• 1. PENENTUAN LAJU REAKSI DAN TETAPAN LAJU REAKSI PENYABUNAN ETIL ASETAT Dian Mustikasari, Agnes Ikawati Laboraturium Kimia Fisika Jurusan Kimia Universitas Negeri Semarang Gedung D8 Lt 2 Sekaran Gunungpati 50229, Semarang, Indonesia [email protected], 085712399023 Abstrak Percobaan penetuan laju reaksi dan tetapan laju reaksi penyabunan etil asetat bertujuan untuk membuktikan bahwa reaksi penyabunan etil asetat merupakan reaksi orde dua. Penentuan ini dilakukan dengan metode titrasi. Titrasi dilakukan pada beberapa variasi waktu yaitu pada menit ke-0, 3, 8, 15, 25, 40, 65 terhitung ketika NaOH bereaksi dengan etil asetat. Percobaan ini berlaku pada kondisi dimana semua larutan berada pada konsentrasi yang sama dimana x/a(a-x) = kt. Larutan NaOH mempunyai konsentrasi 0,0209 M, larutan HCl 0,0178 M dan larutan etil asetat 0,02 M. Berdasarkan data didapatkan perhitungan konsentrasi NaOH yang bereaksi berturut-turut adalah 0,011572; 0,011577; 0,011582; 0,011611; 0,011507 dan 0,011503 M. Konstanta laju reaksi diperoleh dari grafik x/a(a-x) terhadap waktu (t) adalah 0,026. Sehingga dapat disimpulkan bahwa garis lurus yang terbentuk pada grafik menujukkan reaksi penyabunan etil asetat dan ion hidroksida merupakan reaksi orde dua. Laju reaksi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu konsentrasi dari spesi yang bereaksi, temperature, ada tidaknya katalis dan sifat dari rekatan sendiri. Kata kunci: laju reaksi; penyabunan etil asetat; tetapan laju reaksi;; titrasi Abstract The determination of reaction rate and reaction rate constant experiment of ethyl acetate saponification in order to prove that ethyl acetate saponification reaction is the second order reaction. The determination was done by titration method. The titration was done on some variation of time at the 0th , 3rd , 8th , 15th , 40th , and 65th minutes counted NaOH is react with ethyl acetate. This experiment is applied at certain condition when all of the solution is having a same concentration where, x/a(a-x) = kt. The NaOH solution was made have concentration 0,0209 M, HCl was standaridized have oncentration 0,0178 M and the ethyl acetate have concentration 0,02 M. The calculation based on data of the NaOH concentration that reacted …ly is 0,011572; 0,011577; 0,011582; 0,011611; 0,011507 and 0,011503 M. the constant of reaction rate was get from the graph of x/a(a-x) against time is 0,026. Then, it can be concluded that the straight line will be formed on the graph show as the ethyl acetat saponification reaction with hydroxide ions is the second order reaction. The reaction rate can be influenced by some factor is the concentration of the reactant, temperature, the presence of catalyst and the reactant characteristic. Keywords: ethyl acetat saponification; reaction rate; reaction rate constant; titration Pendahuluan Percobaan penentuan laju reaksi dan konstanta laju reaksi ini dilakukan dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa reaksi saponifikasi etil asetat oleh ion hidroksida adalah
