...

Mencitaimu dengan Segenap Bahasa

by fairuzul-mumtaz

on

Report

Category:

Documents

Download: 0

Comment: 0

11

views

Comments

Description

Souvenir Pernikahan Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala
Download Mencitaimu dengan Segenap Bahasa

Transcript

Mencintaimu dengan Segenap Bahasa Mencintaimu dengan Segenap Bahasa Yogyakarta, Oktober 2012 Penyusun Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala Tata Letak YE Saputra Fotografi Wahyu Purwantoro (ND artstudio) Dicetak oleh Diandra Creative Publishing Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala Pengantar MEMBUAT pengantar untuk sekumpulan puisi ini lebih berat dari apapun yang pernah kami tulis. Meski begitu, kami membuatnya dengan sepenuh hati dan kesungguhan! Sekumpulan sajak ini merupakan rekam jejak kami dari tahun 2008 hingga 2012. Terlihat masa produktif dari masingmasing mempelai dalam menulis puisi. Pemilihan puisi pun terasa tidak meyakinkan. Meski begitu, keyakinan cinta tak tergoyahkan hingga kini. Banyak hal yang tak mampu kami komunikasikan secara langsung, baik dengan bahasa verbal maupun fisik. Ketika tak mampu mendiskusikan apa yang kami pikirkan, entah karena waktu, perbedaan ideologi, maupun ketika ego masing-masing bermain, menulis menjadi jalan menyenangkan untuk bertutur. Dan puisi adalah salah satunya. Perjalanan selama empat tahun itu, tentu tak selalu berjalan mulus. Pada setiap pergesekan, kami coba untuk tetap mawas diri agar tak pecah kapal yang kami tumpangi. Per- Mencintaimu dengan Segenap Bahasa gesekan itu tak hanya datang dari kami sendiri, melainkan juga wilayah organisasi, kesenian, kebudayaan, serta pekerjaan, melanggar wilayahnya dengan memasuki ranah cinta kami. Kami menyikapinya sebagai upaya pematangan cinta. Sebab itulah, sajak-sajak dalam kumpulan ini tak melulu persoalan cinta, meski dengan tegas judul yang dipilih sarat cinta dan momentum yang berlebihan cinta. Dengan momentum ini, teruji kematangan cinta kami. Sebagaimana manusia dewasa, semakin dewasa maka semakin banyak pula ujian yang datang dan tanggung jawab semakin besar. Dan kami telah mempersiapkannya. Selanjutnya, atas segala yang terlibat dalam perjalanan kami yang telah lalu dan akan datang, kami penghaturkan rasa syukur kepada Allah SWT beserta Nabinya, terima kasih kepada orangtua kandung kami; Bapak H. Mas'ad Masjhur dan Ibu Hj. As'adah (Demak), Bapak Puryanto dan Ibu Karmi (Cilacap). Rasa terima kasih kami sampaikan pula kepada K.H. Baidlowi Syamsuri sekeluarga (Brabo – Grobogan) dan K.H. Hilmi Muhammad sekeluarga (Krapyak – Jogja) atas segala bimbingannya, Romo Sapto (Tambakbayan – Jogja). Kepada keluarga besar di Demak dan Cilacap, Keluarga Besar Sanggar Suto, Keluarga Besar Sanggar Kemanusiaan, Keluarga Besar Yayasan Indonesia Buku, Keluarga Kecil Stilleto Book, Keluarga Besar Paguyuban Tri Tunggal, Kelu- Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala arga Besar Romo Sapto Center, Keluarga Besar Tanda Baca, Keluarga Besar Diandra, Keluarga Besar Satu Arah, Keluarga Besar Incheap, Genk Nero, Genk Error Girl, kami haturkan terima kasih. Kepada Bapak Eka Yulwhinar Saputra, Ibu Komang Ira Puspitaningsih sekeluarga, Bapak Agung Santosa sekeluarga, Bapak Fadlan Sekeluarga, Ibu Swastika Palupi, Bapak