Delayed Parastesia Setelah Pencabutan Gigi M3 Rahang Bawah

Preview:

DESCRIPTION

Salah satu komplikasi yang mungkin timbul dari kesalahan anastesi adalah adanya parastesi. Parestesi merupakan efek perpanjangan anastesi berupa rasa kebas yang bertahan . Menurut penelitian yang dilakukan oleh Blondeu (2007), melaporkan bahwa angka terjadiya presistensi setelah pencabutan molar tiga rahang bawah impaksi berkisar 0,4% sampai 8,4% dari 550 molar tiga rahang bawah. Haug (2005), melakukan sebuah penelitian terhadap 8.000 kasus pencabutan molar tiga rahang bawah impaksi, dimana hasil penelitian memperlihatkan bahwa insidensi parastesi kurang dari 2 % pada pasien berumur 25 tahun keatas. Insidensi parastesi meningkat seiring pertambahan usia.

Transcript

BAB I

PENDAHULUANImpaksi molar tiga rahang bawah merupakan kasus yang umumnya sering dijumpai dalam praktik kedokteran gigi. Odontektomi merupakan perawatan yang dianjurkan untuk mengangkat gigi molar tiga rahang bawah yang impaksi sehingga dengan demikian dapat menghilangkan keluhan-keluhan yang mungkin dirasakan pasien oleh karena gigi impaksi tersebut. Dalam hal ini mandibular blok anastesi merupakan pilihan anastesi yang tepat dan harus dilakukan untuk mendapatkan efek anastesi dengan durasi yang lama. Anatomi, sistem persyarafan serta teknik yang tepat merupakan hal dasar yang harus diketahui dalam melakukan mandibular blok anastesi sehingga dapat meminimalkan kemungkinan terjadinya komplikasi-komplikasi yang timbul dari efek anastesi.

Salah satu komplikasi yang mungkin timbul dari kesalahan anastesi adalah adanya parastesi. Parestesi merupakan efek perpanjangan anastesi berupa rasa kebas yang bertahan . Menurut penelitian yang dilakukan oleh Blondeu (2007), melaporkan bahwa angka terjadiya presistensi setelah pencabutan molar tiga rahang bawah impaksi berkisar 0,4% sampai 8,4% dari 550 molar tiga rahang bawah. Haug (2005), melakukan sebuah penelitian terhadap 8.000 kasus pencabutan molar tiga rahang bawah impaksi, dimana hasil penelitian memperlihatkan bahwa insidensi parastesi kurang dari 2 % pada pasien berumur 25 tahun keatas. Insidensi parastesi meningkat seiring pertambahan usia.

Melihat bahwa parestesi merupakan komplikasi yang persentasenya kecil tetapi dapat terjadi dalam praktik kedokteran gigi, maka dengan ini akan sedikit mengupas mengenai sistem persyarafan mandibula, kesalahan-kesalahan yang menyebabkan parestesi dan perawatan yang sesuai untuk mengobati parestesi.BAB II

PARASTESI NERVUS ALVEOLARIS INFERIOR

A.Nervus alveolaris inferior

Nervus alveolaris inferior adalah cabang yang terbesar dari divisi posterior dari nervus mandibularis yang menginervasi gigi-geligi dan jaringan pendukungnya di regio mandibula. mula-mula melalui permukaan medial dari muskulus pterigoideus eksternus dan dari arteri maksilaris interna, kemudian di antara ramus mandibula dan muskulus pterigoideus internus, sedikit membengkok, dan ke bawah menuju ke foramen mandibula kemudian ke bagian depan di dalam kanalis mandibula bersama-sama dengan arteri dan vena, dekat dengan foramen mental, nervus alveolaris inferior terbagi atas nervus mental dan vabang kecil gigi insisivus yang mana berlanjut menyusuri tulang dan gingival bagian labial.