  • 2. reaksi orde dua. Selain itu juga untuk menentukan konstanta laju reaksinya. Menurut Pahari (2006), laju reaksi merupakan perubahan konsentrasi dari reaktan atau produk tiap satuan waktu. Sedangkan konstanta laju reaksi merupakan laju reaksi ketika konsentrasi reaktan bersatu. (Upadhyay: 2007) Setiap reaksi mempunyai laju atau kecepatan. Ada reaksi yang berlangsung cepat dan ada juga reaksi yang berlangsung sangat lambat. Ilmu yang mempelajari tentang laju reaksi dan mekanisme reaksi dikenal sebagai kinetika kimia. Laju reaksi adalah sebuah variabel yang bergantung pada konsentrasi dari spesi yang bereaksi, suhu, ada tidaknya katalis, dan sifat dari reaktan itu sendiri. (Hein, 2011). Laju reaksi yang sederhana dapat ditentukan oleh persamaan stoikiometri. Sebaliknya, ada laju reaksi yang bersifat kompleks yang tidak dapat ditentukan oleh reaksi stoikiometri (Connors,1990). Laju reaksi tersebut apabila diberi katalis asam dapat menjadi lebih cepat (Chang, 2005). Laju reaksi sering dituliskan dengan persamaan k[A]n [B]m , dimana konstanta k (disebut sebagai konstanta laju reaksi spesifik atau konstanta laju reaksi) tidak bergantung pada konsentrasi dari semua spesi. Eksponen n dan m disebut dengan orde reaksi untuk masing-masing komponen A dan B, sedangkan penjumlahan dari n dan m disebut sebagai orde reaksi keseluruhan.Ada beberapa orde reaksi, meliputi reaksi orde satu, reaksi orde dua, reaksi orde tiga, dan reaksi orde pseudo. (Remington: 2006) Salah satu contoh reaksi orde dua adalah reaksi hidrolisis etil asetat pada kondisi basa, atau biasa disebut dengan reaksi saponifikasi etil asetat. Reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut: CH3COOC2H5 + OH-  CH3COO- + C2H5OH Penentuan tetapan laju reaksi dari reaksi tersebut dapat ditentukan dengan metode titrasi, konsentrasi dari ion hidroksida yang tersisa, yang tidak bereaksi pada saat reaksi berlangsung. Data tersebut dan konsentrasi awal etil asetat dan ion hidroksida dapat digunakan untuk menentukan konstanta laju reaksi (Remington, 2006). Laju reaksi = k [CH3COOC2H5][OH- ] Persamaan yang dapat digunakan dalam menentukan laju reaksi orde dua adalah 𝑡 = 1 𝑘 [ 1 𝑎 − 𝑥 − 1 𝑎 ] 𝑡 = 𝑥 𝑘𝑎(𝑎 − 𝑥)
  • 3. 𝑘 = 𝑥 𝑡𝑎(𝑎 − 𝑥) 𝑘𝑡 = 𝑥 𝑎(𝑎 − 𝑥) (Florence: 2011) Persamaan-persamaan di atas dapat membentuk persamaan y = mz + b. Jika sebuah reaksi merupakan reaksi orde 2, maka grafik 𝑥 𝑎(𝑎−𝑥) versus t akan membentuk garis linear. Jika garis lurus terbentuk, maka itu membukatikan bahwa reaksi tersebut benar-benar reaksi orde dua, dengan konstanta laju reaksi yang didapatkan dari kemiringan garis tersebut. (Moore: 2010) Metode Bahan yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah NaOH p.a padat dari Merck, larutan etil asetat pekat 10 M, larutan HCl 12 M, dan indicator fenolphtalein. Alat yang digunakan seperti gelas arloji, labu ukur 250, 200, 100 ml, pipet ukur 1 ml, pipiet volume 10 ml, spatula, ball pipette, stopwatch, pengaduk, corong, botol semprot, Erlenmeyer Duran 250 ml, 600 ml, buret 25 ml, baskom, klem, statif, dan thermometer. Untuk titrasi dan campuran dalam larutan, NaOH 0,02 M dibuat dalam 0,367 gram untuk dilarutkan dalam 450 ml aquades yang mana diperlukan untuk titrasi sebanyak 200 ml NaOH dan 250 ml untuk campuran