of 116 /116
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user PENGARUH LOGOTERAPI UNTUK MENURUNKAN DERAJAT DEPRESI DAN MENINGKATKAN AKTIVITAS KEHIDUPAN SEHARI HARI(AKS) LANJUT USIA DI PANTI WREDA DARMA BHAKTI SURAKARTA TESIS Disusun Untuk memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program Studi Magister Kedokteran Keluarga Minat Utama: Biomedik Oleh : Agung Priatmaja S 500907002 Pembimbing : Prof. Dr. H. Muchammad Syamsulhadi dr. SpKJ (K) Prof. Dr. H. Muhammad Fanani dr. SpKJ (K) PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

Embed Size (px)

Text of perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id...

Page 1: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

PENGARUH LOGOTERAPI UNTUK MENURUNKAN DERAJAT DEPRESI DAN

MENINGKATKAN AKTIVITAS KEHIDUPAN SEHARI HARI(AKS) LANJUT USIA

DI PANTI WREDA DARMA BHAKTI SURAKARTA

TESIS

Disusun Untuk memenuhi Sebagian Persyaratan

Mencapai Derajat Magister

Program Studi Magister Kedokteran Keluarga

Minat Utama: Biomedik

Oleh :

Agung Priatmaja

S 500907002

Pembimbing :

Prof. Dr. H. Muchammad Syamsulhadi dr. SpKJ (K) Prof. Dr. H. Muhammad Fanani dr. SpKJ (K)

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2012

Page 2: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

ii

PENGARUH LOGOTERAPI UNTUK MENURUNKAN DERAJAT DEPRESI

DAN MENINGKATKAN AKTIVITAS KEHIDUPAN SEHARI-HARI(AKS)

LANJUT USIA DI PANTI WREDA DARMA BHAKTI SURAKARTA

TESIS

Oleh :

Agung Priatmaja

S 500907002

Komisi Nama Tanda Tangan Tanggal

Pembimbing

Pembimbing I Prof.Dr.dr.M.Syamsulhadi,Sp KJ(K) ........... ......Mei 2012 NIP : 19461102 197609 1 001

Pembimbing II Prof.Dr.dr.M.Fanani, Sp KJ(K) ........... ......Mei 2012

NIP: 195107111980041001

Telah dinyatakan memenuhi syarat

pada tanggal..........................2012

Ketua Program Studi Magister Kedokteran Keluarga

Dr.dr.Hari Wujoso,Sp.F.,M.M NIP: 196210221995031001

Page 3: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

iii

PENGARUH LOGOTERAPI UNTUK MENURUNKAN DERAJAT DEPRESI

DAN MENINGKATKAN AKTIVITAS KEHIDUPAN SEHARI-HARI(AKS)

LANJUT USIA DI PANTI WREDA DHARMA BHAKTI SURAKARTA

TESIS

Oleh :

Agung Priatmaja

S 500907002

Tim Penguji

Jabatan Nama Tanda tangan Tanggal

Ketua Dr.Hari Wujoso, dr.,SpF.,MM .................... ..Juni2012

Sekretaris Prof.Dr.Aris Sudiyanto,dr.,SpKJ(K) ................... ..Juni2012

Anggota Prof. Dr M Fanani.,dr.,SpKJ(K) ................... ..Juni2012

Prof.Dr M Syamsulhadi,dr.,SpKJ(K) ................... ..Juni2012

Telah dipertahankan di depan penguji

Dinyatakan telah memenuhi syarat

pada tanggal.... Juni 2012

Direktur Program Pascasarjna UNS Ketua Program Studi

Magister Kedokteran Keluarga

Prof.Dr.Ir Ahmad Yunus M.S Dr.dr.Hari Wujoso,Sp.F.,M.M NIP:196107171986011001 NIP:196210221995031001

Page 4: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

iv

PERNYATAAN ORISINALITAS DAN PUBLIKASI ISI TESIS

Saya menyatakan dengan sebenarnya bahwa :

1. Tesis berjudul “ Pengaruh Logoterapi Untuk Menurunkan Derajat Depresi dan

Meningkatkan Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKS) Lanjut Usia di Panti

Wreda Dgarma Bhakti Surakarta” ini adalah benar-benar karya saya sendiri dan

bebas plagiat, serta tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh orang

lain untuk memperoleh gelar akademik serta tidak terdapat karya atau pendapat

yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali secara tertulis

digunakan sebagai acuan dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber acuan

serta daftar pustaka. Apabila di kemudian hari terbukti terdapat plagiat dalam

karya ilmiah ini, maka saya bersedia menerima saksi sesuai ketentuan peraturan

perundang-undangan (Permendiknas No 17, tahun 2010).

2. Publikasi sebagian atau keseluruhan isi Tesis pada jurnal atau forum ilmiah lain

harus seijin dan menyertakan tim pembimbing sebagai author dan PPs UNS

sebagai institusinya. Apabila dalam waktu sekurang-kurangnya satu semester

sejak pengesahan Tesis saya tidak melakukan publikasi dari sebagian atau

keseluruhan Tesis ini, maka prodi Kedokteran Keluarga UNS berhak

mempublikasikannya pada jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh prodi kedokteran

keluarga PPs_UNS. Apabila saya melakukan pelanggaran dariketentuan publikasi

ini, maka saya bersedia mendapatkan saksi akademik yang berlaku.

Surakarta........................2012

Mahasiswa

Agung Priatmaja

S 500907002

Page 5: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala

rahmat dan karuniaNYA sehingga penyusunan hasil penelitian tesis ini dapat

terwujud. Hasil penelitian tesis ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat dalam

kurikulum Program Pendidikan Dokter Spesialis 1 Psikiatri di Fakultas Kedokteran

Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta.

Pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar-

besarnya kepada yang kami hormati:

1. Prof. Dr Ravik Karsidi, M.S, selaku Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta

yang telah memberikan kemudahan penulis dalam melaksanakan pendidikan

Pasca Sarjana Program Studi Magister Kedokteran Keluarga minat utama

Biomedik.

2. Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus, M.S., sebagai Direktur Program Pasca Sarjana UNS

beserta staf atas kebijakannya yang telah mendukung dengan memberikan

kemudahan penulis dalam melaksanakan pendidikan Pasca Sarjana Program

studi Magister Kedokteran Keluarga minat utama Biomedik.

3. Dr Hari Wujoso, dr., Sp.F., MM sebagai Ketua Program Studi Magister

Kedokteran Keluarga yang telah memberikan dorongan kepada penulis untuk

pelaksanaan dan penulisan tesis ini.

4. Afiono Agung Prasetyo, dr., Ph D sebagai Ketua Program Studi Magistter

Kedokteran Keluarga minat utama Biomedik yang telah memberikan

pengarahan kepada penulis untuk penulisan tesis ini.

5. Prof. Dr. H. Muchammad Syamsulhadi, dr. SpKJ (K) selaku pembimbing yang

telah membimbing dan memberikan pengarahan dalam penyusunan penelitian

tesis ini.

6. Prof. Dr. H. Mohammad Fanani, dr. SpKJ (K) selaku pembimbing yang telah

memberikan bimbingan dan mengarahkan dalam penyusunan penelitian tesis

ini.

7. Prof. Dr. H. Aris Sudiyanto, dr. SpKJ (K) selaku Ketua Program Studi PPDS 1

Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret /RSUD Dr.

Page 6: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

vi

Moewardi Surakarta yang telah memfasilitasi dan memberikan dukungan dalam

penyusunan penelitian tesis ini

8. Prof. Em Ibrahim Nuhriawangsa, Sp.S, Sp.KJ . (K), selaku guru besar yang

telah memberikan bimbingan dan kritik yang membangun dalam

perencanaan,pelaksanaan dan penyusunan tesis ini.

9. Hj Mardiatmi Susilohati, dr. SpKJ (K), selaku Kepala Bagian Psikiatri Fakultas

Kedokteran Universitas Sebelas Maret /RSUD Dr. Moewardi Surakarta yang

telah memfasilitasi dan memberikan dukungan dalam penyusunan penelitian

tesis ini.

10. Seluruh staf dan pimpinan panti wreda Dharma Bhakti Surakarta yang telah

memfasilitasi dan memberikan dukungan dalam penyusunan tesis ini

11. Seluruh Staf Pengajar Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas

Maret / RSUD Dr. Moewardi Surakarta yang telah memberi dorongan,

membimbing dan memberikan bantuan dalam segala bentuk pada penelitian

tesis ini:

a. H. Yusvick M. Hadin, dr. SpKJ

b. Hj. Makmuroch, Dra. MS

c. H. Djoko Suwito, dr. SpKJ

d. Istar Yuliadi, dr. MSi

e. Gst. Ayu Maharatih, dr. SpKJ. M Kes

f. IGB. Indro Nugroho, dr. SpKJ.M Kes

g. Debree Septiawan, dr. SpKJ. M Kes

12. Segenap dosen Program Magister Kedokteran Keluarga Universitas Sebelas

Maret Surakarta yang telah membekali ilmu pengetahuan yang sangat berarti

bagi penulis.

13. Seluruh Rekan Residen PPDS I Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas

Negeri Sebelas Maret / RSUD Dr Moewardi Surakarta yang memberikan

dukungan baik moril maupun materil kepada penyusun baik dalam rencana

pelaksanaan penelitian ini maupun selama menjalani pendidikan.

Page 7: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

vii

Tak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan penelitian tesis ini masih

banyak terdapat kekurangan, untuk itu penyusun mohon maaf dan sangat

mengharapkan saran serta kritik dalam rangka perbaikan proposal penelitian tesis

ini.

Surakarta , 2012

Penyusun

Page 8: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

viii

Agung Priatmaja. 2012. The Influence of Logotherapy to reducing The Degree of Depression and Improving Activity of Daily Living Elderly in Dharma Bhakti Surakarta. Thesis. Supervisor I: Prof. Dr. M Syamsulhadi dr.,Sp KJ(K), II: Prof .Dr.M .Fanani, dr., Sp KJ (K). Education Program of Psychiatrist, Faculty of Medicine Sebelas Maret University, Surakarta.

ABSTRACT

Background Depression in elderly constitute interference is the most important notice for geriatrics expert. Recognizing depression in elderly require some skills and experiences, since the clinical manifestations of depression’s classic symptoms is not often arise.Elderly that suffer depression will lead to meet the difficulty in activity of daily living. From the results of this research, CBT psycho- therapy, relaxation therapy and hypnotherapy proven success in overcoming depression in the elderly, however other psychotherapy research such as logo- therapy very few were reported. Principles in the logotherapy which contain the meaning of life and spiritual development in the individual can be applied to elderly whom sufferred depression and elderly who experience difficulty in activity of daily living.

Objective To find out the influence of logotherapy in reducing the degrees of depression and improving activity of daily living in the elderly. Method This study is a randomized controlled trial study. The research subjects are residents in Dharma Bhakti elderly institution of Surakarta which meet the criteria for the study. Research performed between July 2011 to September 2011. Sampling technique using the purposive sampling. Variety of psychotherapy used is logotherapy for a total of 6 session. The research instrument were personal data filling, Barthel Index, the brief version of Geriatric Depression Scale, L-MMPI, the check list of logotherapy, implementation guide of logotherapy. Data collected was processed and analyzed using SPSS version 17. Statistical tests using the t test, to signify the relationship of variables with significance level of 5%. Results There were significant differences (p = 0.00) between the GDS in pre-post treatment group and control, also there is a significant difference (p = 0.001) on the Barthel index between the treatment and control groups. In the correlation test between the GDS delta and Barthel delta found a significant correlation with p value = 0.031.

Page 9: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

ix

Conclusion Logotherapy influence reduce the degree of depression and increase the activities of daily living. Keyword Logotherapy-depression-activity of daily living.

Page 10: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

x

Agung Priatmaja. 2012. Pengaruh Logoterapi Untuk Menurunkan Derajat Depresi Dan Meningkatkan Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKS) Lanjut Usia di Panti Wreda Dharma Bhakti Surakarta. Tesis. Supervisor I: Prof. Dr. M Syamsulhadi dr.,Sp KJ(K), II: Prof. Dr.M.Fanani, dr., Sp KJ (K). Program Pendidikan Dokter Spesialis Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta

ABSTRAK

Latar Belakang : Gangguan depresi pada lanjut usia merupakan perhatian yang paling penting bagi para ahli geriatri. Mengenali depresi pada lanjut usia memerlukan suatu keterampilan dan pengalaman, karena manifestasi gejala-gejala depresi klasik sering tidak muncul. Lanjut usia yang mengalami depresi akan mengakibatkan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan aktivitas kehidupan sehari hari. Dari hasil penelitian , psikoterapi CBT, terapi relaksasi dan hipnoterapi terbukti berhasil dalam mengatasi depresi pada lansia, akan tetapi penelitian psikoterapi lainnya seperti logoterapi sangat sedikit yang dilaporkan. Prinsip-prinsip yang terdapat dalam logoterapi mengenai makna hidup dan pengembangan spiritual pada individu dapat diterapkan pada lanjut usia yang menderita depresi dan lanjut usia mengalami kesulitan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.

Tujuan: Untuk mengetahui keefektifan logoterapi dalam menurunkan derajat depresi dan meningkatkan aktivitas kehidupan sehari-hari pada lanjut usia.

Metode : Penelitian ini merupakan penelitian Random Control trial. Subjek penelitian adalah penghuni panti wreda Dharma Bhakti Surakarta yang memenuhi kriteria. Penelitian antara Juli 2011- September 2011. Pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. Jenis psikoterapi yang digunakan adalah logoterapi dengan jumlah 6 sesi. Instrumen penelitian adalah isian data pribadi, Barthek indeks, Geriatric Depresion Scale versi pendek, L-MMPI, Check list logoterapi, panduan pelaksanaan logoterapi. Data yang terkumpul diolah dan dianalisis menggunakan program SPSS versi 17. Ujin statistik menggunakan uji t , untuk signifikansi hubungan variabel dengan tingkat kemaknaan 5%.

Hasil : terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,00) antara GDS pre-post pada kelompok perlakuan dan kontrol demikian pula terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,001) pada Barthel indeks antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Pada uji korelasi antara delta GDS dan delta Barthel terdapat korelasi yang bermakna dengan nilai p=0,031.

Kesimpulan: Logoterapi berpengaruh menurunkan derajat depresi dan menaikkan aktivitas kehidupan sehari-hari.

Kata kunci: Logoterapi-depresi-aktivitas kehidupan sehari-hari.

Page 11: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xi

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................. i

HALAMAN PENGESAHAN .............................................................. ii

PERNYATAAN ORISINALITAS DAN PUBLIKASI TESIS ......... iv

KATA PENGANTAR ........................................................................... v

ABSTRACT ........................................................................................... viii

ABSTRAK ............................................................................................. x

DAFTAR ISI .......................................................................................... xi

DAFTAR SINGKATAN ....................................................................... xiv

DAFTAR TABEL ................................................................................. xvi

DAFTAR LAMPIRAN.............................................................. ........... xvii

BAB.I. PENDAHULUAN ................................................................... 1

A. Latar belakang ................................................................... 1

B. Permasalahan ..................................................................... 5

C. Tujuan penelitian ................................................................ 5

D. Manfaat penelitian .............................................................. 6

BAB. II. LANDASAN TEORI ............................................................. 7

A. Tinjauan Pustaka ................................................................ 7

2.1 Lanjut Usia (Lansia)........................................................ 7

2.1.1 Pengertian Lansia ................................................ 7

2.1.2 Batasan Lanjut Usia ............................................ 9

2.1.3 Perubahan Pada Lansia ....................................... 9

2.1.4 Klasifikasi Lansia ................................................ 18

2.1.5 Masalah Pada Lansia .......................................... 18

2.2 Gangguan Depresi pada Lansia....................................... 22

2.3 Etiologi dan Patogenesis Depresi

2.3.1 Faktor biologi ...................................................... 25

2.3.2 Faktor Neurokimiawi Lain .................................. 26

2.3.3 Regulasi Neuroendokrin .................................... 27

Page 12: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xii

2.4 Diagnosis Depresi .......................................................... 28

2.5 Geriatric Depression Scale…………………………… 29

2.6 Depresi Lansia di Panti .................................................. 32

2.7 Mini Mental State Examination……………………… . 33

2.8 Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKS)……………… 34

2.8.1 Pengertian AKS................................................... 34

2.8.2 Manfaat Kemampuan AKS pada lansia .............. 38

2.8.3 Macam AKS pada Lansia ................................... 39

2.8.4 Skala AKS……………………………………… . 41

2.8.5 Macam AKS...............………………… ............ 43

2.8.6 Cara Pengukuran AKS ........................................ 44

2.9 Index Barthel (IB)………………………................ .... . 45

2.10 Faktor- faktor yang mempengaruhi AKS lansia……… . 47

2.11 Logoterapi ..................................................................... 50

2.11.1 Konsep Dasar Logoterapi………………………… 52

2.11.2 Landasan Filsafat Logoterapi…………………… 55

2.11.3 Tiga Asas Utama Logoterapi …………………… 58

2.11.4 Teknik Logoterapi ................................................ 62

2.12 Psikobiologi .................................................................. .. 68

2.13 Psikoneuroimunologi ...................................................... 71

B. Kerangka Berpikir ............................................................ 76

C. Hipotesis .............................................................................. 77

BAB III. METODE PENELITIAN ..................................................... 78

A. Jenis Penelitian ...................................................................... 78

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................ 78

C. Subjek Penelitian................................................................... 78

D. Teknik Penetapan Sampel ..................................................... 78

E. Besar Sampel......................................................................... 79

F. Kriteria Inklusi ...................................................................... 80

G. Kriteria Eksklusi ................................................................... 80

Page 13: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xiii

H. Identifikasi variabel............................................................... 80

I. Definisi Operasional Variabel ............................................... 81

J. Instrumen Penelitian ............................................................. 82

K. Cara Kerja ............................................................................. 82

L. Teknik Analisis data.............................................................. 83

M. Kerangka Kerja Penelitian .................................................... 84

BAB IV HASIL PENELITIAN ........................................................... 85

BAB V PEMBAHASAN ..................................................................... 89

A. Subjek Penelitian................................................................. 89

B. Penilaian GDS dan Barthel Index ..................................... 90

C. Keterbatasan........................................................................ 94

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN .................................................. 97

A. Simpulan .............................................................................. 97

B. Saran .................................................................................... 97

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 99

LAMPIRAN .................................................................................... 103

Page 14: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xiv

DAFTAR SINGKATAN KATA

ACTH : Adrenocorticotropine hormone

ADL : Activities of Daily Living

AKS : Aktivitas Kehidupan Sehari-hari

ANS : Autonomic Nervous System

CBT : Cognitive Behavioral Therapy

CERAD : The Consortium to Establish a Registry for Alzheimer’s Disease

CES-D-R : Center for Epidemiologic Studies Depression Scale, Revised

CRF : Corticotropine Releasing Factor

Depkes : Departemen Kesehatan

DSM : Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder

ECT : Electric Convulsion Therapy

GDS : Geriatric Depression Scale

HIV : Human Immunodeficiency Virus

HPA : Hypothalamic-Pituitary-Adrenal

5-HT : Serotonin

IB : Indeks Barthel

ICD : International Classification of Diseases

IFN-γ : Interferon – gamma

IL-6 : Interleukin-6

IL-1 : Interleukin-1

Page 15: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xv

IL-2 : Interleukin 2

LGT : Logoterapi

L-MMPI : Lie – Minnesota Multiphasic Personality Inventory

MAOI : Mono Amin Oksidase Inhibitor

MMSE : Mini Mental State Examination

NE : Norepineprin

PPDGJ : Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa

PTSD : Post Traumatic Stress Disorder

RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah

SAM : Simpathetic Adrenal Medullary

SOP : Standart Operational Procedure

SPSS : System Package for Social Statistics

SSP : Sistem Saraf Pusat

SSRI : Selective Serotonin Reuptake Inhibitor

TNF-α : Tumor Necrosis Factor – alpha

WHO : World Health Organization

Page 16: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xvi

DAFTAR TABEL

TABEL 2.1 Indeks Barthel ..................................................................... 45

TABEL 2.2 Intepretasi Indeks Barthel ................................................... 46

TABEL 4.1 Deskripsi karakteristik data menurut kelompok berdasar-

kan lama tinggal ..................................................................................... 85

TABEL 4.2 Deskripsi karakteristik data menurut kelompok jenis ke-

lamin, keberadaan keluarga dan status penyakit ..................................... 86

TABEL 4.3 Perbandingan variabel pada kelompok perlakuan

dibandingkan kelompok kontrol sebelum logoterapi

dengan uji t .............................................................. ............................... 87

TABEL 4.4 Perbandingan variabel GDS dan Barthel pada kelompok

perlakuan dibandingkan kelompok kontrol setelah logoterapi

dengan uji t.............................................................. ................................ 87

TABEL 4.5 Perbandingan variabel delta GDS dan delta Barthel pada

kelompok perlakuan dibandingkan kontrol dengan uji t ........................ 88

TABEL 4.6 Uji korelasi antara delta GDS dan delta Barthel ................. 88

Page 17: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1. Formulir persetujuan subjek penelitian ......................... 103

LAMPIRAN 2. Formulir pengisian responden ....................................... 104

LAMPIRAN 3. Lie-MMPI ..................................................................... 105

LAMPIRAN 4. MMSE ........................................................................... 107

LAMPIRAN 5. GDS ............................................................................... 109

LAMPIRAN 6. Barthel Index ................................................................. 111

LAMPIRAN 7. Check list Logoterapi .................................................... 113

LAMPIRAN 8. Panduan Pelaksanaan Logoterapi .................................. 114

LAMPIRAN 9. Tahapan Konseling Logoterapi ..................................... 120

Page 18: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan

kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain.

