobatan atau tindakan.

3. Permanen bila FA berlangsung lebih dan 7 hari, dengan intervensi pengobatan AF tetap tidak berubahPEMERIKSAAN PENUNJANG

EKG bila penlu gunakan loiter Monitoring pada pasien AF paroksismal. Foto toraks, ekokardiografi untuk mengetahui adanya penyakit primer

Pemeriksaan elektrofisioiogi tidak diperlukan kecuali untuk kepentingan akademikTERAPIFibrilasi Atrial Paroksismal

1.Bila asimptomatik, tidak diberikan obat antiaritmia, hanya diberi penerangan saja.

2.Bila menimbulkan keluhan yang memerlukan pengobatan dan tanpa kelainan Jantung atau disertai kelainan jantung minimal dapat diberi obat penyekat beta atau obat antiaritmia kelas IC seperti propafenon atau flekainid.

3.Bila obat tersebut tidak berhasil, dapat diberikan amiodaron.

4.Bila dengan obat-obat itu juga tidak berhasil, dipertimbangkan terapi ablasi atau obat-obat antiaritmia lain.

5.Bila disertai kelainan jantung yang signifikan, amidaron merupakan obat pilihan.

Fibrilasi atrial persisten

1. Bila FA tidak kembali ke irama sinus secara spontan kurang dari 48 jam, perlu dilakukan kardioversi ke irama sinus dengan obat-obatan (farmakologis) atau elektrik tanpa pemberian antikoagulan sebelumnya. Setelah kardioversi diberikan obat antikoagulan paling sedikit selama 4 minggu. Obat antiaritmia yang dianjurkan kelas IC (propafenon dan flekainid)

2. Bila FA lebih dan 48 jam atau tidak diketahui lamanya maka pasien diberi obat antikoagulan secara oral paling sedikit 3 minggu sebelum dilakukan kardioversi farmakologis atau elektrik. Selama periode tersebut dapat diberikan obat-obat seperti digoksin,.penyekat beta, atau antagonis kalsium untuk mengontrol laju irama ventrikel. Alternatif lain path pasien tersebut dapat diberikan heparin dan dilakukan pemeriksaan TEE untuk menyingkirkan adanya trombus kardiak sebelum kardioversi.3 Pada FA persisten episode pertama, setelah dilakukan kardioversi tidak diberikan obat antiaritmia profilaksis. Bila terjadi relaps dan perlu kardioversi pada pasien ini dapat diberikan antiaritmia profilaksis dengan penyekat beta, golongan kelas IC (propafenon, flekainid), sotalol atau amiodaron.

Fibrilasi Anal Permanen

1. Kardioversi tidak efektif

2. Kontrol laju ventrikel dengan digoksin, penyekat beta, atau antagonis kalsium.

3. Bila tidak berhasil thpat dipertimbangkan ablasi nodus AV atau pemasangan pacu jantung permanen.

4. FA resisten, perlu pemberian antitromboemboli

KOMPLIKASIEmboli, strok, trombus intrakardiak

PROGNOSISTergantung penyebab, beratnya gejala dan respons terapi

WEWENANG RS pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan PPDS Penyakit Dalam dengan konsultasi pada konsulen Penyakit Dalam

RS non pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam

UNIT YANG MENANGANI

RS pendidikan : Departemen Ilmu Penyakit Dalam Divisi Kardiologi

RS non pendidikan : Bagian Ilmu Penyakit Dalam

UNIT TERKAIT

RS pendidikan : Departemen Bedah toraks , ICCU, Anestesi

RS non pendidikan : ICCU, Departemen Anestesi, BedahREFERENSI1. Ismail D. Fibrilasi Atrial : Aspek Pencegahan Terjadinya Strok. In: Setiati S, Sudoyo AW Alwi I . Bawazier LA, Kasjmir Y Mansjoer A, editors. Naskah Lengkap Pertemuan ilmiah Tahunan Ilmu Penyakit Dalam 2001. Jakarta; Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2000. p.97-114

2. Karo KS. Disritmia. Dalam : Rilantono LI, Baraas F Karo KS, Roebiono PS, editors.Buku ardiologi. Jakarta, Balai Penerbit FKUI; 1999. p. 2 75-88.

3. Trisnohadi HB. Kelainan Gangguan Irama Jantung Yang Spesifik. In: Sjaifoellah N,Waspadji S, Rachman M, Lesmana LA, Widodo D, Isbagio H, et al, editors. Buku Ajar penyakit Dalam Jilid edisi ketiga. Jakarta; Balai Penerbit FKUI ;1996. p. 1005-144. Makmun LH. Gangguan Irama Jantung. In : Simadibrata M Setiati S, Alwi I, Maryantoro, Gani RA, Mansjoer A, eds. Pedoman Diagnosis dan Terapi di Bidang ilmu Penyakit Dalam. Jakarta ; Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian ilmu Penyakit Dalam FKUI ;p. 155-60.