etil asetat. Larutan etil asetat 0,02 M dibuat sebanyak 200 ml, dan larutan HCl 0,02 M sebanyak 200 ml. Untuk proses standarisasi menggunakan 10 ml larutan HCl dengan NaOH titran. Metode titrasi merupakan salah satu cara untuk dapat menentukan laju reaksi dan konstanta laju reaksi. Oleh karena itu, dalam praktikum ini dilakukan penyamaan suhu terlebih dahulu anatar NaOH 250 ml dengan 200 ml etil asetat. Kedua botol diletakkan dalam wadah terbuka (baskom) yang diisi air, kemudian didapatkan temperaturnya adalah 26o C. setelah temperature sama, kedua larutan dicampur, pada detik pertama dicampur inilah stopwatch mulai berjalan karena keduanya mulai bereaksi. Tiga menit pertama setelah reaksi berlangsung (stopwatch tetap berjalan) 10 ml campuran NaOH dan etil asetat diambil menggunakan pipet volume 10 ml, kemudian campurkan pada 20 ml larutan HCl yang telah disiapkan pada tabung Erlenmeyer. Tambahkan beberapa tetes indicator fenolphtalein. Kelebihan HCl pada reaksi akan dinetralisir oelh NaOH titran sampai warna
  • 4. berubah menjadi merah muda. Langkah ini diulangi hingga menit ke-8, 15, 25, 40, 65 setelah reaksi dimulai. Maka akan didapatlkan beberapa data untuk penentuan laju. Dari data yang diperoleh akan didapatkan banyak mol NaOH awal yang bereaski dengan etil asetat dan konsentrasi NaOH yang mana dapat digunakan untuk menentukan tetepan laju dengan membentuk grafik x/a(a-x) terhadap t. konstanta lju reaksi adalah slope (Kemiringan) dari grafik tersebut. Garis lurus yang terbentuk pada grafik x/a(a-x) terhadap t yang menunjukkan bahwa proses penyabunan etil asetat denagn ion hidroksida merupaka reaksi orde dua. Hasil dan Pembahasan Dibutuhkan NaOH sebanyak 8,5 ml pada proses standarisasi HCl sehingga didapatkan molaritas HCl adalah 0,0178 M. Volume NaOH yang diperlukan untuk titrasi pada proses penyabunan etil asetat dapat dihitung berdasarkan reaksi : CH3COOC2H5 + NaOH campuran CH3COONa + C2H5OH NaOH sisa + HCl awal NaCl + H2O HCl sisa + NaOH titran NaCl + H2O Dimana didapatkan data dari hasil percobaan adalah volume NaOH pada menit ke- 0, 3, 8, 15, 25, 40, 65 secara berturut-turut adalah 14,2; 16,2; 16,3; 16,4; 17,0; 14,8 dan 14,7 ml. Data ini dapat diolah untuk mengetahui banyak mol NaOH yang bereaksi dan konsentrasi NaOH untuk menghitung besarnya laju pada praktikum tersebut. Prinsip praktikum ini adalah larutan NaOH berlebih bereaksi dengan etil asetat ketika kedua larutan, sisa NaOH akan bereaksi dengan larutan asam berlebih yaitu HCl yang telah ditambahkan oleh pp indicator. Sisa HCl itu lah yang nanti akan bereaksi dengan larutan NaOH titran. Sehingga dapat diketauhui jumlah mol HCl sisa dari volume NaOH yang dibutuhkan untuk menetralkan HCl. Penentuan molaritas NaOH yang bereaksi didapatkan dari jumlah mol NaOH awal yang bereaksi berdasarkan hsil perhitungan data pengamatan. Hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel 1 dan 2. Tabel 1. Penentuan mmol NaOH yang bereaksi Waktu V NaOH titran (ml) mmol NaOH titran = mmol HCl sisa Mmol HCl reaksi = mmol NaOH sisa mmol NaOH reaksi (mmol)