Keadaan ini cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum

maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia (Syamsulhadi 2012).

Proporsi penduduk dunia berusia 60 tahun keatas tumbuh lebih cepat jika

dibandingkan kelompok usia lainnya. Antara tahun 1970 dan 2025 pertumbuhan

penduduk lanjut usia (lansia) dunia diperkirakan sekitar 694 juta orang atau 223

%. Pada tahun 2025 terdapat sekitar 1,2 miliar orang penduduk lansia dan

memasuki tahun 2050 diperkirakan akan mencapai angka 2 miliar orang seperti

disampaikan PBB tahun 2001 (Depkes, 2008).

Di Indonesia, jumlah penduduk yang berusia lebih dari 60 tahun pada

tahun 2020 diperkirakan meningkat menjadi 28,8 juta atau 11,34% dari seluruh

populasi penduduk (Setiati, Nurhayati 1996). Ini mencerminkan salah satu hasil

pembangunan kesehatan di Indonesia, tetapi di sisi lain sekaligus merupakan

tantangan untuk mengupayakan agar mereka mampu mempertahankan kualitas

hidupnya. Pada tahun 2025 jumlah lansia di Indonesia diperkirakan akan

meningkat empat kali lipat. Meningkatnya usia harapan hidup penduduk

Indonesia membawa konsekuensi bertambahnya jumlah lansia (Darmono, 2010)

Page 19: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

Peningkatan jumlah penduduk lansia akan membawa dampak terhadap

sosial ekonomi baik dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam pemerintah.

Implikasi ekonomis yang penting dari peningkatan jumlah penduduk adalah

peningkatan dalam ratio ketergantungan lansia (old age ratiodependency). Setiap

penduduk usia produktif akan menanggung semakin banyak penduduk lansia.

Diperkirakan angka lansia pada tahun 1995 adalah 6,93% dan tahun 2015 menjadi

8,74% yang berarti bahwa pada tahun 1995 sebanyak 100 penduduk produktif

harus menyokong 7 orang usia lanjut yang berumur 65 tahun ke atas sedangkan

pada tahun 2015 sebanyak 100 penduduk produktif harus menyokong 9 orang usia

lanjut yang berumur 65 tahun ke atas. Ketergantungan lanjut usia disebabkan

kondisi orang lanjut usia banyak mengalami kemunduran fisik maupun psikis,

artinya mereka mengalami perkembangan dalam bentuk perubahan-perubahan

yang mengarah pada perubahan yang negatif (Mudjadid, 2002).

Peningkatan kelompok usia lanjut membutuhkan perhatian khusus,

terutama peningkatan aktivitas kehidupan sehari hari mereka agar dapat

mempertahankan kesehatan dan kemandiriannya sehingga tidak menjadi beban.

Keberadaan lansia sebagian ada di tengah tengah keluarga dan sebagian lagi ada

yang tinggal di panti panti wreda. Ketika lansia tinggal di panti wreda, maka

dukungan dari keluarga dekat relatif minim didapatkannya (Hadiwinoto ;Setiadi,

1999)

Bondan (2000) mengatakan keterbatasan lansia dalam memenuhi aktivitas

kehidupan sehari hari (AKS) dapat menjadi salah satu faktor penyebab munculnya

depresi. Faktor-faktor yang dapat menimbulkan depresi pada lansia adalah stres

Page 20: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

3

psikososial, keparahan penyakit, keterbatasan melaksanakan Activityies of Daily

Living (ADL) dan aktivitas Instrumen kehidupan sehari hari (AIKS), Kelompok

lansia dipandang sebagai kelompok masyarakat yang berisiko mengalami

gangguan kesehatan. Masalah keperawatan yang menonjol pada kelompok

tersebut adalah meningkatnya disabilitas fungsional fisik. Disabilitas fungsional

pada lansia merupakan respons tubuh sejalan dengan bertambahnya umur

seseorang dan proses kemunduran yang diikuti dengan munculnya gangguan

fisiologis, penurunan fungsi, gangguan kognitif, gangguan afektif, dan gangguan

psikososial. Lansia yang mengalami depresi akan mengakibatkan kesulitan dalam

memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-harinya (Miller, 1995; Lueckenotte, 2000;

Hall & Hassett, 2002), sedangkan lansia yang mengalami demensia dilaporkan

juga memiliki defisit aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) (Jorm, 1994).

Sebaliknya, keterbatasan lansia dalam memenuhi aktivitas kehidupan sehari-hari

(AKS) dapat menjadi salah satu faktor penyebab munculnya depresi (Eliopoulos,

1997, Roberts, Kaplan, Shema, Strawbridge 1997), sedangkan menurut

Hadiwinoto dan Setiadi T (1999) depresi merupakan salah satu faktor yang

mempengaruhi penurunan AKS. Terganggunya melaksanakan aktivitas kehidupan

sehari hari yang dialami lansia dapat disebabkan karena penurunan kondisi fisik

sehingga mengakibatkan mereka menjadi tergantung pada orang lain.

Lansia yang berada dalam panti dengan berbagai alasan akan merasa

kesepian bila tidak ada kegiatan yang terorganisir dan jarangnya dikunjungi oleh

keluarga. Perasaan ini terjadi akibat terputusnya atau hilangnya interaksi sosial

yang merupakan salah satu faktor pencetus terjadinya depresi pada lansia. Lansia

Page 21: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

4

yang mengalami depresi akan mengakibatkan kesulitan dalam memenuhi

kebutuhan sehari hari (Miller 1995, Lueckenotte, 2000). Selain itu masuknya

lansia ke dalam panti dapat menjadi sumber stres bagi lansia karena merasa

kehilangan dan perpisahan dengan keluarganya serta perasaan tidak berdaya. Hal

ini merupakan salah satu faktor pencetus terjadinya depresi pada lansia (Stuart dan

Sundeen, 1998).

Salah satu penatalaksanaan depresi pada lanjut usia adalah dengan

psikoterapi, dimana psikoterapi dapat dijalankan secara individual maupun

kelompok. Psikoterapi pada lansia mempunyai tujuan umum yang bermaksud

membantu para lanjut usia agar mempunyai keluhan yang minimal (Nuhriawangsa

2002). Psikoterapi Logoterapi adalah salah satu bentuk psikoterapi yang

melakukan pendekatan dari sisi spiritual dan makna hidup yang sesuai untuk

diterapkan pada lanjut usia yang mengalami ketidakberdayaan. Logoterapi yang

dipelopori oleh Victor Frankl telah mengalami ujian berat yang dialami oleh tokoh

logoterapi itu sendiri saat mengalami ketidakberdayaan dalam kamp konsentrasi.

(Guttman 1996, Frankl 2003, Bastaman 2007).

Semakin bertambahnya angka harapan hidup seseorang berarti semakin

banyak jumlah lansia. Di sisi lain, jumlah lansia yang semakin banyak justru

menjadi permasalahan tersendiri jika tidak disertai penanganan yang tepat

(Darmono dan Martono 2004).

Banyak masalah kesehatan yang harus dihadapi oleh kaum lansia baik fisik

maupun mental. Depresi merupakan masalah mental yang paling banyak ditemui

pada lansia. Prevalensi depresi pada lansia di dunia sekitar 8 – 15 %. Hasil survey

Page 22: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

5

dari berbagai negara di dunia diperoleh prevalensi rata-rata depresi pada lansia

adalah 13,5 % dengan perbandingan pria dan wanita 14,1 : 8,5. Sementara

prevalensi depresi pada lansia yang menjalani perawatan di RS dan Panti

Perawatan sebesar 30 – 45 %. Karenanya pengenalan masalah mental sejak dini

merupakan hal yang penting, sehingga beberapa gangguan masalah mental pada

lansia dapat dicegah, dihilangkan atau dipulihkan (Darmojo dan Martono 2004).

Di Indonesia pemakaian psikoterapi logoterapi dalam klinis belum banyak

laporan yang dipublikasikan, demikian juga dalam jurnal internasional laporan

penggunaan dalam klinis belum banyak yang dipublikasikan. Teori tentang

logoterapi sudah banyak dipublikasikan, dan berbagai study hubungan antara

depresi dengan aktivitas kehidupan sehari-hari pada lanjut usia juga sudah banyak

dilaporkan namun sepengetahuan penulis masih sangat sedikit laporan yang

mempublikasikan mengenai pengaruh logoterapi terhadap depresi dan aktivitas

kehidupan sehari-hari pada lanjut usia. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui pengaruh logoterapi terhadap penurunan derajat depresi dan

meningkatkan aktivitas kehidupan sehari-hari pada lanjut usia.

B. Permasalahan

Apakah logoterapi mempengaruhi penurunan derajat depresi dan

meningkatkan aktivitas kehidupan sehari hari pada lanjut usia?

C. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui pengaruh Logoterapi dalam menurunkan derajat depresi

dan meningkatkan aktivitas kehidupan sehari-hari pada lanjut usia

Page 23: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

6

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis:

a. Memperluas dan memperdalam bidang kajian psikiatri khususnya tentang

Logoterapi dan aktivitas kehidupan sehari hari pada lanjut usia.

b. Memberikan keuntungan dalam hal penatalaksanaan di bidang geriatri

dengan peningkatan aktivitas kehidupan sehari hari di masa mendatang.

c. Dapat menjadi landasan penelitian lanjutan tentang Logoterapi pada lanjut

usia.

2. Manfaat praktis:

a. Implikasi hasil penelitian dapat digunakan dalam menangani masalah

depresi dan aktivitas kehidupan sehari hari bagi lanjut usia yang tinggal

di panti wreda.

b. Sebagai alternatif terapi tambahan di bidang liaison psychiatry dalam

masalah depresi dan peningkatan aktivitas hidup sehari hari pada lanjut

usia.

Page 24: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

7

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

2.1 Lanjut Usia (Lansia)

2.1.1 Pengertian Lansia

Proses menua pada manusia merupakan suatu peristiwa alamiah yang

tak terhindarkan, dan menjadi manusia lanjut usia (lansia) yang sehat

merupakan suatu rahmat Tuhan. Usia lanjut adalah suatu kejadian yang pasti

akan dialami oleh semua orang yang dikaruniai usia panjang, terjadinya tidak

bisa dihindari oleh siapapun, namun manusia dapat berupaya untuk

menghambat kejadiannya. Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir

perkembangan pada daur kehidupan manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat

(2), (3), (4) UU No. 13 tahun 1998 tentang Kesehatan dikatakan bahwa batas

usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun

(Darmono 2010).

Proses penuaan disebut ‘senescence’ (dari bahasa Latin : senescere,

berarti menjadi tua) dan ditandai oleh penurunan bertahap pada fungsi semua

sistem tubuh yaitu kardiovaskuler, pernafasan, genitourinarius, endokrin dan

kekebalan serta lainnya (Kaplan dan Sadock 2007).

Istilah untuk manusia yang usianya sudah lanjut belum ada yang baku.

Orang sering menyebutnya berbeda-beda. Ada yang menyebutnya manusia

usia lanjut (manula), manusia lanjut usia (lansia), ada yang menyebut

Page 25: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

8

golongan lanjut umur (glamur), usia lanjut (usila), bahkan kalau di Inggris

orang biasa menyebutnya dengan istilah warga negara senior (Iskandar, 2006).

Dari beberapa referensi yang ada menjelaskan bahwa pengertian lanjut

usia menurut undang-undang No. 4 tahun 1965 adalah seseorang yang

mencapai 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah untuk

keperluan hidupnya sehari-hari (Darmojo dan Martono, 2004). Sedangkan

menurut undang-undang No. 13 tahun 1998 adalah mereka yang telah

mencapai usia 60 tahun ke atas (Nugroho, 2000). Lanjut usia atau usia tua

adalah suatu periode dalam rentang hidup seseorang, yaitu suatu periode di

mana seseorang ’’beranjak jauh’’ dari periode terdahulu yang lebih

menyenangkan, atau beranjak dari waktu yang penuh bermanfaat

(Wirakusumah 2002).

Beberapa ahli biasanya membedakan menurut 2 macam umur, yaitu

umur kronologis dan umur biologis. Umur kronologis adalah umur yang

dicapai seseorang dalam kehidupannya dihitung dengan tahun almanak atau

kalender. Secara kronologis perjalanan hidup manusia terdiri dari beberapa

masa yaitu : masa bayi (0-1 tahun), pra sekolah (6-10 tahun), masa pubertas

(10-20 tahun), dewasa muda (20-30 tahun), masa setengah renta (50-65

tahun), masa usia lanjut (>65-74 tahun) medium old (74-84 tahun) dan tua

renta (old-old > 84 tahun) (Mangoenprasodjo dan Hidayati 2005).

Umur biologis adalah usia yang sebenarnya. Pematangan jaringan yang

biasanya dipakai sebagai indeks umur biologis. Secara biologik proses

penuaan manusia dibagi dalam 3 fase : yaitu fase pertumbuhan dan

Page 26: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

9

perkembangan, fase pematangan (maturasi) dan fase penurunan (karena

penuaan). Hal ini dapat menerangkan, mengapa orang-orang berumur

kronologis sama mempunyai penampilan fisik dan mental berbeda (Iskandar

2006).

2.1.2 Batasan Lanjut Usia

Menurut organisasi kesehatan dunia, kriteria usia meliputi : usia

pertengahan (45-59 tahun), lanjut usia (60-74 tahun), lanjut usia tua (75-90)

dan usia sangat tua di atas 90 tahun (Darmojo dan Martono 2004, Hurlock

2002), Menurut Muhammad (1996) cit. Mckenzie (2007) masa lanjut usia

adalah 65 tahun ke atas, sedangkan menurut Masdani (1996) mengatakan usia

lanjut adalah kelanjutan dari usia dewasa. Kedewasaan dapat dibagi menjadi

empat bagian yaitu : pertama fase investus yaitu antara 25-40 tahun, kedua

fase vertilitas yaitu antara 40-50 tahun, ketiga fase prasenium yaitu antara 55-

65 tahun dan keempat fase senium yaitu antara 65 sampai tutup usia.

Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 13 tahun 1998 seorang dapat

dikatakan lanjut usia setelah yang bersangkutan mencapai umur 60 tahun ke

atas (Wirakusumah 2002 dan Nugroho 2000).

2.1.3 Perubahan pada Lansia

Jika proses menua mulai berlangsung, di dalam tubuh juga mulai

terjadi perubahan struktural yang merupakan proses degeneratif. Misalnya sel

mengecil atau komposisi sel pembentukan jaringan ikat baru menggantikan sel

yang menghilang dengan akibat timbulnya kemunduran fungsi organ-organ

tubuh. Usia tua memang sering kali disertai dengan berbagai gangguan

Page 27: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

10

kesehatan karena fungsi organ tubuh seperti ginjal, paru dan kekebalan tubuh

menurun. Lanjut usia juga berisiko untuk lebih sering terserang penyakit

infeksi, kanker, penyakit jantung koroner, osteoporosis dan mengalami

dementia (Iskandar 2006).

Hubungan antara kesehatan mental yang baik dan kesehatan fisik yang

baik adalah jelas pada lanjut usia. Efek yang merugikan pada perjalanan

penyakit medik yang kronis adalah berhubungan dengan masalah emosional.

Lanjut usia secara keseluruhan disertai dengan kesepian, kesehatan yang

buruk, senilitas dan kelemahan atau ketidakberdayaan secara umum (Kaplan

dan Sadock 2007).

Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia menurut Maryam

(2008) adalah :

2.1.3.1 Perubahan Fisik

a Sel

Lebih sedikit jumlahnya,lebih besar ukurannya, berkurangnya jumlah

cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraseluler, menurunnya proporsi

protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati, jumlah sel otak menurun,

terganggunya mekanisme perbaikan sel,otak menjadi atrofi, beratnya

berkurang 5 – 10%.

b System Persarafan

Berat otak menurun 10 – 20% (setiap orang berkurang sel saraf otaknya

dalam setiap harinya), cepat menurunnya hubungan persyarafan, lambat

dalam respon waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres, mengecilnya

Page 28: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

11

syaraf panca indra (berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran,

mengecilnya saraf pencium dan perasa, lebih sensitif terhadap perubahan

suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin), kurang sensitif

terhadap sentuhan.

c Presbiakusis (Gangguan pada Pendengaran)

Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam terutama

terhadap bunyi suara atau nada–nada yang tinggi, suara yang tidak jelas,

sulit mengerti kata–kata, 50% terjadi pada usia di atas umur 65 tahun,

membrane timpani menjadi atrofi menyebabkan otot seklerosis, terjadinya

pengumpulan serumen dapat mengeras karena meningkatnya keratin,

pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang mengalami

ketegangan jiwa atau stres.

d Sistim Penglihatan

Sfingter pupil timbul sclerosis dan hilangnya respon terhadap sinar kornea

lebih terbentuk sferis, lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa)

menjadikatarak menyebabkan gangguan penglihatan, meningkatnya

ambang pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat,

dan susah melihat dalam cahaya gelap,hilangnya daya akomodasi,

menurunnya lapang pandang (berkurang luas pandang).

Page 29: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

12

e Sistim Kardiovaskuler

Elastisitas dinding aorta menurun, katup jantung menebal dan menjadi

kaku, kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun

sesudah berumur 20 tahun, hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi

dan volume jantung dan kehilangan elastisitas pembuluh darah, kurangnya

efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posisi dari

tidur ke duduk (duduk ke berdiri) bisa menyebabkan tekanan darah

menurun.

f Sistim Pengaturan Temperatur Tubuh

Pada pengaturan suhu hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu

thermostat, yaitu menetapkan suatu suhu tertentu, kemunduran terjadi

dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Sebagai akibat sering

ditemui temperatur tubuh menurun (hipotermia) secara fisiologik ± 35°C

ini akibat metabolisme yang menurun, keterbatasan refleks menggigil dan

tidak memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya

aktifitas otot.

g Sistim Respirasi

Otot–otot pernafasan kehilangan kekuatandan menjadi kaku menurunnya

aktifitas dari sillia, paru–paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu

meningkat, menarik nafas lebih berat, kapasitas pernafasan maksimum

menurun, dan kedalaman bernafas menurun, alveoli ukurannya melebar

dari biasa dan jumlahnya berkurang, O² pada arteri menurun menjadi 75

mmHg, CO² pada arteri tidak terganti, kemampuan elastisitas dinding dada

Page 30: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

13

dan kekuatan otot pernafasan akan menurun seiring dengan pertambahan

usia.

h Sistim Gastrointestinal

Kehilangan gigi, kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk, indera

pengecap menurun adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir, atropi

indra pengecap (±80%) hilangnya sensitifitas dari saraf pengecap di lidah

terutama rasa manis dan asin, hilangnya sensitifitas dari saraf pengecap

tentang rasa asin, asam dan pahit, esophagus melebar, rasa lapar menurun

(sensitifitas lapar menurun), asam lambung menurun, waktu pengosongan

menurun, peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi,fungsi absorpsi

melemah (daya absorpsi terganggu), liver (hati) makin mengecil dan

menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah.

i Sistim Reproduksi

Menciutnya ovari dan uterus, atropi payudara, pada laki–laki testis masih

dapat memproduksi spermatozoa, meskipun adanya penurunan secara

berangsur–angsur, dorongan seksual menetap sampai usia di atas 70 tahun

(asal kondisi kesehatan baik) yaitu kehidupan seksual dapat diupayakan

sampai masa lanjut usia, hubungan seksual secara teratur membantu

mempertahankan kemampuan seksual, tidak perlu cemas karena

merupakan perubahan alami, selaput lendir vagina menurun, permukaan

menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya menjadi alkali

dan terjadi perubahan–perubahan warna.