GAGAL JANTUNG KRONIKPENGERTIANGagal jantung kronik merupakan Sindrom klinis yang kompleks akibat kelainan fungsi atau struktural jantung yang mengganggu kemampuan jantung untuk berfungsi sebagai pompa

DIAGNOSISAnamnesis : Dispnea d effort; orthopnea; paroxysmal nocturnal dispnea; lemas anokrecsia dan mual; gangguan mental pada usia tuaPemeriksaan Fisik : Takikardia, gallop bunyi jantung ketiga, peningkatan /ekstensi vena jugularis, refluks hepatojugular, pulsus alternans, kardiomegali, ronkhi basah halus di basal paru dan bisa meluas di kedua lapang paru bila gagal jantung berat, edema pretibial pada pasien yang rawatjalan, edema sakral pada pasien tirah baring. Efusi pleura, lebih sering pada paru kanan dari pada paru kiri. Asites sering terjadi pada pasien dengan penyakit katup mitral dan perikarditis konstriktif, hepatomegali, nyeri tekan, dapat diraba pulsasi hati yang berhubungan dangan hipertensi vena sistemik, ikterus, berhubungan dengan peningkatan kedua bentuk bilirubin, ekstremitas dingin, pucat dan berkeringatKRITERIA DIAGNOSIS

Kriteria Framingham : Diagnosis ditegakkan bila terdapat paling sedikit satu kriteria mayor dan dua kriteria minor

Kriteria Mayor

Paroxysmal nocturnal dispnea Distensi vena-vena leher

Peningkatan vena jugularis

Ronki

Kardiomegali

Edema paru akut

Gallop bunyi jantung III

Refluks hepatojugular positif Mayor arau minor

Penurunan berta badan > 4,5 kg dalam 5 hari terapi

DIAGNOSIS BANDING

Penyakit paru : pneumonia, PPOK, asma eksaserbasi akut, infeksi paru berat misalnya ARDS, emboli paru Penyakit ginjal : gagal ginjal kronik, sindrom nefrotik

Penyakit hati : sirosis hepatisPEMERIKSAAN PENUNJANGPemeriksaan Penunjang

Foto rontgen dada : Pembesaran jantung, distensi vena pulmonaris dan tribusinya ke apeks paru (opasifikasi hilus paru bisa sampai ke apeks), peningkatan tekanan vaskular pulmonar, kadang-kadang ditemukan efusi pleura. Elektrokardiografi : Membantu menunjukkan etiologi gagal jantung (infark, iskemia, hipertrofi, dan lain-lain) Dapat ditemukan low voltage, T inversi, QS,Depresi ST, dan lain-lainLaboratoratorium Kimia darah (termasuk ureum, kreatinin, glukosa, elektrolit), hemoglobin, tes fungsi tiroid, tes fungsi hati, dan lipid darah

Urinalisa untuk mendeteksi proteinunia atau glukosuria.Ekokardiografi Dapat menilai dengan cepat dengan informasi yang rinci tentang fungsi dan struktur , katup dan perikard. Dapat ditemukan fraksi ejeksi yang rendah < 35-40% atau normal, kelainan katup (stenosis mitral , regurgitasi mitral, stenosis trikuspid urgitasi tnikuspid ), hipertrofi ventnikel kin, dilatasi atrium kin, kadang-kadang ditemukan dilatasi ventrikel kanan atau atrium kanan, efusi perikard, tamponade, atau perikarditisTERAPINon farmokologi

Anjuran umum :

a. Edukasi : terangkan hubungan keluhan, gejala dengan pengobatan

b. Aktivitas sosial dan pekerjaan diusahakan agar dapat dilakukan seperti biasa. Sesuaikan kemampuan fisik dengan profesi yang masih bisa dilakukan

c. Gagal jantung berat harus menghindani penerbangan panjang

d. Vaksinasi terhadap infeksi influensa dan pneumokokus bila mampu

e. Kontrasepsi dengan IUD pada gagal jantung sedang dan berat, penggunaan hormon dosis rendah masih dapat dianjurkan.

Tindakan umum:

a. Diet ( hindarkan obesitas, rendah garam 2 g pada gagal jantung ningan dan 1 g pada gagal jantung berat, jumlah cairan 1 liter pada gagal jantung berat dan 1,5 liter pada gagal jantung ringan.

b. Hentikan rokok

c. Hentikan alkohol pada kardiomiopati. Batasi 20-3 0 g/hari pada yang lainnyad. Aktivitas fisik ( latihan jasmani : jalan 3-5 kali/minggu selama 20-3 0 menit atau seperti statis 5 kali/minggu selama 20 menit dengan beban 70-80% denyut jantung maksimal pada gagal jantung ringan dan sedang)

e. Istirahat baring pada gagal jantung akut, berat dan eksaserbasi akut

Farmakologia. Diuretik. Kebanyakan pasien dengan gagal jantung membutuhkan paling sedikit diuretik regular dosis rendah tujuan untuk mencapai tekanan vena jugularis normal dan menghilangkan edema. Permulaan dapat digunakan loop diuretik atau tiazid. Bila respons tidak cukup baik dosis diuretik dapat dinaikkan, berikan diuretik intravena, atau kombinasi loop diuretik dan tiazid Diuretik hemat kalium, spironolakton, dengan dosis 25-50 mg/hari dapat mengurangi mortalitas pada pasien dengan gagal jantung sedang sampai berat (kelas fungsional IV) yang disebabkan gagal jantung sistolik.b. Penghambat ACE bermanfaat untuk menekan aktivasi neurohormonal dan pada gagal jantung yang disebabkan disfungsi sistolik Ventrikel kiri. Pemberian dimulai dengan dosis rendah, dititrasi selama beberapa minggu sampai dosis yang efektif.

c. Penyekat Beta bermanfaat sama seperti penghambat ACE. Pemberian mulai dosis kecil, kemudian dititrasi selama beberapa minggu dengan kontrol ketat sindrom gagal jantung. Biasanya diberikan bila keadaan sudah stabil. Pada gagal jantung kelas fungsional II dan III. Penyekat Beta yang digunakan carvedilol, bisoprolol atau metoprolol. Biasa digunakan bersama-sama dengan penghambat ACE dan diuretik.