  • 5. (mmol) (mmol) Menit ke-3 16,2 0,33858 0,01742 5,20758 Menit ke-8 16,3 0,34067 0,01533 5,20967 Menit ke-15 16,4 0,34276 0,01324 5,21176 Menit ke-25 17,0 0,3553 0,0007 5,2243 Menit ke-40 14,8 0,30932 0,04668 5,17832 Menit ke-65 14,7 0,30723 0,04877 5,17632 Tabel 2. Penentuan Molaritas NaOH yang bereaksi Waktu (s) Molaritas NaOH yang bereaksi (M) 180 0,011572 480 0,011577 900 0,011582 1500 0,011611 2400 0,011507 3900 0,011503 Dari tabel 1 dan 2 dapat terlihat bahwa volume NaOH yang bereaksi cenderung mengalami kenaikan sebanding dengan waktu pencampuran. Hal ini disebabkan semakin lama larutan NaOH dan etil asetat bercampur, semakin banyak pula NaOH titran yang dibutuhkan untuk menetralkan HCl sisa. Untuk mengetahui besar laju pada reaksi dapat dihitung berdasarkan rumus berikut, pada kondisi dimana kedua larutan mempunyai konsentrasi yang sama (Flourence: 2011). 𝑘 = 1 𝑡 . 𝑥 𝑎(𝑎 − 𝑥) 𝑥 𝑎(𝑎 − 𝑥) = 𝑘. 𝑡 Dimana a merupakan konsentrasi awal etil asetat, x merupakan konsentrasi NaOH yang bereaksi dan t merupakan waktu dalam satuan detik. Data-data tersebut dapat dilihat dalam tabel 3.
  • 6. Tabel 3. Hasil persamaan reaksi orde dua t (s) a (M) x x/a(a-x) k 180 0,02 0,011572 68,652112 0,381401 480 0,02 0,011577 68,722545 0,143172 900 0,02 0,011582 68,793062 0,076437 1500 0,02 0,011611 69,203719 0,046136 2400 0,02 0,011507 67,744024 0,028227 3900 0,02 0,011503 67,688596 0,017356 Grafik 1. Grafik x/a(a-x) terhadap waktu Tabel 3 memperlihatkan harga k yang berbanding terbalik dengan pertambahan waktu. Dari grafik dapat dilihat bahwa kemiringan dari grafik tersebut adalah 0,026. Hal ini berarti konstanta laju reaksinya adalah. Reaksi penyabunan etil asetat dengan ion hidroksida termasuk reaksi orde dua karena garis yang terbentuk adalah garis lurus dengan kemiringan tertentu (Moore: 2010). Kesimpulan Dari percobaan ini didapatkan bahwa penentuan laju reaksi dan konstanta laju reaksi penyabunan etil asetat dengan ion hidroksida adalah reaksi orde dua yang mana 0.000000 20.000000 40.000000 60.000000 80.000000 100.000000 120.000000 180 480 900 1500 2400 3900 Penentuan Konstanta Laju Reaksi Linear x/a(a-x) x/a(a-x) waktu (s)
  • 7. merupakan hasil dari grafik x/a(a-x) terhadap t membentuk garis lurus dengan kemiringan adalah harga k = 0,026. Daftar Pustaka Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar : Konsep-konsep Inti. Jakarta:Erlangga, ed.2 Connors, Kenneth A. 1990. Chemical Kinetics: The Study of Reaction Rate in Solution. Winconsin : VCH Publishers, Inc. Florence, Alexander T dan David Attwood. 2011. Physiochemical Principles of Pharmacy. London: Pharmaceutical Press. Hein, Morris. 2011. Introduction to Chemistry. Louisiana : John Wiley and Sons, Inc, ed 13. Moore, John W, dkk. 2010. Principles of Chemistry: The Molecular Science. Belmont: Cengage Learning. Pahari, A. K. dan Chauhan B. S. 2006. Engineering Chemistry. New Delhi: Laxmi Publication. Remington, Joseph P. 2006. The Science and Practice of Phamacy. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. Upadhyay, Santosh K. 2007. Chemical Kinetics and Reaction Dynamics. New York: Springer.
    Please download to view
  • All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
    ...