Page 31: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

14

j Sistim Genitourinari

Ginjal merupakan alat untuk mengeluarkan sisa metabolisme tubuh

melalui urine,darah ke ginjal disaring oleh satuan (unit) terkecil dari ginjal

yang disebut nefron (tepatnya di glomerulus), kemudian mengecil dan

nefron menjadi atrofi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50%, fungsi

tubulus menurun akibatnya berkurannya kemampuan mengkonsentrasikan

urin, berat jenis urin menurun akibat proteinuria (biasanya +1), BUN

(Blood Urea Nitrogen) meningkat sampai 21 mg%, nilai ambang ginjal

terhadap glukosa meningkat, vesika urinaria (kandung kemih) ototnya

menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan

frekuensi buang air seni meningkat, pembesaran prostat ±75 % dialami

oleh pria usia di atas 65 tahun.

k Sistim Endokrin

Produksi dari hampir semua hormon menurun, berkurangnya produksi dari

ACTH, TSH, FSH, dan LH, menurunnya aktifitas tiroid, menurunnya

BMR (basal metabolic rate), dan menurunnya daya pertukaran zat,

menurunnya produksi aldosteron, menurunnya sekresi hormon kelamin,

misalnya progesteron, estrogen, dan testeron.

Page 32: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

15

l Sistim Kulit

Kulit mengerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak, permukaan

kulit kasar dan bersisik (karena kehilangan proses keratinasi serta

perubahan ukuran dan bentuk–bentuk sel epidermis), menurunnya respon

terhadap trauma, mekanisme proteksi kulit menurun yaitu produksi serum

menurun, gangguan pigmentasi kulit, dan rambut menipis, berkurangnya

elastisitas akibat dari menurunnya cairan dan vaskularisasi, pertumbuhan

kuku lebih lambat, kuku jari menjadi lebih keras dan rapuh, kuku kaki

bertumbuh secara berlebihan dan seperti tanduk, kelenjar keringat

berkurang jumlah dan fungsinya, kuku menjadi pudar, kurang bercahaya.

m Musculoskeletal System

Lansia yang melakukan aktifitas secara teratur tidak kehilangan massa atau

tonus otot dan tulang sebanyak lansia yang tidak aktif. Serat otot

berkurang ukurannya. Dan kekuatan otot berkurang sebanding penurunan

massa otot. Penurunan massa dan kekuatan otot, demeneralisasi tulang,

penurunan mobilitas sendi, tonjolan tulang lebih meninggi(terlihat).

Tulang kehilangan density (cairan) dan makin rapuh, kifosis pinggang,

pergerakan lutut dan jari–jari pergelangan terbatas, discus intervertebralis

menipis dan menjadi pendek (tingginya berkurang), persendian membesar

dan menjadi rapuh, tendon mengerut dan mengalami sclerosis, atrofi

serabut otot sehingga seseorang bergerak menjadi lamban, otot–otot kram

menjadi tremor, otot–otot polos tidak begitu berpengaruh.

Page 33: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

16

2.1.3.2 Perubahan Mental

Perubahan mental pada lansia berkaitan dengan 2 hal yaitu

kenangan dan intelegensia. Lansia akan mengingat kenangan masa

terdahulu namun sering lupa pada masa yang baru, sedangkan intelegensia

tidak berubah namun terjadi perubahan dalam daya membayangkan

(Mangoenprasdjo dan Hidayati, 2005).

Faktor–faktor yang mempengaruhi perubahan mental yaitu

perubahan fisik, tingkat pendidikan, keturunan (hereditas), dan

lingkungan. Kenangan (memory) terdiri dari kenangan jangka panjang

berjam–jam sampai berhari–hari yang lalu mencakup beberapa

perubahan),dan kenangan jangka pendek atau seketika (0-10 menit,

kenangan buruk). I.Q. (Intellegentian Quotion) tidak berubah dengan

informasi matematika dan perkataan verbal, berkurangnya penampilan,

persepsi dan ketrampilan psikomotor (terjadinya perubahan pada daya

membayangkan karena tekanan–tekanan dari faktor waktu). Semua organ

pada proses menua akan mengalami perubahan struktural dan fisiologis,

begitu juga otak. Perubahan ini disebabkan karena fungsi neuron di otak

secara progresif kehilangan fungsi ini akibat menurunnya aliran darah ke

otak, lapisan otak terlihat berkabut dan metabolisme di otak lambat.

Selanjutnya sangat sedikit yang di ketahui tentang pengaruhnya terhadap

perubahan fungsi kognitif pada lanjut usia. Perubahan kognitif yang

dialami lanjut usia adalah demensia, dan delirium (Bongsoe Jamsir, 2007).

Sejumlah faktor risiko psikososial juga mempredisposisi lanjut usia

Page 34: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

17

kepada gangguan mental. Faktor risiko tersebut adalah hilangnya peranan

sosial, hilangnya otonomi, kematian teman atau sanak saudara, penurunan

kesehatan, peningkatan isolasi, keterbatasan finansial, dan penurunan

fungsi kognitif. Hal tersebut dapat mengganggu interaksi sosial yang

kontinyu. Bukti yang ada menyatakan bahwa mempertahankan aktivitas

sosial bermanfaat untuk kesehatan fisik dan emosional (Kaplan dan

Sadock, 2007). Lanjut usia akan mengalami perubahan–perubahan

psikososial seperti pensiun. Nilai seseorang sering diukur produktifitasnya,

identitas dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan. Lansia yang

mengalami pensiun akan mengalami berbagai kehilangan yaitu finansial

(income berkurang), status (dulu mempunyai jabatan posisi yang cukup

tinggi, lengkap dengan segala fasilitasnya), teman/kenalan atau relasi, dan

pekerjaan atau kegiatan. Sosial ekonomi merupakan hal yang sangat

penting bagi orang lanjut usia dan masyarakat secara luas. Kondisi sosial

ekonomi yang buruk pada lanjut usia mempunyai efek langsung pada

kesehatan psikologis dan fisik. Kekhawatiran tentang uang dapat menjadi

perhatian obsesif yang mengganggu kesenangan hidup mereka (Kaplan

dan Sadock 2007).

Page 35: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

18

2.1.4 Klasifikasi Lansia

Berikut ini adalah lima klasifikasi lansia menurut Depkes (1990) :

2.1.4.1 Pralansia (Prasenilis)

Seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.

2.1.4.2 Lansia

Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.

2.1.4.3 Lansia Risiko Tinggi

Seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/sesorang yang berusia

60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan.

2.1.4.4 Lansia Potensial

Lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan/atau kegiatan

yang dapat menghasilkan barang/jasa.

2.1.2.5 Lansia Tidak Potensial

Lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya

begantung pada bantuan orang lain.

2.1.5 Masalah pada Lanjut Usia

Salah satu kondisi yang tidak dapat dihindari dari kehidupan manusia

adalah menjadi tua. Para ahli mempunyai perbedaan pendapat mengenai usia

berapa awal masa tua, namun secara umum mereka sepakat bahwa pada

wanita, awal usia tua dimulai saat henti haid atau menopause sekitar usia 50

tahun, sedangkan pada pria dimulai saat terjadi gejala fisik seperti kulit

menjadi kering dan mengerut, rambut menipis dan merontok, gigi mulai

tanggal satu persatu, daya ingat dan fungsi panca indra melemah, stamina

Page 36: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

19

menurun dan mulai gampang sakit. Gejala-gejala ini biasanya tidak terjadi

sebelumnya, bahkan gejala-gejala ini dapat timbul bersamaan

(Mangoenprasodjo et al. 2005).

Kondisi masa tua yang dihadapi oleh setiap orang tidak sama, bagi

orang yang telah mempersiapkan masa tuanya secara fisik dan mental, akan

selalu mendapatkan makna dalam kehidupan usia tua yang membahagiakan

dirinya, tetapi bagi orang yang tidak mempersiapkan diri untuk masa tuanya,

kehidupan di usia lanjut seringkali menjadi penderitaan yang tiada hentinya,

sehingga pada akhirnya akan menimbulkan dampak gangguan terhadap jiwa

maupun fisiknya. Orang lanjut usia yang tidak dapat menemukan makna

hidup di usia tua akan mengalami gangguan somatik termasuk hipertensi

dengan gejala-gejala seperti sakit kepala, cemas, palpitasi, pusing, epistaksis,

migren, tinnitus dll (Mangoenprasodjo et al. 2005).

Secara individu, pengaruh proses menua dapat menimbulkan berbagai

masalah fisik, baik secara fisik-biologik, mental maupun sosial ekonomis.

Dengan semakin lanjut usia seseorang, mereka akan mengalami kemunduran

terutama di bidang kemampuan fisik, yang dapat mengakibatkan penurunan

pada peranan-peranan sosialnya. Hal ini mengkibatkan pula timbulnya

gangguan di dalam hal mencukupi kebutuhan hidupnya, sehingga dapat

meningkatkan ketergantungan yang memerlukan bantuan orang lain. Lanjut

usia tidak saja ditandai dengan kemunduran fisik, tetapi dapat pula

berpengaruh terhadap kondisi mental. Semakin lanjut seseorang, kesibukan

sosialnya akan semakin berkurang, hal mana akan dapat mengakibatkan

Page 37: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

20

berkurangnya integrasi dengan lingkungannya. Hal ini dapat memberikan

dampak pada kebahagiaan seseorang. Pada usia mereka yang telah lanjut,

sebagian diri mereka masih mempunyai kemampuan untuk bekerja.

Permasalahannya yang mungkin timbul adalah bagaimana memfungsikan

tenaga dan kemampunan mereka tersebut di dalam situasi keterbatasan

kesempatan kerja.

Aspek medik yang sering menjadi masalah di usia lanjut dapat berupa

masalah pernafasan, masalah peredaran darah, masalah fungsi kemih,

masalah buang air besar (defekasi), masalah kepikunan (dementia), masalah

gangguan gerak, masalah tidur, masalah impotensia, masalah kejiwaan

(skizofrenia, gangguan jiwa afektif) (Darmojo dan Martono 2004).

Masalah-masalah pada lanjut usia dikategorikan ke dalam empat besar

penderitaan lanjut usia yaitu imobilisasi, ketidakstabilan, gangguan mental,

dan inkontinensia.

a. Imobilisasi dapat disebabkan karena alasan psikologis dan fisik.

Alasan psikologis diantaranya apatis, depresi, dan kebingungan.

Setelah faktor psikologis, masalah fisik akan terjadi sehingga

memperburuk kondisi imobilisasi tersebut dan menyebabkan komplikasi

sekunder (Watson 2003). Faktor fisik yang menyebabkan imobilisasi

mencakup fraktur ekstremitas, nyeri pada pergerakan artrithis, paralis dan

penyakit serebrovaskular, penyakit kardiovaskular yang menimbulkan

kelelahan yang ekstrim selama latihan, sehingga terjadi ketidak-

Page 38: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

21

seimbangan. Selain itu penyakit seperti parkinson dengan gejala tremor

dan ketidakmampuan untuk berjalan merupakan penyebab imobilisasi.

b. Masalah yang nyata dari ketidakstabilan adalah jatuh. Karena kejadian ini

sering dialami oleh lanjut usia di mana angka kejadian wanita yang jatuh,

dua kali lebih sering dibanding pria (Watson 2003). Jatuh adalah suatu

kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata yang melihat kejadian,

yang mengakibatkan seseorang mendadak terbaring dan terduduk di lantai

atau tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran

atau luka. Akibat jatuh ini dapat menyebabkan imobilisasi.

c. Gangguan mental merupakan yang sering terjadi sehubungan dengan

terjadinya kemerosotan daya ingat. Beberapa kasus ini berhubungan

dengan penyakit-penyakit yang merusak jaringan otak, sehingga

kebanyakan masalah turunnya daya ingat lanjut usia bukanlah sebagai

akibat langsung proses penuaan tetapi karena penyakit. Sebagian besar

lanjut usia memerlukan perawatan karena menderita gangguan mental.

Konfusi (kebingungan) adalah masalah utama yang mempunyai

konsekuensi untuk semua aktivitas sehari-hari. Lanjut usia yang

mengalami konfusi tidak akan mampu untuk makan, tidak mampu

mengontrol diri, bahkan menunjukkan perilaku yang agresif sehingga

lanjut usia memerlukan perawatan lanjutan untuk mengatasi

ketidakmampuan dan keamanan lingkungan tempat tinggal lanjut usia

secara umum. Bantuan yang diberikan adalah melalui petugas panti dan

dukungan keluarga. Insiden inkontinensia biasanya meningkat pada lanjut

Page 39: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

22

usia yang kehilangan kontrol berkemih dan defekasi. Hal ini berhubungan

dengan faktor akibat penuaan dan faktor nutrisi seperti yang telah

dijelaskan di atas adalah efek dari imobilisasi (Darmojo 2000).

d. Inkontinensia lebih banyak diderita oleh perempuan dari pada laki-laki.

Wanita yang melahirkan anak dengan otot dasar panggul yang lemah,

menjadi penyebab inkontinensia. Pada laki-laki, penyebab umumnya

adalah pembesaran kelenjar prostat dan diperlukan prosedur bedah untuk

menangani kondisi tersebut (Watson 2003).

2.2 Gangguan Depresi pada Lansia

Lanjut usia adalah periode penutup dalam rentang kehidupan

seseorang. Pada masa ini seseorang cenderung lebih banyak menyesuaikan

diri dengan banyaknya perubahan yang terjadi dalam kehidupannya

misalnya menurunnya kemampuan fisik, meninggalnya suami atau istri,

teman seusia dan pensiun. Apabila lansia tidak mampu menyesuaikan diri

dengan keadaan tersebut, maka lansia akan merasa kesepian yaitu perasaan

terasing, ditolak, ditinggalkan, tak berharga dan merasa dikucilkan

dalamkehidupannya sehingga individu merasa hubungan sosialnya tidak

memuaskan. Kesepian yang dialami lansia akan menimbulkan stres yang

berkepanjangan dan akhirnya akan jatuh ke dalam depresi (Rahmi 2011).

Gangguan depresi pada lanjut usia merupakan perhatian yang

paling penting bagi para ahli geriatri. Perkiraan depresi berkisar antara 5-

10% pada mereka yang berusia di atas 65 tahun dan meningkat jumlahnya

Page 40: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

23

bagi mereka yang berumur di atas 80 tahun, orang miskin, dan yang tidak

menikah.

Serangan pertama dari kebanyakan depresi terjadi antara umur 55-

65 tahun pada pria dan antara 50-60 tahun pada wanita. Kebanyakan depresi

akan berulang bila tidak mendapatkan pengobatan. Tanda dan gejala depresi

yang umum meliputi, menurunnya kekuatan dan konsentrasi, masalah tidur

(terutama bangun terlalu pagi atau sering terbangun di malam hari),

menurunnya nafsu makan, penurunan berat badan dan keluhan-keluhan

somatik. Sindroma yang khusus dan unik adalah melancholia, yaitu salah

satu jenis depresi yang mempunyai ciri khas selain depresi juga

hipokondria, harga diri yang rendah, rasa tidak berguna dankecenderungan

menyalahkan atau mendakwa diri sendiri (terutama mengenai seks dan

keadaan penuh dosa) dengan pikiran-pikiran paranoid dan bunuh diri

(Nuhriawangsa dan Sudiyanto 2008).

Gangguan kognitif pada pasien depresi usia lanjut disebut

pseudodementia yang mudah dikelirukan dengan dementia yang sebenarnya.

Pada dementia yang sesungguhnya penampilan yang intelektual sifatnya

menyeluruh dan ketidakmampuan secara menetap rendah, sedang pada

pseudodementia kekurangan perhatian dan konsentrasi berbeda-beda.

Penyebab depresi pada usia lanjut berbeda-beda. Faktor psikologis,

termasuk adaptasi terhadap kehilangan, terutama kehilangan orang yang

sangat dicintai, kehilangan kawan-kawan dan pekerjaan, perasaan tidak

berdaya karena tidak mampu mengendalikan kehidupan seseorang.

Page 41: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

24

Kerentanan biologis pada depresi meningkat, sebagai akibat dari kesalahan

pengaturan dari neurotransmitter otak, khususnya mengurangnya kadar

serotonin, norepnefrin, dan dopamine serta meningkatnya kadar MAO yang

kemudian akan menurunkan kadar kathekolamin (Nuhriawangsa dan

Sudiyanto 2008).

Mengenali depresi pada usia lanjut memerlukan suatu ketrampilan

dan pengalaman, karena manifestasi gejala-gejala depresi klasik (perasaan

sedih, kurang semangat, hilangnya minat/hobi atau menurunnya aktivitas)

sering tidak muncul. Seorang usia lanjut yang mengalami depresi bisa saja

mengeluhkan mood yang menurun, namun kebanyakan menyangkal adanya

mood yang depresi. Yang sering terlihat adalah gejala hilangnya

tenaga/energy, hilangnya rasa senang, tidak bisa tidur atau kaluhan rasa

sakit atau nyeri. Gambaran klinis depresi pada usia lanjut dibandingkan

dengan pasien yang lebih muda berbeda. Dalam usia lanjut cenderung

meminimalkan atau menyangkal mood depresinya dan lebih banyak

menonjolkan gejala somatiknya, disamping mengeluh tentang gangguan

memori (Kaplan dan Sadock 2007). Salah satu penatalaksanaan depresi

pada lanjut usia adalah pemberian psikoterapi, baik psikoterapi individual

maupun kelompok dan paling efektif jika dilakukan bersama sama dengan

pemberian obat antidepresan. Baik pendekatan psikodinamik maupun

kognitif perilaku sama keberhasilannya. Meskipun mekanisme psikoterapi

tidak sepenuhnya dimengerti, namun kecocokan antara klien dan terapis

Page 42: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

25

dalam proses sterapeutik akan meredakan gejala dan membuat pasien lebih

nyaman, lebih mampu mengatasi persoalannya serta lebih percaya diri.

2.3 Etiologi dan Patogenesis Depresi

2.3.1 Faktor Biologi

a Norepinefrin

Hal ini dibuktikan dengan korelasi antara penurunan reseptor β

adrenergik dengan pemakaian obat anti depresan. Bukti lain juga

menunjukkan reseptor β2 presinaptik pada depresi, dimana bila

terjadi aktivasi reseptor presipnatik ini menyebabkan penurunan

jumlah norepinefrin.

b Serotonin

Dengan efek besar dari Selektive Serotonin Reuptake Inhibitors

(SSRIs) sebagai contoh fluoxetin dalam terapi depresi, membuat

serotonin sebagai neurotransmiter asam amino biogenik berasosiasi

dengan depresi.

Penurunan jumlah serotonin dapat mencetuskan depresi dan

beberapa pasien dengan keinginan bunuh diri mempunyai

konsentrasi metabolit serotonin yang rendah pada lokasi uptake di

keping darah (Kaplan dan Sadock 2005).

c Dopamin

Selain norepinefrin dan serotonin, dopamin juga dihipotesiskan

memainkan peranan. Aktivitas dopamin mungkin berkurang pada

Page 43: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

26

depresi dan meningkat pada mania. Penemuan subtipe baru pada

reseptor dopamin dan terdapat regulasi presinaptik dan postsinaptik

terhadap fungsi dopamin menambah pengertian mengenai

hubungan dopamin dengan gangguan mood. Obat yang dapat

mengurangi konsentrasi dopamin misalnyareserpin dan penyakit

yang menurunkan konsentrasi dopamin misalnya parkinson

dikaitkan dengan gejala depresi. Sebaliknya obat yang dapat

meningkatkan konsentrasi dopamin seperti tyrosin, amphetamin,

bupropion mengurangi gejala depresi. Dua teori terbaru mengenai

dopamin dan depresi adalah jalur dopamin mesolimbik dalam

kondisi disfungsi pada depresi dan bahwa reseptor D1 dopamin

mungkin hipoaktif pada depresi (Kaplan dan Sadock 2005).

2.3.2 Faktor Neurokimiawi Lain

Walaupun data belum dapat disimpulkan, namun neurotrasmiter

asam amino (khususnya GABA) dan peptida neuroaktif

(khususnya vasopresin dan opiat endogen) telah diterapkan dalam

patofisiologi mood. Beberapa penyelidik menduga bahwa sistem

second messenger seperti adenilate siklase, phosphatidylinosistol

dan regulasi calevium mungkin berkaitan. Glutamat dan glysine

tampaknya berfungsi sebagai neurotrasmiter eksitatorik di SSP.

Mereka terikat pada reseptor NMDA 9 N-methyl-D-aspartate dan

apabila berlebihan berefek neurotoksik. Hipokampus mempunyai

konsentrasi tinggi pada reseptor NMDA sehingga glutamat

Page 44: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

27

bersama dengan hiperkoltisolemia menyebabkan efek

neurokognitif pada stres kronik. Bukti ini didukung dengan obat

antagonis NMDA mempunyai efek anti depresan (Kaplan dan

Sadock 2005).

2.3.3 Regulasi Neuroendokrin

a. Aksis Adrenal

Korelasi antara hipersekresi kortisol dan depresi merupakan

salah satu pengamatan tertua di bidang psikiatri biologi. Hasil

dari penelitian ini adlah bagaimana pelepasan kortisol pada

pasien dengan atau tanpa depresi. Pada satu penelitian, pasien

depresi yang mengalami gangguan fungsi umpan balik cepat,

dimana beberpa dari mereka mengalami gangguan fungsi

reseptor kortisol di hipotalamus. Penelitian lain menduga

bahwa hiperkoltisolemia dapat merusak neuron hipokampus.

Kemudian siklus stres, stimulasi pelepasan kortisol dan

ketidakmampuan kortisol mengakibatkan kerusakan hipo-

kampus yang sudah terganggu (Kaplan dan Sadock 2005,

Gallagher 2003).

b. Aksis Tiroid

Kelainan tiroid ditemukan pada sekitar 5-10% pasien dengan

depresi. Penelitian saat ini terfokus pada kemungkinan subtipe

depresi yang mengalami gangguan autoimun terhadap kelenjar

tiroid. beberapa penelitian melapporkan ± 10% pasien dengan

Page 45: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

28

gangguan mood dan bipolar mempunyao antibodi antitiroid.

Apakah antibodi ini secara nyata terkait patofisiologi depresi

belum dapat ditentukan.

2.4 Diagnosis Depresi

Gangguan depresi pada lanjut usia ditegakkan berpedoman pada

PPDGJ III yang merujuk pada ICD 10. Gejala-gejala ini bukan

merupakan akibat kondisi medik umum atau akibat pemakaian zat, dan

harus menimbulkan gangguan yang bermakna secara klinis dalam fungsi

kehidupan seseorang. Menurut ICD 10, pada gangguan depresi ada tiga

gejala utama yaitu :

a Mood terdepresi.

b Kehilangan minat dan kegembiraan.

c Berkurangnya enersi yang menuju meningkatnya mudah lelah dan

aktivitas menurun.

Disertai gejala lain :

a. Konsentrasi dan perhatian berkurang.

b. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang.

c. Gagasan perasaan bersalah dan tidak berguna.

d. Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis.

e. Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri.

f. Tidur terganggu.

g. Nafsu makan berkurang.

Berlangsung minimal 2 minggu.

Page 46: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

29

Perjalanan penyakit depresi terutama pada usia sangat lanjut

(lebih dari 85 tahun) berkembang sangat perlahan lahan, mirip dengan

gangguan distimik. Gejala gangguan tidur agak sulit untuk dievaluasi

karena gangguan tidur sering terjadi pada lanjut usia yang tidak depresi.

Yang dapat menjadi petunjuk ke arah depresi adalah jika terdapat gejala

bangun lebih awal dari biasanya disertai isi pikiran depresif. Seorang

lanjut usia membutuhkan tidur lebih sedikit dan sering terbangun untuk

buang air kecil pada malam hari. Karena itu penting untuk mengamati

perilaku orang lanjut usia ketika ia terbangun malam hari. Sleep hygiene

juga perlu diperhatikan sebelum memberikan intervensi farmakologis.

Menurunnya perawatan diri, perubahan kebiasaan makan, turunnya berat

badan dapat merupakan tanda awal depresi tapi dapat juga merupakan

tanda-tanda dementia. Oleh karena itu perlu dilakukan juga pemeriksaan

fungsi kognitif dengan Mini Mental State Examination (MMSE) atau

Abbreviated Mental Test (AMT).

2.5 Geriatric Depression Scale (GDS)

Penilaian epidemilogi tentang gangguan jiwa pada usia lanjut

memerlukan instrumen yang dibuat secara khusus untuk mendeteksi apa

yang penting secara klinis bagi kelompok usia ini : pelemahan kognitif,

kemunduran kognitif, demensia, ansietas dan gangguan suasana hati

(mood), keadaan psikotik, dan kapasitas fungsional ADLs. Salah satu

langkah awal yang penting dalam penatalaksanaan depresi adalah

mendeteksi atau mengidentifikasi. Sampai saat ini belum ada konsensus

Page 47: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

30

atau prosedur khusus untuk skrining depresi pada populasi lanjut usia.

Salah satu instrumen yang dapat membantu adalah Geriatric depression

Scale (GDS) yang terdiri 30 pertanyaan yang harus dijawab oleh klien

sendiri. GDS ini dapat dimampatkan menjadi hanya 15 pertanyaan saja

dan ini lebih sesuai untuk dipergunakan sebagai alat skrining depresi

pada lanjut usia. Penilaian depresi bagi lanjut usia harus memperhatikan

beberapa faktor antara lain :

a. GDS (Geriatric Depression Scale) yang terdiri dari 4 pertanyaan (4

butir skala).

b. Faktor kerentanan yang terdiri dari 4 pertanyaan.

c. Bila skor lebih dari 1 pada GDS-4 dan lebih dari 1 pada faktor

kerentanan, maka harus segera dilakukan penilaian yang lebih rinci

(Nuhriawangsa dan Sudiyanto 2008).

Penilaian depresi pada pasien geriatri pada pelayanan kesehatan

primer sangat penting karena prevalensi depresi dan adanya gagasan

untuk bunuh diri pada pasien geriatri adalah tinggi (Blazer et al. 2003).

Penilaian derajad depresi juga perlu dilakukan untuk membantu

edukasi pasien dan memberi pengetahuan tentang gejala-gejala depresi

dan tidak ditujukan untuk membuat diagnosis, namun untuk

mendokumentasikan gejala-gejala depresi sedang sampai berat apapun

penyebabnya (Gallo et al. 2001).

Geriatric Depression Scale (GDS) dirancang untuk menjadi tes

untuk penilaian derajad depresi yang mudah untuk dinilai dan dikelola

Page 48: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

31

(Gallo, et al, 2001). Geriatric Depression Scale memiliki format yang

sederhana dengan pertanyaan-pertanyaan dan respon yang mudah dibaca.

Geriatric Depression Scale telah divalidasi pada berbagai populasi lanjut

usia, termasuk di Indonesia.

GDS dibuat oleh Brink dan kawan-kawan pada tahun 1982 dan

dikembangkan oleh Yesavage dan kawan-kawan. GDS terdiri dari 30

pertanyaan menggunakan format jawaban ”ya” atau ”tidak” yang mudah

dimengerti oleh responden. Dengan kriteria sebagai berikut : (Sheikh dan

Yesavage, 1986).

Skor < 5 : tidak depresi, skor 5-8 : depresi ringan, skor 9-10 :

depresi sedang, skor > 10 depresi berat (Kaplan dan Sadock 2007).

GDS berguna untuk mengetahui derajat atau skor depresi pada

geriatri. Short Form (SF) GDS terdiri dari 15 pertanyaan, di mana skor

lebih dari 11 mengindikasikan adanya depresi (Noviastuti 2002, Sheikh

dan Yesavage 1986). Telah divalidasi Oebit, Universitas Indonesia pada

tahun 1998, skor ”ya” lebih dari 11 mengindikasikan terdapat depresi.

Penelitian Rinaldi (2003) pada 3 seting yang berbeda

menyimpulkan bahwa 5 item GDS sama efektifnya dengan 15 item untuk

menilai depresi pada geriatri dengan kognitif intak (Rinaldi dan Mecocci

2003).

Geriatric Depression Scale terdiri dari 30 pertanyaan yang

dirancang sebagai suatu self-administered test, walaupun telah digunakan

juga dalam format observer-administered test. Geriatric Depression

Page 49: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

32

Scale dirancang untuk mengeliminasi hal-hal somatik, seperti gangguan

tidur yang mungkin tidak spesifik untuk depresi pada pasien geriatri

(Gallo et al. 2001). Skor 11 pada GDS mengindikasikan adanya depresi

yang signifikan secara klinis, dengan nilai sensitivitas 90,11 % dan nilai

spesifisitas 83,67%. Terdapat juga GDS versi pendek yang terdiri dari 15

pertanyaan saja. Pada GDS versi pendek ini, skor 5 atau lebih

mengindikasikan depresi yang signifikan secara klinis. Geriatric

Depression Scale menjadi tidak valid bila digunakan pada pasien dengan

gangguan kognitif. Status kognitif harus terlebih dahulu dinilai dengan

Mini Mental State Examination (MMSE) karena kemungkinan yang besar

dari komorbiditas depresi dan fungsi kognitif (Blazer et al. 2003).

2.6 Depresi Lansia di Panti

Alvin Goldfarb, orang yang meneliti perawatan kejiwaan di panti

pada tahun 1962 memperkirakan prevalensi gangguan kejiwaan diantara

penghuni panti lansia berkisar 87%. Prevalensi berikut diperkirakan

berdasarkan evaluasi sistematik kejiwaan yang telah dibandingkan.

Tahun 1990,Barry Rovner dan kawan-kawan menemukan pasien

gangguan jiwa pada 80% penghuni panti dan Patricia Parmeice

menemukan hampir 90% depresi sedang penghuni panti lansia. Aznan

dan Draman (2007) melaporkan bahwa angka depresi di panti lansia yang

berada di Malaysia ada 22.2% (p=0.032) menggunakan skrening GDS

versi 15 dan yang mandiri sekitar 61.1% diukur menggunakan Barthel

Page 50: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

33

Index. Dilaporkan juga bahwa angka depresi di panti lansia di Singapore

ada sekitar 21%.

The National Institute of Health Consensus Development

Conference Statement on The Diagnosis and Treatment of Depression in

Late Life menekankan pentingnya depresi pada perawatan di panti

sebagai masalah yang membutuhkan perhatian klinisi, peneliti dan

pembuat kebijakan. Pada umumnya pekerja yang bekerja di panti

lansia/panti wreda mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi gejala

depresi. Oleh sebab itu dibutuhkan pelatihan bagi pekerja. GDS dapat

digunakan sebagai alat skrining mengidentifikasi gejala depresi pada

penghuni panti (Nuhriawangsa dan Sudiyanto 2008).

2.7 Mini Mental State Examination

Mini Mental State Examination adalah suatu skala terstruktur

yang terdiri dari 30 poin yang dikelompokkan menjadi tujuh kategori:

orientasi tempat, orientasi waktu, registrasi, atensi dan konsentrasi,

mengingat kembali, bahasa dan konstruksi visual. Mini Mental State

Examination didesain untuk mendeteksi dan mengamati kemajuan dari

gangguan kognitif yang terkait dengan gangguan neurodegenerative

seperti penyakit Alzheimer. Mini Mental State Examination telah terbukti

merupakan instrumen yang valid dan dapat dipercaya. Nilai MMSE 0-16

menunjukkan suatu definite gangguan kognitif (Blazer et al. 2003).

Page 51: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

34

2.8 Aktivitas Kehidupan Sehari-Hari (AKS)

2.8.1 Pengertian Aktivitas Kehidupan Sehari-Hari (AKS)

Salah satu tanda kesehatan adalah adanya kemampuan

seseorang melakukan aktivitas, seperti berdiri, berjalan dan bekerja.

Kemampuan aktivitas seseorang tidak terlepas dari keadekuatan

sistem persyarafan dan musculoskeletal di antaranya dalam sistem

saraf, umumnya lansia mengalami penurunan koordinasi dan

kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Menurut kamus

bahasa Indonesia aktifitas adalah suatu usaha energi atau keadaan

bergerak di mana manusia memerlukan untuk dapat memenuhi

kebutuhan hidup, Aktifitas didefinisikan suatu aksi energetik atau

keadaan bergerak semua manusia memerlukan kemampuan untuk

bergerak (Putten et al. 1999).

Aktifitas kehidupan sehari-hari (AKS) adalah aktifitas yang

biasanya dilakukan dalam sepanjang hari normal. Aktifitas tersebut

mencakup ambulasi, makan, berpakaian, mandi, menyikat gigi dan

berhias (Putten et al. 1999).

Aktivitas adalah suatu energi atau keadaan bergerak di mana

manusia memerlukan hal tersebut agar dapat memenuhi kebutuhan

hidup. Pergerakan itu sendiri merupakan rangkaian yang terintegrasi

antara sistem muskuloskeletal dan sistem persarafan (Setiahardja

2005)

Page 52: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

35

Pergerakan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya

a. Tingkat perkembangan tubuh di mana peningkatan usia akan

mempengaruhi tingkat perkembangan neuromuskuler dan tubuh,

b. Kesehatan fisik, dijelaskan bahwa penyakit, cacat tubuh dan

imobilisasi akan mempengaruhi pergerakan tubuh,

c. Keadaan nutrisi, yang umum terjadi pada lansia adalah

kurangnya nutrisi yang dapat menyebabkan kelemahan otot dan

obesitas sehingga menyebabkan pergerakan muskuloskeletal

menjadi kurang bebas,

d. Kelemahan neuromuskuler dan skletal, yang dapat dilihat

dengan adanya abnormal postur seperti skolosis, lordosis, dan

kiposis sehingga klien lanjut usia akan mengalami keterbatasan

(Setiahardja 2005).

Aktivitas kehidupan sehari-hari adalah hal-hal yang

dilakukan seseorang dengan dirinya sendiri dalam mempertahankan

hidup, kesehatan, dan kesejahteraan. Aktivitas ini meliputi

kebersihan diri, mandi, berpakaian, makan, buang air kecil dan air

besar dan berpindah. Indeks ketidaktergantungan dalam aktivitas

kehidupan sehari-hari tergantung pada evaluasi fungsional

ketidaktergantungan dan ketergantungan pasien dalam mandi,

berpakaian, pergi ke toilet, berpindah, kontinensia dan makan.

(Iskandar 2006).

Page 53: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

36

Berpakaian meliputi aspek ketidaktergantungan berupa

mengambil pakaian dari lemari dan laci, mengenakan pakaian luar,

menangani pengikat, melakukan pengikat tali sepatu adalah

pengecualian. Ketergantungan yaitu tidak mengenakan pakaian

sendiri atau tetap tidak berpakaian sebagian. Pergi ke toilet meliputi

aspek ketidaktergantungan meliputi pergi ke toilet; masuk dan

keluar dari toilet, mengatur pakaian, membersihkan organ ekskresi.

Berpindah meliputi ketidaktergantungan berupa bergerak masuk dan

keluar dari tempat tidur secara mandiri dan pindah kedalam dan

keluar dari kursi secara mandiri (mungkin juga tidak menggunakan

bantuan mekanik). Ketergantungan meliputi bantuan dalam

bergerak masuk dan keluar tempat tidur dan atau kursi, melakukan

satu atau dua perpindahan.

Kontinensia meliputi aspek ketidaktergantungan berupa

berkemih dan defekasi secara keseluruhan terkontrol oleh tubuh.

Makan meliputi aspek ketidaktergantungan meliputi bantuan

mengambil makanan atau memasukan makanannya ke dalam mulut

(memotong-motong daging terlebih dahulu dan menyiapkan

makanan, seperti mengoleskan mentega ke dalam roti).

Ketergantungan berupa bantuan dalam tindakan makan, tidak

makan sama sekali atau makan secara parenteral. Berbagai

kemunduran fisik mengakibatkan kemunduran gerak fungsional

baik kemampuan mobilitas dan perawatan diri. Kemunduran fungsi

Page 54: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

37

mobilitas meliputi penurunan kemampuan mobilitas di tempat tidur,

berpindah, jalan/ambulasi, dan mobilitas dengan alat adaptasi.

Kemunduran kemampuan perawatan diri meliputi penurunan

kemampuan aktivitas makan, mandi, berpakaian, defekasi, dan

berkemih, merawat rambut, gigi, serta kumis dan kuku.

Kemunduran gerak fungsional dapat dikelompokan menjadi

tiga bagian (Setiaharja 2005) diantaranya :

a. Mandiri, yaitu lansia mampu melaksanakan tugas tanpa bantuan

orang lain. (Bisa saja lansia membutuhkan bantuan alat adaptasi

seperti alat bantu jalan, alat kerja, dan lain-lain).

b. Dibantu sebagian, yaitu lansia mampu melaksanakan tugas

dengan beberapa bagian memerlukan bantuan orang lain.

c. Dibantu total, yaitu aktivitas dilakukan sepenuhnya dengan

pengawasan dan bantuan orang lain karena lansia tidak dapat

melakukan aktivitasnya.

Ada beberapa sistem penilaian yang dikembangkan dalam

kemampuan fungsional menurut indeks Katz yang mengukur

aktivitas fungsional mencakup kemampuan aktivitas mandi,

berpakaian, pergi ke toilet, berpindah, mengontrol defekasi dan

berkemih, dan makan.

Menurut Katz (1970), AKS pada lansia dapat diklasifikasi-

kan menjadi:

Page 55: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

38

a. Kebutuhan primer (aktivitas sehari-hari) adalah hal-hal yang

dilakukan seseorang dengan dirinya sendiri dalam

mempertahankan hidup, kesehatan dan kesejahteraan, meliputi

makan, mandi, berpakaian, pergi ke toilet, berpindah buang air

kecil dan air besar.

b. Aktivitas rumah tangga (instrumental) meliputi kebersihan

kamar, tempat tidur, mencuci menyiapkan makanan, merapikan

pakaian dan berbelanja.

c. Aktivitas waktu luang. Meliputi saling bercerita, bermain kartu,

mendengarkan radio, menonton TV, berkebun dan berternak,

mengerjakan keterampilan tangan seperti menyulam, menjahit

dan lain-lain (Darmojo, 1995).

2.8.2 Manfaat Kemampuan AKS Pada Lansia

Menurut Iskandar (2006) manfaat pengukuran aktivitas kehidupan

sehari adalah :

a. Menggambarkan kemampuan umum lansia dalam memerankan

fungsinya sebagai manusia yang mandiri

b. Dapat dipakai oleh tenaga kesehatan untuk memantau kemajuan

terapi dan penilaian pulihnya pasien setelah masa perawatan akibat

penyakit.

c. Memiliki makna dalam memantau respon pengobatan dan

memberikan informasi prognosis sehingga dapat membantu

perencanaan perawatan jangka panjang.

Page 56: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

39

2.8.3 Macam AKS Pada Lansia

a. Pergi kekamar kecil membersihkan diri,

b. Merapikan baju tanpa bantuan (dapat mengunakan objek untuk

menyokong seperti tongkat, walker, atau kursi roda), pergi

kekamar kecil membersihkan diri, atau dalam merapikan pakaian.

c. Berpindah

Berpindah ke dan dari tempat tidur seperti berpindah ke dan dari

kursi tanpa bantuan (mungkin mengunakan alat/objek untuk

mendukung seperti tempat atau alat bantu jalan), berpindah ke

dan dari tempat tidur atau kursi dengan bantuan, bergerak naik

atau turun dari tempat tidur.

d. Kontinen

Mengontrol perkemihan dan defekasi dengan komplit oleh diri

sendiri, kadang-kadang mengalami ketidak mampuan untuk

mengontrol perkemihan dan defekasi, pengawasan membantu

mempertahankan kontrol urin atau defekasi.

e. Makan

Makan sendiri tanpa bantuan, Makan sendiri kecuali

mendapatkan bantuan dalam mengambil makanan sendiri.