d. Angiotensin II antagonis reseptor dapat digunakan bila ada kontraindikasi penggunaan penghambat ACE

e. Kombinasi hidralazin dengan isosorbide dinitrat Memberi hasil yang baik pada pasien yang intoleran dengan penghambat ACE dapat dipertimbangkan

f. Digoksin diberikan untuk pasien simptomatik dengan gagal jantung disfungsi sistolik ventrikel kiri dan terutama yang dengan fibnilasi atrial, digunakan bersama-sama diuretik, penghambat ACE, penyekat beta.

g. Antikoagulan dan antiplatelet. Aspirin diindikasikan untuk pencegahan emboli serebral pada penderita dengan fibnilasi atnial dengan fungsi ventnikel yang buruk. Antikoagulan perlu diberikan path fibnilasi atnial kronis maupun dengan riwayat emboli, trombosis dan transient ischemic attacks, trombus intrakardiak dan aneurisma ventrilcel.

h. Antiaritmia tidak direkomendasikan untuk pasien yang asimptomatik atau aritmia ventrikel yang tidak menetap. Antiaritmia kelas I harus dihindari kecuali pada aritmia yang mengancam nyawa. Antiaritmia kelas III terutama amiodaron dapat digunakan untuk terapi aritmia atnial dan tidak digunakan untuk mencegah kematian mendadak.

i. Antagonis kalsium dihindari. Jangan menggunakan kalsium antagonis untuk mengobati angina atau hipertensi pada gagal jantung.KOMPLIKASISyok kardiogenik, infeksi paru, gangguan keseimbangan elektrolitPROGNOSISTergantung klas fungsionalnyaWEWENANG RS pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan PPDS Penyakit Dalam

RS non pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit DalamUNIT YANG MENANGANI RS pendidilkan : Departemen Ilmu Penyakit Dalam Divisi Kardiologi RS non pendidikan: Bagian Ilmu Penyakit Dalam

UNIT TERKAIT

RS Pendidikan : ICCU / medical High Care

RS non pendidikan : ICCU / ICUREFERENSI1. Panggabean MM Suryadipraja RM Gagal Jantung Akut dan Gagal Jantung Kronik. In:Simandibrata M Setiati S, Alwi I, Maryantoro , Gani RA, Mansjoer A, eds. Pedoman Diagnosis dan Terapi di Bidang Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI ; I999.p. 140-54.

2. ACC/AHA. ACC/AHA Guidelines for the Evaluation and Management of Chronic Heart in Adult : Executive Summary. A Report of The American College of Cardiologyi American Heart Association Task Force on Practice Guidelines (Committee to Revise the 1995 Guidelines for the Evaluation and Management of Heart Failure). Circulation 2001; 104:2996-3007.TAKIKARDIA ATRIAL PAROKSISMALPENGERTIAN

Takikardia atrial paroksismal adalah takikardia yang terjadi karena perangsangan yang berasal dan AV node di mana sebagian rangsangan antegrad ke ventrikel sebagian ke atriumDIAGNOSISGelombang P dapat negatif di depan kompleks QRS, terletak di belakang kompleks QRS atau sama sekali tidak ada karena berada dalam kompleks QRS.Jarak R-R teratur Kompleks QRS langsing, kecuali pada rate ascendent aberrant conductionPEMERIKSAAN PENUNJANG EKG 12 sandapan

Rekaman EKG24 jam

Pemeriksaan Elektrofisiologi

Ekokardiografi

Angiografi koroner

TEE (Transesofageal Echocardiografi)

TERAPI1. Manipulasi saraf autonom dengan manuver valsava, eye ball pressure, pemijitan sinus karotikus dan sebagainya

Pemberian obat yang menyekat node AV a. Adenosin atau adenosin Tri Phosphate (ATP) IV. Obat mi hams diberikan secara intrvena dan cepat (flush)

b. Verapamil intravena

c. Obat penyekat beta

d. Digitalisasi

2. Pilihan utama adalah ATP dan verapamil.

3. Bila sering berulang dapat dilakukan ablasi dengan terlebih dahulu EPS untuk menentukan lokasi bypass tract atau lCD (Defibrillator Intra Cardial)

KOMPLIKASIEmboli, kematian mendadak

PROGNOSIS

Tergantung penyebab, beratnya gejala dan respons terapiWEWENANG

RS pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan PPDS Penyakit Dalani dengan konsultasi kepada dokter konsulen Penyakit Dalam

RS non pendidikan: Dokter Spesialis Penyakit DalamUNIT YANG MENANGANIRS pendidikan : Departemen Ilmu Penyakit Dalam Divisi Kardiologi RS non pendidikan : Bagian Ilmu Penyakit Dalam

UNIT TERKAIT RS pendidikan: ICCU / medical High Care, Departemen Anestesi

RS non pendidikan: ICCU / ICU, Bagian Anestesi

REFERENSI1. Trisnohadi HB. Kelainan Gangguan Irama Jantung Yang Spesifik. In: Sjafoellah N, Waspadji S. Rachman M, Lesmana LA, Widodo D, Isbagio H, et al, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. edisi ketiga. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ;1996. p. 1005-14.2. Makmun LH. Gangguan Irama Jantung. In: Simadibrata M, Setiati S, Alwi I, Maryantoro, Gani RA, Mansjoe rA, editors. Pedoman Diagnosis dan Terapi di Bidang Ilmu Penyakit dalam. Jakarta: Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian ilmu Penyakit Dalam FKUI;1999.p. 155-60.PERIKARDITIS

