Publikasi bali budaya dan pembangunan ekonomi

  • Published on
    02-Aug-2015

  • View
    58

  • Download
    1

Embed Size (px)

Transcript

<p> 1. Page | 1 PARIWISATA BALI: ANTARA PELESTARIAN BUDAYA DAN PEMBANGUNAN EKONOMI Oleh: i I GUSTI BAGUS RAI UTAMA ABSTRACT Perdebatan antara tujuan pelestarian dan pemberdayaan ekonomi pada pariwisata budaya dengan segala manisfestasinya, masih menjadi perdebatan yang hangat diantara para fakar pariwisata dan pelaku bisnis pariwisata. Sementara pembangunan pariwisata Bali dari masa ke masa, telah banyak mengalami perubahan seiring dengan dinamika social yang ada dalam masyarakat Bali. Artikel ini menggunakan metode desk research dengan melakukan kajian terhadap pustaka yang berhubungan dengan masalah yang dipecahkan, melalui kajian terhadap jurnal ilmiah, opini, dan artikel online, kemudian membandingkan dan menemukan persamaan dan perbedaannya sehingga dapat digunakan untuk menerangkan masalah yang ingin dipecahkan. Pada pembahasan artikel ini, ditemukan masih terdapat dualisme yang perlu dipadukan untuk mewujudkan keseimbangan antara tujuan pelestarian budaya dan pembangunan ekonomi bagi Bali. Ada beberapa solusi ditawarkan; seperti Picard menawarkan solusi pemahaman dan fungsi seni dan budaya dan aktivitasnya dalam pariwisata dan kehidupan beragama. Sementara Max-neef menawarkan Tourism community relationships, sedangkan solusi lainnya adalah perlunya stakeholders involment, Blue Print, dan Carrying Capacity. keywords: culture, budaya, heritage, warisan budaya, tourism, pariwisata, produk, komoditas, destinasi Pendahuluan Perdebatan antara Konservasi dan Pemanfataan Diskusi dan perdebatan tentang budaya saat ini sudah tidak lagi berdebat tentang ekspresi, imajinasi, atau kreativitas, namun sudah membahas tentang budaya sebagai 1 sebuah produk wisata. Menurut Hewison, (1988: 240, dikutip oleh Ho dan Bob McKercher, 2010) mengatakan bahwa budaya dikonsumsi sebagai sebuah komoditas karena didalamnya terkandung nilai experiences. 2 Pada masyarakat modern, heritage seringkali dijadikan komoditas yang bernilai ekonomis khususnya untuk kepentingan industri pariwisata (Graham at al, 2000) padahal nilai yang terkandung pada heritage sebenarnya lebih dari pada anggapan heritage sebagai sebuah barang dan jasa, akibatnya terjadilah eksploitasi heritage sebagai sebuah produk pariwisata, dan jika tidak dikelola secara bijaksana akhirnya heritage akan diperjualbelikan, distandarkan seperti 1 Culture has become a commodity. (Hewison, 1988: 240) 2 In contemporary society, heritage is often treated as a commodity for economic uses, especially for tourism (Graham, Ashworth &amp; Tunbridge, 2000) 2. Page | 2 layaknya sebuah barang yang berwujud padahal heritage itu juga mengandung elemen tak berwujud intangible yang mengansng nilai yang tidak pernah dapat distandarkan dan di hitung secara ekonomis. 3 Lebih lanjut Graham at al, (2000) mengatakan, ketika Warisan Budaya heritage dan budaya culture dianggap sebagai sumber daya ekonomi dan kapital, akhirnya alasan inilah yang dijadikan sebagai legitimasi untuk menjadikan budaya dan warisan budaya sebagai sebuah produk dalam industri pariwisata. Sementara Shackley (2001) membenarkan bahwa perjalanan yang mempersembahkan warisan budaya dan budaya sebagai produk akan berbau komersialisasi mendekati kebenaran. 4 Pemanfaatan cultural heritage atau warisan budaya sebagai sebuah produk yang siap dikonsumsi pada industri pariwisata relatif masih baru, khususnya oleh kalangan profesional pariwisata dan kalangan ilmiah dimulai sekitar tahun 1990 (Ashworth at al, 1994). Ide pemanfaatan warisan budaya sebagai sebuah produk juga diawali adanya sebuah tujuan utama untuk memberikan kepuasan pada wisatawan, mempersembahan eksperiens yang menjadi kebutuhan wisatawan. Pola pendekatan yang digunakan adalah pendekatan produk dan pemasaran yang berimbang dengan memadukan tujuan antara pelestarian dan pengelolaan warisan budaya sebagai sebuah komoditas pariwisata. Dalam konsep pengelolaannya, ada dua perbedaan mendasar yang sangat sulit untuk menemukan sebuah keseimbangan yakni antara prinsip pengelolaan warisan budaya yang lebih cenderung berdekatan dengan konservasi sedangkan pariwisata yang lebih cenderung mengarah pada industri pariwisata yang lebih cenderung pada komersialisasi. Kesulitan yang nyata terjadi ketika harus ditentukan berapa harga yang harus dipatok untuk sebuah produk warisan budaya. 56 Sementara Gunn (1998: 10) menyatakan, sering terjadi kesalahan tentang pengertian produk pariwisata pada sebuah system pariwisata, dan kebanyakan sering didasarkan bahwa produk adalah sesuatu yang beruwujud. Dikatakan, perlu ada definisi yang jelas apa yang dimaksud dengan produk?, bagaimana produk tersebut dapat difungsikan?, dan sangat mungkin bahwa produk warisan budaya mungkin hanya sebatas hayalan para wisatawan saja. Seringkali terjadi konsep yang berbeda antara pengelola produk pariwisata budaya dengan konsep konsumsi para wisatawan terhadap produk warisan budaya tersebut karena adanya perbedaan cara mengkonsumsinya, acapkali ada beberapa wisatawan yang memang benar- benar perduli dengan nilai yang terkadung pada sebuah warisan budaya yang dikunjunginya, namun tidak sedikit pula wisatawan yang tidak acuh dengan nilai yang termanifestasi pada sebuah warisan budaya. Untuk menyatukan konsep yang berbeda inilah diperlukan manajemen 3 Shackley (2001), although describing a journey to a sacred site as a service product being consumed by its customers convey a very commercial feel, this is however true. 4 The idea of managing cultural heritage assets as products for tourism consumption is relatively new, for cultural tourism professionals and scholars have been advocating this idea only since the late 1990s (Ashworth, 1994; Hughes, 1989; McKercher &amp; du Cros, 2002; Richards, 1996; Shackley, 2001). 5 Heritage selanjutnya disebut warisan budaya 6 Gunn (1988: 10), Misunderstanding of the tourism product is often a constraint in a smoothly functioning tourism system. Only if the true nature of a product is appreciated, will the management of it be successful and fruitful. 3. Page | 3 yang mampu memadukan sehingga antara tujuan konservasi dan pemanfataan dapat bertemu dalam keseimbangan. Heritage Tourism sebagai Industri Christou 2005, (dikutip oleh Sigala and Leslie, 2005:8) berpendapat bahwa Heritage tourism adalah sebuah industri. Pendapatnya mengacu kepada aktifitas modern yang dapat direncanakan, dikontrol dan mempunyai tujuan untuk menghasilkan produk di pasar atau market. Heritage dan tourism merupakan perpaduan dua industri, dimana heritage yang berperan untuk merubah sebuah lokasi menjadi destinasi dan tourism yang merupakan pewujudan dari aktifitas ekonomi (Kirschenblatt-Gimblett,1998:151; dikutip oleh Urry, 1990:90; dan Smith,2006:13). Pada bagan dibawah ini merupakan interelasi dan komponen pada heritage industry: Bagan 1: Component of the Heritage Industry (Ashworth, 1994;Cited in Sigala et al. 2005:9) Pada bagan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: Heritage dapat berwujud bagunan kuno, candi, museum, atau artefac lainnya yang dijadikan dan disajikan serta ditawarkan kepada visitor atau wisatawan. Dengan segala kreatifitas pengelolaan, situs-situs heritage tersebut kemudian dikemas sedimikian rupa pada sebuah iklan atau brosur atau presentasi audio visual sesuai target visitor yang diharapkan untuk berkunjung. Selanjutnya heritage yang telah dikemas tersebut disebut produk yang siap dikonsumsi oleh wisatawan. Sebenarnya ada dua tujuan yang diharapkan pada konsepsi bagan di atas, pertama dari sisi pengelolaan heritage