M. Abdul Aziz, Bapak M. Ulil Albab dan teman-teman yang tak dapat disebutkan satu persatu, kami haturkan terima kasih. Terima kasih kepada Anda yang telah menghadiri acara pernikahan kami. Semoga Allah SWT memberikan kebaikan sebagaimana kebaikan yang diberikan kepada Nabi Muhammad dan hamba-hambaNya yang sholeh. Djogjakarta, 8 Oktober 2012. Tahun 2008 Mencintaimu dengan Segenap Bahasa Tikah Kumala Episode Pertemuan Masih hijau saat perjumpaan kita di tebing-tebing luka lalu tergelincir. Merah dadamu menjadi adegan pada bibir-bibir yang akrab bau busuk perjanjian Lagi-lagi tentang cinta perempuanmu yang hilang dan lelakiku yang kawin lagi. Kemudian luka sekejab mengantar kita pada percakapan Djogjakarta, Juni 2008 Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala Fairuzul Mumtaz Aku Mengingatmu Sebagai Prasasti Aku mengingatmu sebagai prasasti Jika nanti kau lupa tentang dawai Yang ragu-ragu berderit kau gesek di belakang rumah Saat purnama telah pulang Dan aku sibuk mengajarimu Mengeja kalimat-kalimat yang semakin tua Pada daftar alamat yang kita lupa mengiriminya doa Aku mengingatmu sebagai prasasti Hari lahirmu yang merekah pada sebuah batu Isyarat yang kubiarkan mengeras Namun pada lekuknya Suatu hari akan kau pahami Sebagai gerimisku atasmu yang tak pernah reda. Djogjakarta, 2008. Mencintaimu dengan Segenap Bahasa Tikah Kumala Kabar Laut; Kepada Lelaki di Masa Lalu Hanya sebab aku kembali tanpa persetujuanmu. kau pun bakar peta menuju rumah hingga terlupa jalan pulang dan menyesatkan diri untuk kembali kucintai Ini bukan lagi tentang kau dan ruang yang masih menunggu penghuni baru sebab semua kenangan kubiarkan jadi abu dan kuhanyutkan kealamatmu. kabar laut; tentang luka yang membusuk Jogjakarta, 2008 Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala Fairuzul Mumtaz Narasi di Redup Bulan kenangan kita ranggas dari pohon yang mestinya semi daun-daunnya adalah lembaran kisah kita yang kecoklatan gugur di halaman perpustakaan ketika kita seka puisi dari halaman buku-buku meleleh ke jantung serupa kutukan jarum waktu semoga tak ada luka yang menggelapkan mata tak ada liku kabut jalan dan kita akan menuainya sebagai kenangan yang tak pernah keriput siapa yang guru, mengajari tentang lubang jalan, bau busuk, juga sesekali wangi kemenyan yang diramu dengan jamuan malam sebab kita sebenarnya adalah murid, memburu angin dari setiap mulut. Mencintaimu dengan Segenap Bahasa akhirnya kita paham, bahwa daun mesti coklat dan jatuh waktu mesti menua murid mesti guru tapi kenangan akan memutih sebagai cahaya bukan uban yang membunuh usia sebab narasi tetaplah sebuah pintalan mimpi di redup bulan. Djogjakarta, 2008. Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala Fairuzul Mumtaz Tentang Cinta yang Luput Hujan turun sendirian Selaput cinta yang kusut diguguri kamboja Menyembunyikan puisi dari kisah bunga bungah Sekali musim kita tak sama menamainya Angka-angka kalender jatuh begitu saja Menjadi daftar merah Tanpa kita sempat memaknainya sebagai hari Dan bau tanah yang menyumbat hidung Adalah kenangan yang terkubur. Djogjakarta, 2008. Mencintaimu dengan Segenap Bahasa Fairuzul Mumtaz Di Kotamu di kota yang kau kenalkan akulah pengembara linglung. kau bakar peta lampu-lampu jalan, pumflet-pumflet di tembok kota jadi abu etalase mimpi sebab kepulangan adalah menyusun kembali masa lalu tak kutemukan lagi jalan yang sama bintik-bintik jalan menghapus diri seorang anak maka di gerai rambutmu kutitipkan malam-malamku. Djogjakarta, 2008. Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala Fairuzul Mumtaz Rencana; Seperangkat Cinta Sepanjang Rel Kereta Suara kereta meninggalkan wajah-wajah, Tak juga menghapus tangis Yang bangkit subuh tadi Ketika kita benar-benar tak sanggup berangkat Di kursi peron kenangan itu menjadi peluit Usia yang menunggu mulai menderitkan keberangkatan Dan aku adalah lampu-lampu yang tak siap ditinggalkan Siapa yang dapat ingkari rencana Ketika dunia ini adalah seperangkat cinta sepanjang rel kereta Terus berjalan menuju kota-kota Tanpa dapat kita membelokkannya, tapi kita Mesti setia menyusun rencana-rencana. Djogjakarta, 2008. Mencintaimu dengan Segenap Bahasa Fairuzul Mumtaz Mencintaimu dengan Segenap Bahasa mencintaimu dengan segenap bahasa menerjemahkan segala gerak menakar mimpi, juga rindu merekahlah jemari dan lengkap sudah prosa ini, di dalamnya, sebuah cerita dibangun dan kita akan menyelesaikannya cinta ini tanpa kutipan dan kita adalah anak yang belajar membaca mengeja abjad yang kita susun sendiri memaknainya sebagai janji yang musti terpenuhi kelak, ketika kau pandai melafal lahirlah puisi-puisi dari rahimmu dan aku menamainya kesempurnaan Djogjakarta, 2008. Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala Fairuzul Mumtaz Seperti Kita Hidup Bunga-bunga mengapung dalam gelas Seperti kita hidup, sebuah kaca mengurungnya Malam-malam kita jadi setua anggur Mabuk di pinggiran jalan Berlagak jadi sepasang pengantin baru Seperti kita hidup, sebuah cincin mengikatnya Djogjakarta, 2008. Mencintaimu dengan Segenap Bahasa Fairuzul Mumtaz Malam Natal Ini bukan pesta kembang api, sayang Terompet pun kita tunda bunyinya Kita susun malam ini dengan anggur Paling istimewa Sebab perjamuan Menjadi ayat paling panjang Jangan tanya lagi Di mana Yusuf dan Maria Sebab cinta lepas dari penanggalan Sementara siksa memenuhi darahmu Maka kutuang anggur di atas perak Agar kilaunya jadi saksi malam ini Djogjakarta, 2008. Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala Fairuzul Mumtaz Yang Tak Mau Kembali kau belum juga kembali perang telah selesai tapi kau masih berlayar tak kautemui ombak juga badai yang pernah dijanjikan orang-orang bukankah kau sendiri yang berkata laut tak bermuara selain di hati kita? hidup memang sekadar bukan persinggahan di dermaga sekali waktu kita temui hamparan laut menantang ; mengibarkan jala memburu ikan-ikan sebagai hasil hidup yang tak sia-sia Mencintaimu dengan Segenap Bahasa sementara, kau bakar dermaga ; jalan pulang menuju ibu. lalu di kobaran api itu kau temukan mayat-mayat di barisan depan tapi kau bukan pelaut maka berpetualanglah dengan peluru hari-hari akan pulang ke rumah angka-angka akan kembali pada kalender peluru akan menuntunmu ke penjuru sedang laut ke mana engkau berpaut? Djogjakarta, 2008. Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala Fairuzul Mumtaz Ia Akan Pulang di pinggir gulana aku menunggumu ; gadis kecilku dengan sayap kupu-kupu membawa cerita tentang dunia baru pada sebuah peta yang asing ia pergi ke dada benua. saat subuh di mata merah ia dobrak pintu dan segala penghalang membunuh ketakutan raksasa yang mengutuknya jadi sunya tak kenal alamat bahkan namanya sendiri. wajahnya marah dari punggungnya tumbuh sayap mungil lantas ia seperti kupu-kupu tertiup angin Mencintaimu dengan Segenap Bahasa hari sudah begini tua. gulana ini lahir dari mataku sejak tak kumaui lagi pinta dunia wajahku iseng tidur di pepohonan malam tadi saat bintang dan bulan beradu kutemui ribuan kupu-kupu mengarah barat dan kutahu ia akan pulang. Djogjakarta, 2008. Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala Fairuzul Mumtaz Gadis Sakura* buru aku di dada Asia : sakura aku terbang lepas ke mata dunia kincir angin melemparku ke benua-benua tanpa nama aku lepas waktu ; lepas peta ; lepas abjad lukai aku dengan kalimatmu akan kutelusuri darahmu dengan lengking bisu yang menyeretmu ke gulana dekat mataku kecup gincu merah ini niscaya kau temukan guguran sakura di ujung lidahku dan hisaplah peluhku, air dari telaga sunyi urat-uratmu akan mengeras lalu kurung aku dalam peluk yang pahit Mencintaimu dengan Segenap Bahasa bukalah selaksa rahasia tubuhku akan kau temukan warna-warni dosa pertapa dan para pengembara yang membusuk di rahimku lalu kupilih kata paling tepat sebagai jamuan ”rengkuh!” barangkali kau akan terlelap juga pulas mendengkur, mengigau lalu terbang puluhan kupu-kupu dari mulutmu warna-warni sayapnya adalah tetesan peluh ruas-ruasnya adalah jalan hidup kau lihatlah, mataku sayu sekelu redup lampu yang baru saja kau matikan dan meninggalkanku dengan lembaran-lembaran yang membuatku bertahan tapi aku terbang sekuat angin yang menembus jantungmu dan kau akan memburuku sebagai binatang buruan Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala buru aku di dada Asia kubelai engkau seumpama sungai mengalirlah ke dalam tubuhku sebab cinta adalah kata yang terlalu kadaluarsa dan berbusa memenuhi kepala kita ”rengkuhlah!” tanpa kata. tak ada mawar sebagai penawar. Djogjakarta, 2008. * Terinspirasi dari lukisan berjudul Curious karya Utin Rini Mencintaimu dengan Segenap Bahasa Fairuzul Mumtaz Pusaran Terakhir I jika mati kelak tak kupilih neraka atau sorga, aku menuju yang menyisakan badai dalam diri wangi tubuh menjelma kafan aku besi aku kuat kupasung derita masa lalu yang melilit jejak-jejak pulang sebab jalan menujunya begitu sengit maka kutulis memo dari hukuman panjang badai yang menenggelamkan ramai ini sunyi iseng ini letih aku tarik diri ke arus waktu dunia tak kutemui larik-larik hanya gerak serupa mimpi Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala bukankah ini mesti dilalui badai hanya membersihkan halaman rumah dari puisi-puisi buruk yang tak jelas asal-usulnya II bukankah telah dijodohkan datang dan pulang pergi dan kembali bukan sebab mati aku kembali tapi hidup yang tak mampu ceritakan gelisah angin lalu tanpa daya aku lepas dari akar dunia menuju penjuru-penjuru aku iris garis nasib bukan sebab hidup tapi mencintai jalan pulang adalah bunga-bunga dalam dadaku maka pinanglah aku dan izroil maharnya Mencintaimu dengan Segenap Bahasa III lalu di antara kisaran angin ujungku tak lagi nancap aku rapuh aku ngapung di udara : kembali. Djogjakarta, 2008. Tahun 2009 Mencintaimu dengan Segenap Bahasa Tikah Kumala Titipkan Lukamu Di Tubuhku Beri aku