05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Gaya Hidup Hedonisme

Citation preview

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    1/136

    HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN GAYA

    HIDUP HEDONIS PADA REMAJA

    SKRIPSI

    Oleh :

    KARINA PURNOMO PUTRI

    05.40.0006

    FAKULTAS PSIKOLOGI

    UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA

    SEMARANG

    2009

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    2/136

    ii

    HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN GAYA

    HIDUP HEDONIS PADA REMAJA

    SKRIPSI

    Diajukan Kepada Fakultas Psikologi

    Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

    Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat Guna

    Memperoleh Derajat Sarjana Psikologi

    Oleh :

    KARINA PURNOMO PUTRI

    05.40.0006

    FAKULTAS PSIKOLOGI

    UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA

    SEMARANG

    2009

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    3/136

    iii

    Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Skripsi

    Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata

    dan Diterima Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat Guna

    Memperoleh Derajat Sarjana Psikologi

    Pada Tanggal

    14 Oktober 2009

    Mengesahkan

    Fakultas Psikologi

    Universitas Katolik Soegijapranata

    Dekan

    (Th. Dewi Setyorini, S.Psi., M.Si.)

    Dewan Penguji Tanda Tangan

    1. Th. Dewi Setyorini, S.Psi., M.Si ..

    2. Drs. M. Suharsono, M.Si ..

    3.

    Ferdinand Hindiarto, S.Psi., M.Si ..

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    4/136

    iv

    Kupersembahkan karya terindah ini untuk :

    Ayah dan Bunda

    Adikku

    Teman-temanku

    Dan

    Seseorang yang setia mendampingiku

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    5/136

    v

    MOTTO

    Jangan lihat masa lampau dengan penuh penyesalan ; jangan pula melihatmasa depan dengan ketakutan ; tapi lihatlah sekitar anda dengan penuh

    kesadaran

    James Thurber)

    Kekuatan dari kebiasaan yang terlatih dan fokus pada tujuan, akan mampumengubah apa yang tidak mungkin menjadi mungkin, apa yang tidak bisa

    menjadi bisaAndrie Wongso)

    No one is in control of your happiness but you. Therefore, you have the powerto change anything about yourself of your life that you want to change

    Anonymus)

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    6/136

    vi

    UCAPAN TERIMA KASIH

    Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat dan

    rahmatNya yang telah melindungi dan membimbing sehingga penulis dapat

    menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul Hubungan Antara Konsep Diri

    Dengan Gaya Hidup Hedonis Pada Remaja.

    Skripsi ini tidak akan terlaksana tanpa bantuan dari berbagai pihak,

    sehingga pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang

    tidak terhingga kepada :

    1. Ibu Th. Dewi Setyorini, S.Psi., M.Si, selaku Dekan Fakultas Psikologi

    Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.

    2. Bapak Ferdinand Hindiarto, S.Psi., M.Si, selaku Dosen Pembimbing yang

    selalu meluangkan waktu untuk penulis dan dengan penuh kesabaran

    membimbing, mengarahkan dan juga selalu memberikan dorongan, nasehat,

    semangat, dan dukungan kepada penulis.

    3.

    Ibu Dra. Sri Sumijati, M.Si, selaku dosen wali yang telah mendampingi

    penulis selama masa perkuliahan serta memberikan saran selama kuliah.

    4. Bapak Drs. George Hardjanta, M.Si, dan Bapak Drs. D.P. Budi Susetyo, M.Si,

    yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberi masukan kepada

    penulis.

    5. Seluruh Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata yang

    telah memberikan bekal ilmu. Semoga apa yang sudah diajarkan bermanfaat

    bagi diri penulis dan orang lain.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    7/136

    vii

    6. Seluruh staff Tata Usaha di Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata yang

    telah banyak membantu segala urusan administrasi dan perijinan kepada

    penulis.

    7.

    Ayah dan bunda serta adik tercinta yang selalu memberikan doa dan dukungan

    baik materi maupun imateri demi kelancaran tugas ini. Penulis persembahkan

    karya yang sederhana ini untuk kalian.

    8. Bapak kepala sekolah SMA Karangturi yang telah memberikan ijin penelitian

    kepada penulis.

    9. Siswa-siswi SMA Karangturi Semarang yang telah bersedia meluangkan

    waktunya untuk mengisi angket.

    10.Chandra my lovely fiance. Sesorang yang telah setia mendampingi dan

    mendukung dengan curahan kasih dan sayangnya. Terimakasih untuk

    dukungan dan perhatiannya.

    11.Untuk sahabat-sahabat terbaikku Geng nakalPipit, Della, Sitra, Nandi, Lukas,

    Pandu, Momon. Terima kasih untuk dukungan dan pertemanan yang kita jalin

    selama ini

    12.Terima kasih untuk Allan dan Mia yang telah membantu penulis memperoleh

    ijin penelitian di Karangturi.

    13.Terima kasih untuk mas Dimas yang telah memberi masukan dan banyak

    membantu dalam analisis data dalam skripsi ini.

    14.Teman-teman geng rumpi 523, terima kasih untuk waktu-waktu yang telah

    kita lewati bersama.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    8/136

    viii

    Akhir kalam terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan

    satu persatu yang telah memberikan dorongan moral, material maupun spiritual

    selama penyusunan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi mereka

    yang membaca dan bagi peneliti selanjutnya.

    Semarang, Oktober 2009

    Penulis

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    9/136

    ix

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL ... ii

    HALAMAN PENGESAHAN ........ iii

    HALAMAN PERSEMBAHAN ..... iv

    HALAMAN MOTTO . v

    UCAPAN TERIMA KASIH ...... vi

    DAFTAR ISI .......................................................................................................... ix

    BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1

    A.Latar Belakang Masalah ............................................................................. 1

    B.Tujuan Penelitian ........................................................................................ 8

    C.Manfaat Penelitian ...................................................................................... 9

    1.Manfaat Teoritis ....................................................................................... 9

    2.Manfaat Praktis ......................................................................................... 9

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 10

    A.Gaya Hidup Hedonis pada Remaja ........................................................... 10

    1.Pengertian Gaya Hidup Hedonis pada Remaja ...................................... 10

    2.Karakteristik Gaya Hidup Hedonis ........................................................ 16

    3.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Gaya Hidup Hedonis ...................... 18

    B.Konsep Diri ............................................................................................... 22

    1.Pengertian Konsep Diri ......................................................................... 22

    2.Aspek - Aspek Konsep Diri ................................................................... 24

    C.Hubungan antara Konsep Diri dengan

    Gaya Hidup Hedonis pada Remaja ........................................................... 26

    D.Hipotesis ................................................................................................... 31

    BAB III METODE PENELITIAN ........................................................................ 32

    A.Metode Penelitian .....................................................................................32

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    10/136

    x

    B.Identifikasi Variabel Penelitian ................................................................ 32

    1.Variabel Tergantung : Gaya Hidup Hedonis pada Remaja ................. 32

    2.Variabel Bebas : Konsep Diri ..................................................... 32

    C.Definisi Operasional ................................................................................. 32

    1.Gaya Hidup Hedonis ............................................................................. 33

    2.Konsep Diri ........................................................................................... 33

    D.Subyek Penelitian dan Teknik Pengambilan Sampel ............................... 34

    1.Populasi ................................................................................................. 34

    2.Teknik Sampling ................................................................................... 34

    E.Metode Pengumpulan Data ....................................................................... 35

    1.Skala Gaya Hidup Hedonis ................................................................... 37

    2.Skala Konsep Diri .................................................................................. 38

    F.Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ......................................................... 39

    1.Validitas Alat Ukur ................................................................................ 39

    2.Reliabilitas Alat Ukur ............................................................................ 40

    G.Teknik Analisis Data ................................................................................ 42

    BAB IV PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENELITIAN ........................... 43

    A. Orientasi Kancah Penelitian ..................................................................... 43

    B. Persiapan penelitian ................................................................................. 45

    1.Penyusunan alat ukur ............................................................................ 45

    2.Perijinan Penelitian ............................................................................... 47

    3.Uji Coba Skala Penelitian ..................................................................... 47

    4.Uji Validitas dan Reliabilitas ................................................................ 48

    5.Pelaksanaan Penelitian......................................................................... 51

    BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................................ 53

    A. Uji Asumsi. .............................................................................................. 53

    1.Uji Normalitas. ...................................................................................... 53

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    11/136

    xi

    2.Uji Linieritas. ......................................................................................... 54

    B. Uji Hipotesis ............................................................................................ 54

    C. Pembahasan ............................................................................................. 54

    BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 60

    A. Kesimpulan .............................................................................................. 60

    B. Saran ........................................................................................................ 60

    DAFTAR PUSTAKA .......................................................................... 62

    LAMPIRAN.......................................................................................... 65

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    12/136

    xii

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran Halaman

    Lampiran A SKALA TRY OUT............ 65

    A-1 Gaya Hidup Hedonis..................................................

    A-2 Konsep Diri

    67

    70

    Lampiran B SKALA PENELTIAN............................................... 73

    B-1 Gaya Hidup Hedonis..................................................

    B-2 Konsep Diri

    75

    78

    Lampiran C DATA TRY OUT PENELITIAN............ 80

    C-1 Gaya Hidup Hedonis..................................................

    C-2 Konsep Diri....

    81

    86

    Lampiran D UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS............... 91

    D-1 Gaya Hidup Hedonis..................................................

    D-2 Konsep Diri

    92

    99

    Lampiran E DATA ITEM VALID................................................

    E-1 Gaya Hidup Hedonis...................................................

    E-2 Konsep diri.............................................................

    106

    107

    111

    Lampiran F

    Lampiran G

    UJI NORMALITAS..................................................

    UJI LINIERITAS......................................................

    115

    119

    Lampiran H UJI HIPOTESIS........................................................ 121

    Lampiran I SURAT IJIN PENELITIAN.................................... 123

    Lampiran J SURAT BUKTI PENELITIAN........................... 125

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    13/136

    xiii

    DAFTAR TABEL

    Tabel Halaman

    1 Blue Print Skala Gaya Hidup Hedonis.......................................37

    2 Blue Print Skala Konsep diri....................................................... 38

    3 Tabel Data Kelas Periode 2009-2010........................................... 44

    4 Sebaran Item Skala Gaya Hidup Hedoni.................................... 46

    5 Sebaran Item Skala Konsep Diri.................................................. 47

    6 Sebaran Item Valid dan Gugur Skala Gaya Hidup Hedonis.. 49

    7 Sebaran Item Valid dan Gugur Skala Konsep Diri..................... 50

    8 Nomor Item Baru Skala Gaya Hidup Hedonis............................ 50

    9 Nomor Item Baru Skala Konsep Diri........................................... 51

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    14/136

    1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Globalisasi saat ini telah merambah cepat ke seluruh pelosok dunia,

    tak terkecuali bangsa Indonesia yang merupakan negara berkembang.

    Perkembangan teknologi yang semakin pesat menimbulkan dampak adanya

    globalisasi informasi, mode, serta menjamurnya berbagai macam perangkat

    media massa dan elektronik, seperti televisi, internet dan alat-alat

    komunikasi yang mengakibatkan perubahan nilai serta pola atau gaya

    hidup masyarakat Indonesia. Modernisasi yang terjadi di Indonesia

    merupakan akibat dari proses global yang di dalamnya terimbas oleh

    paham matrealis dan sekuralisme. Globalisasi yang semakin kuat memberi

    dampak terjadinya perubahan yang dapat mempengaruhi perilaku individu,

    dan remaja merupakan generasi yang paling mudah terpengaruh pada efek

    globalisasi (Kunto, 1999, h.87)

    Remaja adalah generasi yang menarik untuk dikaji karena banyak

    dan rumitnya persoalan yang ada di dalamnya. Lewin dan Calon (dikutip

    Monks dkk, 1998, h.253) mengatakan bahwa masa remaja merupakan

    suatu masa marjinal, remaja belum memperoleh status orang dewasa tetapi

    tidak lagi memiliki status anak-anak. Menurut Hurlock (dalam Diponegoro,

    2004) remaja memiliki karakteristik yang spesifik antara lain merupakan

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    15/136

    2

    masa (a) periode transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, (b)

    periode yang penuh dengan berbagai perubahan, (c) usia yang banyak

    mengalami masalah, (d) pencarian jati diri, (e) pengembangan sikap

    realistis, (f) penuh harapan dan idealis.

    Sesuai dengan yang di ungkapkan oleh Kunto (1999, h.87) bahwa

    remaja adalah generasi yang paling mudah terpengaruh oleh era globalisasi

    atau era modern. Saat ini dampak dari modernisasi pada remaja sudah

    sangat mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tampak ada

    perbedaan nilai pada remaja jaman sekarang bila dibandingkan dengan

    remaja generasi sebelumnya. Perbedaan tersebut nampak dari

    kecenderungan perilaku pada remaja jaman sekarang yang dihadapkan

    pada gaya hidup hedonis dan mengutamakan kesenangan semata sebagai

    tujuan hidup.

    Menurut Salam (2000, h.222) hedonisme berasal dari bahasa Greek

    yaitu hedone, yang berarti kesenangan, pleasure. Prinsip dari aliran ini

    menganggap bahwa sesuatu itu dianggap baik, jika sesuai dengan

    kesenangan yang didapatkannya. Gaya hidup yang dikenal sebagai gaya

    hidup yang berorientasi budaya barat adalah gaya hidup yang menjanjikan

    kesenangan pribadi.

    Eksistensi kaum muda remaja saat ini hanya ditempatkan pada

    pengakuan-pengakuan sementara, misalnya seorang remaja dianggap

    eksistensinya ada jika remaja tersebut masuk menjadi anggota geng motor,

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    16/136

    3

    menggunakan baju-baju bermerk, menggunakan blackberry, dugem,

    clubbing, melakukan freesex, ngedrugs, dan lain sebagainya. Eksistensi

    kaum muda remaja hanya dihargai sebatas kepemilikan dan status semata

    (Bujang, 2009).

    Berkaitan dengan hal tersebut, Kunto (1999, h.87) mengungkapkan:

    Generasi yang paling tidak aman terhadap gaya hidup hedonisadalah remaja. Kita tahu siapa yang suka jalan-jalan di mall danngeceng disana. Kita hapal, siapa yang demen bikin sensasi.

    Kalangan mana yang paling banyak mampir di bioskop, diskotik,pesta mode, dan kegiatan hura-hura lainya? Anak remaja! Obat

    bius, XTC, minuman keras, pornografi terlalu sering dikaitkan

    dengan anak remaja. (Kunto, 1999, h.87).

    Ungkapan tersebut didukung oleh fakta yang didapat melalui jajak

    pendapat yang dilakukan oleh Kasali (1998, h.197) yang menemukan

    bahwa mall adalah tempat nongkrongpaling popular untuk mengisi waktu

    luang remaja (30,8%), sedangkan jajan merupakan prioritas pertama

    pengeluaran remaja (49,4%), setelah itu membeli alat sekolah (19,5%),

    jalan-jalan atau hura-hura (9,8%). Selain itu pengeluaran untuk membeli

    pakaian (9,4%), menabung (8,8%), membeli kaset (2,3%), membeli

    aksesori mobil (0,6%), dan ada pula yang tidak menjawab sebanyak

    (0,4%). Hasil dari jejak pendapat tersebut menunjukkan bahwa remaja saat

    ini lebih berorientasi pada gaya hidup hedonis.

    Tanpa disadari gaya hidup hedonis mulai melanda di berbagai kota

    besar yang ada di Indonesia, meski pengaruh kehidupan hedonis di satu

    kota dengan kota lainnya dapat berbeda. Misalnya, di kota Semarang relatif

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    17/136

    4

    tidak begitu kuat pola hidup hedonisnya dibandingkan dengan kota Jakarta

    (Gracesiana, 2006, dalam Harian Kompas). Namun menurut Winarno

    (2008) saat ini Semarang mulai bersolek, hotel-hotel besar dan mallmulai

    berinvestasi. Pola hidup hedonis yang dulu belum ada mulai muncul. Klub-

    klub malam mulai banyak berdiri, tempat-tempat melepas penat mulai dari

    panti pijat, karaoke club, dan pub-pub kelas atas pun bermunculan. Tercatat

    mulai banyak muncul tempat dugem(dunia gemerlap) Semarang mulai dari

    Embassy club, disusulAstro Caffe, Infussion caffe, Hugos Caffe, Starqueen

    discotique, Lipstik, Mantra cafe, E plazadan masih banyak lagi yang lain.

    Fasilitas tempat hiburan yang saat ini mulai banyak muncul di

    Semarang seolah-olah menjadi sarana yang tepat bagi remaja untuk lebih

    mengembangkan gaya hidup hedonisnya. Terkait dengan hal tersebut

    peneliti menangkap adanya fenomena gaya hidup hedonis yang dilakukan

    oleh remaja terutama yang masih duduk di bangku SMA. Pada saat ini

    sering terlihat siswa-siswi SMA keluyuran di mallsaat jam efektif sekolah,

    nongkrongdi caf, dan bahkan clubbingpada malam hari.

    Terkait dengan hal tersebut, peneliti melakukan wawancara dan

    observasi pada siswa-siswi SMA Karangturi Semarang yang mayoritas

    berasal dari keluarga kelas ekonomi menengah ke atas. Berdasarkan hasil

    wawancara dengan sejumlah siswa, peneliti menjumpai adanya fenomena

    gaya hidup hedonis pada siswa siswi Karangturi. Hal ini nampak dari

    kebiasaan siswa yang sering menghabiskan waktu di mall atau caf. Para

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    18/136

    5

    siswa mengatakan bahwa dalam seminggu siswa dapat pergi ke mall dan

    caf sebanyak tiga sampai empat kali, bahkan terkadang pada saat jam

    sekolah. Saat berada di mall atau caf, para siswa tersebut dapat

    menghabiskan waktu hingga seharian hanya untuk nongkrong. Selain

    kegiatan tersebut, para siswa juga senang menjadi bagian dari komunitas

    tertentu, seperti clubmobil, komunitas para model, band dan lain-lain

    Menurut pengakuan sejumlah siswa yang diwawancarai oleh peneliti,

    para siswa mengatakan kalo lagi ngumpul, dan nongkrong bareng teman-

    teman rasanya senang aja bebas, keren aja gitu bisa ngumpul dan ikut di

    kumpulan itu. Ketika lebih lanjut peneliti bertanya mengenai kegiatan

    akademik, mereka mengatakan ya kalo besoknya ada ujian atau ada tugas

    kan bisa nyontek teman yang udah ngerjain, jadi gak perlu repot, gak usah

    pusing-pusimg, yang penting have fun aja dulu to. Bagi siswa-siswi yang

    terpenting adalah rasa senang dan nyaman yang bisa didapatkan, sehingga

    tidak jarang siswa sampai melupakan tugas-tugas sekolahnya karena

    waktunya lebih banyak dihabiskan untuk bersenang-senang.

    Siswa-siswi Karangturi juga sangat memperhatikan penampilan

    fisiknya, hal ini nampak dari dandanan siswa-siswi saat di sekolah yang

    berlebihan denganbarang yang serba bermerk dan membawa mobil pribadi

    ke dalam lingkungan sekolah. Hal tersebut siswa-siswi lakukan sebagai

    upaya untuk menarik perhatian yang dapat membuat para siswa-siswi

    senang dengan merasa bahwa dirinya tampak eksklusif. Para siswa-siswi

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    19/136

    6

    mengatakan bahwa untuk memenuhi segala kebutuhan, siswa-siswi tidak

    memikirkan biaya yang dihabiskan, yang terpenting siswa-siswi dapat

    memperoleh apa yang diinginkan tanpa memikirkan dampak yang akan

    datang.

    Berdasarkan ungkapan tersebut dapat diketahui bahwa pada saat ini

    adanya kecenderungan umum ke arah pembentukan identitas melalui gaya

    hidup dalam penggunaan pakaian, aksesoris, mobil, atau produk-produk

    lainnya sebagai komunikasi simbolik di antara mereka. Segala sesuatu yang

    bersifat modern dan prestisius akan dapat dengan mudah diminati oleh

    remaja. Interaksi antar remaja menjadi terkotak-kotak pada status sosial

    yang bisa dilihat dari penampilan fisik. Semakin wah penampilan, maka

    semakin menunjukkan tingkat status seseorang lebih tinggi.

    Berdasarkan hasil observasi dan wawancara tampak bahwa bentuk-

    bentuk atribut kecenderungan gaya hidup hedonis dapat bermacam-macam

    dari tingkat yang sederhana sampai dengan kemewahan. Namun yang

    menjadi penekanan disini yaitu bahwa gaya hidup hedonis siswa-siswi

    bercirikan pada pola perilaku yang lebih mengutamakan kesenangan hidup

    daripada kegiatan belajar.

    Gaya hidup hedonis itu sendiri sebenarnya merupakan wujud ekspresi

    dari perilaku eksperimental yang dimiliki oleh remaja untuk mencoba

    sesuatu hal yang baru. Perilaku tesebut masih dipandang wajar apabila

    tidak memunculkan perilaku dominan pada kesenangan hidup daripada

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    20/136

    7

    kegiatan belajar dan berkarya. Remaja yang dominan dengan gaya hidup

    hedonis menjadi tidak produktif, hal ini dapat diketahui dari cara-cara

    remaja dalam menggunakan waktu mereka pada kegiatan-kegiatan yang

    kurang bermanfaat dan orientasi minatnya terhadap segala sesuatu yang

    lebih mementingkan penampilan atau gengsi semata dalam pergaulannya.

    Hal tersebut didukung oleh Coleman (dalam Grinder, 1978, h.333)

    yang mengemukakan setelah menganalisa aktifitas budaya remaja, bahwa

    nilai dan ketertarikan dari kebudayaan ini secara sistematis mengalihkan

    energi dari para pelajar menjauhi tujuan pendidikan. Coleman menemukan

    bahwa para remaja lebih peduli pada status sekolah dan popularitas

    dibandingkan kualitas akademik.

    Remaja sebagai bagian dari anggota masyarakat dalam

    perkembangannya selalu berinteraksi dengan dunia luar. Beragam

    informasi yang masuk, akan menjadi pilihan bagi remaja dalam mensikapi

    perubahan nilai-nilai budaya, termasuk bagaimana remaja mensikapi gaya

    hidup yang terdapat dalam masyarakat modern saat ini.

    Perilaku gaya hidup hedonis yang tampak di kalangan remaja saat ini

    disamping adanya perubahan dari kehidupan masyarakat yang modern,

    diyakini pula adanya perubahan pada proses perkembangan remaja.

    Gunarsa (2003, h.30) mengatakan bahwa dalam perkembangannya individu

    dalam masa remaja mengalami perkembangan yang semakin diarahkan

    keluar dirinya, keluar lingkungan keluarga, dan akhirnya kedalam

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    21/136

    8

    masyarakat. Hal ini ditandai dengan dengan munculnya keinginan untuk

    mandiri dan mencari konsep diri.

    Seperti yang diungkapkan oleh Branden (2001, h.11) bahwa gaya

    hidup hedonis dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah

    konsep diri. Konsep diri yaitu seperti apa dan siapa diri kita baik secara

    sadar atau tidak, kelebihan dan kekurangan individu. Konsep diri sangat

    berkaitan dengan sikap, karena konsep diri mempengaruhi semua pilihan

    dan keputusan yang kita buat, dan dengan adanya konsep diri akan

    membentuk ragam kehidupan yang akan diciptakan untuk diri indvidu itu

    sendiri

    Remaja yang memiliki konsep diri yang positif akan menyukai dirinya

    sendiri dan cukup mampu menghadapi dunia. Remaja mampu mencapai

    prestasi tinggi dan menjalani kehidupan secara efektif, baik untuk

    keberadaan dirinya maupun orang-orang lain di sekitarnya dan bagi yang

    memiliki konsep diri negatif maka remaja tersebut mempunyai perasaan

    tidak aman, kurang menerima dirinya sendiri, dan biasanya memiliki harga

    diri yang rendah (Tjipto dkk, 2006, h.19).

    Dapat dilihat bahwa konsep diri sangat mempengaruhi remaja dalam

    menentukan sikap dan perilakunya. Dalam penelitian ini penulis memilih

    faktor konsep diri, dikarenakan konsep diri merupakan aspek yang penting

    dan sangat mempengaruhi remaja dalam menentukan sikap.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    22/136

    9

    Berdasarkan uraian diatas muncul pertanyaan dari peneliti apakah ada

    hubungan antara konsep diri dengan gaya hidup hedonis pada remaja?

    Untuk itu penulis mengajukan penelitian dengan judul hubungan antara

    konsep diri dengan gaya hidup hedonis pada remaja.

    B. Tujuan Penelitian

    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui secara empiris

    hubungan antara konsep diri dengan gaya hidup hedonis pada remaja.

    C. Manfaat Penelitian

    1. Manfaat Teoritis

    Dapat memberi sumbangan yang bermanfaat bagi Psikologi

    Sosial terutama mengenai hubungan antara konsep diri dengan

    gaya hidup hedonis pada remaja.

    2. Manfaat Praktis

    Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan dan

    bahan pertimbangan bagi remaja berkaitan dengan perilaku

    hedonis dan konsep diri remaja. Hasil penelitian ini juga

    diharapkan dapat menjadi informasi yang bermanfaat bagi pihak

    lain yang terkait dengan masalah remaja seperti orang tua dan

    pendidik sebagai acuan bagi mereka untuk mendidik dan

    memberikan bimbingan yang tepat bagi remaja.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    23/136

    10

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. Gaya Hidup Hedonis pada Remaja

    1. Pengertian Gaya Hidup Hedonis pada Remaja

    Gaya hidup adalah suatu perpaduan antara kebudayaan ekspresi diri

    dan harapan kelompok terhadap seseorang dalam bertindak yang

    berdasarkan pada norma-norma yang berlaku (Susanto, 2001, h.120). Lebih

    lanjut Susanto mengatakan bahwa gaya hidup adalah cara mengekspresikan

    diri agar sesuai dengan cara-cara seperti apa seseorang ingin dipersepsikan

    sehingga dapat diterima oleh kelompok sosial tertentu dengan pola-pola

    perilaku tertentu.

    Menurut Engel dkk (1994, h.333) gaya hidup didefinisikan sebagai

    pola bagaimana seseorang hidup dan menghabiskan waktu serta uang.

    Gaya hidup adalah konsepsi ringkasan yang mencerminkan nilai

    konsumen. Pendapat ini didukung oleh Assael (1995, h.384) yang

    mengungkapkan bahwa gaya hidup ditetapkan sebagai cara hidup yang

    digambarkan dari bagaimana mereka menggunakan waktu mereka

    (aktivitas), apa yang akan mereka tentukan terhadap lingkungan (minat),

    dan apa yang mereka pikir tentang diri mereka dan dunia sekitar

    (pendapat).

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    24/136

    11

    Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa gaya hidup adalah

    cara individu mengekspresikan diri agar sesuai dengan cara-cara seperti

    apa seseorang ingin dipersepsikan sehingga dapat diterima oleh kelompok

    sosial tertentu dengan pola-pola perilaku tertentu.

    Para kaum muda Indonesia saat ini banyak dihadapkan pada pola

    hidup barat yang sering disebut dengan ungkapan hedon. Berasal dari

    istilah hedonisme yakni budaya atau faham individu yang mengutamakan

    kesenangan duniawi atau kaum hedonis. Pada umumnya, kaum hedonis

    berpikir dan bekerja secarapragmatis, yakni hanya mengutamakan hasil belaka

    tanpa mau mengetahui proses yang harus dijalani terlebih dahulu. Dalam

    kerangka yang lebih sederhana, hedonisme adalah cara hidup yang hanya

    mengejar kenikmatan semata. Sebagai konsekuensinya, kaum hedonis

    cenderung mengabaikan nilai-nilai lainnya (Purwodarminta, 1996, h.345).

    Hal tersebut didukung oleh pendapat yang diungkapkan Kunto (1999,

    h.86) bahwa hedonisme dalam bahasa Yunani, hedone, berarti kenikmatan,

    kegembiraan, adalah gaya hidup yang menjadikan kenikmatan atau

    kebahagiaan sebagai tujuan. Orientasi hidup selalu diarahkan pada

    kenikmatan dengan sepadat-padatnya menghindari perasaan-perasaan yang

    tidak enak atau menyakitkan.

    Susianto (1993, h.71) mengungkapkan bahwa orang yang menganut

    gaya hidup hedonis adalah individu yang mengerahkan aktivitasnya untuk

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    25/136

    12

    mencapai kenikmatan hidup. Sebagian besar perhatiannya ditujukkan pada

    lingkungan di luar rumah, merasa mudah mendapatkan teman, tapi

    cenderung masih memilih-milih dalam berteman, ingin menjadi pusat

    perhatian, untuk itu mereka tidak segan-segan membeli barang-barang

    yang mahal. Para kaum hedonis kebanyakan adalah anak SMU yang

    berasal dari keluarga yang sangat mampu dan biasanya mendapat uang

    saku dan fasilitas yang serba berkecukupan.

    Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa

    hedonisme adalah perilaku individu yang mengutamakan kesenangan dan

    kenikmatan sebagai tujuan utama dalam hidupnya, dan biasa dilakukan

    oleh remaja SMU yang berasal dari keluarga yang sangat mampu.

    Gaya hidup hedonis sebagai efek dari adanya era globalisasi atau

    modernisasi yang saat ini dapat dengan mudah dilakukan oleh siapa saja,

    namun yang paling mudah terpengaruh oleh adanya efek dari globalisasi

    atau modernisasi adalah remaja.

    Istilah remaja atau adolescence itu sendiri berasal dari kata latin

    adolescere yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Remaja

    mampu berpikir secara abstrak. Pemikiran mereka lebih fleksibel dan dapat

    menyesuaikan diri sehingga remaja mulai memperhatikan pendapat orang

    lain. Rasa ingin mandiri dan mencari identitas diri terkadang membuat

    remaja melakukan petualangan dengan mencoba hal-hal yang baru untuk

    membuat mereka diterima dan dihargai oleh kelompok sebayanya,

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    26/136

    13

    walaupun terkadang sesuatu yang mereka coba mempunyai dampak negatif

    terhadap dirinya (Hurlock, 1990, h.206).

    Lebih lanjut Hurlock mengungkapkan bahwa masa remaja merupakan

    periode peralihan, masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa

    dewasa, dimana anak-anak harus meninggalkan segala sesuatu yang

    bersifat kekanak-kanakan dan juga harus mempelajari pola perilaku dan

    mengggantikan perilaku, sikap yang sudah ditinggalkan, mencoba gaya

    hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai, dan sifat yang

    paling sesuai bagi dirinya.

    Dalam proses penyesuaian diri remaja menuju kedewasaan, ada tiga

    tahap perkembangan remaja, Hurlock (1990, h.206) membagi masa remaja

    menjadi tiga periode yaitu : (1) Remaja awal pada usia 12-15; (2) Remaja

    tengah atau madya pada usia 15-18 tahun; (3) dan remaja akhir pada usia

    18-21 tahun.

    Pernyataan tersebut didukung oleh Sarwono (1988, h.24-25) yang

    mengatakan bahwa dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan, ada

    tiga tahap perkembangan remaja, yaitu :

    a. Remaja awal

    Seorang remaja pada tahap ini masih terheran-heran akan

    perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan

    dorongan-dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    27/136

    14

    b.

    Remaja madya

    Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan kawan-kawan. Ada

    kecenderungan narcistic, yaitu mencintai diri sendiri, dengan

    menyukai teman-teman yang punya sifat-sifat yang sama dengan

    dirinya. Selain itu individu berada dalam kondisi kebingungan.

    c. Remaja akhir

    Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan

    ditandai dengan pencapaian lima hal, yaitu :

    1) Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek.

    2) Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang

    lain dan dalam pengalaman-pengalaman baru.

    3) Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.

    4) Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri)

    diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri

    dengan orang lain.

    5) Tumbuh dinding yang memisahkan diri pribadinya dan

    masyarakat umum.