itu sendiri bertujuan untuk kelestarian Conservation agencies sementara pada sisi pengelolaan produk lebih mengacu pada kepentingan pelaku industry pariwisata User Industries yang lebih economy oriented. Untuk dapat menyeimbangkan keduanya diperlukan kebijaksanaan sehingga tujuan ekonomi tidak mengabaikan tujuan konservasi, begitu juga tujuan konservasi dapat berkelanjutan jika ada dukunggan pendanaan untuk maintenance dan pengelolaan secara berkala, pada konteks ini, pengelolaan harusnya menggunakan konsepsi carrying capacity management Resources (buildings, artefacts, etc.) Interpretation (packaging and presentation) Products Conservation agencies User Industries S e l e c t i T a r g e t i 4. Page | 4 Antara Pelestarian Budaya dan Pembangunan Ekonomi Pariwisata Budaya dan Pembangunan Ekonomi Peran pariwisata bagi provinsi Bali dalam pembangunan menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Jika dilihat peranan pariwisata dalam kontribusinya terhadap PDRB Bali, maka terlihat adanya peningkatan yang nyata. Pada tahun 2003, PDRB dari pariwisata sebesar 28,43 %, kemudian meningkat menjadi 29,16% pada tahun 2004, dan pada tahun 2005 meningkat lagi menjadi 29,37%. Sementara pada tahun 2006 kontribusi sector pariwisata terhadap PDRB Bali sedikit mengalami penurunan menjadi 28,88 sementara pada tahun 2007 meningkat kembali menjadi 28,98%. Tabel perbandingan contributor (lapangan usaha) terhadap PDRB Bali, dapat dilihat seperti table dibawah ini: Tabel: 7 Distribusi persentase PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) Provinsi Bali Sumber: BPS, 2009 Sementara menurut Suarsana (2011) peningkatan terjadi pada semua sektor ekonomi, di mana sektor perdagangan, hotel dan restoran masih tetap merupakan sektor andalan, karena mampu memberikan nilai tambah terbesar, yakni Rp 20,02 triliun. Selain itu sektor pertanian masih memberikan kontribusi yang cukup besar yakni Rp 12,10 triliun serta sektor pengangkutan dan komunmikasi sebesar Rp 8,63 triliun. 9 Perkembangan terakhir, lebih lanjut dikatakan bahwa untuk sektor perdagangan, hotel dan restoran mengalami pertumbuhan sebesar 8,7 persen memberikan sumbangan terhadap 7 Distribusi persentase PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) Provinsi Bali 8 Sektor Usaha Pariwisata meliputi: Perdag., hotel &amp; restoran 9 NusaBali, Selasa 8 Pebruari 2011 Pertumbuhan Ekonomi Bali 5,83 Persen Lapangan Usaha (%) 2003 2004 2005 2006 2007 1. Pertanian 21,66 20,74 20,29 19,96 19,41 a. Tanaman Bahan Makanan 10,59 10,36 9,99 9,65 9,32 b. Tanaman Perkebunan 1,91 1,78 1,74 1,74 1,67 c. Peternakan dan Hasil-hasilnya 5,49 5,07 5,28 5,32 5,16 d. Kehutanan 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 e. Perikanan 3,67 3,52 3,27 3,24 3,26 2. Pertambangan &amp; penggalian 0,68 0,68 0,66 0,69 0,66 3. Industri pengolahan 9,11 9,00 8,69 8,70 8,99 4. Listrik, gas &amp; air bersih 1,57 1,80 1,85 1,94 2,00 5. Bangunan 4,02 3,91 4,03 4,28 4,43 6. 8 Perdag., hotel &amp; restoran 28,43 29,16 29,37 28,88 28,98 7. Pengangkutan &amp; komunikasi 11,20 11,30 11,85 11,86 12,33 8. Keu. Persewaan, &amp; jasa perusahaan 6,59 6,79 7,07 7,46 7,34 9. Jasa-jasa 16,75 16,61 16,19 16,22 15,86 PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 5. Page | 5 sumber pertumbuhan terbesar terhadap total pertumbuhan PDB yaitu sebesar 1,5 persen. Selanjutnya diikuti oleh Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dan Sektor Industri Pengolahan yang memberikan peranan masing-masing sebesar 1,2 persen.7% (Nusa Bali, 2011) Lalu dimana hubungan Pariwisata Budaya dengan pembangunan ekonomi Bali? Tourism strategies and promotions commonly include appeals relating to traditional life and cultures. As Javier Perez de Cuellar, the former United Nations Secretary General, stated in the 1995 Yogyakarta International