PENGERTIAN

Perikarditis peradangan pada perikard parietalis, viseralis atau kedua-duanya, yang dapat bermanifestasi sebagai : perikarditis akut, efusi perikard tanpa tamponade efusi perikard dengan tamponade, perikarditis konstriktifDIAGNOSISTergantung manifestasi klinis perikarditis :

Perikarditis akutSakit dada tiba-tiba substemal atau prekordial, yang berkurang bila duduk dan bertambah sakit bila menarik napas (sehingga perlu dibedakan dengan pIeuritis).Pada pemeriksaan fisik ditemukan friction rub. EKG menunjukkan ST elevasi cekung (bedakan dengan infark jantung akut dan repolarisasi dini). Foto jantung normal atau membesarTamponade Pada fase awal terjadi peninggian tekanan vena jugularis dengan cekungan x prominen dan hilangnya cekungan y (juga terlihat pada kateter vena sentral). Pada fase selanjutnya timbul tanda Kusmaull (peninggian tekanan vena jugularis pada saat inspirasi), pulsus paradoksus (penurunan tekanan darah> 12-15 mmHg pada inspirasi, terlihat pada arterial line atau tensimeter). Penurunan tekanan darah. Umumnya tamponade disertai : pekak hati yang meluas, bunyi jantung melemah, friction rub, takikardia.Foto toraks menunjukkan :

paru normal kecuali bila sebabnya kelainan paru seperti tumor

Jantung membesar membentuk kendi (bila cairan >250 ml)

EKG low voltage, elektrikal altemans (gelombang QRS saja, atau P.QRS dan T )

Ekokardiografi : efusi perikard moderat sampai berat, swinging heart dengan kompresi diastolilc vena kava inferior, atrium kanan dan veritrikel kanan

Kateterisasi : peninggian tekanan atrium kanan dengan gelombang x prominen serta gelombang yang menurun atau menghilang. Pulsus paradoksus dan ekualisasi tekanan diastolik di ke-4 ruang jantung (atrium kanan, ventrikel kanan, ventrikel kiri dan PCW)

Perikarditis Konstriktif

Kelelahan, denyut jantung cepat, dan bengkak.

Pemeriksaan fisik menunjukkan tanda gagal jantung seperti peningkatan tekanan vena jugularis dengan cekungan x dan y yang prominen, hepatomegali, asites dan edema

Pulsus paradoksus (pada bentuk subakut)

End diastolic sound (knock) (lebih sering pada kronik)

Tanda Kusmaull (peninggian tekanan vena jugularis pada inspirasi) terutama pada yang kronik.

Foto toraks: kalsifikasi perikard, jantung bisa membesar atau normal.

Echo CT Scan dan MRI bisa mengkonfirmasi foto toraks. Bila CT Scan/MRI normal maka diagnosis perikarditis konstriktif hampir sudah disingkirkan Kateterisasi menunjukkan perbedaan tekanan atrium kanan, diastolik ventrikel kanan, ventrikel kiri, dan rata-rata PCW, < 5 mmHG dip dan plateu DIAGNOSIS BANDING

Perikarditis akut : infark jantung akut, emboli paru, pleuropneumonia, diseksi aorta, akut abdomen

Efusi perikard / tamponade : kardiomiopati dilatasi atau gagal jantung, emboli paru,

Perikarditis konstriktiva : kardiomiopati restriktif

PEMERIKSAAN PENUNJANG

EKG, foto toraks, ekokardiografi, (terutama bila tersangka pericardial efusion ), Kateteresasi, CT scan, MRITERAPIPerikarditis Akut

Perikarditis Akut pasien harus dirawat inap dan istirahat baring untuk memastikan diagnosis dan diagnosis banding serta melihat kemungkinan terjadinya tamponade Simptomatik dengan aspirin 650 mg/4 jam atau OAINS indometasin 25-50 mg/6 jam. Dapat ditambahkan morfin 2-5 mg/6 jam atau petidin 2-50mg/4jam,hindarkan steroid karena sering menyebabkan ketergantungan. Bila tidak membaik dalam 72 jam, maka prednison 60-80 mg/hari dapat dipertimbangkan selama 5-7 hari dan kemudian tapering off. Cari etiologi/kausal

Efusi Perikard Sama dengan perikarditis akut, disertai pungsi perikard untuk diagnostik

Tamponode Jantung

Perikardiosentesis perkutan

Bila belum bisa dilakukan penikardiosentesis perkutan, infus normal salin 500 ml dalam 30-60 menit disertai dobutamin 2-10 ug/kgBB/menit atau isoproterenol 2-20 ug/menit

Kalau perlu membuat jendela penikardial dengan :

a. Dilatasi balon melalui perikardiostomi jarum perkutan

b. Pembedahan (dengan mortalitas sekitar 15%) untuk membuat jendela perikardial dapat dilakukan bila : tidak ada cairan yang keluar saat penikardiosentesis, tidak membaik dengan perikardiosefltesis, kasus trauma

Pembedahan yang dapat dilakukan:

1. Bedah sub-xyphoid perikardiostomi

2. Reseksi perikard lokal dengan bantuan video

3. Reseksi perikard antero lateral jantung

Pengobatan kausal : bila sebabnya antikoagulan, harus dihentikan; antibiotik, anti tuberkulosis, atau steroid tergantung etiologi, kemoterapi intraperikard bila etiologinya tumor.Perikarditis Konstrikitiva