    Sebagaimana diketahui, dalam setiap fase perkembangan, termasuk

    pada masa remaja, individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang

    harus dipenuhi. Apabila tugas-tugas tersebut berhasil diselesaikan dengan

    baik, maka akan tercapai kepuasan, kebahagian dan penerimaan dari

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    28/136

    15

    lingkungan. Keberhasilan individu memenuhi tugas-tugas itu juga akan

    menentukan keberhasilan individu memenuhi tugas-tugas perkembangan

    pada fase berikutnya.

    Erikson (dalam Monks dkk, 1998, h.279) mengatakan bahwa tugas

    utama remaja adalah menghadapi identity versusidentity confusion. Tugas

    perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya

    remaja dapat menjadi orang dewasa yang baik dengan sense of selfyang

    koheren dan peran yang bernilai di masyarakat. Bagi remaja yang tidak

    mampu memenuhi tugas-tugas perkembangannya dengan baik dan kurang

    mendapat bekal pengetahuan moral dan agama, akan sangat mudah untuk

    terbawa dalam arus gaya hidup hedonis.

    Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa remaja

    adalah individu yang berada pada suatu masa peralihan dari masa kanak-

    kanak menuju ke masa dewasa. Dalam proses penyesuaian diri remaja

    menuju dewasa terdapat tiga tahap perkembangan, yaitu remaja awal,

    remaja tengah atau madya, dan remaja akhir. Terkait dengan proses menuju

    dewasa, remaja memiliki tugas-tugas perkembangan yang dimiliki oleh

    remaja, diantaranya yaitu menghadapi identity versus identity confusion.

    Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri, bagi

    remaja yang tidak mampu menuhi tugas perkembangannya dengan baik

    akan sangat mudah untuk terbawa dalam arus gaya hidup hedonis.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    29/136

    16

    Berdasarkan uraian teori di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa

    gaya hidup hedonis remaja adalah sebuah perilaku yang mengutamakan

    kesenangan dan kenikmatan sebagai tujuan utama dalam hidup dan

    dilakukan oleh individu yang sedang berada dalam masa remaja.

    2. Karakteristik Gaya Hidup Hedonis

    Karakteristik dari individu yang memiliki gaya hidup hedonis menurut

    Swastha (1998, h.54) adalah suka mencari perhatian, cenderung impulsif,

    kurang rasional, cenderung follower dan mudah dipengaruhi. Sementara

    menurut Susanto (2001, h.33) atribut-atribut gaya hidup hedonis

    ditunjukkan dengan lebih senang mengisi waktu luang di tempat yang

    santai seperti caf. Bersenang-senang di caf tidak selalu identik dengan

    minum-minuman beralkohol tetapi lebih pada menghabiskan waktu luang

    atau bersantai dengan gaya karena dapat sekaligus menunjukkan simbol

    status.

    Beberapa karakteristik gaya hidup hedonis menurut Rahardjo dan

    Silalahi (2007, h.34) yaitu :

    a. Pada umumnya hidup dan tinggal di kota besar, dimana hal ini

    tentu saja berkaitan dengan kesempatan akses informasi, secara

    jelas akan mempengaruhi gaya hidup.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    30/136

    17

    b.

    Berasal dari kalangan berada dan memiliki banyak uang karena

    banyaknya materi yang dibutuhkan sebagai penunjang gaya

    hidup.

    c. Secara intens mengikuti perkembangan fesyen di majalah-majalah

    mode agar dapat mengetahui perkembangan mode terakhir yang

    gampang diikuti.

    d. Umumnya memiliki penampilan yang modis, dandy dan sangat

    memperhatikan penampilan.

    Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa

    karakteristik gaya hidup hedonis dapat dilihat dari berbagai atribut gaya

    hidup hedonis yaitu suka mencari perhatian, cenderung impulsif, kurang

    rasional, cenderung follower, mudah dipengaruhi, senang mengisi waktu

    luang di tempat yang santai. Peneliti menggunakan karakteristik gaya

    hidup hedonis seperti yang telah diuraikan di atas, karena karakterstik

    tersebut dianggap sesuai dengan karakteristik yang dimiliki oleh remaja

    sebagai generasi yang ada pada masa peralihan dari kanak-kanak menuju

    dewasa.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    31/136

    18

    3.

    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Gaya Hidup Hedonis

    Gaya hidup hedonis dipengaruhi oleh beberapa faktor. Seperti yang

    diungkapkan oleh Branden (2001, h,11) yang mengungkapkan ada

    beberapa faktor yang mempengaruhi gaya hidup hedonis, antara lain :

    a. Konsep diri.

    Apa dan siapa sebenarnya diri kita baik secara sadar atau tidak

    sadar, serta kekurangan dan kelebihan individu. Konsep diri

    sangat berkaitan dengan sikap, karena konsep diri mempengaruhi

    semua pilihan dan keputusan yang kita buat, dan dengan adanya

    konsep diri akan membentuk ragam kehidupan yang akan

    diciptakan untuk diri indvidu itu sendiri

    b.

    Kepercayaan Diri

    Adanya keyakinan terhadap diri sendiri yang dapat menolong

    individu untuk mengambil keputusan.

    c. Harga Diri

    Akan membawa rasa percaya diri, sehingga individu dapat

    mengambil keputusan untuk menentukan sikap.

    Ungkapan tersebut didukung oleh Wijokongko (1995, h. 97-99) yang

    menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi gaya hidup dapat

    dikelompokkan menjadi faktor eksternal dan faktor internal, yaitu :

    a. Faktor Eksternal :

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    32/136

    19

    1)

    Kebudayaan

    Individu sebagai anggota dari masyarakat dipengaruhi oleh

    nilai budaya yang ada dalam lingkungan masyarakatnya dalam

    wujud pengetahuan tentang apa yang biasa dilakukan,

    keyakinan yang dianut, konsep moral tentang baik dan buruk.

    2) Nilai Sosial

    Masuknya budaya dari luar lingkungan seringkali

    mengakibatkan adanya konflik-konflik nilai yang dianut.

    Pergeseran nilai akibat masuknya budaya dari luar akan

    berakibat berubahnya gaya hidup.

    3) Demografis

    Adanya kelompok usia tertentu yang melahirkan perbedaan

    gaya hidup, tingkat pendapatan dan tingkat pendidikan juga

    memperlihatkan perbedaan gaya hidup. Perbedaan gaya hidup

    ini juga tampak pada latar belakang etnis tertentu.

    4) Status Sosial

    Adanya pembagian secara tidak langsung status sosial dalam

    masyarakat juga mempengaruhi gaya hidup dari masing-

    masing strata yang ada.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    33/136

    20

    5)

    Kelompok Referensi

    Berbagai norma dalam kelompok, opini dari pemimpin

    kelompok, konformitas kelompok sangat berpengaruh terhadap

    gaya hidup individu anggota kelompok.

    6) Rumah Tangga

    Setiap keluarga memiliki gaya hidup tersendiri yang

    dipengaruhi oleh komposisi anggota keluarga, siapa yang

    mengambil keputusan dalam keluarga dan dinamika interaksi

    dalam keluarga.

    b. Faktor Internal :

    1) Persepsi

    Informasi dari faktor eksternal yang diperoleh melalui

    pengindraan dalam proses pengolahannya sangat

    tergantung pada minat dan kebutuhan, kelompok

    referensi, situasi saat menerima informasi, juga hal-hal

    yang dianut oleh individu tersebut.

    2) Proses Belajar dan Ingatan (memori)

    Semakin banyak pengalaman yang dimiliki berarti

    orang tersebut mempelajari berbagai hal. Orang yang

    memiliki banyak pengalaman akan lebih efektif dalam

    mencari sumber informasi yang dibutuhkan karena adanya

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    34/136

    21

    proses belajar dan ingatan tentang hal-hal yang pernah

    dialami.

    3) Motivedan Kepribadian

    Motive merupakan pendorong dan pengaruh perilaku

    seseorang. Gaya hidup seseorang jelas dipengaruhi oleh

    bagaimana ia memenuhi kebutuhan, terutama yang

    berpengaruh pada gaya hidup adalah kebutuhan psikologis

    dengan pola konsisten.

    4) Konsep Diri

    Pada hakekatnya konsep diri merupakan sikap

    seseorang terhadap dirinya sendiri, dan gaya hidup

    dianggap sebagai manifestasi yang tampak dari konsep

    diri seseorang, oleh karena itu tampak bahwa orang tidak

    pernah merasa puas terhadap dirinya dan selalu

    menginginkan adanya perubahan kearah yang lebih baik.

    Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa gaya

    hidup hedonis dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu konsep diri,

    kepercayaan diri, dan harga diri. Konsep diri mempengaruhi individu

    dalam menentukan sikap, dengan adanya konsep diri akan membentuk

    ragam kehidupan yang akan diciptakan untuk diri individu itu sendiri,

    oleh karena itu maka peneliti menggunakan konsep diri sebagai variabel

    bebas dalam penelitian ini.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    35/136

    22

    B.

    Konsep Diri

    1. Pengertian Konsep Diri

    Menurut para ahli, konsep diri memiliki satu pengertian yang baku.

    Mereka mengartikan konsep diri sebagai kemampuan untuk memandang

    pribadi sebagai individu terhadap seluruh keadaan dirinya secara umum.

    Menurut Burns (1993, h.56) mengatakan bahwa konsep diri adalah segala

    keyakinan (gambar diri) seseorang terhadap dirinya sendiri. Konsep diri

    terdiri dari dua elemen, yaitu elemen deskriptif (gambar diri atau potret

    diri) dan elemen evaluatif (penilaian diri, penghargaan atau penerimaan

    diri) yang merupakan jalan terpenting menuju aktualisasi diri.

    Menurut Rogers (dalam Zebua&Nurdjayadi 2001) konsep diri

    mencerminkan persepsi seseorang terhadap dirinya secara keseluruhan.

    Konsep diri terbentuk dari hasil interaksi antara organisme dengan medan

    phenomenal baik orang tersebut sebagai subjek maupun sebagai objek.

    Sebagian dari nilai-nilai yang menyertai pengalaman dan yang menjadi

    bagian dari struktur diri merupakan nilai yang dialami langsung oleh

    organisme, dan sebagian lagi diperoleh melalui introyeksi dari nilai orang

    lain.

    Lebih lanjut Felker menyatakan bahwa konsep diri memuat ide,

    persepsi dan sikap yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri.

    Mengacu pada pendapat-pendapat tersebut nyata bawa konsep diri

    bukanlah faktor bawaan namun merupakan hasil interaksi dengan

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    36/136

    23

    lingkungan, jadi konsep diri dapat berubah dan dapat dipelajari. Konsep

    diri memegang peranan penting dalam hidup manusia karena menentukan

    tindakan individu dalam berbagai situasi (Zebua&Nurdjayadi 2001).