Menurut Lueckenotte (2000), aktifitas kehidupan sehari-

hari terdiri dari:

a. Mandi (spon, pancuran, atau bak)

Page 57: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

40

Tidak menerima bantuan (masuk dan keluar bak mandi sendiri jika

mandi dengan menjadi kebiasaan), menerima bantuan untuk mandi

hanya satu bagian tubuh (seperti punggung atau kaki), menerima

bantuan mandi lebih dari satu bagian tubuh (atau tidak

dimandikan).

b. Berpakaian

Mengambil baju dan memakai baju dengan lengkap tanpa bantuan,

mengambil baju dan memakai baju dengan lengkap tanpa bantuan

kecuali mengikat sepatu, menerima bantuan dalam memakai baju,

atau membiarkan sebagian tetap tidak berpakaian.

c. Ke kamar kecil

Pergi kekamar kecil membersihkan diri, dan merapikan baju tanpa

bantuan (dapat mengunakan objek untuk menyokong seperti

tongkat, walker, atau kursi roda, dan dapat mengatur bedpan

malam hari atau bedpan pengosongan pada pagi hari, menerima

bantuan kekamar kecil membersihkan diri, atau dalam merapikan

pakaian setelah eliminasi, atau mengunakan bedpan atau pispot

pada malam hari, tidak ke kamar kecil untuk proses eliminasi.

d. Berpindah

Berpindah ke dan dari tempat tidur seperti berpindah ke dan dari

kursi tanpa bantuan (mungkin mengunakan alat/objek untuk

mendukung seperti tempat atau alat bantu jalan), berpindah ke dan

Page 58: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

41

dari tempat tidur atau kursi dengan bantuan, bergerak naik atau

turun dari tempat tidur.

e. Kontinen

Mengontrol perkemihan dan defekasi dengan komplit oleh diri

sendiri, kadang-kadang mengalami ketidakmampuan untuk

mengontrol perkemihan dan defekasi, pengawasan membantu

mempertahankan kontrol urin atau defekasi.

f. Makan

Makan sendiri tanpa bantuan, Makan sendiri kecuali mendapatkan

bantuan dalam mengambil makanan sendiri, menerima bantuan

dalam makan sebagian atau sepenuhnya dengan menggunakan

selang atau cairan intravena.

2.8.4 Skala AKS

Skala AKS terdiri atas skala AKS dasar atau basic activities of

daily living (BADLs),instrumental or intermediate activity of daily

living (IADLs), advanced activities of daily living (AADLs). Skala

AKS dasar mengkaji kemampuan dasar seseorang untuk merawat

dirinya sendiri(self care), dan hanya mewakili rentang (range) yang

sempit dari kinerja (performance). Skala AKS dasar ini sangat

bermanfaat dalam menggambarkan status fungsional dasar dan

menentukan target yang ingin dicapai untuk pasien-pasien dengan

Page 59: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

42

derajad gangguan fungsional yang tinggi, terutama pada pusat-pusat

rehabilitasi (Iskandar 2006 dan Reuben 2003)

Skala AKS dasar ini juga bermanfaat dalam menentukan

kebutuhan pasien untuk bantuan fungsional dasar mereka sehari-hari,

selama tinggal di rumah atau selama perawatan di rumah sakit

(Setiahardja 2005).

Skala AKS instrumental (IADLs) digunakan untuk mengkaji

derajad/tingkat kinerja yang lebih tinggi, seperti melakukan kegiatan

rumah tangga atau pergi berbelanja ke pasar/ supermarket. Skala AKS

instrumental (IADLs) terdiri atas 7 aktivitas manusia sehari-hari yang

dibutuhkan agar dapat tetap mandiri di dalam masyarakat. Aktivitas

tersebut antara lain : memasak, berbelanja, merawat/ mengurus rumah,

mencuci, mengatur keuangan, minum obat dan memanfaatkan sarana

trasportasi. Manusia yang hidup di dalam masyarakat tetapi tidak dapat

melakukan IADLs ini, umumuya tidak dapat berfungsi dengan baik di

dalam rumah (Soejono CH 2000).

Skala advanced activities of daily living (AADLs) mengacu

kepada kemampuan yang penuh dan lengkap untuk bersosialisasi

dengan masyarakat, dan kegiatan dalam keluarga, mengikuti/

berpartisipasi dalam tugas dan pekerjaan serta berekreasi. Aktivitas

pada AADLs sangatlah bervariasi antar individu satu dengan individu

lainnya tetapi memiliki kemaknaan dalam memantau status fungsional

Page 60: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

43

sebelum berkembang menjadi menjadi ketidak mampuan (disability)

(Iskandar 2006).

Terdapat sejumlah alat atau instrumen ukur yang telah teruji

validitasnya untuk mengukur AKS dasar antara lain indeks AKS

Barthel, indeks Katz. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi defisit

status fungsional dasar dan mencoba memperoleh cara mengatasi dan

memperbaiki status fungsional dasar tersebut. Karena banyaknya

lansia memiliki penyakit kronik dan atau degenerarif yang multipel,

maka skor AKS dasar dan IADLs merupakan prediktor yang lebih kuat

untuk menentukan hasil pelayanan kesehatan dibandingkan dengan

diagnosis medis semata (Iskandar 2006, Setiati et al. 1996).

2.8.5 Macam AKS

Menurut Setiahardja (2005) ada beberapa macam dari AKS ini

antara lain

a) AKS dasar, sering disebut hanya AKS saja, yaitu ketrampilan dasar

yang harus dimiliki seseorang untuk merawat dirinya, meliputi

berpakaian, makan minum, toiletting, mandi, berhias. Ada juga

yang memasukkan kontinensi buang air besar dan buang air kecil

ke dalam kategori AKS dasar ini.

b) AKS instrumental, yaitu AKS yang berhubungan dengan

penggunaan alat atau benda penunjang kehidupan sehari-hari

seperti menyiapkan makanan, menggunakan telepon, menulis,

Page 61: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

44

mengetik, mengelola uang kertas dan koin (menghitung, memberi

kembalian), ada yang memasukkan mengemudi di dalam kategori

AKS instrumental ini (Darmojo 1999).

c) AKS vokasional, yaitu AKS yang berhubungan dengan pekerjaan

atau kegiatan.

d) AKS non vokasional, yaitu AKS yang bersifat rekreasional, hobi

dan mengisi waktu luang.

2.8.6 Cara Pengukuran AKS

AKS mencakup kategori yang sangat luas dan dibagi-bagi

menjadi subkategori atau domain seperi berpakaian, makan, minum,

toiletting, hiegiene pribadi, mandi, berpakainan, berhias, trasfer,

mobilitas, komunikasi, vokasional, rekreasi, instrumental

(Setiahardja, 2005).

Pengukuran kemandirian AKS akan lebih mudah dinilai dan

dievaluasi secara kuantitatif dengan sistim skor yang sudah banyak

dikemukakan oleh berbagai penulis.(Setiahardja 2005).

Indeks Katz menilai 6 item, salah satunya adalah transfer, tetapi

tidak menilai ambulasi, baik berjalan dengan/ tanpa alat bantu atau

dengan kursi roda sehingga kurang terinci (Setiahardja 2005)

Page 62: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

45

2.9 Index Barthel (IB)

Indeks Barhel mengukur kemandirian fungsional dalam hal

perawatan diri dan mobilitas. Setiahardja (2005) mengungkapkan bahwa IB

dapat digunakan sebagai kriteria dalam menilai kemampuan fungsional

bagi lansia yang mengalami gangguan keseimbangan terutama pada lansia

pasca stroke.

Tabel 2.1 Indeks Barthel

Indeks Barthel (IB)

no Item yang dinilai dibantu mandiri

1

2

3

4

5

6

7

8

Makan (bila makanan harus dipotong-potong

dulu (dibantu)

Transfer dari kursi roda ke tempat tidur dan

kembali (termasuk duduk di bed)

Higiene personal (cuci muka, menyisir, bercukur

jenggot, gosok gigi)

Naik dan turun kloset/WC (melepas/memakai

pakaian, cawik, menyiram WC)

Mandi

Berjalan di permukaan datar (atau bila tidak

dapat berjalan, dapat mengayuh kursi roda

sendiri)

Naik dan turun tangga

Berpakaian (termasuk memakai tali sepatu,

5

5-10

0

5

0

10

5

5

10

15

5

10

5

15

10

10

Page 63: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

46

9

10

menutup retslet-ing)

Mengontrol anus

Mengontrol kandung kemih

5

5

10

10

(Hobart JC et al. 2001)

Catatan : Diberikan nilai nol bila pasien tidak dapat melakukan kriteria yang

telah ditentukan.

IB tidak mengukur AKS instrumental, komunikasi dan psikososial. IB

merupakan skala yang dinilai oleh dokter yang diambil dari catatan medik

penderita, pengamatan langsung atau dicatat sendiri oleh lansia yang

bersangkutan. Dapat dikerjakan dalam waktu 10 menit saja. IB versi 10 item

dan mempunyai skor keseluruhan yang berkisar antara 0-100, dengan skor

yang lebih besar menunjukkan lebih mandiri (Setiahardja 2005).

Tabel 2.2 Intepretasi Indeks Barthel

Penulis Nilai score Intepretasi

Granger

0 - 20

21 - 40

41 - 60

61 - 90

91- 100

Dependen Total

Dependen Berat

Dependen Sedang

Dependen Ringan

Mandiri

Page 64: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

47

Wartski dan Green menguji 41 pasien dengan interval 3 minggu,

ternyata hasilnya cukup konsisten. Ada 35 pasien yang skornya turun 10 poin.

Collin dkk meneliti konsistensi laporan sendiri dan laporan dari perawat,

didasarkan pengamatan klinis, pemeriksaan dari perawat dan pemeriksaaan

fisioterapis. Ternyata koefisien konkordansi (kesesuaian) dari Kendall

menunjukkan angka 0,93 yang berarti pengamatan berulang dari orang yang

berbeda akan menghasilkan kesesuaian yang sangat memadai (Setiahardja

2005)

Iskandar (2006) melaporkan kesahihan dari IB ini dengan Spearman

correlation coefficient dan melihat nilai rho (r) masing masing butir. Hasil

yang didapatkan semua butir berhubungan bermakna dengan nilai total

(p<0,001). Semua butir mempunyai nilai r > 0,3. Uji kesahihan eksternal AKS

Barthel dibandingkan AKS Katz dianalisis dengan uji Spearman correlation

coefficient menunjukkan hubungan bermakna (p<0,01), yaitu antara butir dan

nilai total AKS Barthel dengan butir dan nilai total AKS Katz.

2.10 Faktor Yang Mempengaruhi AKS Lansia

Faktor yang mempengaruhi dari kemauan dan kemampuan untuk

melaksanakan aktifitas sehari-hari pada lansia adalah sebagian berikut

(Iskandar 2006) :

2.10.1 Faktor-faktor dari dalam diri sendiri

a) Umur

Page 65: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

48

Kemampuan aktifitas sehari-hari pada lanjut usia dipengaruhi

dengan umur lanjut usia itu sendiri. Semakin tua ketergantungannya

semakin besar. Umur seseorang menunjukkan tanda kemauan dan

kemampuan, ataupun bagaimana seseorang bereaksi terhadap ketidak

mampuan melaksanakan aktifitas sehari-hari (Potter 2005).

b) Kesehatan fisiologis

Kesehatan fisiologis seseorang dapat mempengaruhi

kemampuan partisipasi dalam aktifitas sehari-hari, sebagai contoh

sistem nervous mengumpulkan dan menghantarkan, dan mengelola

informasi dari lingkungan. Sistem muskuloskletal mengkoor-

dinasikan dengan sistem nervous sehingga seseorang dapat merespon

sensori yang masuk dengan cara melakukan gerakan. Gangguan pada

sistem ini misalnya karena penyakit, atau trauma injuri dapat

mengganggu pemenuhan aktifitas sehari-hari.

c) Fungsi kognitif

Kognitif adalah kemampuan berfikir dan rasional, termasuk

proses mengingat, menilai, orientasi, persepsi dan memperhatikan

(Keliat 1995). Tingkat fungsi kognitif dapat mempengaruhi

kemampuan seseorang dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Fungsi

kognitif menunjukkan proses menerima,mengorganisasikan dan

menginter-prestasikan sensor stimulus untuk berfikir dan

menyelesaikan masalah. Proses mental memberikan kontribusi pada

fungsi kognitif yang meliputi perhatian memori, dan kecerdasan.

Page 66: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

49

Gangguan pada aspek-aspek dari fungsi kognitif dapat mengganggu

dalam berfikir logis dan menghambat kemandirian dalam

melaksanakan aktifitas sehari-hari.

d) Fungsi psikologis

Fungsi psikologis menunjukkan kemampuan seseorang untuk

mengingat sesuatu hal yang lalu dan menampilkan informasi pada

suatu cara yang realistik. Proses ini meliputi interaksi yang komplek

antara perilaku interpersonal dan interpersonal. Kebutuhan

psikologis berhubungan dengan kehidupan emosional seseorang.

Meskipun seseorang sudah terpenuhi kebutuhan materialnya, tetapi

bila kebutuhan psikologisnya tidak terpenuhi, maka dapat

mengakibatkan dirinya merasa tidak senang dengan kehidupanya,

sehingga kebutuhan psikologi harus terpenuhi agar kehidupan

emosionalnya menjadi stabil.

e) Tingkat stres

Stres merupakan respon fisik non spesifik terhadap berbagai

macam kebutuhan. Faktor yang menyebabkan stres disebut stresor,

dapat timbul dari tubuh atau lingkungan dan dapat mengganggu

keseimbangan tubuh. Stres dibutuhkan dalam pertumbuhan dan

perkembangan. Stres dapat mempunyai efek negatif atau positif pada

kemampuan seseorang dalam memenuhi aktifitas kehidupan sehari-

hari (Miller 1995).

2.10.2 Faktor dari Luar Meliputi :

Page 67: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

50

a) Lingkungan keluarga

Keluarga masih merupakan tempat berlindung yang paling

disukai para lanjut usia. Lanjut usia merupakan kelompok lansia yang

rentan masalah, baik masalah ekonomi, sosial, budaya, kesehatan

maupun psikologis, oleh karenanya agar lansia tetap sehat, sejahtera

dan bermanfaat, perlu didukung oleh lingkungan yang konduktif

seperti keluarga.

b) Lingkungan tempat kerja

Kerja sangat mempengaruhi keadaan diri dalam bekerja,

karena setiaap kali seseorang bekerja maka memasuki situasi

lingkungan tempatnya bekerja. Tempat yang nyaman akan membawa

seseorang mendorong untuk bekerja dengan senang dan giat.

c) Ritme biologi

Waktu ritme biologi dikenal sebagai irama biologi, yang

mempengaruhi fungsi hidup manusia. Irama biologi membantu mahluk

hidup mengatur lingkungan fisik disekitarnya. Beberapa faktor yang

ikut berperan pada irama sakardia diantaranya faktor lingkungan

seperti hari terang dan gelap. Serta cuaca yang mempengaruhi aktifitas

sehari-hari.

2.11 Logoterapi

Psikoterapi adalah cara pengobatan terhadap masalah

emosional yang dilakukan secara profesional oleh orang yang terlatih

dengan cara mengubah atau menghambat gejala yang ada, mengoreksi

Page 68: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

51

perilaku yang terganggu dan mengembangkan pertumbuhan yang

positif dengan tujuan utama agar pasien dapat dewasa (mature),

bahagia (happy) dan mandiri (independence) (Sudiyanto 2007).

Menurut Alvin Godfarb, psikoterapi pada lansia memiliki

tujuan umum yaitu untuk menjadikan keluhan yang minimal,

membantu mereka membuat dan mempertahankan teman dan memiliki

hubungan seksual jika mereka memiliki minat dan kemampuan.

Sedangkan menurut Kaplan dan Sadock (2007) psikoterapi mem-

bantu menghilangkan ketegangan yang berasal dari biologis dan

kultural, mambantu lansia bekerja dan berkativitas dalam batas-batas

status fungsionalnya dan dipengaruhi oleh latihan, aktivitas dan konsep

diri mereka di masa lalu.

2.11.1 Konsep Dasar Logoterapi

Kata logos dalam bahasa Yunani berarti makna (meaning) dan

juga rohani (spirituality), sedangkan terapi adalah penyembuhan atau

pengobatan. Sekalipun pada awalnya logoterapi merupakan metode

psikoterapi praktis, tetapi kemudian logoterapi meluas dan

mengembangkan filsafat manusia, teori kepribadian, teori

psikopatologi dan metode pengembangan pribadi menuju kualitas

hidup yang bermakna (Bastaman 2007).

Logoterapi yang dipelopori oleh Victor Frankl dikenal sebagai

aliran ketiga psikoterapi dari Viena, dengan demikian logoterapi

disejajarkan dengan psikoanalisis Freud dan psikologi individual

Page 69: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

52

Adler. Logoterapi mulai dikembangkan oleh Frankl pada tahun 1930

karena ketidak puasannya terhadap sudut pandang aliran psikoanalitik

yang lebih mengutamakan dorongan insting untuk memuaskan diri

sebagai dasar psikopatologi dalam penderitaan manusia, demikian juga

dengan sudut pandang Adler yang lebih mengutamakan

psikopatologidari sudut pandang kemampuan sosial manusia dan

keinginan manusia untuk berkuasa sebagai sumber penderitaannya

(Bastaman 2007, Frankl 2006, Guttman 1996, Langle 2003, Lukas

1986).

Victor Emile Frankl atau lebih sering dikenal dengan Victor

Frankl dilahirkan di Wina, ibu kota Austria pada tanggal 26 Maret

1905. Di kota itu pula lahir tokoh-tokoh psikologi seperti Mesmer

(Terapi Hipnosa), Feuchtesleben (Psikologi Kesehatan), Sigmund

Freud (Psikoanalisa), dan Adler (Psiko Individual). Frankl adalah

professor dalam bidang Neurobiologi dan Psikiatri di University of

Vienna Medikal School dan guru luar biasa bidang logoterapi pada U.S

Internasional University.

Logoterapi sebagai suatu teknik psikoterapi menerapkan

pendekatan dari sudut spiritual yang memfasilitasi manusia untuk

menyadari keberadaan dirinya dan makna tujuan hidupnya sehingga

dengan demikian akan membuat manusia mampu untuk bertanggung

jawab dan menghargai situasi hidup yang dihadapinya (Syamsulhadi

2009).

Page 70: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

53

Dengan logoterapi, lansia yang menghadapi kesukaran yang

menakutkan atau berada dalam kondisi yang tidak memungkinkannya

beraktivitas dan berkreativitas, dibantu untuk menemukan makna

hidupnya dengan cara bagaimana lansia menghadapi kondisi tersebut

dan bagaimana lansia mengatasi penderitaannya. Dengan cara ini,

lansia dibantu untuk menggunakan kejengkelan dan penderitaannya

sehari-hari sebagai alat untuk menemukan tujuan hidupnya. Peradaban

kita saat ini meyakinkan banyak orang untuk melihat penderitaan

sebagai suatu “ takdir” yang tidak dapat dicegah dan dielakkan. Akan

tetapi logoterapi mengajarkan kepada klien untuk melihat nilai positif

dari penderitaan dan memberikan kesempatan untuk merasa bangga

terhadap penderitaannya. Salah satu teknik yang digunakan dalam

logoterapi adalah teknik persuasif, yaitu membantu klien untuk

mengambil sikap yang lebih konstruktif dalam menghadapi

kesulitannya. Frankl dalam logoterapinya menyebutkan tiga asumsi

yaitu : kebebasan berkendak, kedua bahwa orang yang dilengkapi

“will to meaning” sejak lahir, yang tidak mengejar kekuasaan atau

kesenangan tetapi untuk menemukan meaning dan tujuan hidupnya

(motivation for living atau kehendak untuk hidup bermakna). Ketiga,

Frankl mempercayai bahwa orang memiliki kebebasan untuk

menemukan personal meaning dalam berbagai situasi (makna hidup),

entah melalui aktivitas, pengalaman atau sikap yang bermakna

(Syamsulhadi, 2009)

Page 71: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

54

Lukas (1986), melihat ada dua bagian besar antara individu

yang telah menemukan personal meaning dan individu yang masih

mencari personal meaning. Individu yang belum menemukan personal

meaning dapat dibedakan menjadi dua bagian lagi yaitu individu yang

berhenti dan terperangkap (stuck) dalam pencarian mereka (people in

doubt), dan individu yang masih aktif mencari personal meaning nya.

Sedangkan individu yang telah menemukan personal meaning juga

dibagi dua, yaitu individu yang memiliki sistem nilai piramidal (people

in despair) dan individu yang memiliki sistem nilai paralel.

Kratochil (dalam Lukas 1986) mengungkapkan, individu yang

memiliki sistem nilai piramidal adalah individu yang hanya memiliki

satu nilai besar dalam hidupnya di atas nilai-nilai kehidupannya yang

lain. Sedangkan individu yang memiliki sistem nilai paralel adalah

individu yang memiliki beberapa nilai yang sama-sama kuat dalam

kehidupannya, semua nilai yang dimilikinya sama berartinya.

Kratochvil juga menegaskan bahwa individu yang memiliki sistem

nilai paralel umumnya lebih sehat dan stabil dari pada individu yang

memiliki sistem nilai piramidal. Ada dua alasan yang mendasari

pemikiran Kratochvil ini, yaitu: Individu yang memiliki sistem nilai

paralel lebih mudah menggantikan (replace) nilai miliknya yang

hilang. Misalnya seorang ibu yang berhenti berkarier, masih memiliki

prestasi lain di kegiatan sosial dan kesibukan dalam rumah tangganya.

Sedangkan individu dengan sistem nilai piramidal, konsep keseluruhan

Page 72: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

55

hidupnya mudah dikacaukan (shambles). Umumnya individu yang

hanya memegang satu nilai tertinggi cenderung fanatik atau tidak dapat

bertoleransi terhadap suatu situasi kehidupan, misalnya seorang ibu

yang hidup hanya untuk anaknya, sulit untuk memahami perilaku ibu-

ibu lain yang dapat menitipkan anaknya untuk pergi bekerja.

2.11.2 Landasan Filsafat Logoterapi

Menurut Bastaman (2007), setiap aliran dalam psikologi memiliki

landasan filsafat kemanusiaan yang mendasari seluruh ajaran, teori dan

penerapnnya. dalam hal ini logoterapi juga memiliki filsafat manusia yang

merangkum dan melandasi asas-asas, ajaran dan tujuan logoterapi, yaitu

the freedom of will, the will to meaning dan the meaning of life.

a. The Freedom of Will (Kebebasan Berkehendak)

Kebebasan ini sifatnya bukan tak terbatas karena manusia adalah

mahkluk serba terbatas. Manusia sekalipun dianggap sebagai mahkluk

yang memiliki berbagai potensi luar biasa, tetapi sekaligus memiliki

juga keterbatasan dalam aspek ragawi, aspek kejiwaan, aspek sosial

budaya.

b. The Will to Meaning (Hasrat untuk Hidup Bermakna)

Setiap orang menginginkan dirinya menjadi orang yang bermartabat

dan berguna bagi dirinya, keluarga, lingkungan kerja, masyarakat

sekitar dan berharga di mata tuhan. Keinginan untuk hidup bermakna

memang benar-benar merupakan motivasi utama pada manusia. Hasrat

inilah yang mendorong setiap manusia untuk melakukan berbagai

Page 73: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

56

kegiatan seperti kegiatan bekerja dan bekerja agar hidupnya dirasakan

berarti dan berharga.

c. The Meaning of Life (Makna Hidup)

Makna hidup adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan

berharga serta memberikan nilai khusus bagi seseorang, sehingga

layak dijadikan tujuan dalam kehidupan (the purpose in life). Bila hal

ini berhasil dipenuhi akan menyebabkan seseorang merasakan

kehidupan yang berarti dan pada akhirnya akan menimbulkan

perasaan bahagia (happiness).

Frankl menjelaskan bahwa makna hidup bisa berbeda antara manusia

yang satu dengan yang lain dan berbeda setiap hari, bahkan setiap

jam. Karena itu yang penting bukan makna hidup secara umum

melainkan, makna khusus dari hidup seseorang pada suatu saat

tertentu.

Sesuai dengan ajaran logoterapi, Frankl berpendapat bahwa

manusia dapat memperoleh makna hidup yang bersumber dari :

a Nilai nilai kreatif (creative values), yaitu berkarya, bekerja,

mencipta dan melaksanakan satu kegiatan dengan baik karena

mencintai kegiatan itu.

b Nilai-nilai penghayatan (experiental values) yaitu meyakini dan

menghayati kebenaran, keyakinan, keindahan, cinta kasih dan

keimanan.

Page 74: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

57

c Nilai-nilai bersikap (attitudinal values), yaitu mengambil sikap

tepat atas pengalaman tragis yang tak terhindarkan.

Apabila seseorang tidak lagi dapat menemukan makna

hidupnya dari kreativitas atau kegiatan yang dilakukan (ceative value)

dan pengalaman hidup tidak lagi memberi makna (experiental

values), Frankl berpendapat bahwa seseorang masih dapat

menemukan makna hidup dengan cara “mengatasi penderitaannya”

(attitudinal values).

Attitudinal values inilah yang merupakan ajaran mendasar dari

Frankl dalam logoterapi, yaitu melihat makna positif dari satu

penderitaan. Logoterapis mendorong klien untuk melihat sisi baik dari

suatu penderitaan dengan cara menerima penderitaan tersebut.

Dengan demikian, akan memungkinkan klien untuk merealisasikan

makna hidup yang tertinggi dan terbaik. Jadi, inti dari ajaran

logoterapi adalah semua orang mendapat kesempatan untuk

merealisasikan “attitudinal values”, yaitu menemukan makna hidup

dengan menghadapi penderitaan sampai nafas terakhir (Bastaman

2007, Boeree 2006, Guttman 1996, Langle 2003, Lukas 1986).

Dalam logoterapi lansia dibantu untuk menemukan nilai-nilai

baru dan mengembangkan filosofi konstruktif dalam kehidupannya.

Oleh karena itu, seseorang logoterapis tidaklah mengobati gejala-

gejala yang tampak pada pasien atau klien secara langsung, akan

tetapi mengadakan perubahan sikap neurotik klien terlebih dahulu.

Page 75: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

58

Klien bertanggung jawab pada dirinya sendiri dan logoterapis

memberikan dorongan untuk memilih, mencari dan menemukan

sendiri makna konkrit dari eksistensi pribadinya. Seorang logoterapis

membantu klien untuk menyusun 3 macam nilai yang akan memberi

arti pada eksistensi, yaitu: creative values, experiental values, dan

attitudinal values. Dalam proses terapi, klien diperlihatkan bagaimana

membuat hidup menjadi penuh arti dengan “ the experience of love”.

Pengalaman ini akan membuatnya mampu menikmati ketulusan,

keindahan dan kebaikan dan mampu mengerti akan manusia dengan

keunikan-keunikan pribadinya. Dengan demikian, diharapkan klien

dapat melihat bahwa penderitaan mungkin sangat berguna untuk

membantunya dalam mengubah sikap hidup, misalnya situasi yang

tidak dapat diperbaiki yang disebut oleh Frankl sebagai “ takdir”

mungkin harus diterima (Syamsulhadi 2009).

2.11.3 Tiga Asas Utama Logoterapi

Bastaman (2007) mengemukakan dalam logoterapi terkandung asas-asas

yang telah teruji kebenarannya oleh penemunya sendiri dalam

“laboratorium hidup” kamp konsentrasi, yaitu

a Hidup tetap memiliki makna dalam setiap situasi, bahkan dalam

kepedihan dan penderitaan sekalipun. Makna adalah suatu yang

dirasakan penting, benar, berharga dan didambakan serta memberikan

nilai khusus bagi seseorang sehingga layak menjadi tujuan hidup.

Setiap manusia selalu mendambakan hidupnya bermakna dan ingin

Page 76: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

59

menemukannya. Apabila makna hidup berhasil ditemukan dan

dipenuhi maka akan menyebabkan kehidupan ini berarti dan mereka

yang berhasil menemukan dan mengembangkannya akan merasakan

kebahagiaan sebagai ganjarannya sekaligus terhindar dari

keputusasaan.

b Setiap manusia memiliki kebebasan yang hampir tak terbatas untuk

menemukan sendiri makna hidupnya. Makna hidup dan sumber-

sumbernya dapat ditemukan dalam kehidupan itu sendiri, khususnya

pada pekerjaan dan karya bakti yang dilakukan, serta dalam keyakinan

terhadap harapan dan kebenaran, serta penghayatan atas keindahan,

iman, dan cinta kasih.

c Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengambil sikap terhadap

penderitaan dan peristiwa tragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang

menimpa dirinya dan lingkungannya

Menurut Bastaman (2007) ketiga asas itu tercakup dalam ajaran

logoterapi mengenai eksistensi manusia dan makna hidup sebagaimana

berikut :

a. Dalam setiap keadaan termasuk dalam penderitaan seperti apapun,

kehidupan selalu mempunyai makna.

b. Kehendak untuk hidup bermakna merupakan motivasi utama setiap

orang.

Page 77: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

60

c. Dalam batas-batas tertentu manusia memiliki kebebasan dan tanggung

jawab pribadi untuk memilih, menentukan dan memenuhi makna dan

tujuan hidupnya.

d. Hidup yang bermakna diperoleh dengan jalan merealisasikan tiga nilai

kehidupan, yaitu nilai-nilai kreatif (Creative value), nilai-nilai

penghayatan (experentiale value), nilai-nilai bersikap (Attitudinal

value).

Eksistensi manusia menurut logoterapi ditandai oleh kerohanian

(spirituality), Kebebasan (freedom), dan tanggung jawab (responsibility),

Selain asas-asas dan ajaran tersebut, logoterapi sebagai teori kepribadian

dan terapi praktikal memiliki tujuan agar setiap pribadi :

a. Memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara

universal ada pada setiap orang terlepas dari ras, agama, dan keyakinan

yang dianut.

b. Menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan,

terhambat dan diabaikan bahkan terlupakan.

c. Memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari

penderitaan untuk mampu tegak kokoh menghadapi berbagai kendala,

dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup

yang lebih bermakna.

Hal ini berarti manusia memiliki sumber daya rohaniah yang luhur

di atas kesadaran akal, memiliki kebebasan untuk melakukan hal-hal

terbaik bagi dirinya, dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap segala

Page 78: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

61

tindakannya. Kerohanian dalam logoterapi merupakan sumber dari potensi

sifat, kemampuan, dan kualitas khas manusia (human qualities), seperti

hasrat untuk hidup bermakna, kreativitas, keimanan, religiusitas, intuisi

dan cinta kasih. Aspek kerohanian yang merupakan dimensi spiritual ini

dalam logoterapi mendapatkan tempat utama dan dikenal sebagai “Nốốs”.

Salah satu konsep utama Viktor Frankl adalah konsep suara hati (hati

nurani), dia melihat hati nurani sebagai suatu bagian alam bawah sadar

spirit (jiwa/semangat), yang berbeda dari alam bawah sadar insting

(konsep Freud) sebagai pusat diri dan sumber kesatuan diri manusia.

Manusia yang kehilangan makna hidupnya berarti nốốs dalam dirinya

sedang tertutup sehingga berbagai macam kekecewaan dan penderitaan

akan dirasakannya sangat berat yang akhirnya menimbulkan penderitaan

pada dirinya dalam berbagai bentuk gangguan jiwa maupun gangguan

somatik.

Frankl mengatakan “menjadi manusia adalah dengan bertanggung

jawab terhadap keberadaan diri, intuisi hati nurani dan pribadi yang lebih

tinggi.” Merujuk pada pribadi sesungguhnya dalam situasi nyata dan tidak

dapat disederhanakan dalam hukum yang universal. Jiwa itu harus hidup.

Frankl merujuk kesadaran sebagai suatu refleksi awal pengertian diri atau

sebagai kebijaksanaan dari hati nurani, yang lebih sensitif dari segala

alasan yang dapat dirasakan, jika kesadaran akan diri dapat dibangkitkan

maka hal ini akan memberikan makna dalam kehidupan yang dapat

menghilangkan segala penderitaan dan gangguan pada jiwa maupun

Page 79: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

62

gangguan somatik yang timbul akibat kehampaan nốốs (Bastaman 2007,

Frankl 2006).

2.11.4 Teknik Logoterapi

Teknik logoterapi berada dalam bentuk logophilosophy (Kirchbach

2002) dan kesadaran terhadap nilai (Hutzell dan Jerkins 1990). Namun

pada dasarnya seluruh teknik logoterapi berdasarkan personal eksistensial

analisis yang terdiri dari :

a. Teknik Paradoksikal Intention

Teknik yang berdasarkan konsep kebebasan berkeinginan

(freedom of will). teknik ini menggunakan kemampuan manusia dalam

mengambil keputusan dan mengambil jarak terhadap dirinya sendiri

yang memungkinkan ia membangun suatu pola perilaku terutama

dimana ia dapat meilhat dirinya.

Teknik Intens Paradoksikal pada dasarnya memanfaatkan

kemampuan mengambil jarak (self detachment) dan kemampuan

mengambil sikap (to take a stand) terhadap kondisi diri sendiri dan

lingkungan. Teknik ini juga memanfaatkan salah satu kualitas khas

manusia lainnya, yaitu rasa humor (sense of humor), khususnya humor

terhadap diri sendiri. Dalam penerapannya teknik ini membantu pasien

untuk menyadari pola keluhannya, mengambil jarak atas keluhannya

itu serta menanggapinya secara humoristis. Pemanfaatan rasa humor

ini diharapkan dapat membantu pasien untuk tidak lagi memandang

gangguan-gangguannya sebagai sesuatu yang berat mencekam, tetapi

Page 80: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

63

berubah menjadi sesuatu yang ringan dan bahkan lucu (Bastaman

2007). Teknik Paradoxical Intention memiliki keterbatasan, yaitu sulit

dilakukan bagi lansia yang kurang memilki rasa humor. Selain itu,

teknik ini memiliki kontra indikasi dengan kasus depresi dengan

kecenderungan bunuh diri.

b Dereflection

Teknik yang berdasarkan konsep keinginan kepada makna (the

will to meaning) dan kemapuan transendensi diri (self transendens).

Dalam transendensi diri ini seseorang berupaya untuk keluar dan

membebaskan diri dari kondisinya, lalu tidak mengacuhkan lagi kondisi

itu. Selanjutnya lebih mencurahkan perhatiannya kepada hal-hal lain

yang lebih positif dan berguna baginya.

Dengan lain kata tehnik ini memanfaatkan kemampuan

transendensi diri (self- transcendence) yang ada pada setiap manusia

dewasa. Artinya kemampuan untuk membebaskan diri dan tidak

memerhatikan lagi kondisi yang tidak nyaman untuk kemudian lebih

mencurahkan perhatian kepada hal-hal lain yang positif dan bermanfaat.

Dengan berusaha mengabaikan keluhannya dan memandangnya secara

ringan, kemudian mengalihkan perhatian kepada hal-hal bemanfaat,

gejala hyper intention dan hyper reflection menghilang. Selain itu, akan

terjadi perubahan sikap, yaitu dari yang semula terlalu memerhatikan diri

sendiri (self concerned) menjadi komitmen terhadap sesuatu yang

penting baginya (self commitment) (Bastaman 2007).

Page 81: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

64

c. Medical Ministry

Dalam kehidupan sering ditemukan berbagai pengalaman tragis

yang tak dapat dihindarkan lagi, sekalipun upaya-upaya penanggulangan

telah dilakukan secara maksimal, tetapi tak berhasil. Untuk itu,

logoterapi mengarahkan penderita untuk berusaha mengembangkan

sikap (attitude) yang tepat dan positif terhadap kondisi tragis tersebut.

Metode ini merupakan metode logoterapi yang semula diterapkan di

kalangan medis, khususnya gangguan-gangguan somatogenik (misalnya

depresi pasca amputasi). Namun selanjutnya, metode digunakan pula

oleh para profesional lain dalam mengatasi berbagai kasus tragis

nonmedis (misalnya PHK, perceraian). Pendekatan ini memanfaatkan

kemampuan untuk mengambil sikap (to take a stand) terhadap kondisi

diri dan lingkungan yang tak mungkin diubah lagi. Medical ministry

merupakan realisasi dari nilai-nilai bersikap (attitudinal values) sebagai

salah satu sumber makna hidup. Tujuan utama metode medical ministry

membantu seseorang menemukan makna dari penderitaannya : meaning

in suffering (Bastaman 2007).

d. Existential Analysis/Logoterapi

Dengan metode ini terapis membantu penderita neurosis

noogenik dan mereka yang mengalami kehampaan hidup untuk

menemukan sendiri makna hidupnya dan mampu menetapkan tujuan

hidup secara lebih jelas. Makna hidup ini harus mereka temukan sendiri

dan tak dapat ditentukan oleh siapa pun, termasuk oleh logoterapis.

Page 82: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

65

Fungsi logoterapis hanya sekadar membantu membuka cakrawala

pandangan para penderita terhadap berbagai nilai sebagai sumber makna

hidup, yaitu nilai kreatif, nilai penghayatan, dan nilai bersikap. Di

samping itu, logoterapi menyadarkan mereka terhadap tanggung jawab

pribadi untuk keluar dari kondisi kehampaan hidup. Dalam proses

penemuan makna hidup ini para konselor/ terapis lebih berperan sebagai

”rekan yang turut berperan serta” (the participating partner) yang sedikit

demi sedikit menarik keterlibatannya bila pasien sudah mulai menyadari

dan menemukan makna hidupnya (Bastaman 2007).

Elisabeth Lukas (1986) logoterapis yang terkenal dari Jerman

menjabarkan pendekatan ini atas empat tahap:

a. Mengambil jarak atas simptom (distance from symptoms)

Membantu menyadarkan pasien bahwa simptom sama sekali tidak

identik dan ”mewakili” dirinya, tetapi semata-mata merupakan kondisi

yang ”dimiliki” dan benar-benar dapat dikendalikan.

b. Modifikasi sikap (modification of attitude).

Membantu pasien mendapatkan pandangan baru atas diri sendiri dan

kondisinya, kemudian menentukan sikap baru dalam menentukan arah

dan tujuan hidupnya.

c. Pengurangan simptom (reducing symptoms).

Merupakan upaya menerapkan teknik-teknik logoterapi untuk

menghilangkan sama sekali simptom atau sekurang-kurangnya

mengurangi dan mengendalikannya.

Page 83: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

66

d. Orientasi terhadap makna (orientation toward meaning).

Adalah membahas bersama nilai-nilai dan makna hidup yang

secara potensial ada dalam kehidupan pasien. Dalam hal ini, fungsi

terapis sekadar membantu memperdalam, memperluas nilai-nilai itu, dan

menjabarkannya menjadi tujuan yang lebih konkrit (Bastaman 2007,

Gutmann 1996).

Victor Frankl berpendapat bahwa dalam menghadapi kehidupan

lanjut usia berdasarkan pengalamannya selama di kamp konsentrasi

adalah orang yang mempunyai alasan untuk hidup / kehidupan dapat

bertahan dalam berbagai keadaan / penderitaan. Frankl melihat bahwa

orang yang mempunyai harapan untuk berkumpul kembali dengan

keluarga/orang yang dikasihinya, atau mempunyai rencana yang harus

mereka selesaikan, atau mempunyai kepasrahan yang besar, cenderung

untuk mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk hidup

dibandingkan dengan orang yang tidak mempunyai harapan lagi dalam

dirinya (Bastaman 2007).

Prinsip utama yang terdapat dalam logoterapi mengenai makna

hidup dan pengembangan spiritual pada individu ini sesuai untuk

diterapkan pada pasien-pasien lanjut usia yang mengalami gangguan

psikosomatik (Bastaman 2007).

Logoterapi tidak hanya mengemukakan asas-asas dan filsafat

manusia yang bercorak humanistik eksistensial, tetapi juga

mengembangkan metode dan teknik-teknik terapi untuk mengatasi

Page 84: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

67

gangguan-gangguan neurosis somatogenik, neurosis psikogenik, dan

neurosis noogenik. Untuk neurosis somatogenik, yakni gangguan-

gangguan perasaan yang berkaitan dengan hendaya ragawi, logoterapi

mengembangkan metode Medical Ministry, sedangkan untuk neurosis

psikogenik yang bersumber dari hambatan-hambatan emosional

dikembangkan teknik Paradoxical Intention dan Dereflection.

Selanjutnya untuk neurosis noogenik yakni gangguan neurosis yang

disebabkan tidak terpenuhinya hasrat untuk hidup bermakna, logoterapi

mengembangkan Existential Analysis/logoterapi. Ini bukan panacea,

karena metode-metode ini hanyalah jabaran dari pandangan logoterapi

yang mengakui kepribadian manusia sebagai totalitas raga-jiwa-rohani

(bio-psychosociocultural-spiritual) dan logoterapi memfungsikan potensi

berbagai kualitas insani untuk mengembangkan metode dan teknik-

teknik terapi. Tentu saja logoterapi tidak menggantikan metode

psikoterapi yang sudah ada, tetapi dapat diamalkan bersama metode

terapi lainnya seperti hipnosis, relaksasi, terapi kognitif, terapi perilaku,

dan obat-obatan (Bastaman 2007).

Penerapan metode logoterapi pada lanjut usia yang mengalami

gangguan somatik atau hipertensi, terutama ditujukan untuk membantu

para lanjut usia yang mengalami kehilangan makna hidup dan

menurunnya kualitas hidup. Kehilangan makna hidup akibat merasa

hilangnya integritas diri yang mengakibatkan terjadinya neurosis

somatogenik, neurosis psikogenik dan neurosis noogenik.

Page 85: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

68

2.12 Psikobiologi

Untuk menjelaskan bahwa psikoterapi khususnya logoterapi dapat

menurunkan depresi dan meningkatkan aktivitas kehidupan sehari-hari,

maka perlu disampaikan kerangka konseptual perubahan somatik dan

afektif dihubungkan dengan psikoterapi logoterapi yaitu:

a. Pasien Yang Tidak Diberikan Psikoterapi

Suatu stresor merupakan impuls “emergency” yang berjalan ke

dalam jalur sensorik menuju thalamus. Sinyal tersebut sedianya

menuju Korteks sensorik, tetapi sebagian besar sinyal tersebut dibajak

dan dibelokkan menuju amigdala, hanya sebagian kecil saja yang terus

menuju korteks sensoris untuk proses kognitif, kemudian berlanjut ke

korteks transisional untuk proses kognitif berikutnya (Mulyata 2005).

Amigdala sebagai pusat yang terlibat dalam perubahan emosi, karena

sinyal yang datang bersifat darurat, Amigdala belum siap dan

mengirim sinyal ke Hipotalamus, terutama ke Nukleus

Paraventrikularis. Nukleus Hipotalami tersebut merespon sinyal

darurat dengan melepas CRF yang juga bersifat darurat, selanjutnya

sinyal tersebut mengaktifkan Hipofisa dan Sistim Saraf Otonom

(Kaplan dan Sadock 2005).

b. Pasien Yang Diberikan Psikoterapi

Sinyal kognitif berjalan ke otak melewati jalur sensorik,

auditorik dan visual. Sinyal ini sifatnya tidak darurat, sesudah

mencapai thalamus kemudian ke korteks sensoris tanpa mengalami

Page 86: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

69

pembajakan, terus berlanjut ke korteks transisional untuk proses

kontrol kognitif. Sesudah proses di korteks selesai, selanjutnya sinyal

tersebut diproyeksikan ke Hippokampus untuk disimpan sebagai

memori, selain itu sinyal tersebut juga diproyeksikan ke Amigdala

serta organ lain yang terkait untuk diekspresikan ke luar. Sinyal

kognitif tersebut memiliki kemampuan untuk menghentikan arus

pembajakan sinyal darurat dari korteks menuju Amigdala dan dari

Amigdala menuju Hipotalamus. Dengan demikian sinyal yang berasal

dari pemberian psikoterapi sesudah mencapai korteks untuk proses

kognisi, saat diproyeksikan ke Hipokampus dan ke Amigdala sudah

merupakan sinyal yang tertata baik, sedangkan sinyal darurat sudah

terhambat dan hilang (Mulyata 2005),

c. Mekanisme Coping

Pada umumnya metode penurunan gejala depresi yang

menggunakan teknik pendekatan psikologis, bekerjanya dengan cara

meningkatkan daya coping pasien terhadap stresor. Daya coping sudah

terbentuk sejak masa kanak-kanak, tetapi daya coping juga dapat

dibentuk dan dikembangkan dengan cara pendidikan dan latihan, yang

mana akan dihasilkan perubahan persepsi terhadap stres (Mulyata

2005).

d. Patofisiologi

Impuls stres yang terus-menerus berjalan ke atas menuju

thalamus direspon dengan melepas CRF dari Hipotalamus, selanjutnya

Page 87: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

70

terjadi respon lewat aksis HPA dan Aksis SAM. Respon lewat aksis

HPA melepas Kortisol, sedangkan respon yang lewat aksis SAM

melepas Katekolamin. Sinyal darurat dari CRF akan memacu pituitaria

untuk melepas ACTH. ACTH masuk ke dalam sirkulasi darah, sampai

di Adrenal mengaktifkan serabut preganglioner simpatis menuju

Adrenal dan ganti neuron di Medulla Adrenal, melepas Katekolamin

yang kadarnya tinggi dan bersifat darurat, selanjutnya katekolamin

masuk ke dalam sirkulasi darah mengalir ke seluruh tubuh.

Sementara itu kortisol yang juga bersifat darurat, kadarnya jauh

di atas normal, mensupresi sistem imun menjadi kurang aktif yang

berakibat melemahnya ketahanan imunologis serta menyebabkan

proses penyembuhan menjadi terhambat atau memanjang (Mulyata,

2005). Sebagian respon pada stres termasuk glukokortikoid dapat

menginhibisi fungsi imun, yang terjadi melalui aksis HPA. CRF dapat

merangsang pelepasan norepinefrin melalui reseptor CRF yang berada

di lokus seroleus dengan aktivasi sistem simpatetik sentral maupun

perifer dan meningkatkan pelepasan epinefrin dari medulla adrenal.

Selain itu terdapat hubungan langsung neuron norepinefrin yang

merupakan sinap target sel imun. Jadi ketika terdapat stresor yang

dalam hal ini terjadi juga dapat mengaktivasi imun, termasuk

pelepasan faktor humoral – immune (sitokin). Sitokin ini dapat

melepaskan CRF yang dapat meningkatkan efek glukokortikoid

(Kaplan and Sadock 2007). Logoterapi akan diterima oleh thalamus

Page 88: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

71

yang kemudian diteruskan ke system limbic (serotonin, norepineprin

dan GABA) akan mempengaruhi hipothalamus untuk menstabilkan

pengeluaran CRF yang berlebihan, sehingga pengeluaran ACTH dari

glandula pituitary anterior stabil. Selanjutnya aktivitas kortek adrenal

menjadi normal dan produksi kortisol stabil.

Psikoterapi berperan dalam mengurangi stres dan dalam suatu

penelitian meta-analisis terbukti meningkatkan kualitas hidup (Kaplan

and Sadock 2007). Logoterapi adalah salah satu bentuk psikoterapi

yang dapat mengurangi stres dengan mempengaruhi korteks sensoris.

2.13 Psikoneuroimunologi

Menurut Kemeny dan Gruenewald tahun 1999, psikoneuroimunologi

adalah bidang ilmu yang menyelidiki rangkaian antara otak, perilaku, dan

sistem imun dan implikasinya untuk kesehatan fisik dan penyakit. Bukti

terbaru menunjukkan bahwa stresor alamiah dan percobaan laboratorium,

dapat merubah fungsi dan jumlah sistem imun manusia. Karena terdapat

perbedaan individual yang besar dalam respon psikologis terhadap stres,

adalah penting untuk mempertimbangkan peranan respon kognitif dan

afektif terhadap stres. Depresi telah dihubungkan dengan pengurangan

fungsi imun dan overaktivasi imun. Keadaan kognitif telah dihubungkan

dengan parameter imun dan kesehatan pada beberapa penelitian, tetapi

sangat sedikit penelitian klinis terkontrol yang dilakukan untuk menentukan

apakah intervensi psikososial bisa berpengaruh kuat pada sistem imun dan

progresi dari kondisi medis (Kemeny dan Gruenewald 1999). Terdapat

Page 89: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

72

interaksi bidirectional antara sistem saraf pusat dengan sistem imun dan

sesuai dengan korelasi anatomi dan fisiologis mereka. Selain itu sejumlah

penemuan imunologis dihubungkan dengan stres eksogen, gangguan

depresif dan skizofrenia (Kaschka, 1996). Terdapat data yang mendukung

hipotesis bahwa karakteristik individual dengan jenis afektif yang negatif

mendapatkan respon imun mereka dengan buruk dan kemungkinan dalam

risiko lebih sakit dibandingkan yang dengan jenis afektif positif (Kaplan

and Sadock 2007).

Di samping itu terdapat bukti hubungan antara kekurangan

glukokortikoid dan aktivasi imun. Sitokin proinflamasi tampaknya

menginduksi suatu sindrom “sickness behavior”. Sindrom ini, mencakup

anhedonia, anoreksia, fatique, perubahan tidur, dan disfungsi kognitif,

mempunyai banyak ciri-ciri yang tumpang-tindih dengan gangguan fisik

dan gangguan neuropsikiatrik terkait-stres, termasuk depresi berat, chronic

fatigue syndrome, fibromyalgia, dan PTSD. Pasien dengan chronic fatigue

syndrome dan fibromyalgia juga menunjukkan aktivasi imun, seperti

dibuktikan melalui peningkatan konsentrasi plasma dari reactants fase akut

dan peningkatan konsentrasi plasma dan/atau produksi sel mononuclear

darah perifer, dari sitokin proinflamasi, termasuk IL-6, TNF-α dan IL-1.

Sitokin dan reseptornya ditemukan dalam regio otak yang secara sentral

terlibat dalam mediasi emosi dan perilaku, seperti hipotalamus dan

hipokampus. Penghambatan sitokin ini menunjukkan pengurangan atau

penghilangan gejala perilaku sakit setelah infeksi atau pemberian sitokin

Page 90: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

73

pada percobaan binatang. Relevan dengan patofisiologi perubahan perilaku

pada gangguan terkait stres adalah penemuan bahwa sitokin proinflamasi

adalah stimulator CRH yang poten pada regio otak multipel dan bahwa

mereka mempengaruhi turnover neurotransmiter monoamin di hipotalamus

dan hipokampus (Raison and Miller 2003).

Terdapat beberapa fenomena di mana terjadi saling mengatur antara

sistem imun dan sistem saraf pusat. Interaksi antara sistem saraf aksis HPA

dan komponen innate serta sistem imun adaptif memegang peranan dalam

regulasi inflamasi dan imunitas. Glukokortikoid menghambat sintesis

sitokin dan mediator inflamasi, kemudian membentuk suatu negative

feedback loop. Sitokin juga bisa bekerja secara langsung di otak untuk

mengaktivasi aksis HPA. Disregulasi dari neuroendocrine loop oleh

hiperaktivitas atau hipoaktivitas aksis HPA menyebabkan perubahan

sistemik dalam inflamasi dan imunitas. Nyeri fisik, trauma emosional dan

pembatasan kalori juga mengaktivasi aksis HPA dan menyebabkan

imunosupresi, sebaliknya penurunan aktivitas dari aksis tersebut dan

rendahnya derajat glukokortikoid meningkatkan kerentanan terhadap

inflamasi dan keparahan inflamasi (Rhen and Cidlowski 2005).

Sitokin mempunyai peranan sentral dalam pengaturan respon imun

yang menggambarkan dua bentuk komunikasi neuroimun, imunomodulasi

oleh stres psikologis dan pengkondisian perilaku dari respon imun. Peranan

sitokin pada endokrin dan efek perilaku fase akut, mempunyai efek dalam

fungsi sistem saraf pusat. Efek psikologis stres digambarkan sebagai

Page 91: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

74

immunosuppressing dan immunoenhancing. Di antara mereka, immuno-

suppressing yang relevan salah satunya adalah reduksi derajat dan

immunoenhancing IL-1, IL-2, dan IFN-gamma. Sebaliknya, beberapa dari

efek proinflamasi dari stres adalah dimediasi oleh peningkatan derajat IL-6,

IL-2, dan TNF dimediasi oleh neurotransmitter Substance P. Peranan yang

mungkin untuk IL-1 dan IFN-beta sebagai messenger yang mungkin dalam

pengaturan imun melalui pengkondisian perilaku telah diusulkan. Sitokin

proinflamasi selanjutnya bisa mengaktivasi HPA aksis dan menginduksi

perilaku sakit selama respon fase akut, selama sistem saraf parasimpatis

berlaku sebagai jalur untuk deteksi mereka melalui sistem saraf pusat.

Terdapat temuan terbaru dalam pengaturan ekspresi sitokin oleh

neurotransmitter dari sistem saraf simpatis (epinefrin dan norepinefrin),

merupakan kunci seluruh mekanisme komunikasi otak-imun ini (Espinosa

dan Bermudez-Rattoni 2001).

Peranan psikoterapi di sini adalah dapat “membangkitkan” sistem

imun. Hasil riset psikoneuroimunologi bermakna khususnya untuk

pengobatan psikosomatik karena mereka menjelaskan dalam suatu jalur

sistemik pengamatan klinis awal dan penelitian ilmiah mengenai pengaruh

stres pada kondisi kesehatan (Mausch, 2002). Keuntungan dari pendekatan

psikoterapi secara murni adalah menghindari interaksi obat atau efek

samping obat terhadap masalah fisik (Sadock dan Sadock 2003).

Psikoterapi spesifik seperti pemecahan masalah, CBT atau

interpersonal therapy termasuk logoterapi dapat digunakan sebagai terapi

Page 92: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

75

alternatif atau terapi ajuvan pada pasien bermasalah fisik yang disertai

depresi ringan. Pengetahuan akan gejala fisik secara teori akan sangat

membantu (Lenze dan Dew 2002, Sadock dan Sadock 2003). Yusefi et al.

(2006) melaporkan bahwa CBT yang dilakukan pada 56 pasien penyakit

jantung koroner dengan gangguan cemas di Isfahan, Iran, (sebanyak 8 sesi,

tiap sesi selama 2 jam) menurunkan kecemasan dan memperbaiki kualitas

hidup. Hasil penelitian ini menunjukkan keefektifan CBT dalam

menurunkan kecemasan baik yang manifes maupun tersembunyi dan

memperbaiki kualitas hidup, emosional, fisik dan fungsi sosial pada pasien

penyakit jantung koroner (Yusefi et al. 2006).

Penelitian sebelumnya tentang hubungan efek-dosis pada

psikoterapi menunjukkan bahwa manfaat terapiutik terjadi pada awal

pengobatan. Sekitar 25% dari pasien diperkirakan membaik setelah 1 sesi,

dan 50% membaik dalam 8 sesi. Lima-puluh-lima pasien di klinik rawat

jalan dimonitor sesi demi sesi untuk bukti perubahan yang bermakna secara

klinis. Hasil menunjukkan hanya 22% pasien “pulih” (sesuai definisi

penelitian ini) setelah 8 sesi, dengan pemulihan paling awal adalah setelah

2 sesi (Kadera et al. 1996).

Page 93: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

76

B. Kerangka Berpikir

Masalah Kemunduran Fisik

Lanjut usia

Masalah Penurunan Aspek Medik

Masalah : Kesepian Keterasingan Rasa Tidak Berguna

Makna Hidup ↓ DEPRESI ↑

AKS↓

LOGOTERAPI · Nilai kreativitas · Nilai Penghayatan · Nilai Bersikap

Mekanisme Coping↑

Makna Hidup ↑

DEPRESI ↓ AKS ↑

Penyesuaian diri terhadap masalah fisik dan psikis membaik

-Derefleksion

Page 94: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

77

C. Hipotesis

Logoterapi berpengaruh menurunkan derajat depresi dan meningkatkan

aktivitas kehidupan sehari-hari.

Page 95: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

78

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental yaitu

randomized control trial pre and post test design yang ditujukan untuk

mengetahui hasil uji akhir dengan mengendalikan hasil uji awal sebagai cara

mengendalikan kovariabel (Pratiknya, 2003).

B. Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Panti Wreda Dharma Bhakti Surakarta dari

tanggal 30 Juli 2011 sampai 30 September 2011

C. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah lanjut usia yang tinggal di Panti Wreda Dharma

Bhakti Surakarta dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian.

D. Teknik Penetapan Sampel

Adalah purposive sampling, artinya dilakukan pengambilan sampel

dengan memilih subjek yang keterwakilannya sudah ditentukan berdasarkan

kriteria inklusi (Budiarto, 2004).

Page 96: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

79

E. Besar Sampel

Untuk perhitungan besar sampel digunakan paired minimum dengan

perbedaan kemaknaan berdasarkan perbedaan mean, ditentukan berdasarkan

rumus (Arjatmo dan Sumedi, 2001):

� = 族(柠判嫩柠叛).虐聘 祖Ƽ

Keterangan:

Zα : batas atas nilai konversi pada tabel distribusi normal untuk batas kemaknaan

Zβ : batas bawah nilai konversi pada tabel distribusi normal untuk batas

kemaknaan

s : standar deviasi perkiraan perbedaan = 3.5

d : mean deviasi perbedaan

Maka jumlah sampel adalah:

� = 族(囊,Ǘú嫩难,�ĖƼ)诺脑.闹脑 祖Ƽ = 10,4

Dibulatkan menjadi 11 orang tiap kelompok + 1(sebagai antisipasi drop out),

total sampel minimum adalah 11 + 1 = 12 subjek penelitian.

Batas penolakan kemaknaan sebesar 0.05 atau 5%. Pada penelitian ini

perbedaan rerata (d) skor GDS sebelum dan sesudah Logoterapi adalah 3 (secara

klinis dikatakan bermakna). Simpang baku perbedaan skor GDS berdasarkan

penelitian efek reminiscence therapy pada depresi lanjut usia sebesar 3.

Diperkirakan simpang baku dengan Logoterapi sebesar 3,5 (Sutejo 2009)

Dari tabel distribusi normal diperoleh nilai konversi batas penolakan 0.05

atau 5% adalah 1.96 sebagai batas bawah dan 0.842 sebagai batas atasnya.

Page 97: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

80

F. Kriteria Inklusi

1. Lanjut usia di tinggal di panti Wreda Dharma Bhakti Surakarta

2. Umur 60 tahun ke atas.

3. Jenis kelamin laki-laki dan perempuan

4. Bersedia mengikuti penelitian dan menandatangani surat persetujuan sebagai

peserta penelitian.

5. Pendidikan minimal tamat SD dan yang sederajad

6. Skore MMSE > 24

G. Kriteria Eksklusi

1. Mengalami gangguan mental berat (psikotik) dan dementia, yang penilaiannya

dengan metode wawancara dan MMSE

2. Mengalami gangguan pendengaran sehingga mengganggu komunikasi verbal.

3. Mengalami penyakit fisik berat.

4. Mendapatkan obat anti depresan secara teratur.

5. Skor L-MMPI tidak > 10. Instrumen ini diisi sendiri oleh subjek. Skala ini

adalah untuk mengungkapkan kecenderungan kebohongan subjek penelitian.

Nilai batasnya adalah jawaban 'tidak' lebih dari 10 (Sudiyanto, 2003).

H. Identifikasi variabel

1. Variabel bebas adalah: Perlakuan Logoterapi.

2. Variabel tergantung adalah: Skor GDS dan Barthel Index

Page 98: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

81

3. Variabel luar yang mempengaruhi hasil penelitian adalah: faktor jenis

kelamin, pendidikan, komorbiditas dengan gangguan psikiatrik, penggunaan

farmakologik dan stresor psikososial.

I. Definisi Operasional Variabel

Logoterapi: Logoterapi dengan penerapan teknik Appealing teknik

(derefleksion) pada kelompok perlakuan selama 45 menit setiap kali pertemuan, 1

kali seminggu sebanyak 6 kali pertemuan.

Depresi: Skor GDS (Geriatric Depression Scale) versi pendek dengan 15

pertanyaan.

Skor < 5 : Tidak depresi.

Skor ≥ 5 : Depresi.

Tingkat Aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS): diukur berdasarkan skor

Index Barthel versi Indonesia yang telah divalidasi

Ketergantungan : ≤ 90

Mandiri :>90

Lanjut usia: Lanjut usia adalah seorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke

atas ( Undang-undang No:13 tahun 1998)

Panti Wreda :Panti Wreda adalah tempat dimana berkumpulnya orang – orang

lanjut usia yang baik secara sukarela ataupun diserahkan oleh pihak keluarga

untuk diurus segala keperluannya, dimana tempat ini dikelola oleh pemerintah

maupun pihak swasta, dan sudah merupakan kewajiban Negara untuk menjaga

Page 99: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

82

dan memelihara setiap warga negaranya (UU No.12 Tahun 1996 Direktorat

Jenderal, Departemen Hukum dan HAM).

J. Instrumen penelitian.

1. Isian data pribadi.

2. Barthel Indeks yang telah divalidasi

3. MMSE

4. GDS (Geriatric Depresion Scale ) versi pendek ( 15 pertanyaan)

5. L-MMPI

6. Check list Logoterapi

7. Panduan pelaksanaan Logoterapi

K. Cara Kerja

1) Peneliti mengumpulkan responden yang sesuai dengan kriteria sampling yang

ditentukan.

2) Peneliti mendampingi dan memandu responden dalam mengisi data pribadi

dan persetujuan penelitian.

3) Dilakukan penilaian dengan L-MMPI dan MMSE

4) Pembagian kelompok perlakuan dan kontrol secara randomisasi/acak

sederhana oleh petugas khusus, tanpa didampingi peneliti

5) Dilakukan pretes GDS dan Barthel Indeks pada kedua kelompok

6) Kelompok perlakuan diberi logoterapi selama 45 menit setiap kali pertemuan,

satu kali seminggu sebanyak 6 sesi terapi.

Page 100: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

83

7) Di akhir penelitian dilakukan post tes dengan GDS dan Barthel Indeks pada

kedua kelompok.

8) Membandingkan hasil dan menganalisis data yang diperoleh secara statistik.