Bila ringan diberikan diuretika atau dapat dicoba OAINS

Bila progresif, dapat dilakukan perikardiektomiKOMPLIKASI

Perikarditis akut : chronic relapsing pericarditis, efusi perikard, tamponade, perikarditis konstriktiva

Efusi perikard / tamponade : henti jantung, aritmia : fibrilasi atrial atau flutter, perikarditis konstriktiva.PROGNOSIS

Tergantung beratnya gejala dan komplikasi yang terjadiWEWENANG

RS pendidikan: Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan PPDS Penyakit Dalam dengan konsultasi kepada dokter konsulen Penyakit Dalam

RS non pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit DalamUNIT YANG MENANGANI

RS pendidikan : Departemen Ilmu Penyakit Dalam Divisi Kardiologi

RS non pendidikan : Bagian Ilmu Penyakit DalamUNIT TERKAIT

RS pendidikan : ICCU / medical High Care, Departemen Bedah

RS non pendidikan : ICCU / ICU, Bagian BedahREFERENSI

1. Ismail D, Panggabean MM Perikarditis. In: Sjafoe!lah N, Waspadji S. Rachman AL Lesmana LA, Widodo D, Isbagio H, eta!, editors. Buku Ajar ilmu Penyakit Dalam Jilid I, edisi ketiga. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ;1996.p. 1077-81.2. Panggabean MM Mansjoer H. Perikarditis. Dalam . Simadibrata AL Setiati S. Alwi L Maryantom, Gani RA, Mansjoer A, editors. Pedoman Diagnosis dan Terapi di Bidang ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian ilmu Penyakit Dalam FKUI ;1999. p. 173-77SINDROM KORONER AKUTPENGERTIANSindrom koroner akut suatu keadaan gawat darurat jantung dengan manifestasi berupa perasaan tidak enak didada atau gejala-gejala lain sebagai akibat iskimia miokard.Sindrom koroner akut mencakup :Infark miokard akut dengan elevasi segmen ST

Infark miokard akut tanpa elevasi segmen ST

Angina pektoris tak stabil (unstable angina pectoris)

DIAGNOSISAnamnesis

Nyeri pada dada tipikal (angina) berupa nyeri dada substemal, retrosternal, dan prekordial.seperti ditekan, ditindih benda berat, rasa terbakar, seperti ditusuk, rasa diperas dipelintir. Nyeri menjalar ke leher, lengan kiri, mandibula, gigi, punggung/

interkskapula, dan dapat juga ke lengan kanan. Nyeri membaik atau hilang dengan istirahat atau obat nitrat, atau tidak. Nyeri dicetuskan oleh latihan fisik, stres emosi, dingin, dan sesudah makan. Dapat disertai gejala mual, muntah, sulit bernapas, atau dingin, dan lemasElektrokardiogram Angina pektoris tidak stabil : depresi segmen ST dengan atau tanpa inversi gelombang T, kadang-kadang elevasi segmen ST sewaktu ada nyeri, tidak ,dijumpai gelombang Q

Infark miokard ST elevasi : hiperakut T, elevasi segmen ST, gelombang Q inversi gelombang T

Infiuk miokard non ST elevasi : depresi segmen ST, inversi gelombang T dalam.

Pertanda Biokimia CK, CKMB, Troponin-T, dil Enzim meningkat minimal 2 kali nilai batas atas normal

DIAGNOSIS BANDING

Angina pektoris tak stabil : infark miokard akut

Infark miokard akut: diseksi aorta, perikarditis akut, emboli paru akut, penyakit dinding dada, Sindrom Tietze, gangguan gastrointestinal seperti : hiatus hernia dan refluks esofagitis, spasme atau ruptur esofagus, kolesistitis akut, tukak lambung, dan pankreatitis akut.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

EKG

Foto rontgen dada

Petanda biokimia: darah rutin, CK, CKMB, Troponin T, dll Profil lipid, gula darah, ureum kreatinin Ekokardiografi Tes Treadmill (untuk stratifikasi setelah infark miolcard)

Angiografi koroner

TERAPI Tirah baring di ruang rawat intensif jantung (ICCU)

Pasang infus intravena dengan NacI 0,9% atau dekstrosa 5%

Oksigenisasi dimulai dengan 2 liter/menit 2-3 jam, dilanjutkan bila sarurasi oksigen arteri rendah (30detik) atau menyebabkan gangguan hemodinamik DC Shock unsynchronized dengan energi awal 200 J, jika gagal harus diberikan shock kedua 200-300 J dan jika perlu shock ketiga 360 J

VT monomorfik yang menetap diikuti anina, edema paru atau hiptensi harus diterapi dengan DC shock synchronized energi awal 100 J. Energi dapat ditingkatkan jika dosis awal gagal.