    Hurlock (1999, h.58) mengungkapkan bahwa konsep diri adalah suatu

    gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya. Konsep diri ini

    merupakan suatu gabungan dari keyakinan yang dimiliki individu tentang

    diri sendiri yang meliputi karakteristik fisik, sosial, moral maupun

    emosional serta aspirasi dan prestasinya.

    Semenjak konsep diri mulai terbentuk, seseorang akan berperilaku

    sesuai dengan konsep dirinya tersebut. Pandangan seseorang tentang

    dirinya akan menentukan tindakan yang akan diperbuatnya. Apabila

    seseorang memiliki konsep diri yang positif, maka akan terbentuk

    penghargaan yang tinggi pula terhadap dirinya sendiri, atau dapat dikatakan

    self esteem yang tinggi. Remaja yang memiliki konsep diri yang positif

    atau self esteem yang tinggi, maka segala perilakunya akan selalu tertuju

    pada keberhasilan. Sebaliknya, apabila seseorang memiliki konsep diri

    yang negatif, maka akan muncul evaluasi negatif pula pada dirinya (Tjipto

    dkk, 2006, h.18).

    Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa konsep diri

    adalah kemampuan memandang pribadi sebagai inividu dalam dimensi

    fisik, sosial, moral maupun psikologisnya yang diperoleh melalui

    pengalaman orang lain.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    37/136

    24

    2.

    Aspek-Aspek Konsep Diri

    Pudjijogyanti (1985, h.2) menyatakan bahwa konsep diri terdiri dari

    dua aspek yaitu :

    a. Aspek Kognitif

    Merupakan pengetahuan individu tentang keadaan dirinya

    yang akan membentuk gambaran tentang diri dan akan

    membentuk citra diri.

    b. Aspek Afektif

    Merupakan penilaian individu tentang dirinya, penilaian

    tersebut akan membentuk penilaian tentang diri serta harga diri

    individu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa konsep diri

    tidak dapat terlepas dari masalah gambaran diri, citra diri,

    penilaian diri serta harga diri.

    Lebih lanjut Hurlock (1999, h.237) menyebutkan aspek-aspek konsep

    diri sebagai berikut :

    a. Aspek Fisik

    Hal ini berkaitan dengan konsep yang dimiliki individu

    tentang penampilan, kesesuaian dengan seksnya, arti penting

    tubuhnya dalam hubungan dengan perilakunya dan gengsi yang

    diberikan tubuhnya di mata orang lain.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    38/136

    25

    b. Aspek Psikologis

    Aspek psikologis didasarkan atas konsep indvidu tentang

    kemampuannya dalam hubungan dengan orang lain.

    Berzonsky (dalam Megasari, 2008, h.25 ) menegaskan bahwa konsep

    diri terbagi menjadi empat aspek :

    a. Aspek Fisik, yaitu penilaian individu tentang segala sesuatu

    yang berhubungan dengan kondisi fisik yang dimilikinya.

    b. Aspek Psikis, yaitu penilaian individu tentang kondisi

    psikologis yang meliputi pikiran, perasaan dan sikap individu

    tentang dirinya.

    c. Aspek Sosial, yaitu penilaian individu tentang keberadaan

    dirinya dalam berinteraksi dengan orang lain.

    d. Aspek Moral, yaitu penilaian individu tentang norma serta

    prinsip yang akan memberikan arti serta arah positif bagi

    dirinya.

    Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa masing-masing

    ahli memiliki pendapat yang kurang lebih sama mengenai aspek-aspek

    konsep diri yaitu aspek fisik, aspek psikis, aspek sosial, aspek moral.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    39/136

    26

    C.

    Hubungan antara Konsep Diri dengan Gaya Hidup Hedonis pada

    Remaja.

    Dewasa ini pengaruh globalisasi yang semakin kuat memberi dampak

    perubahan-perubahan sosial pada masyarakat. Era modernisasi dan kemajuan

    teknologi juga membuat perubahan-perubahan yang dapat mempengaruhi

    perilaku individu. Salah satunya perubahan dalam nilai budaya, hal ini

    Nampak dari maraknya gaya hidup hedonis yang berkembang di kalangan

    remaja saat ini.

    Hurlock (1990, h.207) mengungkapkan bahwa remaja memiliki keraguan

    terhadap peran yang akan dijalankannya. Pada masa ini remaja bukan lagi

    seorang anak, namun juga belum dewasa. Status remaja yang tidak jelas ini

    memberi waktu kepada remaja untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan

    menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai bagi dirinya.

    Remaja yang sedang berada pada masa peralihan biasanya masih dalam

    keadaan labil, sehingga remaja belum memiliki keadaan psikis yang matang.

    Remaja yang memiliki psikis labil cenderung lebih mudah terbawa arus,

    sehingga remaja tersebut akan lebih mudah terpengaruh. Terutama pada jaman

    sekarang, dengan derasnya arus globalisasi dan modernisasi yang melanda

    membuat adanya pergeseran nilai-nilai. Keadaan ini membawa remaja kepada

    keadaan normelessness, yaitu suatu sisteam sosial dimana tidak ada petunjuk

    atau pedoman untuk bertingkah laku (Diponegoro, 2004, h.123)

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    40/136

    27

    Indikasi dari perilaku-perilaku remaja saat ini tersebut mengarahkan

    remaja menuju gaya hidup hedonis. Seperti yang diungkapkan oleh Kunto

    (1999, h.87) bahwa remaja merupakan generasi yang paling rentan terhadap

    gaya hidup hedonis, hal ini dapat dilihat dari kebiasaan remaja jaman sekarang

    yang senang bikin sensasi, dan terlibat banyak kegiatan hura-hura.

    Susianto (1993, h.71) mengungkapkan bahwa orang yang menganut gaya

    hidup hedonis adalah mereka yang mengerahkan aktivitasnya untuk mencapai

    kenikmatan hidup. Mereka kebanyakan adalah anak SMU yang bersal dari

    keluarga yang sangat mampu. Mereka biasanya mendapat uang saku dan

    fasilitas yang serba berkecukupan.

    Ungkapan tersebut didukung oleh Hurlock (1990, h.218) yang

    menyatakan bahwa minat sosial tergantung pada kesempatan yang diperoleh

    remaja untuk mengembangkan minat tersebut dan pada kepopulerannya dalam

    kelompok. Seorang remaja yang status ekonomi keluarganya rendah,

    misalnya, mempunyai sedikit kesempatan untuk mengembangkan minat pada

    pesta-pesta dibandingkan dengan remaja yang berasal dari keluarga yang lebih

    baik.

    Efek dari globalisasi dan budaya barat yang masuk ke Indonesia membuat

    remaja Indonesia saat ini lebih bersifat permisif, hal-hal yang dulu dianggap

    tabu sekarang menjadi hal yang biasa sehingga remaja menjadi tampak tidak

    perduli atau bahkan mengabaikan urusan moral.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    41/136

    28

    Branden (2001, h.11) mengungkapkan ada beberapa faktor-faktor yang

    mempengaruhi sikap terhadap gaya hidup hedonis, salah satunya adalah

    konsep diri. Konsep diri merupakan gambaran seperti apa dan siapa diri kita

    baik secara sadar atau tidak, kelebihan dan kekurangan individu. Konsep diri

    sangat berkaitan dengan sikap, karena konsep diri mempengaruhi semua

    pilihan dan keputusan yang dibuat, dan dengan adanya konsep diri akan

    membentuk ragam kehidupan yang akan diciptakan untuk diri indvidu itu

    sendiri.

    Remaja sebagai individu yang berada pada masa peralihan sering

    mengalami permasalahan. Masalah-masalah rumit yang sering dijumpai

    seringkali dan bahkan hampir semua disebabkan dari dalam diri sendiri, dan

    salah satu faktornya yatitu konsep diri.

    Konsep diri sebagai sebuah bentuk kesadaran, persepsi kognitif, dan

    evaluatif individu terhadap dirinya sendiri sangat mempengaruhi remaja

    dalam menentukan sikap. Konsep diri akan menentukan siapa seseorang itu

    menurut pikirannya sendiri yang muncul dari pengalaman hidupnya, apa yang

    sesorang itu bisa lakukan menurut pikirannya sendiri, dapat menjadi apa

    seseorang itu menurut pikirannya sendiri, dan siapa orang itu dalam

    kenyataanya. Hal ini bisa terjadi karena pikirannya itu sangat mempengaruhi

    perilaku dalam kehidupannya (Zebua dan Nurdjayadi, 2001)

    Perubahan-perubahan yang terjadi pada remaja seringkali menyebabkan

    perasaan tidak aman, tidak nyaman, dan kurang percaya diri. Remaja yang

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    42/136

    29

    sedang dalam masa pertumbuhan terkadang juga menjadi lebih sensitif dan

    perilakunya cenderung impulsif. Dalam setiap periode peralihan status

    individu tidaklah jelas dan terdapat keraguan tehadap peran yang harus

    dilakukan.

    Persiapan remaja untuk memasuki masa dewasa meliput adanya

    perubahan-perubahan fisik, perkembangan hubungan sosial, bertambahnya

    kemampuan dan keterampilan, serta pembentukan identitas. Banyak

    perubahan dalam waktu yang singkat menimbulkan masalah dalam

    penyesuian dan usaha memadukannya (Gunarsa, 1990, h.204).

    Remaja sebagai individu yang sedang berada pada masa transisi

    mengalami berbagai perubahan dalam fisiknya, Menurut Hurlock (1990,

    h.211) hanya sedikit remaja yang mengalami kateksis tubuh atau merasa puas

    dengan tubuhnya. Kegagalan mengalami kateksis tubuh menjadi salah satu

    penyebab timbulnya konsep diri yang kurang baik.

    Remaja dengan konsep diri yang negatif atau kurang baik akan sering

    merasa tidak puas terhadap dirinya sendiri. Keinginan remaja untuk tampil

    sebaik mungkin, dan dapat diterima dengan baik oleh lingkungannya

    terkadang dilakukan dengan cara yang kurang tepat. Remaja jaman sekarang

    seringkali berpatokan kepada artis-artis idola agar dapat tampil sempurna, dan

    hal tersebut dilakukan dengan segala macam cara tanpa memperhatikan baik

    atau buruknya.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    43/136

    30

    Terkait dengan hal tersebut, remaja merasa bahwa penampilan fisik

    mereka merupakan faktor penunjang agar mereka dapat diterima oleh

    lingkungannya. Hurlock (1990, h.206) mengungkapkan bahwa remaja harus

    mengikuti standar budaya kawula muda bila ingin diterima oleh kelompok

    sebayanya. Selanjutnya Hurlock mengatakan, sebagian besar remaja ingin

    diterima oleh teman-teman sebayanya, tetapi hal ini seringkali diperoleh

    dengan perilaku yang oleh orang dewasa dianggap tidak bertanggung jawab.