    Penentuan laju reaksi dan tetapan laju reaksi

    by dian-azurea-ii

    on

    Report

    Category:

    Documents

    Download: 0

    Comment: 0

    2,510

    views

    Comments

    Description

     
    Download Penentuan laju reaksi dan tetapan laju reaksi

    Transcript

    • 1. PENENTUAN LAJU REAKSI DAN TETAPAN LAJU REAKSI PENYABUNAN ETIL ASETAT Dian Mustikasari, Agnes Ikawati Laboraturium Kimia Fisika Jurusan Kimia Universitas Negeri Semarang Gedung D8 Lt 2 Sekaran Gunungpati 50229, Semarang, Indonesia [email protected], 085712399023 Abstrak Percobaan penetuan laju reaksi dan tetapan laju reaksi penyabunan etil asetat bertujuan untuk membuktikan bahwa reaksi penyabunan etil asetat merupakan reaksi orde dua. Penentuan ini dilakukan dengan metode titrasi. Titrasi dilakukan pada beberapa variasi waktu yaitu pada menit ke-0, 3, 8, 15, 25, 40, 65 terhitung ketika NaOH bereaksi dengan etil asetat. Percobaan ini berlaku pada kondisi dimana semua larutan berada pada konsentrasi yang sama dimana x/a(a-x) = kt. Larutan NaOH mempunyai konsentrasi 0,0209 M, larutan HCl 0,0178 M dan larutan etil asetat 0,02 M. Berdasarkan data didapatkan perhitungan konsentrasi NaOH yang bereaksi berturut-turut adalah 0,011572; 0,011577; 0,011582; 0,011611; 0,011507 dan 0,011503 M. Konstanta laju reaksi diperoleh dari grafik x/a(a-x) terhadap waktu (t) adalah 0,026. Sehingga dapat disimpulkan bahwa garis lurus yang terbentuk pada grafik menujukkan reaksi penyabunan etil asetat dan ion hidroksida merupakan reaksi orde dua. Laju reaksi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu konsentrasi dari spesi yang bereaksi, temperature, ada tidaknya katalis dan sifat dari rekatan sendiri. Kata kunci: laju reaksi; penyabunan etil asetat; tetapan laju reaksi;; titrasi Abstract The determination of reaction rate and reaction rate constant experiment of ethyl acetate saponification in order to prove that ethyl acetate saponification reaction is the second order reaction. The determination was done by titration method. The titration was done on some variation of time at the 0th , 3rd , 8th , 15th , 40th , and 65th minutes counted NaOH is react with ethyl acetate. This experiment is applied at certain condition when all of the solution is having a same concentration where, x/a(a-x) = kt. The NaOH solution was made have concentration 0,0209 M, HCl was standaridized have oncentration 0,0178 M and the ethyl acetate have concentration 0,02 M. The calculation based on data of the NaOH concentration that reacted …ly is 0,011572; 0,011577; 0,011582; 0,011611; 0,011507 and 0,011503 M. the constant of reaction rate was get from the graph of x/a(a-x) against time is 0,026. Then, it can be concluded that the straight line will be formed on the graph show as the ethyl acetat saponification reaction with hydroxide ions is the second order reaction. The reaction rate can be influenced by some factor is the concentration of the reactant, temperature, the presence of catalyst and the reactant characteristic. Keywords: ethyl acetat saponification; reaction rate; reaction rate constant; titration Pendahuluan Percobaan penentuan laju reaksi dan konstanta laju reaksi ini dilakukan dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa reaksi saponifikasi etil asetat oleh ion hidroksida adalah