VT monomorfik yang tidak disertai angina, edema paru atau hipotensi dapat diberikan : Lidokain bolus 1-15 mg/kg BB. Bolus tambahan 0,5- 0,75 mg/kg BB tiap 5-10 menit sampai dosis loading total maksimal 3 mg/kgBB. Kemudian loading dilanjutkan dengan infus 2-4 mg/menit (30-50 ug/kgBB/menit), atau Disopiramid: bolus 1-2 mg.kgBB dalam 5-10 menit dilanjutkan dosis pemeliharaan 1 mg/kg BB/jam ; atau Amiodaron 150mg infus selama 10-20 menit atau 5 ml/kgBB 20-60 menit dilanjutkan infus tetap 1 mg/menit selama 6 jam dan kemudian infus pemeliharaan 0,5 mg/menit; atau Kardioversi elektrik synchronized dimulai dosis 50 J (anestesi sebelumnya)

4. Bradia ritmia dan blok

Bradikardia sinus simtomatik (frekuensi jantung < 50 kali menit disertai hipotensi, iskemia aritmia ventrikel escape)

Asistol ventrikel

Blok AV siratomatik terjadi pada tingkat nodus AV (derajat dua tipe 1 atau derajat tiga dengan ritme escape kompleks sempit)

Terapi dengan sulfas atropin 0,5-2 mg. Isoproterenol 0,5-4 ug/menit bila atropin gagal, sementara menunggu pacu jantung sementara5. Gagal jantung akut, edema paru, syok kardiogenik diterapi sesuai standar pelayanan medis mengenai kasus ini

6. Perikarditis

Aspirin (160-325 mg/hari)

Indometasin,

Ibuprofen

Kortikosteroid 7. Komplikasi mekanik

Ruptur muskulus papilaris, ruptur septum ventnikel, ruptur dinding ventrikel ditatalaksana operasi.

KOMPLIKASI

1. Angina pektoris tak stabil : payah jantung, syok kardiogenik, aritmia, infark miokard akut

2. Infark miokard akut (dengan atau tanpa ST elevasi) : gagal jantung, syok kardiogenik, ruptur korda, ruptur septum, ruptur dinding bebas, aritmia gangguan hantaran, aritmia gangguan pembentukan rangsang, perikarditis, sindrom dresler, emboli paru.

PROGNOSIS

Tergantung daerah jantung yang terkena, beratnya gejala, ada tidaknya komplikasi

WEWENANG

RS pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan PPDS Penyakit Dalam

RS non pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam

UNIT YANG MENANGANI

RS pendidikan : Departemen Ilmu Penyakit Dalam Divisi Kardiologi

RS non pendidikan : Bagian Ilmu Penyakit Dalam

UNIT TERKAIT

RS pendidikan : ICCU / medical High Care RS non pendidikan : ICCU / ICUREFERENSI

1. Harun S. Mansjoer H. Diagnosis dan Penata laksanaan Sindrom Koroner Akut. In:Bawazie rLA, Alwi I Syam AF Gustaviani R, Mansjoer A, editors. Prosiding Simposium Pendekatan Holistik Penyakit Kardiovaskular Jakarta:Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian iImu Penyakit Dalam FKUI 2001. p. 32-42.2. Harun S, Alwi I, Rasyidi K Infark Miokard Akut. In: Simadibrata M Setiati S, Alwi I, Maryantoro, Gani RA, Mansjoer A, editors. Pedoman Diagnosis dan Terapi di Bidang ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian ilmu Penyakit Dalam FKUI ;1999.p. 165-723. Santoso T. Tatalaksana Infark Miokard Akut. In: Subekti I, Lydia A, Rumende CM Syan AF Mansjoer A, Suprohaita, editors. Prosiding Simpsosium Penatalaksanaan Kedaruratan di Bidang Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Informasi dan Penerbitan iImu Bagian ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2000.p.1-10.RENJATAN KARDIOGENIKPENGERTIAN

Renjatan kardiogenik adalah kegagalan sirkulasi akut karena ketidakmampuan daya jantung.DIAGNOSISTrias renjatan : tekanan darah 60 mmHg dangan 02 konsentrasi dan aliran tinggi , retensi C02, hipoventilasi, atau tidak mampu mengurangi cairan edema secara adekuat : dilakukan intubasi endotrakeal, suction dan ventilator

3. Infus emergensi

4. Bila ada tension pneumotoraks segera diidentifikasi dan ditatalaksana untuk dekompresi dengan chest tube torakotomi

5. Atasi segera aritmia dengan obat atau DC

6. Jika ada defisit volume yang ikut berperan berikan normal salin 250-500 ml kecuali ada edema paru akut. Jika terapi cairan gagal pasang kateter Swan Ganz.

7. EKG prekordial kanan untuk deteksi gagal jantung kanan bila ada infark akut inferior

8. Penilaian cukup tidaknya volume paling baik dengan kateter Swan Ganz untuk mendapatkan PAWP. Jika pemberian cairan kontraindikasi atau tidak efektjf berikan vasopressor untuk mempertahankan tekanan darah sistolik 100 mmgHg. Dopamin dimulai dengan 5 ug/kgBB/menit dititrasi sampai tercapai target mempertahankan tekanan darah atau sampai 15 ug/kgBB/menit. Tambahkan norepinefrmn bila tekanan darah < 80 mmgHg dengan dosis 0,1 30 ug/kgBB/ menit. Jika tidak respons dengan dopamm dapat juga ditambahkan dobutamin dengan dosis titrasi 2,5 20 ug/kgBB/menit. Atau milrininon/amrinon

9. IABP (Intra Aortic Ballon Pump) bila tidak responsif dengan terapi adekuat sambil menunggu tindakan intervensi bedah.

10. Jika tekanan darah sudah stabil dapat diberikan vasodilator untuk mengurangi afterload dan memperbaiki fungsi pompa terutama berguna pada : hipertensi berat, edema paru dekompensasi katup. Nitrolgliserin sublingual atau intravena.