    Sesuai dengan ungkapan Monks (1998 ,h. 103) bahwa salah satu tugas

    perkembangan masa remaja yang terberat adalah yang berhubungan dengan

    penyesuaian sosial. Untuk mencapai tujuan dari pola sosialisasi remaja harus

    banyak membuat penyesuaian, dan yang tersulit adalah peneysuaian diri

    dengan meningkatnya pengaruh kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku

    sosial, pengelompokan sosial yang baru, nilai-nilai baru dalam seleksi

    persahabatan, dan nilai-nilai baru dalam dukungan dan penolakan sosial.

    Remaja dengan konsep diri negatif akan sangat mudah terpengaruh oleh

    hal-hal negatif yang ada di lingkungan sekitarnya, karena mereka kurang

    dapat menerima dirinya sendiri, memiliki harga diri yang rendah dan mudah

    tepengaruh oleh bujukan dari luar (Tjipto dkk, 2006, h.19)

    Lebih lanjut Tjipto mengungkapkan, sebaliknya apabila remaja tersebut

    memiliki konsep diri yang baik atau positif, maka remaja tersebut akan dapat

    memiliki penerimaan terhadap diri sendiri yang lebih baik, ia akan dapat lebih

    menyukai dirinya sendiri dan menjalani hidupnya dengan lebih efektif

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    44/136

    31

    sehingga remaja tersebut dapat terhindar dari segala macam pengaruh buruk

    yang ada di sekitarnya, termasuk gaya hidup hedonis.

    Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa konsep diri

    sangat mempengaruhi terhadap gaya hidup hedonis yang terjadi pada remaja,

    maka jika konsep diri negatif remaja akan semakin bergaya hidup hedonis,

    dan sebaliknya.

    D. Hipotesis

    Berdasarkan pada perumusan masalah dan tinjauan pustaka yang telah

    dikemukakan di atas, maka dapat ditarik hipotesis sebagai berikut:

    Ada hubungan negatif antara konsep diri dengan gaya hidup hedonis pada

    remaja. Semakin positif konsep diri yang dimiliki remaja maka remaja akan

    semakin tidak hedonis.Sebaliknya semakin negatif konsep diri yang dimiliki

    remaja, maka perilaku remaja semakin hedonis.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    45/136

    32

    BAB III

    METODE PENELITIAN

    A. Metode Penelitian

    Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, yaitu metode yang

    menekankan analisisnya pada data-data numerical (angka) yang diolah

    dengan menggunakan metode statistika ( Azwar, 1997, h. 5 ).

    B. Identifikasi Variabel Penelitian

    Identifikasi variabel penelitian yang terdapat pada penelitian ini harus

    ditentukan terlebih dahulu sebelum metode pengumpulan data dan analisis

    data ditentukan. Pengindentifikasian variabel penelitian membantu dalam

    menentukan alat pengumpulan data dan teknik analisis data yang digunakan.

    Adapun Variabel penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah :

    1. Variabel Tergantung : Gaya Hidup Hedonis

    2. Variabel Bebas : Konsep Diri

    C. Definisi Operasional

    Definisi operasional merupakan petunjuk bagaimana suatu variabel

    diukur dan merupakan batasan atau spesifikasi dari variabel-variabel

    penelitian yang secara konkrit berhubungan dengan realitas yang akan diukur

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    46/136

    33

    dan merupakan manifestasi dari hal-hal yang akan diamati dari penelitian

    (Hadi, 2000, h. 8 ).

    Adapun definisi operasional dari variabel-variabel penelitian ini adalah

    sebagai berikut :

    1. Gaya Hidup Hedonis

    Gaya hidup hedonis adalah perilaku individu yang mengutamakan

    kesenangan dan kenikmatan sebagai tujuan utama dalam hidupnya yang

    ditampilkan dalam beberapa bentuk perilaku, yaitu suka mencari

    perhatian, cenderung impulsif, kurang rasional, cenderung follower,

    mudah dipengaruhi, senang mengisi waktu luang ditempat yang santai.

    Gaya hidup hedonis pada penelitian ini akan diungkap dengan

    menggunakan skala gaya hidup hedonis yang dibuat oleh peneliti.

    Semakin tinggi skor yang diperoleh menunjukkan bahwa perilaku remaja

    semakin hedonis, dan sebaliknya.

    2. Konsep Diri

    Konsep diri adalah pandangan individu terhadap dirinya sendiri baik

    dalam dimensi fisik, psikis, sosial, dan moral. Konsep diri pada penelitian

    ini akan diungkap dengan menggunakan skala konsep diri yang dibuat

    oleh peneliti. Semakin tinggi skor yang diperoleh maka konsep diri yang

    dimiliki semakin positif, dan sebaliknya.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    47/136

    34

    D.

    Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel

    1. Populasi

    Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang mempunyai

    karakteristik tertentu dalam suatu penelitian atau sejumlah individu yang

    paling sedikit mempunyai suatu ciri atau sifat yang sama (Wasito, 1990, h.

    52). Sedangkan populasi menurut Hadi (2000, h. 70) adalah suatu

    individu, untuk siapa kenyataan-kenyataan yang diperoleh dari sampel

    hendak digeneralisasikan.

    Pada penelitian ini populasi yang akan digunakan adalah Siswa siswi

    SMU Karangturi Semarang. Peneliti memilih SMU Karangturi karena

    berdasarkan hasil observasi yang sudah dilakukan oleh peneliti pada

    lingkungan sekolah SMU Karangturi menunjukkan adanya fenomena gaya

    hidup hedonis pada siswa siswi SMA Karangturi yang rata-rata berasal

    dari keluarga dengan kelas ekonomi menengah ke atas, dan para siswa

    siswi SMU Karangturi merupakan individu yang berada pada masa

    remaja.

    2. Teknik Pengambilan Sampel

    Hadi (2000, h.70) mengemukakan bahwa sampel adalah sebagian

    dari populasi yang dianggap dapat mewakili sifat-sifat populasi secara

    keseluruhan agar dapat ditarik generalisasi.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    48/136

    35

    Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini

    adalah dengan menggunakan teknik Cluster Random Sampling. Cluster

    Random Sampling adalah metode pengambilan sampel berdasarkan pada

    adanya kelompok-kelompok yang ada pada populasi, dan diambil secara

    acak, yaitu pengambilan sampel yang tanpa pilih-pilih atau tanpa pandang

    bulu, didasarkan atas prinsip-prinsip matematis (Narbuko dan Achmadi,

    2003, h.116).

    E. Metode Pengumpulan Data

    Metode pengumpulan data merupakan suatu cara yang digunakan

    peneliti untuk mendapatkan data-data penelitian. Dalam penelitian ini,

    metode yang digunakan oleh peneliti adalah metode skala. Metode

    pengukuran skala merupakan daftar pertanyaan atau pernyataan yang

    diajukan agar dijawab oleh subjek dan interpretasinya terhadap pertanyaan

    atau pernyataan tersebut merupakan proyeksi dari perasaan atau

    kepribadiannya (Azwar, 2004, h.4).

    Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala yang bersifat

    langsung, yaitu pernyataan-pernyataan tertulis yang diajukan dapat dijawab

    langsung oleh subjek penelitian yang dimintai pendapat. Skala dalam

    penelitian ini bersifat tertutup yaitu subjek diminta memilih salah satu

    diantara beberapa pilihan jawaban yang telah ada (Hadi, 2000, h.157)

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    49/136

    36

    Pengukuran skala dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

    informasi hubungan antara konsep diri dengan gaya hidup hedonis pada

    remaja.

    Penyajian skala diberikan dalam bentuk pilihan-pilihan jawaban.

    Bentuk penilaian skala ini terbagi atas empat kemungkinan jawaban,

    sehingga penilitian bergerak dari satu samapi empat. Pilihan jawaban

    bergerak dari Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat

    Tidak Sesuai (STS). Dalam pelaksanaan penelitian subyek diminta untuk

    memilih salah satu dari empat kemungkinan jawaban yang tersedia. Setiap

    ciri dalam skala gaya hidup hedonis terdiri dari item-item yang bersifat

    favourable (positif) dan item-item yang bersifat unfavourable (negatif).

    Setiap pernyataan mempunyai empat alternatif jawaban dengan nilai yang

    bergerak dari satu sampai empat. Favourableartinya sependapat atau sesuai

    dengan pernyataan yang diajukan, skor 4 untuk jawabn yaitu Sangat Sesuai

    (SS), skor 3 untuk jawaban Sesuai (S), skor 2 untuk jawaban Tidak Sesuai

    (TS) dan skor 1 untuk jawaban Sangat Tidak Sesuai (STS). Sedangkan

    unfavourable artinya tidak sependapat atau tidak sesuai dengan pernyataan

    yang daiajukan, skor 1 untuk jawaban yaitu Sangat Sesuai (SS), skor 2 untuk

    jawaban Sesuai (S), skor 3 untuk jawaban Tidak Sesuai (TS), dan skor 4

    untuk jawaban Sangat Tidak Sesuai (STS).

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    50/136

    37

    1.

    Skala gaya hidup hedonis

    Skala gaya hidup hedonis mempunyai rancangan yang disusun

    berdasarkan karakteristik gaya hidup hedonis :

    a.Suka mencari perhatian

    b.Cenderung impusif (melakukan atas desakan hati)

    c.Kurang rasional

    d. Cenderungfollower

    e.Mudah dipengaruhi

    f. Senang mengisi waktu luang ditempat yang santai.

    Tabel 1

    Blue Print

    Gaya Hidup Hedonis

    NO Karakteristik Item JumlahFavourable Unfavourable

    1 Suka mencari perhatian 2 2 4

    2 Cenderung impulsif 2 2 4

    3 Kurang Rasional 2 2 4

    4 Cenderungfollower 2 2 4

    5 Mudah dipengaruhi 2 2 4

    6

    Senang mengisi waktu

    luang ditempat yangsantai

    2 2 4

    Jumlah 12 12 24

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    51/136

    38

    2.

    Skala konsep diri

    Skala konsep diri mempunyai rancangan yang disusun

    berdasarkan aspek-aspek konsep diri seperti :

    a.Aspek fisik

    b. Aspek psikis

    c.Aspek sosial

    d. Aspek moral

    Tabel 2

    Blue Print

    Konsep Diri

    NO AspekItem

    JumlahFavourable Unfavourable

    1 Aspek fisik 3 3 6

    2 Aspek psikis 3 3 6

    3 Aspek sosial 3 3 6

    4 Aspek moral 3 3 6

    Jumlah 12 12 24

    F. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur

    Dalam suatu penelitian dperlukan sebuah alat ukur yang valid dan

    reliable. Maka uji validitas dan reliabilitas terhadap sebuah pengukuran

    sangat penting agar tercapai hasil yang benar-benar mencerminkan masalah

    yang diselidiki dan dapat dipertanggungjawabkan keobjektifannya.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    52/136

    39

    1.