Conference on Culture and Tourism, There is no tourism without culture (Kompas, 1995). In fact, it could well be argued that the facilities and services offered to tourists are easily imitated whatever the environment. It is the local people living in a destination area, and the many material and immaterial aspects of their traditional culture that are unique and thus extremely marketable. According to Lanfant (Lanfant, Allcock and Bruner, 1995, 35 dikutip oleh Williams dan Darma Putra, 1997) Menurut Williams dan Darma Putra, (1997) mengatakan bahwa dalam strategi prmosi pariwisata biasanya selalu menghubungkan tradisi dan budaya, lebih lanjut Cuellar berpendapat bahwa tidak ada pariwisata tanpa budaya, artinya kalau sebuah daerah mempromosikan pariwisata sebenarnya mereka mempromosikan budaya di sebuah destinasi tersebut. Walaupun dalam kenyataannya para pelaku bisnis juga menawarkan fasilitas yang mewah tapi sebenarnya yang menarik untuk dipasarkan adalah keunikan dari budaya tersebut (Lanfant at al, 1995 dikutip oleh Williams dan Darma Putra, 1997) Jika dihubungkan antara kedua fakta di atas yakni, sektor Pariwisata Bali telah menjadi leading sector pembangunan ekonomi Provinsi Bali saat ini, ini semata-mata karena keunikan Budaya Bali itu sendiri yang telah dijadikan icon oleh para pelaku bisnis pariwisata Bali. Sementara Hasil Penelitian Suradnya (2005) dengan menggunakan teknik analisis faktor (factor analysis) berhasil mengidentifikasikan delapan faktor sebagai daya tarik bagi wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Bali, yakni : (1) Harga-harga produk wisata yang wajar, (2) Budaya dalam berbagai bentuk manifestasinya, (3) Pantai dengan segala daya tariknya, (4) Kenyamanan berwisata, (5) Kesempatan luas untuk relaksasi, (6) Citra (image) atau nama besar Bali, (7) Keindahan alam, (8) Keramahan penduduk setempat. Hasil Penelitian Suradnya menggambarkan kondisi yang agak berbeda sedikit dengan pendapat Williams dan Darma Putra, namun factor (yakni factor ke-2) Budaya dalam berbagai bentuk manifestasinya masih menjadi daya tarik yang cukup kuat untuk menarik dan mendorong wisatawan mancanegara datang berlibur ke Bali. Pariwisata Budaya di Bali sebagai sebuah Solusi Pembangunan? Vickers (1989) and Picard (1996) observe that both Indonesian presidents, in their time have hailed Bali and tourism as central to the countrys development. International agencies and organizations have also taken this stance, as did colonial administrators prior to independence. 6. Page | 6 Menurut Vickers (1989) dan Picard (1996) dalam Williams dan Darma Putra (1997) menuliskan bahwa pada era pemerintahan Presiden Soeharto yakni presiden Indonesia yang ke- dua, Bali telah dijadikan sebagai pusat pembangunan pariwisata Indonesia. Begitu juga beberapa organisasi internasional telah mengangggap bahwa pembangunan pariwisata di Indonesia sebenarnya telah dimulai di Bali sejak pemerintahan penjajahan Belanda. The New Order of President Suharto additionally stressed the importance of national and ethnic identity to Indonesia, evident in the countrys motto of unity in diversity. This support for the rich cultural heritage of Indonesia, coupled with increases in the locals standard of living, are likely to have contributed to the increased interest of Balinese in their identity (Williams dan Darma Putra, 1997). Lebih lanjut Williams dan Darma Putra (1997) bahwa pada masa orde baru jaman pemerintahan Presiden Soeharto telah memberikan perhatian yang cukup penting tentang pentingnya nasionalisme dan identitas bangsa yang lebih jelas tertuang dalam konsep Bhineka Tunggal Ika, hal ini yang mendorong berkembangnya budaya daerah dan pada akhirnya akan memperkaya khasanah budaya nasional, karena budaya nasional tersebut sebenarnya unitas dari keberagaman budaya daerah y...</p>