Nervus alveolaris inferior mengadakan cabang-cabang:

1. Nervus milohioideus, berasal dari nervus alveolaris inferior tepat sebelum masuk ke foramen mandibularis dan turun ke bawah dank e depan di dalam sulkus milohioideus mandibula, mula-mula lateral dari muskulus pterigoideus internus, kemudian di bawah muskulus milohioideus dan akhirnya menambah venter anterior muskulus digastrikus.2. Rami dentalis inferior dan rami gingivalis inferior, yang berjalan di dalam kanalis mandibula yang menginervasi gigi molar, premolar, prosesus alveolaris dan periosteum dan masuk ke tiap-tiap akar gigi yang akhirnya membentuk pleksus dentalis inferior di atas nervus mandibularis.3. Nervus mentalis, adalah cabang yang terbesar, meninggalkan kanalis mandibula melalui foramen mentalis, ditutupi muskulus triangularis. Nervus ini membelah menjadi rami labialis inferior yang berjalan ke bagian atas untuk kulit dan membrane mukosa bibir bawah.1

Gambar 1

Nervus alveolaris inferior1B.Pengertian parestesi

Parestesi didefinisikan sebagai suatu fenomena sensorik berupa kebas, rasa terbakar dari kulit tanpa adanya stimulus yang jelas dan salah satu manisfestasi klinis adanya sensasi yang tidak normal, hal ini terjadi akibat adanya perubahan sensasi pada sistem saraf perifer, dapat bersifat sementara atau menetap. Parestesi disebabkan oleh cedera saraf yang dapat mengenai n alveolaris inferior, n lingualis, n bukalis, n milohioideusdan n mentalis. Cabang-cabang saraf tersebut mempunyai fungsi sensoris.2 Cedera yang mengenai syaraf-syaraf ini biasanya sulit dihindari karena anatomi pembuluh-pembuluh syaraf tersebut dekat dengan bagian apical gigi molar ketiga rahang bawah. Pembuluh-pembuluh syaraf tersebut merupakan cabang-cabang nervus mandibularis, divisi ketiga dari nervus trigeminus.3Terkadang pasien merasakan kebas (beku) beberapa jam setelah pemberian anestesi lokal yang terjadi pada bagian-bagian wajah tertentu seperti bibir, gusi, ujung lidah atau dagu. Hal ini tidak menjadi masalah, namun ketika parestesi tetap ada selama beberapa hari, minggu atau bulan, akan menjadi masalah. Parestesi atau anestesi yang persisten merupakan komplikasi yang mengganggu dari pemberian anestesi lokal yang terkadang tidak dapat dicegah. Parestesi juga merupakan salah satu penyebab dari tuntutan malpraktek yang paling sering.2Mekanisme terjadinya parestesi sebagai respon terhadap kerusakan syaraf perifer dapat dijelaskan melalui proses wallerian degeneration bahwa kerusakanan anatomi syaraf menyebabkan kelainan sensasi, sentuhan ringan saja dapat menimbulkan kelainan sensasi. Pada sistem syaraf perifer, jika terjadi kerusakan maka ujung akson pada sisi distal akan mengalami degenerasi. Makrofag akan bermigrasi untuk melaksanakan fungsi fagositosis terhadap debris maupun benda-benda asing di daerah kerusakan. Sel-sel schwan tidak berdegenerasi tetapi berproliferasi dan berubah membentuk sel yang solid menyerupai bentuk sel yang asli seperti sel-sel schwan pada akson bagian proksimal. Kemudian akson distal sebagai akson baru yang dibungkus oleh sel-sel schwann, akan masuk dan bersatu dengan akson proksimal. Jika pembentukan berlangsung terus secara normal maka akan terbentuk akson baru yang akan menghubungkan dengan sinaps. Dengan terbentuknya kembali selubung akson maka peristiwa penghantaran impuls akan kembali normal. Selama fase regenerasi didaerah kerusakan maka peristiwa penghantaran impuls tidak sebaik sebagaimana mestinya. Kelainan sensasi pada daerah penyembuhan jaringan yang teriritasi khronis oleh karena adanya kontak jaringan syaraf baru dengan jaringan syaraf semula disekitarnya, dapat menyebabkan penghentian penghantaran impuls syaraf secara spontan selama fase regenerasi syaraf. Jembatan syaraf yang dihasilkan oleh fase regenerasi syaraf biasanya tidak sama dalam hal bentuk dan ukuran semula sehingga sifat dan kemampuan jaringan syaraf yang baru dalam penghantaran impuls jadi berubah. Disamping itu daya regenerasi dari pembuluh syaraf tergantung atas sifat gen dan umur individu. Pada individu yang sudah tua respon badan sel biasanya lebih lambat dari yang lebih muda.3Menurut seddon (1943), kerusakan saraf secara umum dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu:41.Neurapraxia