  • 2. reaksi orde dua. Selain itu juga untuk menentukan konstanta laju reaksinya. Menurut Pahari (2006), laju reaksi merupakan perubahan konsentrasi dari reaktan atau produk tiap satuan waktu. Sedangkan konstanta laju reaksi merupakan laju reaksi ketika konsentrasi reaktan bersatu. (Upadhyay: 2007) Setiap reaksi mempunyai laju atau kecepatan. Ada reaksi yang berlangsung cepat dan ada juga reaksi yang berlangsung sangat lambat. Ilmu yang mempelajari tentang laju reaksi dan mekanisme reaksi dikenal sebagai kinetika kimia. Laju reaksi adalah sebuah variabel yang bergantung pada konsentrasi dari spesi yang bereaksi, suhu, ada tidaknya katalis, dan sifat dari reaktan itu sendiri. (Hein, 2011). Laju reaksi yang sederhana dapat ditentukan oleh persamaan stoikiometri. Sebaliknya, ada laju reaksi yang bersifat kompleks yang tidak dapat ditentukan oleh reaksi stoikiometri (Connors,1990). Laju reaksi tersebut apabila diberi katalis asam dapat menjadi lebih cepat (Chang, 2005). Laju reaksi sering dituliskan dengan persamaan k[A]n [B]m , dimana konstanta k (disebut sebagai konstanta laju reaksi spesifik atau konstanta laju reaksi) tidak bergantung pada konsentrasi dari semua spesi. Eksponen n dan m disebut dengan orde reaksi untuk masing-masing komponen A dan B, sedangkan penjumlahan dari n dan m disebut sebagai orde reaksi keseluruhan.Ada beberapa orde reaksi, meliputi reaksi orde satu, reaksi orde dua, reaksi orde tiga, dan reaksi orde pseudo. (Remington: 2006) Salah satu contoh reaksi orde dua adalah reaksi hidrolisis etil asetat pada kondisi basa, atau biasa disebut dengan reaksi saponifikasi etil asetat. Reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut: CH3COOC2H5 + OH-  CH3COO- + C2H5OH Penentuan tetapan laju reaksi dari reaksi tersebut dapat ditentukan dengan metode titrasi, konsentrasi dari ion hidroksida yang tersisa, yang tidak bereaksi pada saat reaksi berlangsung. Data tersebut dan konsentrasi awal etil asetat dan ion hidroksida dapat digunakan untuk menentukan konstanta laju reaksi (Remington, 2006). Laju reaksi = k [CH3COOC2H5][OH- ] Persamaan yang dapat digunakan dalam menentukan laju reaksi orde dua adalah 𝑡 = 1 𝑘 [ 1 𝑎 − 𝑥 − 1 𝑎 ] 𝑡 = 𝑥 𝑘𝑎(𝑎 − 𝑥)
  • 3. 𝑘 = 𝑥 𝑡𝑎(𝑎 − 𝑥) 𝑘𝑡 = 𝑥 𝑎(𝑎 − 𝑥) (Florence: 2011) Persamaan-persamaan di atas dapat membentuk persamaan y = mz + b. Jika sebuah reaksi merupakan reaksi orde 2, maka grafik 𝑥 𝑎(𝑎−𝑥) versus t akan membentuk garis linear. Jika garis lurus terbentuk, maka itu membukatikan bahwa reaksi tersebut benar-benar reaksi orde dua, dengan konstanta laju reaksi yang didapatkan dari kemiringan garis tersebut. (Moore: 2010) Metode Bahan yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah NaOH p.a padat dari Merck, larutan etil asetat pekat 10 M, larutan HCl 12 M, dan indicator fenolphtalein. Alat yang digunakan seperti gelas arloji, labu ukur 250, 200, 100 ml, pipet ukur 1 ml, pipiet volume 10 ml, spatula, ball pipette, stopwatch, pengaduk, corong, botol semprot, Erlenmeyer Duran 250 ml, 600 ml, buret 25 ml, baskom, klem, statif, dan thermometer. Untuk titrasi dan campuran dalam larutan, NaOH 0,02 M dibuat dalam 0,367 gram untuk dilarutkan dalam 450 ml aquades yang mana diperlukan untuk titrasi sebanyak 200 ml NaOH dan 250 ml untuk campuran etil asetat. Larutan etil asetat 0,02 M dibuat sebanyak 200 ml, dan larutan HCl 0,02 M sebanyak 200 ml. Untuk proses standarisasi menggunakan 10 ml larutan HCl dengan NaOH titran. Metode titrasi merupakan salah satu cara untuk dapat menentukan laju reaksi dan konstanta laju reaksi. Oleh karena itu, dalam praktikum ini dilakukan penyamaan suhu terlebih dahulu anatar NaOH 250 ml dengan 200 ml etil asetat. Kedua botol diletakkan dalam wadah terbuka (baskom) yang diisi air, kemudian didapatkan temperaturnya adalah 26o C. setelah temperature sama, kedua larutan dicampur, pada detik pertama dicampur inilah stopwatch mulai berjalan karena keduanya mulai bereaksi. Tiga menit pertama setelah reaksi berlangsung (stopwatch tetap berjalan) 10 ml campuran NaOH dan etil asetat diambil menggunakan pipet volume 10 ml, kemudian campurkan pada 20 ml larutan HCl yang telah disiapkan pada tabung Erlenmeyer. Tambahkan beberapa tetes indicator fenolphtalein. Kelebihan HCl pada reaksi akan dinetralisir oelh NaOH titran sampai warna
  • 4. berubah menjadi merah muda. Langkah ini diulangi hingga menit ke-8, 15, 25, 40, 65 setelah reaksi dimulai. Maka akan didapatlkan beberapa data untuk penentuan laju. Dari data yang diperoleh akan didapatkan banyak mol NaOH awal yang bereaski dengan etil asetat dan konsentrasi NaOH yang mana dapat digunakan untuk menentukan tetepan laju dengan membentuk grafik x/a(a-x) terhadap t. konstanta lju reaksi adalah slope (Kemiringan) dari grafik tersebut. Garis lurus yang terbentuk pada grafik x/a(a-x) terhadap t yang menunjukkan bahwa proses penyabunan etil asetat denagn ion hidroksida merupaka reaksi orde dua. Hasil dan Pembahasan Dibutuhkan NaOH sebanyak 8,5 ml pada proses standarisasi HCl sehingga didapatkan molaritas HCl adalah 0,0178 M. Volume NaOH yang diperlukan untuk titrasi pada proses penyabunan etil asetat dapat dihitung berdasarkan reaksi : CH3COOC2H5 + NaOH campuran CH3COONa + C2H5OH NaOH sisa + HCl awal NaCl + H2O HCl sisa + NaOH titran NaCl + H2O Dimana didapatkan data dari hasil percobaan adalah volume NaOH pada menit ke- 0, 3, 8, 15, 25, 40, 65 secara berturut-turut adalah 14,2; 16,2; 16,3; 16,4; 17,0; 14,8 dan 14,7 ml. Data ini dapat diolah untuk mengetahui banyak mol NaOH yang bereaksi dan konsentrasi NaOH untuk menghitung besarnya laju pada praktikum tersebut. Prinsip praktikum ini adalah larutan NaOH berlebih bereaksi dengan etil asetat ketika kedua larutan, sisa NaOH akan bereaksi dengan larutan asam berlebih yaitu HCl yang telah ditambahkan oleh pp indicator. Sisa HCl itu lah yang nanti akan bereaksi dengan larutan NaOH titran. Sehingga dapat diketauhui jumlah mol HCl sisa dari volume NaOH yang dibutuhkan untuk menetralkan HCl. Penentuan molaritas NaOH yang bereaksi didapatkan dari jumlah mol NaOH awal yang bereaksi berdasarkan hsil perhitungan data pengamatan. Hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel 1 dan 2. Tabel 1. Penentuan mmol NaOH yang bereaksi Waktu V NaOH titran (ml) mmol NaOH titran = mmol HCl sisa Mmol HCl reaksi = mmol NaOH sisa mmol NaOH reaksi (mmol)