11. Nitrogliserin peroral 0,4-0,6mg tiap 5-10 menit. Jika tekanan darah sistolik>95 mmHg bisa diberikan nitrogliserin intravena mulai dosis 3-5 uglkgBB. Jika tidak memberi hasil memuaskan maka dapat diberikan nitroprusid. Nitroprusid IV dimulai dosis 0,1 ug/kgBB/ menit bila tidak memberi respons dengan nitrat, dosis dinaikkan sampai didapatkan perbaikan klinis atau sampai tekanan darah sistolik 8 5-90 mrnHg pada pasien yang tadinya mempunyai tekanan darah normal atau selama dapat dipertahankan perfusi yang adekuat ke organ-organ vital.

12. Bila perlu : Diberikan Dopamin 2-5 ug/kgBB/menit atau dobutamin 2-10 ug/kgBB/ menit untuk menstabilkan hemodinamik. Dosis dapat ditingkatkan sesuai respons klinis

13. Trombolitik atau revaskularisasi pada pasien infark miokard

14. Intubasi dan ventilator pada pasien dengan hipoksia berat, asidosis atau tidak berhasil dengan terapi oksigen

15. Atasi aritmia atau gangguan konduksi

16. Operasi pada komplikasi akut infark jantung akut seperti regurgitasi, VSD dan ruptur dinding ventrikel atau korda tendinae

KOMPLIKASI

Gagal napas

PROGNOSIS

Tergantung penyebab, beratnya gejala dan respons terapi

WEWENANG pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan PPDS Penyakit Dalam non pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam

UNIT YANG MENANGANI

RS pendidikan : Departemen Penyakit Dalam UNIT TERKAIT RS pendidikan : ICCU / medical High Care, Departemen Bedah toraks /Jantung. RS non pendidikan : ICCU / ICU, Bagian Bedah, Anestesi

REFERENSI

1. Panggabean MM, Suryadipraja RM Gagal Jantung Akut dan Gagal Jantung Kronik. In:,Simadibrata M Setiati S, Alwi I, Maryantoro, Gani RA, Mansjoer A, editors. Pedoman Diagnosis dan Terapi di Bidang Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI ;1999. p. 140-54.2. Trisnohadi HB. Syok kardiogenik. In: Prosiding Simpsosium Penatalaksanaan kedarurataan di Bidang Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat informasi dan Penerbitan Ilmu Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2000.p. 11-16.3. Harun S. Mansjoer H. Diagnosis dan Penatalaksanaan Sindrom Koroner Akut. In,Bawazier LA, Alwi I, Syam AF Gustaviani R, Mansjoer A. editors. Prosiding Simposium Pendekatan Holistik Penyakit Kardiovaskular .Jakarta:Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2001. p. 32-42.

FIBRILASI VENTRIKULARPENGERTIAN

Fibrilasi ventrikular adalah kelainan irama jantung dengan tidak di temukan depolarisasi ventrikel yang terorganisasi sehingga ventrikel tidak mampu berkontraksi sebagai suatu kesatuan dengan irama yang sangat kacau serta tidak terlihat gelombang P, QRS maupun T

DIAGNOSISEKG: kompleks QRS sudah berubah sama sekali, amplitudo R sudah mengecil sekali.

PEMERIKSAAN PENUNJANQEKG 12 sandapan, rekaman EKG 24 jam, ekardiografi, angiografi koronerTERAPI1. DC shock dengan evaluasi dan shock sampai 3 kali jika perlu dimulai dengan 200 Joule, kemudian 200-300 Joule dan 360 Joule.

2. Resusitasi jantung paru selama tidak ada irama jantung yang efektif (pulsasi di pembuluh nadi besar tidak teraba).

3. Bila teratasi penatalaksanaan seperti takikardia ventrikularKOMPLIKASIEmboli paru emboli otak, henti jantungPROGNOSISTergantung penyebab, beratnya gejala dan repons terapiWEWENANG RS pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan PPDS Penyakit Dalam

RS non pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam

UNIT YANG MENANGANI

RS pendidikan : Departemen Ilmu Penyakit Dalam Divisi Kardiologi

RS non pendidikan : Bagian Ilmu Penyakit Dalam

UNIT TERKAIT

RS pendidikan : ICCU / medical High Care RS non pendidikan ICCU / ICU

REFERENSI

1. Trisnohadi HB. Kelainan Gangguan Irama Jantung Yang Spesfik. In: Sjafoellah N,Waspadji S. Rachman AL Lesmana LA, dodo D, Isbagio H, et al, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1, edisi ketiga. Jakarta: Balal Penerbit FKUI ;1996. p. 1005-14.2. Makmun LH. Gangguan irama Jantung. In: Simadibrata M Setiati S, Alwi l, Maryantoro, Gani RA, Mansjoer A, editors. Pedoman Diagnosis dan Terapi di Bidang Ilmu Penyakit Dalam Jakarta: Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI; ,.9. p 155-60.TAKIKARDIA VENTRIKULARPENGERTIAN

Takikardia ventrikular adalah kelainan irama jantung berupa tiga atau lebih kompleks yang berasal dan ventrikel secara berurutan dengan laju lebih dan 100 per menit.DIAGNOSISEKG frekuensi kompleks QRS meningkat 150-200 kali/menit, kompleks QRS melebar hubungan gelombang P dan kompleks QRS tidak tetapDIAGNOSIS BANDINGSupraventrikular takikardia dengan konduksi aberans

PEMERIKSAAN PENUNJANG

EKG 12 sandapan, Rekaman EKG 24 jam, Ekokardiografi, Angiografi koroner, Pemeriksaan elektrofisiologi