luka seumpama ilalang musim hujan kepada pertemuan angin malam Biar kelak aku merindumu laiknya lelaki bijaksana seumur perkenalanku dengan adam Namun telah kaubakar mimpi di hadapanku Seperti sepi yang kausetubuhi sendirian Aku masih menunggumu, Sayang Di rumah. Tempat kata-kata beranak Setumpuk sajak hanya antara kau dan musim luka yang tertinggal Jogjakarta, Februari 2009 Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala Fairuzul Mumtaz Pengantin Sepi : Ira Wangsa Di stasiun ini pengantin sepi Tanpa pelaminan, perjamuan, dan riuh musik Sementara di hati terpasang cincin kesetiaan cinta Ini kali pertama kutemui kau berkebaya Bunga-bunga melati jadi janji Atas dongeng-dongeng yang kelak tercipta Dari rahimmu, dari rahimmu Mencintaimu dengan Segenap Bahasa Tikah Kumala Cerita Ini yang Jadi Lukisan Cuaca melenggang murung Lelarian kita menapak di pasir-pasir Dan hilang Diburu gelombang pasang Sketsa wajahmu adalah garis cemburu Yang mengental di atas kertas Sementara aku selalu gelisah Memungut cerita, Dari kubangan luka menjadi kalimat Supaya kelak kita bisa memaknainya bersama-sama Djogjakarta, 2009 Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala Fairuzul Mumtaz Sekitar Gaza bersembunyilah dalam dadaku agar langit tak berwarna ungu dan puing-puing tak melulu kabar buruk kemarilah, kudongengkan cerita pengantar tidur sebab hanya mimpi yang tak pernah diusik peluru. mari menari irama padang pasir kesedihan mesti berakhir tidurlah, akan kubangunkan engkau di siang hari setelah kering darah dan tangis oleh matahari dan sebentar lagi hujan membawanya menuju langit agar tercium malaikat sebagai bau tanah yang abadi Djogjakarta, 2009. Mencintaimu dengan Segenap Bahasa Tikah Kumala Jalan Pulang Menuju Ibu Segala milik kita terlanjur melarat Hari-hari merenta begitu cepat Setelah lautan menepi Perahu-perahu menunggu Cintamu kembali berlabuh Sejauh mana kita telah kehilangan arah mata angin Sehingga untuk pulang Begitu jauh menemui rumahmu 2009 Tahun 2010 Mencintaimu dengan Segenap Bahasa Fairuzul Mumtaz Genesis Bising meriam di kepalamu Usir kau dari medan perang Menuju tempat paling sunyi Dalam karang-karang Maka terciptalah pasal itu Di atas perahu Digoyang ombak kecil Kau hanyutkan ia Dieja nama-nama Engkaulah pencipta Engkaulah raja itu. Sementara, dari jauh, Fisabilillah serukan perang Kau serukan syair, Dendangkan negerimu Djogjakarta, 2010. Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala Tikah Kumala Obituari Lelaki Setia ceritakan tentang lelaki setia supaya bayibayi perempuan tak jadi murung dilahirkan bukankah air mata bukan saja milik kaum hawa kenapa di tubuhmu aku harus memenuhi telaga? memanggul kendikendi berisi susu menjadikan musim ilalang penuh kilat di matamu sementara di rumah itu perempuan mana telah merebut tempat tidurku beserta mempelainya. di hari pernikahan. Jogjakarta. 