  • 5. (mmol) (mmol) Menit ke-3 16,2 0,33858 0,01742 5,20758 Menit ke-8 16,3 0,34067 0,01533 5,20967 Menit ke-15 16,4 0,34276 0,01324 5,21176 Menit ke-25 17,0 0,3553 0,0007 5,2243 Menit ke-40 14,8 0,30932 0,04668 5,17832 Menit ke-65 14,7 0,30723 0,04877 5,17632 Tabel 2. Penentuan Molaritas NaOH yang bereaksi Waktu (s) Molaritas NaOH yang bereaksi (M) 180 0,011572 480 0,011577 900 0,011582 1500 0,011611 2400 0,011507 3900 0,011503 Dari tabel 1 dan 2 dapat terlihat bahwa volume NaOH yang bereaksi cenderung mengalami kenaikan sebanding dengan waktu pencampuran. Hal ini disebabkan semakin lama larutan NaOH dan etil asetat bercampur, semakin banyak pula NaOH titran yang dibutuhkan untuk menetralkan HCl sisa. Untuk mengetahui besar laju pada reaksi dapat dihitung berdasarkan rumus berikut, pada kondisi dimana kedua larutan mempunyai konsentrasi yang sama (Flourence: 2011). 𝑘 = 1 𝑡 . 𝑥 𝑎(𝑎 − 𝑥) 𝑥 𝑎(𝑎 − 𝑥) = 𝑘. 𝑡 Dimana a merupakan konsentrasi awal etil asetat, x merupakan konsentrasi NaOH yang bereaksi dan t merupakan waktu dalam satuan detik. Data-data tersebut dapat dilihat dalam tabel 3.
  • 6. Tabel 3. Hasil persamaan reaksi orde dua t (s) a (M) x x/a(a-x) k 180 0,02 0,011572 68,652112 0,381401 480 0,02 0,011577 68,722545 0,143172 900 0,02 0,011582 68,793062 0,076437 1500 0,02 0,011611 69,203719 0,046136 2400 0,02 0,011507 67,744024 0,028227 3900 0,02 0,011503 67,688596 0,017356 Grafik 1. Grafik x/a(a-x) terhadap waktu Tabel 3 memperlihatkan harga k yang berbanding terbalik dengan pertambahan waktu. Dari grafik dapat dilihat bahwa kemiringan dari grafik tersebut adalah 0,026. Hal ini berarti konstanta laju reaksinya adalah. Reaksi penyabunan etil asetat dengan ion hidroksida termasuk reaksi orde dua karena garis yang terbentuk adalah garis lurus dengan kemiringan tertentu (Moore: 2010). Kesimpulan Dari percobaan ini didapatkan bahwa penentuan laju reaksi dan konstanta laju reaksi penyabunan etil asetat dengan ion hidroksida adalah reaksi orde dua yang mana 0.000000 20.000000 40.000000 60.000000 80.000000 100.000000 120.000000 180 480 900 1500 2400 3900 Penentuan Konstanta Laju Reaksi Linear x/a(a-x) x/a(a-x) waktu (s)
  • 7. merupakan hasil dari grafik x/a(a-x) terhadap t membentuk garis lurus dengan kemiringan adalah harga k = 0,026. Daftar Pustaka Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar : Konsep-konsep Inti. Jakarta:Erlangga, ed.2 Connors, Kenneth A. 1990. Chemical Kinetics: The Study of Reaction Rate in Solution. Winconsin : VCH Publishers, Inc. Florence, Alexander T dan David Attwood. 2011. Physiochemical Principles of Pharmacy. London: Pharmaceutical Press. Hein, Morris. 2011. Introduction to Chemistry. Louisiana : John Wiley and Sons, Inc, ed 13. Moore, John W, dkk. 2010. Principles of Chemistry: The Molecular Science. Belmont: Cengage Learning. Pahari, A. K. dan Chauhan B. S. 2006. Engineering Chemistry. New Delhi: Laxmi Publication. Remington, Joseph P. 2006. The Science and Practice of Phamacy. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. Upadhyay, Santosh K. 2007. Chemical Kinetics and Reaction Dynamics. New York: Springer.
  • Fly UP