TERAPI Atasi penyakit dasar : bila iskemia maka dilakukan revaskularisasi koroner, bila payah jantung maka diatasi payah jantungnya

Pada keadaan akut:

Bila mengganggu hemodinamik : dilakukan DC shock Bila tidak mengganggu hemodinamik: dapat diberikan antiaritmia dan bila tidak berhasil dilakukan DC shockDC Shock diberikan dan dievaluasi sampai 3 kali (200 Joule, 200-300 Joule, 360 Joule atau bifasik ekuivalen) jika perlu. Antiaritmia yang diberikan : lidokain atau amiodaron. Lidokain diberikan mulai dengan bolus dosis 1 mg/kgBB (50-75 mg dilanjutkan dengan rumatan 2-4 mg/kgBB). Bila masih timbul bisa diulangi bolus 50 mg/kgBB. Untuk amiodaron dapat diberikan 15 mg/kg BB bolus 1 jam dilanjutkan 5 mg/kg BB bolus/drip dalam 24 jam sampai dengan 1000 mg/24 jam.

Untuk jangka panjang.

Bila selama takikardia tidak terjadi gangguan hemodinamik maka dapat dilakukan tindakan ablasi kateter dan ventrikel kiri maupun ventrikel kanan. Hal ini terutama untuk ventrikular takikardia reentran cabang berkas. Bila selama takikardia terjadi gangguan hemodinamik perlu dilakukan tindakan konversi dengan defibrilator, kalau perlu pemasangan defibrilator jantung otomatik.KOMPLIKASIEmboli paru, emboli otak, kematian

PROGNOSISTergantung penyebab, beratnya gejala dan respons terapi

WEWENANG RS pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan PPDS Penyakit Dalam RS non pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam

UNIT YANG MENANGANI

RS pendidikan : Departemen Ilmu Penyakit Dalam Divisi Kardiologi RS non pendidikan : Bagian Ilmu Penyakit Dalam

UNIT TERKAIT

RS pendidikan : ICCU / medical High Care

RS non pendidikan ICCU / ICU

REFERENSI

1. Trisnohadi HB. Kelainan Gangguan Irama Jantung Yang Spesifik. In: Sjafoellah N, Waspadji S. Rachman M Lesmana LA, Widodo D, Isbagio H, et al, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1, edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUl; 1996. p. 1005-I.2. Makmun LH. Gangguan Irama jantung. In: Simadibrata M, Setiati S, Alwi l, Maryantoro, Gani RA, Mansjoer A, editors. Pedoman Diagnosis dan Terapi di Bidang ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam UI;1999. p 155-60.

EKSTRASISTOL VENTRIKULARPENGERTIAN

Ekstrasistol ventrikular adalah suatu kompleks ventrikel prematur timbul secara dini disalah satu ventrikel akibat cetusan dini dan suatu fokus yang otomatis atau melalui mekanisme reentri.

DIAGNOSIS P sinus biasanya terbenam dalam kompleks QRS, segmen ST atau gelombang T, kompleks QRS muncul lebih awal dan seharusnya, QRS melebar (>0,12 detik), gambaran QRS wide and bizzare, segmen ST dan gelombang T berlawanan arah dengan kompleks QRS, bila karena mekanisme reentri maka interval antara kompleks QRS normal yang mendahuluinya dengan kompleks ekstrasistol ventrikel akan selalu sama. Bila berbeda maka asalnya dan fokus ventrikel yang berbeda

Pemeriksaan Penunjang

EKG 12 sandapan, rekaman EKG 24 jam, ekokardiografi, angiografi koroner

TERAPI

Tidak perlu diobati jika jarang, timbul pada pasien tanpa/tidak dicurigai kelainan jantung organik

Perlu pengobatan bila terjadi pada keadaan iskemia miokard akut, bigemini, trigemini, atau multifokal, alvo ventrikel.

Koreksi gangguan elektrolit, gangguan keseimbangan asam basa, dan hipoksia

Obat : xilokain intravena dengan dosis 1-2 mg/kgBB dilanjutkan infus 2-4 mg/ menit. Obat alternatif: prokainamid, disopiramid, amiodaron, meksiletin. Bila pengobatan tidak perlu segera, obat-obat tersebut dapat diberikan secara oral.

KOMPLIKASI

VT/VF, kematian mendadak

PROGNOSIS

Tergantung penyebab, bratnya gejala dan respons terap

WEWENANG

RS pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan PPDS Penyakit Dalam

RS noN pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam

UNIT YANG MENANGANI

RS pendidikan : Departemen ilmu Penyakit Dalam Divisi Kardiologi

RS non pendidikan : Bagian ilmu Penyakit Dalam

UNIT TERKAIT

RS pendidikan: ICCU / medical High Care RS non pendidikan ICCU / ICUREFERENSITrisnohadi HB. Kelainan Gangguan Irama jantung Yang Spesifik. In: Sjaifoellah N, Waspadji S, Rachman M, Lesmana LA, Widodo D, Isbagio H, et al, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Jilid 1, edisi ketiga. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ;1996. p. 1005-14.

2.2

KARDIOLOGI

BAB I

PENDAHULUAN

Kriteria minor

Edema ekstremitas

Batuk malam

Sesak pada aktifitas

Hepatomegali

Efusi pleura

Kapasitas berkurang menjadi 1/3

dari normal

Takikardia ( > 120 denyut per menit )

37