L. Teknik Analisis Data

Data yang terkumpul akan diolah dan dianalisis menggunakan program

SPSS versi 17.0 . Untuk membandingkan skor GDS dan Barthel indeks antara pre

dan post Logoterapi menggunakan uji T. Untuk menilai signifikansi hubungan

variabel dengan tingkat kemaknaan 5% (Sastroasmoro dan Ismail, 2002).

Page 101: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

84

M. Kerangka Kerja Penelitian

POPULASI

GDS

Randomisasi

KELOMPOK

PERLAKUAN

KELOMPOK

KONTROL

PRE TEST: Barthel Indeks

PRE TEST: Barthel Indeks

Logoterapi

ANALISIS STATISTIK

POST TEST : GDS + Barthel Indeks

POST TEST : GDS+ Barthel Indeks

KRITERIA INKLUSI/ EKSKLUSI

SUBJEK (Diambil 24 subjek)

Page 102: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

85

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Telah dilakukan penelitian di Panti Wreda Dharma Bakti Surakarta mulai Juli

2011- September 2011. Sampel diambil secara purposive sampling, yaitu

dilakukan pengambilan sampel dengan memilih subjek yang keterwakilannya

sudah ditentukan berdasarkan kriteria inklusi. Didapatkan 24 sampel yang

memenuhi syarat, kemudian dilakukan pembagian kelompok kontrol dan

kelompok perlakuan secara acak sederhana, didapatkan 12 subjek sebagai

kelompok perlakuan dan 12 subjek sebagai kelompok kontrol. Tidak didapatkan

pasien yang mengundurkan diri selama sesi terapi baik pada kelompok perlakuan

maupun kelompok kontrol.

Tabel 4.1. Deskripsi Karakteristik Data Menurut Kelompok Berdasarkan,

Lama Tinggal.

Variabel Kelompok N Mean SD t p

Umur

Lama Tinggal

Perlakuan

Kontrol

Perlakuan

Kontrol

12

12

12

12

69,50

69,50

2,38

2,54

3,00

4,36

0,93

1,01

0,00

-0,42

1,00

0,68

Page 103: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

86

Tabel 4.2. Deskripsi Karakteristik Data Menurut Kelompok Berdasarkan

Jenis Kelamin, Keberadaan Keluarga dan Status Penyakit

Variabel Kelompok Total

X2

p Perlakuan

n(%) Kontrol

n(%) Jenis

Kelamin

Keluarg

Status

Penyakit

Laki-laki

Perempuan

Ada

Tidak

mengganggu

tdk meng

ganggu

7(62%)

5(38%)

11(50,0%)

1(50,0%)

4(33%)

8(66,7%)

5(38%)

7(62%)

11(50,0%)

1(50,0%)

3(75,0%)

9(50%)

11(100%)

13(100%)

22(100%)

2(100%)

7(100%)

17(100%)

1,51

0,00

0,25

0,22

1,00

1,00

Pada tabel 4.1 dan 4.2 ditampilkan deskripsi karakteristik data dari

kelompok perlakuan dan kelompok kontrol berdasarkan umur, jenis kelamin,

pendidikan, keberadaan keluarga dan status penyakit. Berdasarkan perhitungan

statistik, tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan

dibandingkan dengan kelompok kontrol berdasarkan umur (t= 0,00, p= 1.00),

jenis kelamin (p= 1,000), status (p= 1,000). Hal ini menunjukkan bahwa secara

deskripsi karakteristik data, sampel adalah homogen atau setara dalam hal

demografi.

Page 104: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

87

Tabel 4.3 Perbandingan Variabel pada Kelompok Perlakuan Dibandingkan

Kelompok Kontrol Sebelum Logoterapi dengan Uji t

Variabel Kelompok N Mean SD Uji t p

GDS Pre

BARTEL

Pre

Perlakuan

Kontrol

Perlakuan

Kontrol

12

12

12

12

7,58

7,33

88,33

88,75

0,55

0,78

2,46

2,28

0,93

-0,43

0,36

0,67

Tabel 4.4 Perbandingan Variabel GDS dan BARTEL pada Kelompok

Perlakuan Dibandingkan Kelompok Kontrol Setelah Logoterapi

Dengan Uji t

Variabel Kelompok N Mean SD Uji t p

GDS Post

BARTEL

Post

Perlakuan

Kontrol

Perlakuan

Kontrol

12

12

12

12

3,58

5,50

98,33

91,67

0,515

0,798

2,462

6,513

24,000

13,333

0,00

0,04

Pada tabel 4.3 dan 4.4 ditampilkan perbandingan variabel GDS pre-post

dan Barthel pre-post. Pada GDS post dan barthel post tampak adanya perbedaan

yang bermakna dengan nilai p< 0,05

Page 105: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

88

Tabel 4.5. Perbandingan Variabel delta GDS dan delta BARTEL pada

Kelompok Perlakuan Dibandingkan Kelompok Kontrol Dengan Uji

Variabel Kelompok N Mean SD Uji t p

Delta GDS

Delta BARTEL

Perlakuan

Kontrol

Perlakuan

Kontrol

12

12

12

12

4,00

1,83

10,0

3,33

0,95

1,09

0,00

4,924

5,117

4.690

0,00

0,00

Pada tabel 4.5 dilakukan perbandingan antara variabel delta GDS

perlakuan – kontrol di mana didapatkan nilai p=0,00 dan perbandingan antara

delta barthel kelompok perlakuan – kontrol dengan nilai p=0,00

Tabel 4.6 Uji selisih antara delta GDS dan delta Barthel :

Variabel N Mean SD p

Delta GDS

Delta Barthel

24

24

2,92

6,67

1,501

4,815

0,031

0,031

Perhitungan secara statistik menunjukkan adanya hasil yang bermakna (nilai

p=0.031) antara penurunan GDS dengan kenaikan Barthel indeks

Page 106: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

89

BAB V

PEMBAHASAN

A. Subjek Penelitian

Dari data demografi didapatkan bahwa antara kelompok perlakuan dan

kelompok kontrol setara meliputi jenis kelamin, umur,pendidikan, keberadaan

keluarga di luar panti, penyakit medis umum, lama tinggal di panti. Hal tersebut

penting untuk dikendalikan karena masalah yang terjadi terutama pada golongan

lanjut usia disebabkan karena adanya sejumlah faktor risiko psikososial. Faktor

risiko tersebut adalah hilangnya peranan sosial, hilangnya otonomi, kematian

teman atau sanak saudara, penurunan kesehatan, peningkatan isolasi, keterbatasan

finansial dan penurunan fungsi kognitif. Hal tersebut dapat mengganggu interaksi

sosial yang kontinu. Memiliki aktivitas sosial bermanfaat untuk kesehatan fisik

dan emosional (Kaplan and Sadock, 2007).

Dalam penghitungan statistik pada tabel 4.1 ditunjukkan bahwa lama

lansia yang menghuni panti wreda menunjukkan perbedaan namun tidak

bermakna antara perlakuan (mean=2,38) dan kontrol (mean=2,54) dengan nilai

p=0,68, demikian juga mengenai umur tidak menunjukkan perbedaan yang

bermakna antara perlakuan dan kontrol (nilai p= 1,00)

Dalam penghitungan statistik pada tabel 4.2 terlihat tidak ada perbedaan

yang bermakna antar jenis kelamin (nilai p=0,22) dan tidak ada perbedaan yang

bermakna antara lansia penghuni panti wreda yang masih memiliki anggota

keluarga diluar panti baik pada kelompok kontrol dan perlakuan (nilai p= 1,00).

Page 107: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

90

dalam status penyakit baik yang mengganggu maupun yang tidak mengganggu

tidak didapatkan angka perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan dan

kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa secara deskripsi karakteristik data,

sampel adalah homogen atau setara dalam hal demografi

B. Penilaian GDS dan Barthel Index

Dalam tabel 4.3 dari 24 subjek pada penelitian ini didapatkan rerata skor

GDS 7,58 pada kelompok perlakuan lebih tinggi dibanding rerata skor GDS 7,33

pada kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok perlakuan

memuliki rata rata lebih depresi dibandingkan kelompok kontrol dan baik

kelompok kontrol dan kelompok perlakuan rata rata ada dalam kondisi depresi.

Demikian pula pada pengukuran Indeks Barthel didapatkan pada kelompok

perlakuan memiliki nilai rerata 88,33 dan kelompok kontrol memiliki nilai rerata

88,75, artinya ke dua kelompok rata rata pada kondisi dependen ringan.

Pada tabel 4.4 dari 24 subjek penelitian ini didapatkan skor GDS pada

kelompok perlakuan memiliki rerata 3,58 dan pada kelompok kontrol memiliki

nilai rerata 5,50. Ini menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan sudah tidak

depresi lagi, sedangkan pada kelompok kontrol masih menunjukkan adanya

depresi dan adanya perbedaan yang bermakna dengan nilai p=0,00. Sedangkan

pada skor Barthel, didapatkan pada kelompok perlakuan memiliki rerata 98,33

dan kelompok kontrol memiliki rerata 91,67. Ini menunjukkan bahwa kedua

kelompok baik kelompok perlakuan dan kelompok kontrol sudah tidak dependen

setelah dilakukan logoterapi dan hasilnya bermakna dengan nilai p=0,04.

Page 108: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

91

Dalam tabel 4.5 perbandingan variabel selisih GDS dan selisih Barthel

indeks pada kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol menunjukkan

adanya perbedaan mean. Pada GDS pre-pos kelompok perlakuan memiliki mean

4,00 dan pada kelompok kontrol memiliki mean 1,83 dengan nilai p=0,00. Ini

menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara GDS pre dan post.

Demikian pula untuk penilaian Barthel Indeks pre-post terdapat perbedaan

bermakna antara kelompok perlakuan dengan mean (10,0) dengan kelompok

kontrol dengan mean (3,33) dengan nilai p=0,00. Dalam tabel 4.6 uji selisih

antara delta GDS dengan delta Barthel didapatkan nilai p=0,031, hal ini

menunjukkan adanya nilai yang bermakna antara penurunan depresi dengan

kenaikan aktivitas kehidupan sehari hari.

Dilaporkan bahwa lanjut usia yang mengalami depresi akan

mengakibatkan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan aktivitas kehidupan sehari

hari (Miller 1995, Lueckenotte 2000, Hall & Hasset 2000), sedangkan lansia yang

mengalami dementia dilaporkan juga memiliki defisit dalam aktivitas kehidupan

sehari hari (Jorm 1994), sebaliknya keterbatasan lansia dalam memenuhi AKS

dapat menjadi salah satu faktor penyebab munculnya depresi (Eliopoulus, 1997;

Robert, Kaplan, Shema & Strabridge, 1997). Relevan dengan penelitian Lenze

et al (2001) serta Penninx, Guralnik, Ferrucci, Simonsick, Daeg dan Wallace (

1998) bahwa mekanisme pengaruh depresi terhadap disabilitas fisik dapat dibagi

menjadi : depresi menyebabkan peningkatan risiko disabilitas fisik dan

disabilitas fisik menyebabkan depresi. Depresi di kalangan lansia yang

tinggal di panti wreda cenderung mengarah pada kondisi yang kronis, karena

Page 109: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

92

potensi diri dan dukungan sosial dari lingkungannya kurang adekuat untuk

mengembalikan pada kondisi semula. Pada akhirnya , depresi kronis

menyebabkan terganggunya fungsi organ sehingga muncul disabilitas fungsional.

Adapun kombinasi umur, status depresi, dan status dementia telah terbukti

memiliki hubungan yang bermakna (p=0,000) dengan disabilitas fungsional lansia

di panti wreda ( Bondan, 2006)

Daniel Mada (2009) melaporkan hasil study di panti wreda Bantul ,

Yogyakarta bahwa hubungan antara tingkat kemampuan aktivitas dasar sehari-

hari dengan tingkat depresi menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0,098 dengan

tingkat signifikans 0,506 yang berarti ada hubungan yang lemah antara tingkat

kemampuan aktivitas dasar sehari-hari dengan tingkat depresi pada lansia yang

tinggal di panti wreda.

Hasil study yang dilakukan Bondan (2000) dilaporkan bahwa kombinasi

umur, status depresi, dan status demensia telah terbukti memiliki hubungan yang

bermakna (F=12,997; p=0,000) dengan disabilitas fungsional lansia di Panti

Wreda Abiyoso dan Panti Wreda Budi Dharma di Yogyakarta.

Program National Institute of Mental Health’s Epidemiologic

Catchment Area (ECA) menemukan bahwa gangguan jiwa yang paling lazim

pada lanjut usia adalah gangguan depresif, gangguan kognitif dan fobia ( Kaplan

& Sadock, 2010). Menurut Hadywinoto & Setiadi (1999) depresi pada lansia

mempengaruhi penurunan Aktivitas Kehidupan Sehari sedangkan menurut

Draman & Aris (2007) adanya penyakit kronis dan depresi mempengaruhi dari

kemandirian lansia. Drageset et al (2011) melaporkan adanya hubungan yang

Page 110: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

93

bermakna antara tingkat ketergantungan dalam aktivitas kehidupan sehari hari

dengan depresi pada lanjut usia yang berada di dalam panti dengan tingkat

kemaknaan p=0,02.

Logoterapi sebagai suatu teknik psikoterapi menerapkan pendekatan dari

sudut spiritual yang memfasilitasi manusia untuk menyadari keberadaan dirinya

dan makna tujuan hidupnya sehingga dengan demikian akan membuat manusia

mampu untuk bertanggung jawab dan menghargai situasi hidup yang dihadapinya

(Bastaman, 2007; Frankl, 2006; Guttman, 1996; Lukas, 1986). Lee CH (2004).

Keuntungan dari pendekatan psikoterapi secara murni adalah menghindari

interaksi obat atau efek samping obat terhadap masalah fisik. Lansia merupakan

populasi terbesar yang menderita sakit dan merupakan subjek yang lebih banyak

mendapatkan regimen pengobatan, mengalami efek samping pengobatan lebih

besar dari populasi lainnya. Terlebih lagi psikotropik adalah obat yang paling

sering berhubungan dengan efek samping yang terjadi pada lansia (Gurwitzet al,

2000)

Psikoterapi spesifik seperti pemecahan masalah, CBT atau interpersonal

therapy termasuk logoterapi dapat digunakan sebagai terapi alternatif atau terapi

ajuvan pada pasien bermasalah fisik yang disertai depresi ringan. Pengetahuan

akan gejala fisik secara teori akan sangat membantu. Terdapat bukti kegunaan

psikoterapi pada pasien dengan penyakit fisik yang disertai depresi (Lenze and

Dew 2002; Sadock and Sadock, 2003). Yusefi et al (2006) melaporkan bahwa

CBT yang dilakukan pada 56 pasien penyakit jantung koroner dengan gangguan

cemas di Isfahan, Iran, (sebanyak 8 sesi, tiap sesi selama 2 jam) menurunkan

Page 111: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

94

kecemasan dan memperbaiki kualitas hidup. Hasil penelitian ini menunjukkan

keefektifan CBT dalam menurunkan kecemasan baik yang manifes maupun

tersembunyi dan memperbaiki kualitas hidup, emosional, fisik dan fungsi sosial

pada pasien penyakit jantung koroner (Yusefi et al, 2006).

C. Keterbatasan

Pada penelitian terdapat keterbatasan yang mempengaruhi hasil dan

generalisasi. Keterbatasan tersebut terdapat pada :

1. Sampel penelitian.

Selain jumlah sampel yang terbatas, pada sampel juga tidak

dikendalikan kondisi dimana lansia kelompok perlakuan dan lansia

kelompok kontrol berada dalam satu kamar setiap harinya, lama tinggal di

panti, penggunaan farmakologik dan faktor kepribadian dasar pasien, adanya

keluarga yang membesuk, adanya keberadaan keluarga yang tinggal di luar

panti, Hal tersebut merupakan faktor stresor psikososial yang dapat

berpengaruh terhadap peningkatan kejadian depresi dan penurunan aktivitas

kehidupan sehari hari pada lanjut usia.

2. Lokasi.

Lokasi penelitian dilakukan di satu panti wreda saja sehingga belum

dapat menggambarkan secara keseluruhannya.

Page 112: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

95

3. Waktu.

Penelitian hanya dilakukan selama dua bulan sehingga tidak

memungkinkan diadakan suatu follow up untuk melihat efektivitas terapi pada

jangka panjang. Waktu penelitian yang berlangsung bersamaan dengan bulan

puasa mempengaruhi suasana batin dari klien, sehingga berpengaruh pada

psikoterapi logoterapi yang melihat manusia dari dimensi spiritual.

4. Instrumen.

Pada penelitian ini digunakan skor GDS sebagai indikator depresi dan

Barthel Index untuk menilai Aktivitas Kehidupan Sehari (AKS). Kedua

instrumen tersebut bersifat self inventory, oleh karena itu sebelumnya

dipergunakan L-MMPI. Meskipun demikian dapat terjadi bias karena faktor

subyektivitas pada responden yang tidak kooperatif dan ketidakmampuan

dalam mengartikan maksud pertanyaan dalam kuesioner. Meskipun

merupakan keterbatasan, penggunaan GDS pada penelitian ini tidak menjadi

masalah karena peneliti tidak menegakkan diagnosis pada klien di panti wreda

melainkan skrining adanya depresi pada pasien lanjut usia yang tinggal di

panti. Sedangkan diagnosis depresi harus ditegakkan sesuai kriteria depresi

pada PPDGJ III atau DSM-IV.

5. Pelaksanaan Logoterapi.

Menurut kepustakaan bahwa psikoterapi efektif diberikan 6 sampai 20

kali pertemuan atau rata-rata 12 kali pertemuan. Pada penelitian ini

menggunakan panduan Logoterapi dengan 6 kali pertemuan. Hal ini

disebabkan oleh keterbatasan waktu penelitian (Juli 2011- September 2011).

Page 113: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

96

6. Peneliti.

Terapis dan penilai adalah peneliti sendiri, sehingga faktor

subyektivitas berpengaruh pada hasil penelitian. Pada beberapa subjek,

peneliti terpaksa harus membimbing responden dalam mengisi kuesioner, hal

tersebut juga dapat menyebabkan terjadinya bias pada hasil penelitian ini.

7. Keterbatasan lain

Penelitian ini hanya menggambarkan karakteristik lansia yang tinggal

di panti wredha sehingga kurang menggambarkan karakteristik populasi lansia

secara keseluruhan Pada penelitian ini adalah belum dinilai adanya

komorbiditas dengan gangguan psikis yang telah diketahui sangat

berhubungan dengan derajat depresi dan aktivitas kehidupan sehari hari pasien

lanjut usia. Seringkali membingungkan yang mana muncul lebih dulu dan

mana yang menjadi penyebab, tetapi jelas ada korelasinya. Hubungan di

antara keduanya adalah kompleks dan tidak dapat diduga. Dan juga belum

diteliti motivasi lanjut usia tinggal di panti wreda apakah karena kesadaran

sendiri atau karena keluarga lanjut usia yang tidak sanggup merawatnya. Juga

tidak diteliti seberapa derajad jauh rasa kesepian berpengaruh terhadap depresi

dan aktivitas kehidupan sehari hari.

Page 114: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

97

BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN

1. Dari hasil penelitian ini didapatkan penurunan derajat depresi yang signifikan

pada kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol.

2. Ditemukan perbedaan yang bermakna dalam hal perbaikan aktivitas

kehidupan sehari (AKS) antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol

3. Ditemukan korelasi langsung yang bermakna antara penurunan derajad

depresi dengan peningkatan aktivitas kehidupan sehari hari (AKS).

Dengan hasil tersebut maka hipotesis di atas diterima, yaitu; Logoterapi

efektif menurunkan derajat depresi dan meningkatkan aktivitas kehidupan sehari

(AKS) lanjut usia .

B. SARAN

1. Perlu suatu penelitian lain dengan desain pre dan pos tes, pengambilan sampel

acak, jumlah sampel yang lebih besar dengan karakteristik subjek berbeda dan

pemisahan yang tegas antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol

sehingga efektivitas Logoterapi pada depresi dan aktivitas kehidupan sehari

hari lanjut usia dapat digeneralisasi.

Page 115: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

98

2. Lansia yang tinggal di panti, yang dicurigai mengalami depresi dapat

diberikan kuesioner GDS sebagai skrening sehingga dapat terdeteksi lebih dini

dan dapat meningkatkan aktivitas kehidupan sehari hari.

3. Logoterapi dapat digunakan sebagai terapi tambahan (adjuvant) dalam

penanganan depresi dan peningkatan aktivitas kehidupan sehari pada lanjut

usia.

Page 116: perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH .../Pengaruh...perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGARUH

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

99