2010 Mencintaimu dengan Segenap Bahasa Tikah Kumala Mencintai Kunang-Kunang kuikuti jejakmu mencintai kunangkunang maka aku tak rela mendung menjelma matahari dan aku kehilangan kenangan kerlip cahaya di tubuh mungil itu kuikuti jejakmu mengawini musim hujan mesra dengan amis luka dari gores pisau di lengan kirimu Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala lalu aku tetap hilang. gelombang menggulung tubuhmu melahirkan cerita uburubur laut mengkhianatiku dari kerlip lain kunang-kunang sementara aku tak pernah kuasa berpaling mencintai kunang-kunang adalah tubuhku yang membenci matahari mencintaimu adalah kerinduanku menjemput purnama maka kubiarkan matahari dan bulan leluasa bertengkar Jogjakarta 2010 Mencintaimu dengan Segenap Bahasa Tikah Kumala Kemarau di Rumah Kita jadikanlah aku linglung, Nan. supaya cela janjimu tak perlu mengiang di ingatan dan kamu tak lagi perlu datang sebab dahan-dahan yang tumbang dari penahannya kukira tak akan jadi sempurna sekuat pohon yang pernah menangkal kilat matamu yang selalu ingkar. lalu pantaskah kita masih bersepakat? sementara musim telah berkemas pergi hujan tak mau lagi datang gersang, tandus perkenalan kita menjelma kemarau di rumah sendiri Jogjakarta. 2010 Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala Tikah Kumala Sekoci di Tengah Gelombang Apa yang hendak kita tantang Di laut pasang, jika tak butuh peperangan kita mengubah arah dan tenggelam Semula lantang cinta kita Di gurat lelahmu, aku masih sempat bersandar manja Lalu segalanya Kutemukan seperti mimpi Karam perahu kita, membuat arah rumit kutemukan. Sebab semula kau tak pernah berniat mengubahnya 2010 Mencintaimu dengan Segenap Bahasa Tikah Kumala Jika Ia Menjelma Aku pun rambutku bisa liar didera gelisah angin lari mana salah, kemana ini arah lalu kubiarkan ia jatuh barang sehelai mengait dosa dan sebagaimana kuingat saat dadamu menambat rambutku lesau angin jadi terusir maka sekali sajalah kau jadi aku supaya kau tau bagaimana memerangi badai jika kelak ia menjelma aku Jogjakarta, 2010 Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala Tikah Kumala Episode Skripsi; Waktu di Tepian Musim Musim pun bisa terlambat, menambat tanggalnya yang tetap. Lalu bagaimana dengan kita? Dituntut lekas jadi sarjana, Emak di kampung, masih bersitahan dengan satu kata ; Kapan? Menjadi berpangkat kalau bisa, kemudian merawat anak, dan kini pun kita— terlanjur digerus arus menjadi tawanan waktu untuk terus semakin menjadi-jadi(-jadian). Jogjakarta, 2010 Mencintaimu dengan Segenap Bahasa Tikah Kumala Ingatan Tentangmu, Ialah Peluru Bagi Sepi yang Kupinang Lebih Dulu. Fai, barangkali mesti kita ceraikan ingatan tentang rumah, geladak kapal patah juga alamat yang hilang dikemudi gelombang dan pasang laut sebab kini tak lagi ada kita segala janji telah luruh dengan sendirinya dan ingatan tentangmu, ingatan tentangmu selalu datang seperti peluru. ialah peluru bagiku bagi sepi yang kupinang lebih dulu. Yogyakarta. 2010 Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala Tikah Kumala Selain Ke Dadamu Nan, sekali lagi kautitipkan ke padaku pahit kalimat lengkap pula dengan bahasamu yang sulit kuterima apakah manusia tak boleh lalai sebab di matamu, perempuan haruslah tak bercela sementara gurat luka ini di hatiku terberai tercabik-cabik tak kuasa Nan, tak selalu di dadamu aku musti mengulang cerita ini, sebab kekalahan matahari, selalu petang yang jadi pemenangnya dan gelap langkahku menjadi kebingungan yang tak putus-putus Mencintaimu dengan Segenap Bahasa jika kau pun pernah membiarkan dadamu dihuni gerai rambut selain milikku biarkan angin leluasa datang sebab rambutku menjadi liar aku tak lagi kuasa menahan sesekali tersesat pulang ke alamat yang lain selain ke dadamu Jogjakarta. 2010 Tahun 2011 Mencintaimu dengan Segenap Bahasa Tikah Kumala Yang Musti Dihentikan dan Mati mestinya kita sama tau jika hujan tak bermusim setiap waktu dan kita tak harus bersitahan dengan semua ini sebab kotamu itu— tempat pertama yang ingin kukunjungi tak dipisah sungai, pun sekadar bukit pada cerita-cerita kita lalu bagaimana kauwasiatkan rindumu pada hujan, sayangku? seperti katamu, “hujan itu adalah aku, yang digulung ombak laut ke kotamu” sedangkan ini musim beralih pergi bergegas memulangkan rindumu pada kemarau di tubuh kita. Jogjakarta. 2010-2011 Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala Tikah Kumala Jarak Menujumu akulah ombak itu— tak pernah tetap, tak jua dapat menetap jika sewaktu-waktu angin membawaku padamu ; dihadang karang dan hilang tunggulah di tepian pantai pada kapal-kapal yang menyambut segalanya yang datang seperti dermaga yang melepas setiap keberangkatan dan tak ada selain kepada pantaimu aku menuju sebab beginilah nasib tak ada yang dapat menolak sekalipun berlari itu adalah janji yang mesti dilunasi. Jogjakarta, 2011 Mencintaimu dengan Segenap Bahasa Tikah Kumala Catatan Februari yang Ganjil Kudiami matamu sebab selain aku, tak pernah kurelakan siapapun menjadi penghuninya Pun umpama selain padamu musti kualamatkan kemana rindu ini? Merumahkan cintamu merawatnya hingga aku enggan pergi lalu bagaimana aku berniat berkhianat? Sementara di matamu telah kutitipkan seluruh rahasia yang terlanjur leluasa bersembunyi Ah, ini Februari ketiga yang ganjil, Sayang Menangkap arus matamu adalah garis cemburu Maka tak kubiarkan jadi merah Sebab cintaku meredamnya. [] Jogjakarta, 2011. Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala Tikah Kumala Catatan Untuk Sebuah Kamar dinding kamarmu menimbun sekian bentuk rindu semacam candu kepada puisi kepada wangi dupa dan lukisan hutan yang menjamu mata kita akhirnya pun kaugulung di seperempat cerita yang tak sempat rampung di kamarmu lagi-lagi kisah cinta semacam babakan dalam drama kaupilih kostum paling serasi melakonkan peranmu meski melulu dikalahkan dan tak perlu lagi kaupusingkan ini semua sebab perasaan hanya semacam surat kaleng yang bisa kautulis menjadi puisi pada akhirnya Jogjakarta, 2011 Tahun 2012 Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala Fairuzul Mumtaz Puisi Pada Karcis Kereta Satu botol bir kita habiskan berdua Di stasiun itu, dua batang rel menyusun rencana Satu rel aku. Satunya lagi kamu Kapan ketemu? Pada stasiun kita mengaku sebagai manusia eksil Mencuri hidup di gerbong-gerbong kereta Lalu melumurinya dengan warna-warni Agar tak lupa gerbong mana pernah mengantar kita Beginilah kita yang tak punya tujuan, katamu. Aku mengangguk Kita hanya mengikuti jalur kereta yang sudah ditentukan Membeli karcis dan menuliskan kisah perjalanan di baliknya Mencintaimu dengan Segenap Bahasa Ingat karat-karat kereta itu, katamu menasihati. Begitulah hidup yang ringkih Harus senantiasa bergerak Atau nanti, mati dalam gelisah Djogjakarta, 2012. Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala Tikah Kumala Edisi Peringatan 24 Tahun Kelahiran Ialah sebuah peringatan, ingatan yang sekali dalam setahun akan mengulang-ulang cerita yang hampir sama ; tentang pantai, sebuah bunga, dan sepotong coklat yang terlalu manis. Di mana dalam setahun sekali itu, ada dua lelaki yang datang. Ia yang mengantar ingatan terbaikku, dan lelaki lain yang menyusun cerita buruk di kepalaku supaya kelak kutabung jadi ingatan. Mencintaimu dengan Segenap Bahasa Bahkan aku percaya, di tanggal yang sama di usiaku yang baru sehari itu, aku lahir sebab banyak doa dan sesaji. Di mana Bapak dan Emak bersuka ria merayakannya dengan sederhana. Lebih sederhana dari sepotong coklat. Lebih bijaksana, sebab aku diberi pengharapan dan berkawan orang-orang yang pandai menghargai. Ialah sebuah peringatan, ingatan yang selalu menyusun ceritanya sendiri di kepalaku. Jogja, 2012 Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala Tikah Kumala Cara yang Beda untuk Mencintai Satu Hal yang Sama Kenapa musti memusuhi, jika kau tahu setiap dari kita punya cara sendiri untuk mencintai. Seperti aku mencintaimu, seperti aku mencintai rumah yang kau bangun, rumah yang sengaja kurawat supaya sesekali kau bisa pulang. Aku hanya memindah pot-pot bunga ke halaman. Mengganti ranjang yang tak lagi layak pakai. Membenahi buku-buku dan tak bermaksud menggantikan peranmu di rumahmu. Aku belajar tahu, di mana salahku ketika diam-diam kau tak sudi lagi untuk pulang. Aku tahu, ada banyak hal yang berubah yang membuatmu asing. Tapi aku hanya ingin kau tahu, begitulah aku mencintaimu, mencintai rumah yang kau bangun supaya tak jadi roboh dan kita akan semakin jarang bertemu. 2012 Mencintaimu dengan Segenap Bahasa Tikah Kumala Perpisahan yang Istimewa Sebab usia jadi muara segala perkara Aku tak lagi kuasa untuk bertahan. Menahan yang datang, pun kedatanganmu di rumahku Sebab usia jadi muara segala perkara Aku merencanakan tanah bagi rumah kita Jika tak ada pernikahan Mari kita rencanakan perpisahan yang semewah sebuah peresmian Cilacap, 2012 Fairuzul Mumtaz & Tikah Kumala Tikah Kumala Ode Buat Calon Suami Jika kelak, di matamu aku menemukan rumah lain. Kau tak perlu bertanya, kemana aku akan pulang Menepikan segala kehendak. Tanggal-tanggal kubiarkan luruh dalam kamar. Sebab semestinya, kita sepakat pada janji-janji Seperti adanya kita bagiku Seperti katamu, tak bakal ada selain aku untuk kita. Maguwo, 2012 Mencintaimu dengan Segenap Bahasa Tentang Mempelai Laki-laki Tidak sesederhana yang diharapkan untuk bisa berkomunikasi dengan lelaki penyair ini. Perkara sepele akan membawa kami pada diskusi dan perdebatan kecil. Untuk itulah, menulis puisi menjadi alternatif dalam membahasakaan keinginan-keinginan. Bagi saya, ia lelaki yang punya sikap paling jelas dalam menghadapi perdebatan di antara kami. Ia akan lantang bilang tidak untuk yang dilarangnya, dan sebaliknya. Tidak menyenangkan bukan? Untuk itulah harus ada puisi. Menyikapi sikapnya dengan positif adalah solusi paling tepat bagi saya. Bukankah sangat beruntung memiliki lelaki 27 tahun ini, ia akan bilang benci dengan lugas dan mengatakan cinta dengan kesungguhannya yang tegas. Tikah Kumala Tentang Mempelai Perempuan Perempuan penyair dan penyabar ini makin matang di usia 24. Ia akan jadi partner yang baik bagi saya. Meski lebih sering berselisihpaham, selama empat tahun bersama, selalu ada hal yang meneduhkan darinya dan membuat saya bertahan. Fairuzul Mumtaz
Fly UP