    Validitas Alat Ukur

    Validitas diartikan sebagai sejauh mana ketepatan dan kecermatan

    suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes dapat

    dikatakan mempunyai validitas tinggi apabila tes menjalankan fungsi

    ukurnya atau memberikan hasil ukurnya sesuai dengan maksud dan

    tujuan diadakannya tes Azwar (2004, h.7).

    Validitas alat ukur dalam penelitian ini menggunakan validitas

    konstruk. Azwar (1997, h.53) mengatakan bahwa validitas konstruk

    adalah validitas yang menunjukkan sejauh mana alat ukur mengukur trait

    yang hendak diukurnya, suatu alat tes dikatakan mempunyai validitas

    konstruk bila ada kecocokan antara item yang disusun dengan difinisi

    yang lahir secara teoritis. Teknik analisis yang digunakan dalam

    penelitian ini adalah teknik Korelasi Product Moment dari Pearson,

    dengan rumus :

    rxy =( ) ( )( )

    ( ) ( ){ } ( ) ( ){ }2222

    YYNXXN

    YXXYN

    Keterangan :

    rxy : Koefisien korelasi antar skor item dengan skor total

    N : Jumlah subjek

    X : Jumlah skor konsep diri

    Y : Jumlah skor gaya hidup hedonis pada remaja

    XY :Jumlah perkalian skor antara skor konsep diri dengan skor gaya

    hidup hedonis pada remaja

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    53/136

    40

    Setelah hasil korelasi Product Moment diketahui, maka angka

    korelasi tersebut perlu dikoreksi dengan korelasi Part Whole, karena

    angka korelasi Product Moment yang diperoleh lebih besar. Hal ini

    disebabkan karena skor item yang dikorelasikan dengan skor total ikut

    sebagai komponen skor total. Untuk mengkoreksi angka korelasi yang

    kelebihan bobot tersebut digunakan rumus statistik Part Whole sebagai

    berikut ( Azwar, 1997, h.62 ) :

    rpq=( )

    ( ) ( ) ( )( )( )yxtpxyxytp

    SDSDrSDSD

    SDSDr

    .222+

    Keterangan :

    rpq : Koefisien korelasi Part Whole

    rtp : Koefisien korelasi Product Moment sebelumnya

    SDx : Standar Deviasi skor item

    SDy : Standar Deviasi skor total

    2. Reliabilitas

    Sebuah alat ukur yang baik harus mempunyai reliabilitas yang tinggi.

    Reliabilitas adalah suatu kepercayaan, keterandalan, keajegan, konsisten,

    kestabilan. Jadi yang dimaksud dengan reliabilitas adalah sejauh mana

    hasil suatu pengukuran itu dapat memberikan hasil yang konsisten dan

    dapat dipercaya (Azwar, 1997, h.4)

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    54/136

    41

    Penelitian ini menggunakan teknik uji reliabilitas yang

    dikembangkan oleh Cronbach, yang disebut teknik Korelasi Alpha

    Cronbach (Azwar, 1997, h. 26). Menurut Azwar (1997, h.75) alasan

    menggunakan teknik korealsi Alpha Cronbachadalah karena :

    a. Koefisien Alpha akan memberikan harga yang lebih kecil atau

    sama besar dengan reliabilitas sebenarnya, jadi ada

    kemungkinan reliabilitas tes lebih tinggi daripada koefisien

    alpha.

    b. Koefisen alpha bersifat fleksibel karena dapat digunakan untuk

    butir dikotomi maupun non dikotomi.

    c. Hasil yang diperoleh akan lebih murni.

    d.

    Hasil reliabilitas dengan menggunakan teknik ini adalah lebih

    cermat karena dapat mendekati hasil yang sebenarnya.

    Adapun rumus reliabilitasAlpha Cronbachadalah :

    =

    2

    2

    11 tot

    x

    S

    S

    k

    k

    Keterangan:

    : koefisien Reliabilitas Alpha

    k : jumlah butir

    2

    xS : varians butir soal

    2

    totS : varians total

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    55/136

    42

    G.

    Teknik Analisis Data

    Hadi (2000, h.222) menyatakan bahwa analisis data adalah cara yang

    digunakan untuk mengolah data yang diperoleh sehingga didapatkan suatu

    kesimpulan. Cara yang digunakan dalam menganalisis data adalah dengan

    menggunakan teknik Korelasi Product Moment dari Karl Pearson dengan

    menggunakan program SPSS versi 13.0 for windows. Adapun rumus dari

    Korelasi Product Moment adalah :

    rxy =( ) ( )( )

    ( ) ( ){ } ( ) ( ){ }2222

    YYNXXN

    YXXYN

    Keterangan :

    rxy : Koefisien korelasi antara konsep diri dengan gaya hidup hedonis

    N : Jumlah subjek

    X : Jumlah skor konsep diri

    Y : Jumlah skor gaya hidup hedonis

    XY : Jumlah perkalian skor antara konsep diri terhadap gaya hidup hedonis

    pada remaja.

    Alasan menggunakan teknik Korelasi Product Moment karena dalam

    penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu variabel tergantung dan variabel

    bebas yang masing-masing bersifat interval. Dengan teknik ini ingin diketahui

    apakah ada hubungan antara konsep diri dengan gaya hidup hedonis pada

    remaja. Semakin besar koefisien korelasi dan arahnya negatif, maka semakin

    besar hubungan antara konsep diri dengan gaya hidup hedonis pada remaja.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    56/136

    43

    BAB IV

    PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENELITIAN

    A. Orientasi Kancah Penelitian

    Sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu perlu memahami tempat

    penelitian. Sekolah Karangturi didirikan pada Juli 1929 atas prakarsa dari bapak The Sien

    Tjo. Pada saat itu Karangturi menggunakan gedung di jalan Seteran 56 dengan nama

    HCS Zhong Hua Hui. Pada tanggal 1Agustus 1936, sekolah ini telah memperoleh

    akreditasi dari pemerintah, dengan demikian maka HCS Zhong Hua Hui memeiliki

    kesamaan status dengan sekolah negeri yang didirikan oleh pemerintah. Karena kualitas

    pendidikan yang baik para lulusannya berhak melanjutkan ke HBS, mulo Handleschool

    dan sekolah lain yang sederajat.

    Pada tahun 1946 HCS Zhong Hua Hui berganti nama menjadi sekolah nasional

    Karangturi. Pada mulanya sekolah Zhong Hua Hui berlokasi pada dua tempat, yaitu

    Zhong Hua Hui A Zhong Hua Hui B, namun pimpinan sekolah mengusulkan bahwa

    sekolah harus mengubah kembali pada kebijakan awal, maka pada tahun 1949 sekolah

    Zhong Hua Hui dijadikan satu.Pada tanggal 1950 didirikan organisasi siswa dengan nama

    Zhong Hua Zhong Sheng Hui yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan 0SIS dan pada

    tahun 1995 SMA Karangturi menempati kampus baru di Jl. Raden Patah 182-192

    Semarang, dengan luas lahan 12.900,75 m2 dan luas bangunan sekitar 3.361,73 m2.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    57/136

    44

    Tabel 3Rincian Data Kelas Periode 2009-2010

    Kelas L P Jumlah

    X-A 15 17 32

    X-B 16 16 32

    X-C 15 15 30

    X-D 16 16 32

    X-E 15 15 30

    X-F 18 14 32

    X-F 18 14 32

    X-G 16 16 32

    X-H 16 14 30

    XI IPA-1 13 17 30XI IPA-2 13 17 32

    XI IPA-3 15 17 32

    XI IPA-4 13 17 30

    XI IPS-1 17 15 32

    XI IPS-2 17 17 34

    XI IPS-3 17 15 32

    XI IPS-4 18 15 33

    XII IPA-1 10 16 26

    XII IPA-2 12 14 26

    XII IPA-3 12 14 26

    XII IPA-4 10 12 24

    XII IPS-1 10 12 22

    XII IPS-2 12 12 24

    XII IPS-3 12 16 28

    XII IPS-4 12 14 26

    Jumlah 333 394 727

    Berdasarkan observasi dan wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti di dalam

    lingkungan SMA Karangturi, peneliti menjumpai adanya fenomena gaya hidup hedonis

    pada siswa-siswi SMA Karangturi yang rata-rata berasal dari golongan ekonomi

    menengah keatas. Kemampuan finansial mereka yang tinggi semakin mendukung mereka

    untuk memiliki gaya hidup hedonis. Berdasarkan pengamatan peneliti, siswa-siswi

    diperbolehkan membawa mobil pribadi kedalam area sekolah, dan bagi yang tidak

    membawa mobil sendiri biasanya para siswa-siswi diantar ke sekolah dengan mobil.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    58/136

    45

    Mobil yang mereka gunakan rata-rata adalah mobil yang mahal. Selain itu hal tersebut

    juga dapat dilihat dari penampilan mereka di sekolah mulai dari cara berpakaian, sepatu,

    jaket, dan tas model terbaru yang bermerk. Mereka juga tampak membawaHandphone,

    Ipodataupun perangkat-perangkat mahal lainnya.

    Sesuai dengan populasi dalam penelitian ini yaitu remaja SMA, maka penelitian

    ditetapkan dilakukan di SMA Karangturi Semarang. Adapun yang menjadi pertimbangan

    peneliti adalah :

    1.

    Ciri-ciri subjek yang akan diteliti memenuhi syarat tercapainya tujuan penelitian.

    Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, diketahui bahwa terdapat fenomena

    gaya hidup hedonis pada siswa-siswi SMA Karangturi Semarang yang rata-rata

    berasal dari keluarga dengan kelas ekonomi menengah keatas.

    2. Jumlah subjek yang memenuhi syarat penelitian.

    3. Belum pernah dilakukan penelitian dengan judul hubungan antara konsep diri

    dengan gaya hidup hedonis pada remaja.

    4. Adanya ijin dari kepala SMA Karangturi Semarang.

    B. Persiapan Penelitian

    Persiapan penelitian yang penulis lakukan diawali dengan persiapan penyusunan alat

    ukur, perijinan penelitian, pelaksanaan penelitian, pengujian validitas dan reliabilitas alat

    ukur yang masing-masing dibahas sebagai berikut:

    1. Penyusunan Alat Ukur

    Penelitian ini menggunakan skala sebagai alat pengumpulan data. Skala yang

    digunakan yaitu skala gaya hidup hedonis dan skala konsep diri. Skala tersebut

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    59/136

    46

    disusun berdasarkan teori yang telah dikemukakan sebelumnya. Sebelum skala ini

    dibuat, penulis membuat definisi operasional dan item-item yang sesuai dengan

    karakteristik gaya hidup hedonis serta aspek konsep diri yang sudah dibahas dalam

    landasan teori.

    a. Skala Gaya Hidup Hedonis

    Gaya hidup hedonis ini diukur menggunakan skala gaya hidup hedonis yang

    mencakup 6 karakteristik yaitu suka mencari perhatian, cenderung impulsif,

    kurang rasional, cenderung follower, mudah dipengaruhi, dan senang pergi

    ketempat santai. Jumlah item skala gaya hidup hedonis adalah 24 item, yang

    terdiri dari 12 item pernyataanfavourable dan 12 item pernyataan unfavourable.

    Tabel 4

    Sebaran Item Skala Gaya Hidup Hedonis

    NO KarakteristikNo Item

    TotalFavourable Unfavourable

    1 Suka mencari

    perhatian

    1,12 5,19 4

    2 Cenderung impulsif 11,16 24,6 4

    3 Kurang Rasional 2,10 13,17 4

    4 Cenderung follower 7,21 4,22 4

    5 Mudah dipengaruhi 9,23 8,3 4

    6 Senang pergi

    ketempat santai

    15,18 20,14 4

    Jumlah 12 12 24

    b. Skala Konsep Diri

    Konsep diri diukur dengan menggunakan skala konsep diri yang mencakup

    empat aspek, yaitu aspek fisik, aspek psikis, aspek moral, dan aspek sosial.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    60/136

    47

    Jumlah item skala konsep diri adalah 24 item, yang terdiri dari 12 item pernyataan

    favourabledan 12 item pernyataan unfavourable.

    Tabel 5

    Sebaran Item Skala Konsep Diri

    NO AspekNo Item

    TotalFavourable Unfavourable

    1 Fisik 1,3,23 5,13,16 6

    2 Psikis 9,20,24 4,8,11 6

    3 Moral 7,15,21 2,12,19 6

    4 Sosial 10,14,18 6,17,22 6Jumlah 12 12 24

    2. Perijinan Penelitian

    Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti harus mendapatkan ijin dari pihak-

    pihak terkait, maka peneliti mengajukan ijin secara informal kepada kepala sekolah

    SMA Karangturi Semarang untuk melakukan uji coba skala dan penelitian. Setelah

    itu, peneliti meminta surat pengantar permohonan ijin secara resmi kepada kepala

    sekolah SMA Karangturi dari Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Semarang

    dengan No : 824/B. 7. 3/FP/VI/2009. Surat tersebut kemudian ditujukan kepada

    kepala sekolah SMA Karangturi Semarang, selanjutnya peneliti melakukan try out

    dan penelitian.

    3. Uji Coba Skala Penelitian

    Pada penelitian ini peneliti menggunakan uji coba alat ukur terlebih dahulu. Uji

    coba skala dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas alat

    ukur sehingga benar-benar layak digunakan untuk mengukur variabel-variabel

    penelitian. Pada penelitian ini peneliti menyebarkan 40 skala yang digunakan sebagai

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    61/136

    48

    skala uji coba, dan penyebaran uji coba skala dilakukan pada hari senin 27 Juli 2009.

    Karena skala hanya dapat disebarkan pada jam Bimbingan konseling (BK) maka

    sesuai dengan saran kepala sekolah SMA Karangturi, skala uji coba dititipkan kepada

    kepala sekolah yang selanjutnya akan diserahkan kepada guru BK dan akan

    disebarkan kepada siswa pada saat jam Bimbingan konseling dan skala tersebut dapat

    diambil oleh peneliti pada tanggal 01 Agustus 2009.

    4.

    Uji Validitas dan Reliabilitas Skala

    Setelah pelaksanaan penelitian, peneliti melakukan pencatatan hasil dan

    membuat tabulasi data hasil skala penelitian untuk kemudian dilakukan penghitungan

    hasil data. Penghitungan validitas menggunakan alat bantu komputer dengan program

    Statistical Packages for Social Science (SPSS) Release13.0. Untuk menguji validitas

    item untuk skala Gaya hidup hedonis dan Konsep diri menggunakan teknik korelasi

    product moment yang selanjutnya dikoreksi dengan korelasi part whole. Untuk

    menguji reliabilitasnya digunakan teknikAlpha Cronbach. Hasil analisis validitas dan

    reliabilitas alat ukur yang dibuat adalah sebagai berikut :

    a.Uji Validitas Alat ukur

    1) Skala Gaya Hidup Hedonis

    Skala yang digunakan diuji validitasnya dengan menggunakan SPSS

    (Statistical Packages Social Science for Windows Release) versi 13.0.

    Adapun hasil uji coba skala Gaya Hidup Hedonis menggunakan 24 item,

    diperoleh 16 item yang valid dengan koefisien korelasi berkisar antara 0,321

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    62/136

    49

    sampai 0,677. Sebaran item valid dan gugur pada skala gaya hidup hedonis

    dapat dilihat pada tabel 5.

    Tabel 6

    Sebaran Item Valid dan Gugur

    Skala Gaya Hidup Hedonis

    NO KarakteristikNo Item

    TotalFavourable Unfavourable

    1 Suka mencariperhatian

    (1) ,12 5,19 4

    2 Cenderung impulsif 11,16 24,6 4

    3 Kurang Rasional 2,10 13,17 4

    4 Cenderung follower 7,21 (4), (22) 4

    5 Mudah dipengaruhi (9),23 8, (3) 4

    6 Senang pergi

    ketempat santai

    15, (18) (20) , (14) 4

    Jumlah 12 12 24

    Keterangan :Item valid : tanpa (.)Item gugur : dengan (.)

    2) Skala Konsep Diri

    Skala yang digunakan diuji validitasnya dengan menggunakan SPSS

    (Statistical Packages Social Science for Windows Release) versi 13.0.

    Adapun hasil uji coba skala konsep diri menggunakan 24 item, diperoleh 15

    item yang valid dengan koefisien korelasi berkisar antara 0,342 sampai

    0,656. Sebaran item valid dan gugur pada skala konsep diri dapat dilihat

    pada tabel 6.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    63/136

    50

    Tabel 7

    Sebaran Item Valid dan Gugur

    Skala Konsep Diri

    NO AspekNo Item

    TotalFavourable Unfavourable

    1 Fisik (1) ,3,23 5,13,16 6

    2 Psikis 9,20,24 (4), (8), (11) 6

    3 Moral (7) ,15, (21) (2), (12) ,(19) 6

    4 Sosial 10,14,18 6,17,22 6

    Jumlah 12 12 24

    Keterangan :

    Item valid : tanpa (.)Item gugur : dengan ()

    Tabel 8

    Nomor Item Baru

    Skala Gaya Hidup Hedonis

    NO KarakteristikNo Item

    TotalFavourable Unfavourable

    1 Suka mencari

    perhatian

    12 (4) 5 (1), 19 (7) 3

    2 Cenderung impulsif 11 (2), 16 (9) 6 (5), 24 (11) 4

    3 Kurang Rasional 2 (3), 10 (12) 13 (8), 17 (14) 4

    4 Cenderung follower 7 (6), 21 (10) - 2

    5 Mudah dipengaruhi 23 (13) 8 (16) 26 Senang pergi

    ketempat santai

    15 (15) - 1

    Jumlah 9 7 16

    Keterangan :Item lama : tanpa (...)

    Item baru : dengan ()

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    64/136

    51

    Tabel 9Nomor Item Baru

    Skala Konsep Diri

    NO ASPEKNo Item

    TOTALFavourable Unfavourable

    1 Fisik 3 (3), 23 (7) 5 (5), 13 (11), 16(15)

    5

    2 Psikis 9 (6), 20 (9),24 (13)

    - 3

    3 Moral 15 (1) - 1

    4 Sosial 10 (4), 14 (8),

    18 (12)

    6 (2), 17 (10), 22

    (14)

    6

    Jumlah 9 6 15

    Keterangan :Item lama : tanpa (.)

    Item baru : dengan (.)

    b.Uji Reliabilitas Alat Ukur

    Setelah dilakukan uji validitas, maka dilakukan uji reliabilitas terhadap item-

    item valid atau sahih dengan menggunakan program SPSS versi 13.0, sedangkan

    teknik yang digunakan adalah Alpha Cronbac. Pada skala gaya hidup hedonis

    diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,854 dan skala konsep diri sebesar

    0,860. Koefisien reliabilitas kedua skala tergolong reliabel sehingga skala

    tersebut layak sebagai alat ukur penelitian.

    C. Pelaksanaan Penelitian

    Penelitian dilakukan pada hari rabu tanggal 26 Agustus 2009. Data penelitian terdiri

    dari empat kelas dengan jumlah siswa yang dijadikan subjek penelitian sebanyak 100

    orang. Pengambilan data dengan cluster random sampling, yaitu teknik pengambilan

    sampel yang dilakukan secara langsung pada unit sampling. Pengambilan kelas yang akan

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    65/136

    52

    digunakan sebagai sampel penelitian dilakukan secara acak pada kelas-kelas yang ada.

    Peneliti membuat undian, kemudian peneliti meminta tolong kepada rekan peneliti untuk

    mengambil undian tersebut sebanyak empat kali. Berdasarkan hasil undian yang diambil

    secara acak tersebut maka muncul daftar kelas yang akan dijadikan sampel penelitian

    yaitu, kelas XC, XI IPA-2, XII IPS 1, dan XII IPS 4.

    Pelaksanaan penelitian berlangsung pada jam pelajaran Bimbingan Konseling

    (BK). Sesuai dengan saran kepala sekolah SMA Karangturi, maka peneliti menitipkan

    skala yang akan digunakan sebagai alat penelitian kepada kepala sekolah SMA

    Karangturi, kemudian skala tersebut akan disampaikan kepada guru Bimbingan

    Konseling (BK) dan akan dibagikan kepada siswa pada jam pelajaran Bimbingan

    Konseling. Penelitian berakhir pada sabtu tanggal 5 September 2009. Penelitian ini

    memakan waktu yang lama karena pihak sekolah harus menyesuaikan pembagian skala

    dengan jadwal Bimbingan Konseling (BK) kelas-kelas yang akan digunakan untuk

    penelitian.

    Perpustakaan Unika

  • 5/19/2018 05.40.0006 Karina Purnomo Putri Hedoooooniaaaaaaaaaaa

    66/136

    53

    BAB V

    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A. UJI ASUMSI

    Uji asumsi dilakukan sebagai syarat untuk dapat melaksanakan teknik korelasi

    Product Moment. Uji asumsi yang dilakukan adalah uji normalitas dan uji linieritas. Uji

    normalitas dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya sebaran skor variabel gaya

    hidup hedonis dan variabel konsep diri, sedangkan uji linieritas dilakukan untuk

    melibatkan hubungan tiap-tiap variabel yang ada.

    1. Uji Normalitas

    Uji normalitas dilakukan terhadap dua data validitas penelitian, yaitu variabel

    gaya hidup hedonis dan data variabel konsep diri. Untuk menghitung digunakan

    program komputer SPSS for Windows 13.0.

    Hasil uji normalita