Neurapraxia adalah kerusakan saraf tanpa kehilangan kontinuitas akson, tanpa demieliniasi atau tanpa terbentuknya neuroma. Dalam hal ini terdapat gangguan penghantaran impuls yang bersifat sementara. Neurapraxia disebabkan karena tekanan ringan pada saraf, pengaruhtermal, dan infeksi akut. Biasanya dapat sembuh secara spontan kurang dari 2 bulan.

2.Axonotmesis

Axonotmesis adalah kerusakan saraf yang cukup berat, dimana terjadi kehilangan kontinuitas akson tetapi selubung endoneuriam masih utuh dan mungkin terbentuk neuroma. Hal ini disebabkan karena kerusakan saraf sebagian, saraf tertarik, terkena bahan kimia, hematom dan infeksi kronis. Keadaan ini dapat sembuh spontan dalam 2 sampai 4 bulan.

3.Neurotmesis

Neurotmesis adalah kerusakan saraf yang parah, dimana semua susunan dan struktur saraf terputus dan terbentuk neuroma. Neurotmesis terjadi karena luka robek, laserasi dan avulse batang saraf. Penyembuhan dapat berlangsung lama hingga 2 tahun, bahkan kehilangan sensasi biasanya menetap.

C.Insidensi parastesi pada nervus alveolaris inferior

Blondeu (2007), melaporkan angka terjadiya presistensi setelah pencabutan molar tiga rahang bawah impaksi berkisar 0,4% sampai 8,4% dari 550 molar tiga rahang bawah. Haug (2005), melakukan sebuah penelitian terhadap 8.000 kasus pencabutan molar tiga rahang bawah impaksi, dimana hasil penelitian memperlihatkan bahwa insidensi parastesi kurang dari 2 % pada pasien berumur 25 tahun keatas. Insidensi parastesi meningkat seiring pertambahan usia.4

Schultze-mosgau dan reich (1993), melaporkan angka terjadinya parastesi pasca pencabutan molar tiga rahang bawah impaksi, dari 791 pasien yang dilakukan tindakan pencabutan molar tiga rahang bawah dilaporkan 1,3% mengalami cedera pada alveolaris inferior dan 1,9% mengalami cedera pada nervus lingualis, sedangkan cedera pada nervus bukalis sangat jarang. Fielding dkk (1997), juga melaporkan bahwa pada pasca pencabutan molar tiga rahang bawah impaksi terjadi lingual parastesi unilateral sebanyak 92,7%, sedangkan lingual parastesi bilateral sebanyak 7,3%.4

Menurut peterson (1993), impaksi mesio angular memiliki insidensi terjadinya parastesi lingual yang paling tinggi (30,6%), kemudian diikuti oleh impaksi disto angular (19,6%). Hal ini disebabkan karena pencabutan impaksi disto angular mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi karena dalam pencabutannya melibatkan ramus mandibula dan membutuhkan intervensi bedah yang besar seperti pembuangan tulang yang banyak.4

Selain itu, posisi impaksi mesio angular sangat dekat dengan kanalis mandibularis sehingga paska pencabutan molar 3 rahang bawah sering menimbulkan parestesi nervus alveolaris inferior

BAB IIIPENYEBAB PARESTESIA PADA NERVUS ALVEOLARIS INFERIOR SETELAH PENCABUTAN GIGI MOLAR TIGA BAWAHEtiologi parestesia pasca pencabutan molar tiga rahang bawahPenyebab timbulnya parestesia pasca pencabutan molar tiga bawah adalah karena trauma yang mengenai saraf-saraf di sekitar molar tiga rahang bawah.5 Terdapat berbagai macam faktor yang dapat menyebabkan parestesia pasca pencabutan molar tiga rahang bawah impaksi, diantaranya yaitu: