System is processing data
Please download to view
...

Gaya Mengajar Guru Bisa Macam

by irdawati-syaiful

on

Report

Category:

Documents

Download: 0

Comment: 0

106

views

Comments

Description

Download Gaya Mengajar Guru Bisa Macam

Transcript

Gaya mengajar guru bisa macam-macam. Dari yang senangnya memberi tugas siswa yang banyak, sampai guru yang senangnya bercerita ngalor ngidul selama jam pelajaran. Kesemua gaya mengajar yang saya sebutkan ujungnya cuma satu, apakah siswanya nyaman atau tidak berada di kelasnya. Nyaman bisa berarti banyak hal, dari nyaman karena akrab sampai nyaman karena bisa bertanya apapun karena siswa yakin ia punya guru yang berpikiran terbuka karena bersedia jadi mitra sejajar dalam mencari pengetahuan. Ada beberapa kepribadian guru yang bisa menjadi jalan bagi siswa untuk bisa nyaman berada dikelas anda. 1. Guru yang bisa jadi pendengar yang aktif. Seorang guru yang menjadi pendengar yang aktif sadar bahwa semua siswa seberapapun pendiamnya ia senang didengar dan senang jika diminta berbicara. Jika anda mengajar SMP atau SMA, seorang siswa yang terhalang aspirasinya dikelas biasa menyuarakan unek-uneknya lewat situs jejaring sosial. Apalagi jika mereka yakin bahwa anda tidak mungkin membaca hal yang mereka tuliskan. Hal ini berarti sudah menjadi naluri bagi siswa kita sekarang ini untuk didengar dan ‘bersuara’. 2. Guru yang memberikan pilihan. Tempatkan diri anda sebagai siswa, pasti anda akan suka saat dibebaskan untuk memilih. Bicara soal pilihan, buat siswa dibebaskan untuk memilih hal yang menurut kita sebagai guru adalah sebuah hal yang sederhana namun merupakan ‘kemewahan’ bagi siswa. Dibolehkan untuk memilih teman dalam kerja kelompok, memilih tempat duduk, dibolehkan untuk memilih pekerjaan apa yang ingin mereka lakukan terlebih dahulu dan sederet pilihan lain yang simpel tapi membuat mereka senang karena boleh memilih. Saran saya utamakan tujuan akhir, yaitu selesai pekerjaan dan tujuan pembelajaran yang kita rancang, soal cara silahkan anda pikirkan yang terbaik dan yang penting nyaman bagi kedua belah pihak, anda dan siswa anda dikelas. 3. Guru yang pandai menyelipkan motivasi. Sengaja saya menggunakan kata ‘menyelipkan’. Siswa sekarang kurang suka dimotivasi dengan cara yang biasa. Buat mereka kata motivasi hampir mirip dengan kata nasehat. Nah, dinasehati adalah sebuah situasi dimana ada pihak yang salah dan diberitahu mengenai kesalahannya. Padahal memotivasi beda dengan dinasihati. Memotivasi dimulai dengan prasangka baik bahwa orang yang dimotivasi punya kemauan untuk berubah. Saat kita sebagai guru memotivasi siswa, mulailah dengan sapaan hangat dan konsentrasilah terhadap apa yang dikatakannya. Dengan demikian motivasi kita berbeda dan unik untuk setiap siswa kita. Hasilnya siswa akan merasa bahwa keberadaan mereka spesial di mata kita sebagai guru. 4. Guru yang menegakkan dead line sambil menghargai usaha siswa. Deadline yang saya maksud adalah masa akhir pengumpulan tugas. Sering guru mengukur ketegasannya dengan ketat dalam soal batas waktu pengumpulan tugas. Padahal bukan soal batas waktu yang paling penting, karena jika ini yang jadi tujuan utama, siswa cenderung mengumpulkan tugas dengan apa adanya demi mengejar dead line. Sebagai guru usahakan membangun dialog mengenai jalannya pengerjaan tugas, siswa akan senang menceritakan prosesnya, sambil mendengarkan kita pun jadi bisa mengerti jika ada siswa yang meminta negoisasi mengenai batas pengumpulan tugas, asal waktunya masih mungkin dan demi hasil yang lebih bagus kenapa tidak? Artikel Dr Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada 3 tahun di Israel karena menjalani housemanship dibeberapa rumah sakit di sana. Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, “Mengapa Yahudi Pintar?” Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California, terlintas di benaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar? Kenapa tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri? Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk Phd-nya. Sekadar untuk Anda ketahui, tesis ini memakan waktu hampir delapan tahun. Karena harus mengumpulkan datadata yang setepat mungkin. Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah mengetahui sang ibu sedang mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami. Stephen sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan Stephen suka matematika. Stephen bertanya, “Apakah ini untuk anak kamu?” Dia menjawab, “Iya, ini untuk anak saya yang masih di kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius.” Hal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikut terus perkembangannya. Kembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai genap melahirkan. Hal lain yang Stephen perhatikan adalah cara makan. Sejak awal mengandung dia suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan. Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan. Ketika diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi. Begitu Stephen menceritakan, “Perhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet),” ungkapnya. Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam. Uniknya, mereka akan makan buah buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk. Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah. Di Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan dirumah Yahudi, jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka. Menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak ( bodoh). Suatu penemuan yang dari saintis gen dan DNA Israel. Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka sangat memperhatikan makanan, makanan awal adalah buah buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (cod oil lever). Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata rata mereka memahami tiga bahasa, Hebrew, Arab dan Inggris. Sejak kecil mereka telah dilatih bermain piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban. Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar. Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak. Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi. Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, “Perbandingan dengan anak anak di California, dalam tingkat IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun kebelakang!! !” katanya. Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan adalah memanah, menembak dan berlari. Menurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak fokus. Disamping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara. Selanjutnya perhatian Stephen ke sekolah tinggi (menengah). Di sini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius. Apa lagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang lebih tinggi. Satu lagi yg diberi keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar ekonomi. Diakhir tahun diuniversitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Mereka harus memperaktekkanya. Anda hanya akan lulus jika team Anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US 1 juta! Anda terperanjat? Itulah kenyataannya. Kesimpulan, pada teori Stephen adalah, melahirkan anak dan keturunan yang cerdas adalah keharusan.. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin? Kabar lain tentang bagaimana pendidikan anak adalah dari saudara kita di Palestina. Mengapa Israel mengincar anak-anak Palestina. Terjawab sudah mengapa agresi militer Israel yang biadab dari 27 Desember 2008 kemarin memfokuskan diri pada pembantaian anak-anak Palestina di Jalur Gaza. Seperti yang kita ketahui, setelah lewat tiga minggu, jumlah korban tewas akibat holocaust itu sudah mencapai lebih dari 1300 orang lebih. Hampir setengah darinya adalah anak-anak. Selain karena memang tabiat Yahudi yang tidak punya nurani, target anak-anak bukanlah kebetulan belaka. Sebulan lalu, sesuai Ramadhan 1429 Hijriah, Ismali Haniya, pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafidz al-Quran. Anak-anak yang sudah hafal 30 juz Alquran ini menjadi sumber ketakutan Zionis Yahudi. “Jika dalam usia semuda itu mereka sudah menguasai Alquran, bayangkan 20 tahun lagi mereka akan jadi seperti apa?” demikian pemikiran yang berkembang di pikiran orang-orang Yahudi. Tidak heran jika-anak Palestina menjadi para penghafal Alquran. Kondisi Gaza yang diblokade dari segala arah oleh Israel menjadikan mereka terus intens berinteraksi dengan al-Qur’an. Tak ada main Play Station atau game bagi mereka. Namun kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghafal yang masih begitu belia. Kini, karena ketakutan sang penjajah, sekitar 500 bocah penghafal Quran itu telah syahid. Perang panjang dengan Yahudi akan berlanjut entah sampai berapa generasi lagi. Ini cuma masalah giliran. Sekarang Palestina dan besok bisa jadi Indonesia. Bagaimana perbandingan perhatian pemerintah Indonesia dalam membina generasi penerus dibanding dengan negara tetangganya. Ambil contoh tetangga kita yang terdekat adalah Singapura. Contoh yang penulis ambil sederhana saja, Rokok. Singapura selain menerapkan aturan yang ketat tentang rokok, juga harganya sangat mahal. Benarkah merokok dapat melahirkan generasi “Goblok!” kata Goblok bukan dari penulis, tapi kata itu sendiri dari Stephen Carr Leon sendiri. Dia sudah menemui beberapa bukti menyokong teori ini. “Lihat saja Indonesia,” katanya seperti dalam tulisan itu. Jika Anda ke Jakarta, di mana saja Anda berada, dari restoran, teater, kebun bunga hingga ke musium, hidung Anda akan segera mencium bau asak rokok! Berapa harga rokok? Cuma US$ .70 cts !!! “Hasilnya? Dengan penduduknya berjumlah jutaan orang berapa banyak universitas? Hasil apakah yang dapat dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali. Adakah mereka dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri? Mengapa mereka begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggris? Apakah ini bukan akibat merokok? Anda fikirlah sendiri?” source : kaskus.us Kemampuan untuk meningkatkan konsentrasi atau memusatkan perhatian pada tujuantujuan spesifik akan meningkatkan kemampuan mental kita dan pada gilirannya meningkatkan kualitas hidup kita. Dalam kehidupan sehari-hari kita terus-menerus dibombardir dengan respon indra kita; penglihatan, suara, bau, dan perasaan. Otak kita harus memutuskan apa yang penting bagi kita yang perlu disimpan, dan apa yang tidak yang harus dibuang. Jika kita tidak fokus, rentang perhatian kita tersebar di banyak hal yang berbeda dan ini akan tercermin dalam otak kita. Kegiatan di otak juga akan terurai di seluruh otak dan tidak ada jejak abadi yang akan dibuat. Ketika kita berkonsentrasi pada tugas atau objek tertentu, otak akan secara otomatis meminimalkan atau mematikan kegiatan yang tidak terkait dengan tugas dan mengaktifkan wilayah otak yang berhubungan dengan objek dari perhatian kita. Kemampuan untuk mengubah jejak/pengalaman indra baru merupakan dasar bagi semua pembelajaran; itu tidak berarti hanya belajar akademik tapi apa pun yang kita lakukan dalam hidup kita. Dari belajar berjalan, naik sepeda, ataupun belajar matematika yang lebih kompleks – begitu kita belajar kita tidak akan pernah lupa. Orang paling sukses di segala lapisan kehidupan; ilmuwan, atlet, aktor, guru, pengusaha atau orang lain yang sukses selalu punya satu kesamaan, mereka tahu apa yang mereka inginkan dan mereka memiliki satu pikiran fokus untuk mencapai tujuan mereka. Dengan berfokus pada tujuan, semua energi dan usaha terkonsentrasi pada tugas-tugas yang menggerakkan untuk lebih dekat ke arah tujuan. Kemampuan untuk fokus akan membantu kami tahu apa yang perlu kita lakukan tetapi yang lebih penting kita juga akan tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Retikuler mengaktifkan sistem dalam otak akan mengingatkan perhatian kita untuk hal-hal penting di sekitar kita yang akan membantu kita bergerak menuju apa yang kita inginkan. (sistem retikuler adalah suatu sistem yang beradadi batang otak anda, yang membantu anda mengarahkan diri anda ke sesuatu yang anda inginkan asal anda menginginkannya secara spesifik) Bagaimana cara meningkatkan konsentrasi: 1. Memiliki tujuan spesifik yang ingin anda capai. Jika merupakan tujuan keuangan, rumuskan tepatnya berapa jumlah yang ingin anda memiliki, bangun keuangan secepat anda membangun kemampuan anda untuk menghasilkan uang. Tetapkan batas waktu kapan anda ingin mencapainya. 2. Mempunyai alasan mengapa anda harus mencapai itu. Ini adalah bagian yang paling penting yang harus anda sertakan, semakin kuat alasan semakin besar kemungkinan akan mencapainya. 3. Keyakinan bahwa anda akan mencapainya dan tetap fokus pada keyakinan tersebut. Anda harus benar-benar yakin bahwa anda akan mencapainya. Menjadikannya sebuah keharusan. 4. Membuat Rencana – Bagaimana cara sampai ke tujuan anda? Buat semua daftar tugas yang harus anda ambil untuk bergerak lebih dekat ke tujuan anda. Daftar juga hal-hal yang tidak perlu anda lakukan, hal-hal yang akan mengalihkan perhatian dari pencapaian tujuan anda. Hal-hal seperti terlalu banyak menonton TV, atau nongkrong dengan teman-teman. Lebih terarah dalam menyikapi rencana. 5. Aksi – Pecah rencana ke bulanan, mingguan dan rencana tindakan harian. Sisihkan waktu tertentu dan mengambil tindakan setiap hari setidaknya waktu tersebut akan membawa anda lebih dekat ke tujuan Anda. 6. Review – Review ini setidaknya setiap bulan, lebih lama dari itu berarti anda akan menyimpang terlalu jauh dari tujuan anda. Membuat penyesuaian yang diperlukan dalam rencana atau tindakan, tetapi tetap pada tujuan. 7. Menikmati proses – Menetapkan tujuan dan bekerja ke arah itu akan lebih memuaskan jika anda menikmati proses dalam melakukannya. Hidup di jaman serba cepat dan dinamis seperti sekarang ini menuntut kita untuk bekerja lebih keras terutama otak. Pada saat informasi penting datang secara tiba tiba, kita menangkapnya tetapi terkadang beberapa saat kemudian langsung lupa. Maka dari itu, saya punya beberapa tips untuk membantu meningkatkan daya ingatan anda. 1. Lakukan teknik relaksasi secara teratur Salah satu cara paling efektif untuk meningkatkan ingatan Anda yaitu dengan secara sadar berusaha mengendurkan ketegangan seluruh otot tubuh sebelum mempelajari sesuatu yang baru. Menurut para peneliti dari Fakultas Kedokteran Univ Stanford, relaksasi otot dapat mengurangi kecemasan yang sering dirasakan seseorang saat berusaha 2. mencoba Pertahankan pola mempelajari kesehatan hal yang baru. bagus Gangguan kesehatan termasuk kondisi minor sekalipun, seperti flu atau hipertensi, dapat menggangu ingatan anda. Sebuah penelitian menemukan bahwa dalam periode 25 tahun, pria menderita hipertensi kehilangan kemampuan kognitif hingga dua kali lipat dibandingkan dengan pria bertekanan darah normal. Di sisi lain, penelitian di Universitas California Selatan mengemukakan bahwa pada usia 70-an tidak akan mudah mengalami penurunan kemampuan kognitif jika mereka tetap aktif secara fisik. 3. Tantang diri Anda ! Otak memproduksi senyawa kimia neurotransmitter yang membawa pesan antar sel yang terlibat dalam ingatan dan penentuan strategi. Ketersediaan neuritransmiter tersebut termasuk senyawa kimia pembentuk ingatan asetikolin meningkat apabila otak sering digunakan untuk menyelesaikan tantangan yang menuntut penyelesaian masalah. Penelitian menunjukan bahwa tikus yang hidup dalam lingkungan menantang mempunyai dendritik yang lebih kompleks daripada tikus yang hidup di lingkungan biasa. 4. Kembangkan ketajaman indera Sebagian besar jenius bidang ingatan mempunyai persepsi indrawi yang sensasional atau sensitif. Praktikan ketrampilan pengamatan anda dan belajarlah lebih memperhatikan dengan menggunakan seluruh indera Anda. Kurangnya konsentrasi sering menjadi akibat buruknya ingatan. Jika ingin mengingat sesuatu, berhentilah sejenak, perhatikan dan catat (secara internal maupun eksternal) apa yang ingin Anda ingat. 5. Lakukan olahraga teratur Selain meningkatkan kekuatan fisik, olahraga teratur juga membantu fungsi ingatan anda dengan menjamin suplai oksigen darah ke otak. Olahraga juga menstimulasi pelepasan endorfin-neurotransmiter yang terkait dengan rasa senang sehingga meningkatkan keceriaan, yang menjadi pemicu penting pembelajaran ingatan. Selain itu penelitian juga menunjukan bahwa olahraga juga meningkatkan produksi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF). Satu dari delapan faktor pertumbuhan manusia yang diperkirakan mampu meningkatkan kemampuan belajar dan perlindungan sel dari penyakit, 6. seperti obat Alzheimer, penenang parkinson, dan zat dan yang penyakit lou gehrig's. kantuk Hindari menimbulkan Segala zat yang membius otak termasuk alcohol, benzodiazepin (biasa untuk terapi ganguan kecemasan) dan obat penenang lainmenghambat fungsi optimal daya ingat anda. Jika ingin santai, makanlah makanan berkarbohidrat tinggi yang merangsang produksi 7. tritofan dan bertindak sikap sebagai penenang mental alami. positif Kembangkan Ganti sikap negatif atau kritik terhadap diri sendiri, seperti "Aku sudah terlalu tua untuk mengingatnya", menjadi sikap positif seperti "Ah, ini gampang, santai saja pasti aku bisa ingat kok". Periksalah keragu raguan dan hambatan mental anda. Sebagian besar perasaan tersebut biasannya muncul saat anda masih sangat muda dengan alasan yang tidak jelas. 8 Makan secukupnya, kurangi lemak dan minum banyak air Pilihlah makanan yang rendah lemak dan kalori. Makanan yang rendah lemak dan tinggi protein adalah ayam (tanpa kulit), ikan, kerang, daging sapi muda, dan daging sapi tanpa lemak. Sumber protein nabati rendah lemak mencakup kacang polong kering dan kacang - kacangan lain, produksi susu rendah lemak, termasuk keju dan susu skim, serta makanan berbahan kedelai. Yang tak kalah penting adalah minum banyak air (ini yang selalu saya lakukan karena mudah dan paling efektif) dapat membantu pencernaan dan pernafasan, meningkatkan kapasitas pembawaan oksigen dalam darah, serta mempertahankan kesehatan sel. DEMIKIANLAH tips untuk meningkatkan daya ingat dari saya, semoga berguna dan membantu. 8 Tips sederhana ini sudah terbukti, dan Silahkan Anda coba. 1. Selalu punya energi untuk siswanya Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama. 2. Punya tujuan jelas untuk Pelajaran Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas. 3. Punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif Seorang guru yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas. 4. Punya keterampilan manajemen kelas yang baik Seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif, membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas. 5. Bisa berkomunikasi yang Baik dengan Orang Tua Seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi panggilan telepon, rapat, email dan sekarang, twitter. 6. Punya harapan yang tinggi pada siswa nya Seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan mendorong semua siswa dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka. 7. Pengetahuan tentang Kurikulum Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga memastikan pengajaran mereka memenuhi standar-standar itu. 8. Pengetahuan tentang subyek yang diajarkan Hal ini mungkin sudah jelas, tetapi kadang-kadang diabaikan. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan. Mereka siap untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa, bahkan bekerja sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboratif. 9. Selalu memberikan yang terbaik untuk Anak-anak dan proses Pengajaran Seorang guru yang baik bergairah mengajar dan bekerja dengan anak-anak. Mereka gembira bisa mempengaruhi siswa dalam kehidupan mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang mereka miliki dalam kehidupan siswanya, sekarang dan nanti ketika siswanya sudah beranjak dewasa. 10. Punya hubungan yang berkualitas dengan Siswa Seorang guru yang baik mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat menghormati dengan siswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya. Disarikan dari situs Apple for the teacher Bagaimana cara menjadi guru kreatif? wah ini baru pertanyaan yang seru. Dikarenakan sejak blog ini dibuat tidak ada satu artikel pun yang mengarah langsung kesana. Hal yang saya lakukan adalah banyak-banyak menulis artikel tentang metode pembelajaran tanpa memberi cap pembelajaran kreatif. Tetapi membaca pertanyaan pak Agus Suyono di atas seperti menyadarkan saya bahwa menjadi guru kreatif bukannya sekedar membuat anak senang dan enjoy oleh permainan (games) yang seru, segar dan lucu selama pembelajaran berlangsung. Tapi juga selayaknya guru mencari metode pembelajaran yang bermakna dan membuat anak bisa semakin mengerti apa yang guru ajarkan dikelas Dalam artikel ini akan saya tuliskan, kondisi apa saja yang membuat guru bisa menjadi kreatif bahkan tanpa harus menggunakan metode pembelajaran yang terbaru. Sumber saya dapatkan dari www.edutopia.com Guru menciptakan susasana kelas yang aman dan nyaman secara emosional dan intelektual Terkadang siswa punya banyak pertanyaan dibenaknya, tetapi ada semacam perasaan malu dan takut, dikira bodoh jika melontarkan pertanyaan. Sebagai guru, kerja keras kita salah satunya adalam menciptakan kelas yang memberik keamanan secara emosional bagi siswa. Memang agar menjadi siswa yang percaya diri mereka perlu mengambil resiko, tetapi di lingkungan yang tidak mendukung kenyamanan secara emosional, siswa akan berpikir 1000 kali untuk mau bertanya dan berpendapat. Anda juga bisa membuat peraturan kelas yang isinya antara lain ‘Tidak boleh merendahkan atau meremehkan pendapat orang lain’ Jangan lupa anda juga memberi contoh dahulu kepada siswa untuk mengucapkan terima kasih dan menhargai untuk setiap pertanyaan, atau pendapat dari siswa anda. Jika ini terjadi dikelas anda dijamin kelas akan berubah menjadi kelas yang setiap individu didalamnya salaing mendukung dan mudah untuk berkolaborasi dalam berpengetahuan. Tidak hanya sampai disitu saja, kelas yang membuat guru menjadi guru kreatif semestinya juga aman secara intelektual. Siswa bisa mandiri dan mengerti dimana letak alat tulis, dikarenakan semua hal dikelas sudah disiapkan dengan rapih dan terorganisir. Siswa tahu apa yang harus dikerjakan dikarenakan intruksi penugasan yang jelas oleh guru. Tidak hanya jelas tetapi juga menantang dengan demikian siswa bisa mengekpresikan kemampuannya dalam mengerjakan tugas yang guru berikan. Guru mengukur dengan hati, seberapa besar keterlibatan (engagement) siswa dalam tugas yang ia berikan. Saya jadi ingat sebuah pertanyaan yang bersifat reflektif mengenai cara kita mengajar dan membelajarkan siswa. Pertanyaan nya begini “Jika saya adalah murid saya sekarang, seberapa senang saya diajar oleh guru seperti saya? “ Seorang guru yang ahli mampu menciptakan suasana kelas yang aktif dalam pembelajaran di kelas yang diajarnya dalam presentasi keterlibatan yang penuh alias 100 persen. Artinya, misalkan seorang guru mengajar selama 40 menit, maka selama 40 menit itu pulalah, siswa belajar dengan aktif dan terlibat penuh dalam pembelajaran. Tentu tidak dalam semalam semua guru bisa 100 persen menciptakan kelas yang aktif. Namun membutuhkan latihan dan latihan. Tetapi jalan kesana akan lebih cepat apabila kita mau jujur bertanya pada diri sendiri “Seberapa besar siswa aktif atau terlibat penuh dalam pembelajaran yang saya lakukan?”. 5 menit terakhir yang menentukan Jadikan 5 menit terakhir pembelajaran anda untuk merangkum, berbagi atau berefleksi mengenai hal yang siswa sudah lakukan selama pembelajaran. Bagilah menjadi dua pertanyaan besar, misalnya bagian mana yang paling berat dilakukan dan susah dimengerti. Pertanyaan selanjutnya, pengetahuan baru apa yang kamu dapatkan hari ini? Dengan demikian membuat siswa berdialog dengan dirinya sendiri mengenai proses belajar yang telah dilakukannya. Guru menciptakan budaya menjelaskan, bukan budaya asal menjawab dengan betul. Ciri-ciri sebuah pertanyaan yang baik adalah pertanyaannya hanya satu tetapi mempunyai jawaban yang banyak. Bandingkan dengan jenis pertanyaan yang hanya mempunyai satu jawaban. Hal yang terjadi siswa akan berlomba menjawab dengan benar dengan segala cara. Termasuk mencontek misalnya. Sebagai guru budayakan pola perdebatan atau percakapan akademis di kelas kita. Saat mendengarkan rekan mereka berbicara dan berargumen, mereka akan belajar memilih dan membandingkan pendekatan atau cara yang orang lain lakukan untuk menjawab sebuah masalah yang guru berikan. Sebagai guru saat memberikan soal berikanlah siswa beberapa peluang kemungkinandalam menjawab sebuah soal. Misalnya soal yang bapak berikan ini punya tiga alternative, bisa kah kamu menemukan ketiga-tiganya? Guru mengajarkan kesadaran siswa dalam memandang sebuah pengetahuan. Saat membelajarkan siswa, dikarenakan keterbatasan kita, terkedang kita sudah membuat mereka menebak atau mengarang-ngarang sebuah jawaban demi mendapatkan hasil yang benar. Hal ini siswa lakukan secara sadar atau tidak sadar. Untuk itu mari kita letakkan gambar dibawah ini disamping soal yang kita berikan kepada siswa di kertas soal. Dengan demikian sebagai guru kita menjadi tahu saat siswa menjawab soal dengan salah tapi dengan keyakinan (for sure) atau menjawab soal dengan benar tapi dengan tidak yakin (confused). Menarik bukan ? Biarkan siswa memberi tanda silang (X) pada tempat dimana dia merasa cocok. Ditengah banyaknya guru-guru profesional yang telah mendapatkan tunjangan sertifikasi guru, ada baiknya saya ikut mengingatkan beberapa kebiasaan yang harusnya kita hindari bersama sebagai guru profesional... Saat guru mengajar, ada dua kemungkinan yg akan terjadi pada seorang guru, ia lupa waktu atau ia sering mengecek waktu kenapa belum juga berakhir. Kalau yang pertama terjadi pada anda, selamat anda layak disebut sebagai guru profesional. Tapi jangan senang dulu lupa waktu bisa juga berarti anda belum cermat dalam membagi waktu. Lupa waktu juga bisa berarti anda asyik dan senang serta larut dalam kesenangan mengajar. Anda merasa interaksi dengan siswa sangat intens, siswa senang belajar dengan anda dan sebaliknya. Jika anda masih menjadi guru yang senangnya melirik jam, sambil mempertanyakan kenapa jam bergerak lama sekali, mungkin ini jawabannya. 1. anda masih menomorsatukan peran anda di kelas. Anda masih merasa andalah sumber ilmu, andalah yang bertanggung jawab terhadap pembelajaran, dll. Padahal mengapa tidak kita bagi tanggung jawab bersama siswa. 2. Anda masih merasa buku teks sebagai sumber satu-satunya inspirasi dalam mengajar. Buku teks penting, sayapun senang padanya karena ia banyak membantu saat kita kekurangan ide. Tapi apakah sekali-kali anda tidak ingin meramu pelajaran anda sendiri. Sumber inspirasi bisa dapat dari mana saja, dari koran sampai tv dari tetangga sampai siswa kita sendiri, semua bisa dijadikan inspirasi. 3. Anda memaksa siswa dikelas, untuk bisa mengingat informasi yang anda sampaikan. Hanya karena saat anda sekolah dulu merasa paling jago menghafal, anda didik siswa anda dengan cara yang sama. Cara ini sangat rawan stress, baik bagi anda sebagai guru, apalagi siswa. 4. Anda berharap dan senang dengan jawaban yang ‘benar’. Siapa guru yang tidak senang saat siswa menjawab benar, tapi percayalah butuh proses untuk sampai kesana. Prosesnya antara lain dengan anda mengarahkan diskusi siswa, menunjukkan fakta-fakta berupa gambar atau data yang membuat siswa paham, dan masih banyak lagi cara dalam menciptakan situasi siswa paham dan senang untuk unjuk pendapat dalam diskusi yang berujung pada ‘kebenaran’ yang disepakati bersama. 5. Anda tidak merencanakan pembelajaran. Lupakan sejenak Rencana Perencanaan Pembelajaran yang benar menurut pelatihan yang anda hadiri. Lupakan sejenak pakem-pakem, yang anda perlukan adalah menulis hal yang ingin anda lakukan dengan siswa anda dikelas. Cukup itu saja dulu, anda tidak akan menjadi guru profesional jika tunggu ilmu anda cukup untuk menulis sebuah RPP yang ‘benar’. 6. Anda berkonsentrasi membuat siswa menguasai ‘fakta’ dalam pembelajaran. Fakta yang saya maksud adalah tanggal, bulan, tempat, nama tokoh. Siswa akan merasakan hal-hal yang dipaksa mereka untuk kuasai malah tidak ada hubungannya dengan kehidupan mereka sekarang. Berikan penugasan yang menantang, buat mereka berpikir bahwa belajar adalah mengambil pelajaran dari hal yang sudah lewat untuk dipakai dimasa depan. Institusi sekolah erat kaitannya dengan disiplin. Bahkan di jaman tahun 80 an sekolahsekolah yang dianggap baik terkenal karena peraturan yang ketat dan disiplin yang tinggi. “Sekolah itu bagus karena disiplin nya kuat sekali, buktinya tiap ada anak yang melanggar peraturan dihukum dengan hukuman yang berat.” Komentar para orang tua siswa di jaman itu. Demikian lah di jaman itu sekolah yang pandai menghukum siswa nya dengan hukuman berat malah diburu para calon orang tua siswa. Banyak pihak yang masih menghubungkan penegakan disiplin di sekolah dengan menghukum siswa. Padahal kedua-dua nya tidak saling berhubungan. Karena terbukti penegakan disiplin dengan hukuman hanya akan membuahkan sikap disiplin yang semu yang lahir karena ketakutan bukan karena lahirnya kesadar an akan perbaikan perilaku. Sebenarnya ada jalan tengah diantara disiplin dan menghukum . Jalan tengah itu disebut konsekuensi. Sebuah konsekuensi berarti menempatkan siswa sebagai subyek. Seorang siswa yang dijadikan subyek berarti diberikan tanggung jawab seluas-luas nya dengan konsekuensi sebagai batasan. Siswa terlambat masuk sekolah ? solusinya dia terkena konsekensi pulang lebih telat dari yang lainnya, atau waktu istirahat dan bermain dipotong . Jangan sampai disitu saja, bicarakan hal ini dengan orang tua siswa, karena mungkin masalah timbul bukan karena si anak tapi karena masalah orang tua. Dalam mengatasi masalah terlambat masuk sekolah ini saya punya contoh menarik. Tidak jauh dari tempat tinggal saya ada sebuah sekolah menengah atas yang memilih mengunci pintu gerbangnya setiap jam 7 pagi tepat. Anda bisa bayangkan mereka yang terlambat akan kesulitan untuk masuk karena pintu gerbang sudah terkunci. Setiap hari akan ada sekitar 10 orang siswa yang tertahan diluar menjadi tontonan warga sekitar yang lewat di depan sekolah tersebut. Padahal mereka yang terlambat belum tentu malas, bisa saja karena alasan cuaca atau hal-hal lain yang tidk bisa dihindari. Alasan pihak sekolah mungkin bisa diterima, tindakan mengunci gerbang diambil atas nama penegakkan disiplin dan membuat siswa menjadi sadar akan pentingnya datang tepat waktu ke sekolah. Tapi sadarkah pihak sekolah bahwa mengunci siswa di luar bisa mempermalukan harga diri sisw? Bagaimana bila tetangga atau orang-orang yang mengenali mereka lewat saat mereka terkunci di luar. Padahal saat sekolah mau menerapkan konsekuensi atas siswa yang terlambat, banyak tindakan yang bisa dilakukan, dari memotong jam istirahat sampai meminta mereka masuk sekolah di hari Sabtu atau Minggu saat teman -temannya libur. Dengan demikian harga diri siswa terjaga dan siswa menjadi makin bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukannya. Siswa juga menjadi sadar bahwa konsekuensi bertujuan untuk penyadaran dengan mengambil atau mengurangi hak istimewa mereka . Mari kita mengenali apa itu hukuman dan konsekuensi Hukuman 1. 2. 3. 4. 5. 6. Menjadikan siswa sebagai pihak yang tidak punya hak tawar menawar dan tidak Jenisnya tergantung guru, apabila hati guru sedang senang maka siswa Bisa dijatuhkan berlipat-lipat derajatnya terutama bagi siswa yang sering berdaya. Guru menjadi pihak yang sangat berkuasa. Ingat “Power tends to corrupt” terlambat pun tidak akan dikunci diluar. melanggar peraturan. Guru cenderung memberi cap buruk bagi anak yang sering melanggar. Sifatnya selalu berupa ancaman Tidak boleh ada pihak yang tidak setuju, semua pihak harus setuju. Jadi sifatnya memaksa. Konsekuensi 1. 2. 3. Dijatuhkan saat ada perbuatan yang terjadi dan berdasarkan pada aturan yang Sesuai dengan perilaku pelanggaran yang siswa lakukan. Menghindari memberi cap pada anak, dengan memberi cap jelek akan telah disepakati. melahirkan stigma pada diri anak bahwa ia adalah pribadi yang berperilaku buruk untuk selama-lamanya. 4. Membuat siswa bertanggung jawab pada pilihannya. Anda bisa mengatakan “Kevin kamu memilih untuk ribut pada saat bu guru sedang menerangkan maka silahkan duduk di luar selama 5 menit”. Dengan demikian anda menempatkan harga diri anak pada peringkat pertama. Bandingkan dengan perkataan ini “Kevin, dasar kamu anak tidak tahu peraturan,…. tukang ribut! Sana keluar….! Gaya mengajar guru bisa macam-macam. Dari yang senangnya memberi tugas siswa yang banyak, sampai guru yang senangnya bercerita ngalor ngidul selama jam pelajaran. Kesemua gaya mengajar yang saya sebutkan ujungnya cuma satu, apakah siswanya nyaman atau tidak berada di kelasnya. Nyaman bisa berarti banyak hal, dari nyaman karena akrab sampai nyaman karena bisa bertanya apapun karena siswa yakin ia punya guru yang berpikiran terbuka karena bersedia jadi mitra sejajar dalam mencari pengetahuan. Ada beberapa kepribadian guru yang bisa menjadi jalan bagi siswa untuk bisa nyaman berada dikelas anda. 1. Guru yang bisa jadi pendengar yang aktif. Seorang guru yang menjadi pendengar yang aktif sadar bahwa semua siswa seberapapun pendiamnya ia senang didengar dan senang jika diminta berbicara. Jika anda mengajar SMP atau SMA, seorang siswa yang terhalang aspirasinya dikelas biasa menyuarakan unek-uneknya lewat situs jejaring sosial. Apalagi jika mereka yakin bahwa anda tidak mungkin membaca hal yang mereka tuliskan. Hal ini berarti sudah menjadi naluri bagi siswa kita sekarang ini untuk didengar dan ‘bersuara’. 2. Guru yang memberikan pilihan. Tempatkan diri anda sebagai siswa, pasti anda akan suka saat dibebaskan untuk memilih. Bicara soal pilihan, buat siswa dibebaskan untuk memilih hal yang menurut kita sebagai guru adalah sebuah hal yang sederhana namun merupakan ‘kemewahan’ bagi siswa. Dibolehkan untuk memilih teman dalam kerja kelompok, memilih tempat duduk, dibolehkan untuk memilih pekerjaan apa yang ingin mereka lakukan terlebih dahulu dan sederet pilihan lain yang simpel tapi membuat mereka senang karena boleh memilih. Saran saya utamakan tujuan akhir, yaitu selesai pekerjaan dan tujuan pembelajaran yang kita rancang, soal cara silahkan anda pikirkan yang terbaik dan yang penting nyaman bagi kedua belah pihak, anda dan siswa anda dikelas. 3. Guru yang pandai menyelipkan motivasi. Sengaja saya menggunakan kata ‘menyelipkan’. Siswa sekarang kurang suka dimotivasi dengan cara yang biasa. Buat mereka kata motivasi hampir mirip dengan kata nasehat. Nah, dinasehati adalah sebuah situasi dimana ada pihak yang salah dan diberitahu mengenai kesalahannya. Padahal memotivasi beda dengan dinasihati. Memotivasi dimulai dengan prasangka baik bahwa orang yang dimotivasi punya kemauan untuk berubah. Saat kita sebagai guru memotivasi siswa, mulailah dengan sapaan hangat dan konsentrasilah terhadap apa yang dikatakannya. Dengan demikian motivasi kita berbeda dan unik untuk setiap siswa kita. Hasilnya siswa akan merasa bahwa keberadaan mereka spesial di mata kita sebagai guru. 4. Guru yang menegakkan dead line sambil menghargai usaha siswa. Deadline yang saya maksud adalah masa akhir pengumpulan tugas. Sering guru mengukur ketegasannya dengan ketat dalam soal batas waktu pengumpulan tugas. Padahal bukan soal batas waktu yang paling penting, karena jika ini yang jadi tujuan utama, siswa cenderung mengumpulkan tugas dengan apa adanya demi mengejar dead line. Sebagai guru usahakan membangun dialog mengenai jalannya pengerjaan tugas, siswa akan senang menceritakan prosesnya, sambil mendengarkan kita pun jadi bisa mengerti jika ada siswa yang meminta negoisasi mengenai batas pengumpulan tugas, asal waktunya masih mungkin dan demi hasil yang lebih bagus kenapa tidak? Menjadi guru saat ini membutuhkan kemampuan beradaptasi dan kemauan untuk berubah.. Di pertengahan tahun ini marilah memperbaharui niat serta strategi dalam bekerja agar selalu bisa menyajikan yang terbaik untuk siswa demi kemajuan bangsa indonesia di era yang akan datang. Berikut 7 kebiasaan yang harus ditanamkan pada diri seorang guru : 1. Konsistensi Saya setuju hal ini menjadi yang pertama. Saat berada di dalam kelas, integritas kita selalu menjadi taruhan. Tanpa konsistensi dalam menegakkan peraturan dan apa yang sduah menjadi kesepakatan di kelas, waktu 45 menit saat kita mengajar, akan banyak dihabiskan dengan upaya untuk mendiamkan siswa. Ketika siswa tidak melihat adanya konsistensi maka mereka tidak hanya akan menunjukkan sikap yang mencari perhatian, tidak hanya dari guru tetapi juga menunjukkan perilaku yang tidak baik terhadap teman-temannya bahkan saat guru sedang berada di depan kelas. Sebenarnya tidaklah sulit untuk melakukan hal ini dikarenakan setiap sekolah biasa nya telah memiliki kebijakan dalam hal ini. Tugas kita sebagai guru hanyalah menegakkan aturan yang telah ada tanpa melibatkan emosi. Melihat segala sesuatu dari cara pandang siswa juga menjadi hal yang harus terus kita lakukan agar nuansa konsistensi yang kita upayakan benar-benar pas saat diterapkan pada siswa. 2. Perlakukan siswa sebagai individual. Dalam mengajar, sebuah hubungan antar guru dengan siswa memang haruslah terjalin dengan baik. Carilah sebanyak-banyak nya informasi mengenai murid anda. Ketika siswa merasa dekat maka sebagai guru kita sudah berhasil menyingkirkan batas pribadi antara dua pribadi yang berbeda yaitu guru dan murid. Siswa akan menghormati kita dari hatinya bukan karena keharusan. Banyak sekolah sudah mulai mempersyaratkan jumlah tertentu untuk siswa bisa berada di dalam satu kelas (misalnya 24 orang). Hal ini menjadikan niatan guru untuk lebih mengenal siswa akan lebih mudah dilakukan. Apabila kelas anda mempunyai jumlah murid yang lebih banyak, anda bisa memulai dengan banyak bercerita mengenai diri anda pribadi, pengalaman serta keluarga anda (tentunya dalam porsi yang bisa diterima oleh usia murid) agar siswa yang ada dikelas merasa mengenal anda sebagai guru dengan baik. 3. Jadikan lingkungan fisik kelas anda sedapat mungkin bernuansa belajar. Saat melakukan pengaturan tempat duduk siswa, upayakan membuat siswa bisa belajar dan bekerjasama dengan teman nya (peer learning). Aturlah tempat duduk siswa dalam kelompok agar terjadi gerak dan interaksi serta meningkat ketrampilannya dalam pemecahan masalah. Dengan lingkungan yang demikian siswa merasa asyik dan bertambah terus keingin tahuannya dalam melakukan kegiatan belajar. Siswa juga terlatih kemandiriannya, konsentrasinya dan kemampuan untuk memotivasi diri sendiri. 4. Lakukan lah penilaian terhadap siswa, sesering mungkin tapi dengan alasan yang kuat Saat menilai siswa gunakan lah cara yang berbeda-beda. Carilah informasi sebanyakbanyak nya mengenai hasil kerja siswa (portfolio, melihat pekerjaan siswa saat dalam proses, observasi, tanya jawab). Siswa selalu merasa ingin tahu mengenai pencapaian yang sudah dilakukan. Dengan menggunakan prinsip menilai siswa dengan baik, akan membantu perkembangan anak untuk melakukan hal yang terbaik saat belajar. Adapun prinsip yang baik dalam menilai siswa adalah; • Mempunyai kriteria yang jelas dan diketahui oleh siswa sebelum dan saat tugas dikerjakan termasuk keterampilan apa dan pengetahuan apa yang harus dikuasai siswa di akhir pelajaran. • Saat menilai siswa, jangan selalu minta siswa menghafal hasil pengetahuan belajarnya, namun gunakan proses penilaian sebagai cara untuk siswa agar bisa belajar dengan lebih baik lagi • Sertakan selalu kolom refleksi siswa dan evaluasi diri sendiri dalam setiap penilaian tugas. Fokuslah pada kualitas hasil pekerjaan atau penampilan siswa serta aspek kekuatan siswa Berikan umpan balik kepada siswa dalam setiap kesempatan. Jadikanlah kebutuhan siswa, modalitas belajar, gaya belajar siswa sebagai landasan saat menilai dan saat membuat penugasan bagi siswa. Perbanyaklah bukti mengenai hasil kerja siswa yang dapat digunakan untuk memperlihatkan proses belajar siswa kepada seluruh elemen sekolah (siswa, orang tua, guru, yayasan dan lain-lain) • • • • • Usahakan untuk menilai hal yang pantas dan berharga untuk diketahui oleh siswa (sebagai contoh; mana yang lebih penting mengetahui tanggal hari lahir koperasi di Indonesia dibanding mengetahui manfaat koperasi bagi kehidupan masyarakat di Indonesia) 5. Dapatkan umpan balik dari cara anda mengajar dan bekerja Banyak sekolah yang sudah mempunyai cara dan istrumen untuk menilai guru baik kinerja maupun cara mengajar guru-gurunya. Bagaimana jika mulai untuk; • Mendapatkan umpan balik dari siswa (walaupun terkadang siswa bersikap sopan dan tidak terbuka dalam menilai) • Gunakan perangkat TIK (video camera) untuk melihat diri anda sendiri saat sedang mengajar. (perhatikan juga bahasa tubuh anda saat sedang mengajar) ingat prinsip komunikasi 60% adalah bahasa tubuh anda, 20% nada suara saat anda berbicara dan hanya 10 % isi dari apa yang anda utarakan. 6. Libatkan diri anda dalam setiap ajang berbagi pengetahuan formal maupun informal . Bagi anda yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, Sampoerna Foundation Teacher Institute melalui TPSN (teacher principal sharing network) adalah wadah yang tepat bagi anda untuk berbagi pengetahuan dengan rekan satu profesi, orang tua serta pemerhati pendidikan. Anda juga bisa mulai mengefektifkan gugus atau MGMP sebagai komunitas belajar. Masih ingat film the A-Team, guru dimasa sekarang bisa di ibaratkan sebagai pribadi yang bisa bekerja sama dan punya kemampuan yang unik. Apabila anda membaca artikel ini sekarang berarti anda sudah mulai mau berbagi dan mencari sumber pengetahuan. Buat lah blog dan mari berpartisipasi demi kemajuan pendidikan di Indonesia. 7. Membuka diri terhadap kebutuhan siswa Mulai lah dari kecerdasan majemuk, sebuah teori milik Howard Gardner. Teori ini sangat bermanfaat untuk menyadari betapa semua siswa cerdas. Gunakan strategi belajar kelompok serta strategi lain demi membuka seluruh potensi terbaik siswa . Seorang guru/instruktur/dosen harus memiliki kemampuan yang baik dalam menyampaikan materi yang diajarkannya, bila tidak… maka yang terjadi adalah siswa/mahasiswa akan kurang faham, tidak menyukai mata pelajaran tersebut atau bahkan anda sendiri sebagai pengajar tidak disukai. Tidak pelit nilai mungkin hal yang bijak sebagai seorang pengajar dan tentunya anda akan menjadi pengajar favorit dikelas, tetapi hal ini tidak mendidik dan merugikan siswa yang anda didik. Berikut ini ada beberapa tips yang biasa saya lakukan bila menyampaikan materi dikelas : Sebelum Menyampaikan Materi : 1. Pelajarilah kembali materi yang akan disampaikan dan buatlah rangkuman atau point-point penting pada materi tersebut, karena mungkin anda banyak mengajar mata pelajaran lainnya maka terkadang sudah agak lupa dengan materi ini sehingga perlu dipelajari lagi agar lebih siap. 2. Buatlah diktat atau rangkuman yang dapat di fotocopy atau disalin oleh siswa, sehingga kita tidak perlu merujuk banyak buku kepada siswa. Hal ini juga memudahkan siswa sehingga ia tidak perlu banyak membeli buku. Apabila mata pelajarannya eksak/hitungan, buatlah rangkuman rumus kepada siswa. 3. Siapkan soal-soal latihan sebanyak-banyaknya dan dibagi menjadi kategori ringan, sedang, dan susah. Rangkum semua soal tersebut dalam satu buku atau file dan buat memo disetiap soal tersebut… memo ini dibuat agar anda tahu kapan anda pernah memberikannya kepada siswa dan pada kelas berapa, sehingga soal yang sudah diberikan tidak disampaikan lagi pada pertemuan berikutnya. 4. Milikilah absen siswa anda, dan buatlah tabel nilai dan presentase kemajuan siswa. Hal ini berguna agar anda dapat mengetahui apakah materi anda telah diserap dengan baik oleh siswa dan siswa mana yang perlu anda bimbing lebih ekstra agar nilainya tidak jatuh. Saat di Kelas : 1. Buatlah suasana yang menarik dan tidak membosankan, untuk itu anda harus banyak latihan agar cara berbicara, sikap, dan metode ajar anda dapat diterima dengan baik oleh siswa. Menjadi guru yang garang dan terlalu disiplin terkadang akan membentuk siswa yang keras juga, untuk itu buatlah siswa takut karena hormat kepada anda dan bukan takut karena hukuman anda. Pernah ada siswa yang sangat nakal, namun ia justru malu dan takut dengan salah satu guru yang sangat dihormatinya. Berikan perhatian anda dengan penuh kasih sayang, bukan mencari kesalahan mereka.. 2. Buatlah quiz di awal dan akhir penyampaian materi, bila waktu tidak memungkinkan lakukan hanya di akhir materi bukan diawalnya… hal ini dapat menjadi indikator apakah materi yang telah disampaikan sudah diterima dengan baik oleh siswa. Saya banyak mengalami quiz dilakukan hanya di awal materi, hal ini hanya membuang waktu dan tidak efisien karena secara logika tentunya siswa belum mengetahui materi yang akan disampaikan. Kalo soal quiznya materi hari kemaren itu namanya ulangan… jadi perlu bedakan antara quiz dengan ulangan yach… 3. Sampaikan materi dengan menyampaikan point-point pentingnya saja, jangan terlalu banyak bertele-tele atau terlalu banyak bercerita yang bukan dalam ruang lingkup materi anda. Untuk materi eksak, perbanyaklah contoh soal… sampaikan perlahan dan buat agar siswa juga sama2 ikut berfikir. 4. Lakukan sistem ajar yang lebih interaktif berupa tanya jawab, pancinglah siswa agar banyak bertanya. Selain itu ada juga perlunya anda bersenda gurau diselasela penyampaian materi agar tidak terlalu tegang. 5. Pekerjaan Rumah (PR) dapat anda berikan setiap akhir penyampaian materi, namun bila ternyata itu tidak efektif misalnya banyak yang tidak mengerjakan atau ternyata banyak yang saling mencontek pekerjaan teman2nya sebaiknya metode PR nya anda ubah misal dengan beda soal tiap siswa atau cara lainnya. 6. Anda perlu melakukan evaluasi terhadap cara anda mengajar, ini bisa dilakukan dengan memberikan questioner pada siswa terhadap cara mengajar anda. 7. Anda juga dapat melakukan quiz interaktif, yaitu dengan membaca soal satu persatu dan mahasiswa langsung menjawab.. anda berikan waktu yang terbatas untuk menjawab soal tersebut. Misal bacakan soal no. 1 kemudian langsung dijawab oleh siswa, setelah itu bacakan soal no.2 kemudian siswa menjawab, demikian seterusnya… metode ini membuat siswa berfikir cepat dan tidak dapat mencontek. Selamat mengabdi, didiklah anak kita untuk kemajuan bangsa dimasa yang akan datang… Semoga Bermanfaat. Mengajar adalah suatu seni. Guru yang cakap mengajar dapat merasakan bahwa mengajar di mana saja adalah suatu hal yang menggembirakan, yang membuatnya melupakan kelelahan. Selain itu guru juga dapat mempengaruhi muridnya melalui kepribadiannya. Guru yang ingin murid-muridnya mengalami kemajuan, perlu mengadakan pengamatan dan penelitian terhadap teori dan praktek mengajar sehingga ia dapat terus-menerus meningkatkan cara mengajar. Sepuluh jenis prinsip dasar dalam cara mengajar yang disajikan di bawah ini, dapat dipakai sebagai petunjuk oleh para pengajar guna meningkatkan cara mengajar mereka. Menguasai Isi Pengajaran Hukum yang pertama dalam teori “Tujuh Hukum Mengajar” dari John Milton Gregory berbunyi: “Guru harus mengetahui apa yang diajarkan.” Jika guru sendiri mengetahui dengan jelas inti pelajaran yang akan disampaikan, ia dapat meyakinkan murid dengan wibawanya, sehingga murid percaya apa yang dikatakan guru, bahkan merasa tertarik terhadap pelajaran. Mengetahui dengan Jelas Sasaran Pengajaran Pengajaran yang jelas sasarannya membuat murid melihat dengan jelas inti dari pokok pelajaran itu. Mereka dapat menangkap seluruh liputan pelajaran, bahkan mengalami kemajuan dalam proses belajar. Empat macam ciri khas yang harus diperhatikan pada saat memilih dan menuliskan sasaran pengajaran: 1. dengan jelas. 2. 3. Sasaran harus meliputi hasil belajar. 4. Inti dari sasaran harus disebutkan Ungkapan penting dari sasaran harus bertitik tolak dari konsep murid. Hasil sasaran yang dapat dicapai. Contoh: Contoh-contoh di atas telah menjelaskan empat macam hasil belajar yang berbeda: pengetahuan, pengertian, sikap, dan ketrampilan. Utamakan Susunan yang Sistematis Pengajaran yang tidak bersistem bagaikan sebuah lukisan yang semrawut, tidak memberikan kesan yang jelas bagi orang lain. Tidak adanya inti, tidak tersusun, tidak sistematis, akan sulit dipahami dan sulit diingat. Oleh sebab itu inti pengajaran harus disusun dengan teratur dan sistematis. Banyak Gunakan Contoh KehidupanPada saat mengajar, seringlah menggunakan contoh atau perumpamaan kehidupan sehari-hari atau yang pernah dialami misalnya dalam perdagangan, rental, nilai uts / uas, dan lain sebagainyaContoh kehidupan adalah jembatan antara kebenaran ilmu dan dunia nyata Cakap Menggunakan Bentuk Cerita Bentuk cerita tidak hanya diutarakan dengan kata-kata, namun juga boleh dicoba dengan menambahkan gerakan-gerakan, yang memperdalam kesan murid. Bentuk yang paling lazim adalah menggunakan perumpamaan untuk menjelaskan kebenaran. Menggunakan Panca Indera Murid Penggunaan bahan pengajaran yang berbentuk audio visual berarti menggunakan panca indera murid. Bahan pengajaran audio visual bukan saja cocok untuk Sekolah Minggu anak-anak, juga untuk Sekolah Minggu pelbagai usia. Ensiklopedia adalah buku yang sering dipakai oleh para ilmuwan, namun di dalamnya terdapat banyak penjelasan yang menggunakan gambar-gambar. Itu berarti bahwa para ilmuwan pun perlu bantuan gambar untuk mengadakan penelitian. Para ahli pernah mengadakan catatan statistik selama 15 bulan, sebagai hasilnya mereka mendapatkan persentase dari isi pelajaran yang masih dapat diingat oleh murid: bagi murid yang hanya tergantung pada indera pendengaran saja masih dapat mengingat 28%, sedangkan bagi murid yang menggunakan indera pendengaran ditambah dengan indra penglihatan dapat mengingat 78%. Melibatkan Murid dalam Pelajaran Melibatkan murid dalam pelajaran dapat menambah ingatan mereka, juga motivasi dan kegemaran mereka. Cara itu dapat menghilangkan kesalahpahaman yang mungkin terjadi ditengah pertukaran pikiran antara guru dan murid, selain mengurangi tingkah laku yang mengacau. Misalnya: biarkan murid menggunakan kata-katanya sendiri untuk menjelaskan argumentasi atau pendapatnya; biarlah murid menggali dan menemukan hubungan antar konsep yang berbeda, biarlah murid bergerak sebentar. Jika murid sibuk melibatkan diri dengan pelajaran, maka tidak ada peluang lagi untuk mengacau atau membuat ulah. Menguasai Kejiwaan Murid Guru yang ingin memberikan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid, tentu harus memahami perkembangan jiwa murid pada setiap usia. Ia juga harus mengetahui dengan jelas kebutuhan dan masalah pribadi mereka. Pengertian antara guru dan murid adalah syarat utama untuk komunikasi timbal balik. Komunikasi yang baik dapat membuat penyaluran pengetahuan menjadi lebih efektif. Gunakanlah Cara Mengajar yang Hidup Sekalipun memiliki cara mengajar yang paling baik, namun jika terus digunakan dengan tidak pernah diubah, maka cara itu akan hilang kegunaannya dan membuat murid merasa jemu. Cara yang terbaik adalah menggunakan cara mengajar yang bervariasi dan fleksibel, untuk menambah kesegaran. Menjadikan Diri Sendiri Sebagai Teladan Masalah umum para guru adalah dapat berbicara, namun tidak dapat melaksanakan. Pengajarannya ketat sekali, namun kehidupannya sendiri banyak cacat cela. Cara mengajar yang efektif adalah guru sendiri menjadikan diri sebagai teladan hidup untuk menyampaikan kebenaran, dan itu merupakan cara yang paling berpengaruh. Kewibawaan seseorang terletak pada keselarasan antara teori dan praktek. Jikalau guru dapat menerapkan kebenaran yang diajarkan pada kehidupan pribadinya, maka ia pun memiliki wibawa untuk mengajar. INTUISI muncul dari Pikiran Bawah Sadar, yang selalu aktif mengolah informasi dan menyajikan sinyal-sinyal tertentu bagi Anda. Pada saat-saat kritis, ia akan menjadi suara yang paling berwibawa, dan menentukan arah kehidupan Anda selanjutnya. Setiap orang pasti pernah mengalami satu atau lebih, peristiwa yang mengguncangkan dan mengubah hidupnya. Entah itu berupa bencaran alam, kecelakaan, kehilangan pekerjaan, kesulitan finansial, krisis rumah tangga, perceraian, kematian pasangan hidup atau salah satu anggota keluarga, sakit parah berkepanjangan, dan atau berbagai krisis kehidupan lainnya. Ada yang berhasil bangkit dari krisis, dan menempuh hidup baru, tetapi tidak kurang pula yang menjadi terpuruk. Sebuah TITIK BALIK kehidupan bisa membuat seseorang menjadi benar-benar berbeda. Dalam menghadapi krisis, seringkali kita merasa tidak berdaya. Kita merasa seakan tidak lagi memiliki kendali atas hidup kita. Padahal sesungguhnya kita harus berusaha untuk tidak menjadi korban atau bersikap reaktif maupun antisipatif terhadap perubahan itu. Kita HARUS MENJADI SUBYEK dari perubahan tersebut, dan MEMILIKI KENDALI PENUH atas apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. PERUBAHAN bukan sekedar perlu disikapi dan diantisipasi. Jika kita mau menengok pada KEKUATAN dalam diri kita, justru kita akan menemukan kenyataan, bahwa kita sanggup menciptakan perubahan dan mengelolanya. Kita memiliki POWER untuk menciptakan REALITAS BARU yang lebih baik bagi kehidupan kita. Kita dapat sepenuhnya MEMEGANG KENDALI atas perubahan. Untuk menciptakan realitas baru tersebut, kita memerlukan PENGENDALIAN PIKIRAN BAWAH SADAR. Jika kita kehilangan pekerjaan, kita dapat menciptakan suatu bidang baru yang lebih menantang, lebih memberi arti, dan tentunya lebih memberikan jaminan kebebasan finansial yang kita impikan. Jika kita atau keluarga kita ada yang sakit parah, kita bisa menciptakan suasana atau kehidupan yang jauh lebih bermakna daripada sebelumnya, dan kita bisa mengenadlikan sakit itu. Kitalah yang sepenuhnya BERTANGGUNG JAWAB atas setiap peristiwa atau keadaan yang terjadi dalam kehidupan kita. Dengan teknik relaksasi, visualisasi, dan afirmasi, kita dapat memulai suatu proses menanamkan tujuan atau realitas yang kita inginkan ke dalam pikiran bawah sadar kita. Proses ini akan memengaruhi alam bawah sadar kita mengenai REALITAS BARU yang kita inginkan, setelah kita mengalami musibah atau krisis. Proses inilah yang disebut dengan Pemrograman Kembali Pikiran Bawah Sadar (Subconcious Reprogramming). Agar proses pemrograman bawah sadar dapat lebih efektif, diperlukan semacam emosi, atau perasaan yang MENYENANGKAN. Kita menambahkan emosi atau suasana hati ketika tujuan yang kita harapkan tercapai. Jika visualisasi menciptakan adegan atau gambaran seperti dalam film, maka menambahkan emosi itu seperti menambahkan soundtrack. Jadi, selain kata afirmasi, kemudian gambaran visual, kita perlu menambahkan perasaan atau emosi yang menyertai gambaran tersebut. Selalu tambahkan perasaan atau emosi pada saat kita menciptakan gambaran visual tentang pencapaian tujuan, seakan-akan kita TELAH MENCAPAINYA. Proses pemrograman bawah sadar untuk menciptakan realitas baru dalam kehidupan kita, harus dilakukan terus-menerus, sedikitnya 3 kali sehari, dan 20 menit setiap kalinya, sampai realitas yang kita harapkan itu MEWUJUD menjadi KENYATAAN. Hanya KEYAKINAN, yang tetap membuat kita disiplin, dan tidak berhenti, ketika keraguan dan keengganan mulai mengacaukan pikiran kita. Tetaplah berharap dengan penuh keyakinan. Berikut ini contoh proses atau tata cara untuk memrogram kembali pikiran bawah sadar kita. Misalnya Anda sedang mengalami krisis atau musibah dalam hidup Anda, yaitu kehilangan pekerjaan. Anda tidak berdaya dan secara fisik sulit untuk mengatasi atau mengubah keadaan yang Anda hadapi itu. Sebelum Anda mulai melakukan tahap proses pemrograman kembali bawah sadar, Anda perlu MENENTUKAN terlebih dulu, REALITAS seperti apa yang Anda harapkan, secara jelas. Misalnya, Anda menginginkan pekerjaan yang sesuai dengan potensi dan minat yang Anda miliki dengan penghasilan tinggi. Anda harus mengetahui secara persis, jenis pekerjaan dan perusahaan tempat bekerja yang Anda inginkan. Lakukanlah proses ini terus-menerus sampai apa yang Anda harapkan atau gambarkan secara mental dapat terjadi dalam dimensi nyata. Selanjutnya, carilah tempat nyaman untuk melakukan proses ini. Pilihlah tempat sunyi atau tidak banyak gangguan, seperti di dalam kamar, ruang kerja, atau bahwak di dalam kamar kecil. Anda harus berada dalam keadaan sangat rileks. Jika perlu, lakukan exercise ringan untuk melemaskan atau meregangkan otot-otot tubuh Anda. Cobalah Anda lakukan tahapan proses seperti di bawah ini: • Duduk nyaman dan rileks. Pejamkan mata. Kalau perlu, nyalakan musik santai yang membuat kita rileks, dan semua beban pikiran kita terlepas. • Tarik nafas panjang dan dalam. Rasakan udara segar memasuki seluruh tubuh melalui lubang hidung. Secara perlahan, Anda memasuki kondisi gelombang otak Alpha, masuk ke dalam tempat kedamaian Anda. Nikmati keadaan ini beberapa menit. • Ucapkan dalam hati, afirmasi yang sudah Anda buat secara pribadi, sebagai gambaran positif denga waktu saat ini. Ucapkanlah, “Saya bekerja di perusahaan X sebagai …… dengan penghasilan Rp…… setiap bulan.” • Visualisasikan keadaan atau tujuan yang Anda harapkan tersebut dalam layar mental Anda. Bayangkan Anda sedang memimpin rapat. Bayangkanlah bahwa hal itu benar-benar terjadi. Bayangkan bahwa Anda telah mencapai tujuan yang Anda inginkan, saat ini juga Anda telah meraihnya. Gambarkan dengan jelas, sehingga Anda benar-benar dapat melihat diri Anda sendiri di dalam pikiran Anda. • Sambil membayangkannya, tambahkan SUASANA HATI atau perasaan positif yang Anda miliki ketika tujuan itu tercapai. Gunakan JANGKAR EMOSI Anda untuk membangun perasaan atau emosi tersebut. Ambil nafas panjang dan dalam, nikmati perasaan itu, nikmati gambaran visualisasi dan perasaan hati yang menyertai suasana tersebut. • Setelah itu hitunglah secara perlahan dari 5, 4, 3, 2, 1 … sambil menarik nafas panjang dan dalam, untuk setiap hitungan. • Bukalah mata Anda. Jika proses itu terjadi kurang dari 20 menit, ulangi proses tersebut sebanyak beberapa kali, sampai mencapai sekitar 20 menit setiap prosesnya. Sebaiknya Anda jangan terlalu cepat berharap sudah ada tanda-tanda perubahan, setelah Anda melakukan proses di atas hanya beberapa kali. Seperti halnya benih yang kita tanam, memerlukan waktu untuk bertunas dan tumbuh menjadi pohon besar dan rindang. Demikian pula benih yang kita tanamkan ke dalam pikiran bawah sadar kita, memerlukan proses dan waktu yang cukup untuk tumbuh mewujud menjadi realitas baru, sesuai yang kita harapkan. Lakukan saja terus dengan keyakian dan pengharapan secara ikhlas. Kita ibarat menanam pohon yang tidak mungkin tumbuh besar hanya dalam semalam. Teknik-teknik berikut digunakan oleh ahli negosiator. Perhatikan ketika mereka bernegosiasi. Ketika mereka muncul, Anda segera tahu bahwa sedang bernegosiasi dengan seorang ahli. Seiring waktu, Anda akan menemukan mereka menjadi bagian dari gaya negosiasi Anda. + Bila Anda sudah mendapatkan sebagian besar dari apa yang Anda inginkan, namun tetap dalam batas-batas negosiasi, berhenti negosiasi. Anda akan hampir selalu mendapatkan sekitar 80 persen dari apa yang Anda inginkan; dan berusaha untuk mendapatkan 20 persen lain sering mengancam 80 persen yang telah Anda dapatkan. + Jangan pernah berdebat. Ingat, Anda adalah seorang negosiator dan berdebat hanya membiarkan orang lain tahu bahwa Anda bukan negosiator first-class. Membantah jika harus, tetapi mengerti bahwa berdebat tidak pernah menjadi penyelesaian yang tepat dalam bernegosiasi. + Jika Anda dapat menghindarinya, jangan pernah biarkan negosiasi mengkerucut membahas satu masalah. Hindari membiarkan negosiasi untuk mengurangi kondisi masalah menjadi satu masalah. Jika perlu, memperkenalkan kembali suatu kondisi yang tampaknya telah diselesaikan. Mengapa? Jika hanya ada satu masalah, maka dengan cepat menjadi sederhana yaitu keputusanya ya atau tidak. Dalam kasus ini, tidak ada ruang lagi untuk bernegosiasi, dan sebuah kotak telah dibuat. Salah satu dari kita harus memutuskan ya atau tidak. Ini menjadi posisi ‘ambil atau tinggalkan’. Jika hal-hal sampai ke titik ini, kita tidak lagi bernegosiasi. Cukup kembangkan terus isu-isu untuk memastikan bahwa selalu ada negosiasi. + Ingatlah bahwa orang tidak menginginkan hal yang sama. Kita tahu bahwa seseorang yang sedang menjalankan permainan pada Anda, jika dia bicara, “Bagaimanapun, kita menginginkan hal yang sama.” Ini hampir tidak pernah benar. Anda ingin mengaktualisasikan minat Anda dan mereka ingin mengaktualisasikan keinginan mereka. Kita mungkin memiliki beberapa kepentingan bersama atau umum, tetapi kita juga akan memiliki beberapa perbedaan. Sebagai negosiator terampil, Anda akan mengenali dan mengakui kepentingan kita bersama dan kepentingan mereka yang kita pegang sebagai individu. + Memahami dan menyebutkan kebutuhan, masalah, dan minat. Dalam memahami masalah jangan kondisikan mereka seperti faktanya. Katakanlah sebaliknya, misalnya “Saya mengerti, anda punya masalah (kebutuhan) yang saya mengerti dengan cara … anda akan lebih ….” Selalu mencari akal bahwa masalah, kebutuhan, dan minat saya penting bagi Anda dan dianggap serius oleh Anda dan sebaliknya. + Selalu menjaga fokus pada tugas Anda – pada negosiasi. Jangan pernah melakukan pergeseran fokus masalah ke pribadi anda. Bahkan ketika Anda berbicara dengan persepsi Anda tentang masalah, kebutuhan, dan kepentingan, melakukannya dengan cara-cara yang berkaitan dengan negosiasi – bawa kondisi diluar masalah pribadi anda. + Fokus pada-tugas dengan fleksibilitas. Gunakan sentuhan dengan membiarkan percakapan melayang, bersosialisasi, berbicara tentang hal-hal lain, atau untuk sebentar menjauh dari tugas, ‘mengikuti arus. Selalu rupawan, ramah, dan tertarik. Pada saat yang sama, walaupun, mencari peluang untuk kembali ke tugas gunakan kesederhanaan, bijaksanaan, dan tanpa menjadi kuat atau ambisius. +Melangkahkan kaki. Jangan pernah masuk ke posisi di mana Anda tidak mau berjalan, dan mengakhiri negosiasi. Jangan pernah memberi kesan tetap diam ditempat dan memegang kekuasaan penuh atas apa yang menjadi masalah. Minimal, mungkin Anda akan mampu untuk memberi lebih banyak daripada yang Anda benar-benar ingin memberi. Bahkan, jika benar-benar yakin dengan berjalan, Anda mungkin sebenarnya telah menaikkan tawaran sebagi seorang negosiator. + Tidak Keluar Jalur Ingat bahwa 80 persen adalah Keberlangsungan proses negosiasi dan 20 persen adalah akhir dari proses. Selalu simpan sedikit pertimbangan Anda untuk saat-saat terakhir dari proses negosiasi. Jangan lari keluar dari ruangan negosiasi sampai Anda tiba di akhir proses negosiasi. Dengan lari proses negosiasi akhir akan membentuk image sedikit sombong dan merasa seolah-olah sebagai negosiator yang unggul. Ini mungkin akan menyebabkan Anda diremehkan ketika lain kali bernegosiasi kembali. Buat image sebaik mungkin saaat akhir negosiasi. + Jangan menjadi tidak sabar. Orang yang sedang bernegosiasi secara bertahap akan sedikit frustrasi dan akan ingin mengakhiri proses. Ia mungkin akan tidak sabar dengan hanya 20 persen dari kemajuan yang dibuat selama pertama 80 persen dari waktu yang tersedia. Di sini, kuncinya adalah untuk bersantai, bersabar, dan hanya menunggu orang lain. Ada kemungkinan yang kuat bahwa dia akan membuat tawaran tambahan, meningkatkan pertimbangan, atau melakukan sesuatu yang lain keuntunga bersama. Hanya dengan menjadi lebih sabar dan menunggu, Anda sudah mendapatkan lebih dari apa yang Anda inginkan. Menjadi seorang guru adalah karunia yang sangat mulia terlebih lagi bila dilakukan dengan keikhlasan, dan hati yang tulus akan dapat menjadikan seorang guru merlimpah pahala dan amal kebaikan. tentu saja guru memiliki peranan yang sangat penting dalam membangun masyarakat di negeri ini, negeri yang kaya raya dengan berjuta-juta guru didalamnya, wajar saja perhatian pemerintah terhadap nasib seorang guru kian lama kian terkikisa terutama terhadap kesejahteraan guru honorer.. Meskipun begitu, menjadi guru adalah pilihan terbaik, dikarenakan setiap manusia dituntut untuk mencari ilmu dan juga mengamalkannya. nah, pada tulisan kali ini, kita akan mencoba lebih menghayati apa saja sih yang dilakukan seorang guru mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, dan juga apa saja peranan dan kewajibannya didalam proses pendidikan. PENGERTIAN Peran adalah tingkah laku yang dipentaskan individu berkenaan dengan kedudukan atau statusnya. Peranan merupakan aspek dinamis dari status. Jika seseorang melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan status yang dimilikinya, maka ia telah menjalankan peranannya. Pengertian keberhasilan pada konteks tulisan ini diukur dengan angka yang diperoleh siswa pada setiap mata pelajaran yang tercantum di raport siswa, atau sekurangkurangnya angka yang diperoleh siswa dari evaluasi/ulangan dan ujian. Kurang dari angka 6 (enam) tidak berhasil, antara 6 – 7,9 mendapat predikat penilaian cukup, dan 8 (delapan) ke atas baik atau berhasil. Angka 6 (enam) pada umumnya diletakkan sebagai ”batas” atau ukuran berhasil dan tidak berhasil. Gagal dipahami sebagai tidak berhasilnya siswa mencapai angka/nilai minimal yang menggambarkan pencapaian kompetensi tertentu sebagai standar untuk naik kelas atau misalnya lulus. SD, (polldaddy SMP, SMU poll=1743372) dll. Siswa adalah peserta didik/subyek didik pada sekolah formal pada jenjang tertentu, Secara gampangnya tulisan ini hendak mendeskripsikan seberapa besar peran seorang guru dalam ikut andil mempengaruhi siswa mencapai keberhasilannya. Berhasil dan gagal (terbatas) diukur dari nilai angka siswa pada rapor, yang menentukan naik/lulus tidaknya siswa itu. Besaran peran guru dimaksud dicoba untuk dikwantifikasi (diangkakan secara numerik statistik) meski sangat sulit mencapai tingkat generalisasi konklusi yang presisi bulat utuh dan dapat dianggap mewakili peran guru. Dalam peng-angkaan untuk mencapai besaran prosentase peran guru, diandaikan bahwa setiap guru telah menjalankan semua peranannya. Semua komponen yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam keberhasilan siswa, seperti orangtua siswa/rumah tangga, mastarakat lingkungan, juga menjalankan perannya dengan baik. Alokasi waktu yang menjadi domain masing-masing dikwantifikasi. PERANAN GURU Dalam bukunya BURUNG BERKICAU Anthony de Mello menulis pengandaian sebagai berikut: Seorang ’Bapak Tetapi Menerangkan Jawab ’Bagaimana Andaikan Buah Mengunyahkannya Bagimu?’ Dari perumpamaan de Mello dipahami bahwa peran seorang guru bukanlah penentu dan ada batas-batasnya. Batas itu dibahasakan sebagai peran menawarkan buah (baca=menyampaikan, menerangkan/menjelaskan materi ajar yang tentunya dengan berbagai methode dan media), namun tetaplah murid yang ”mengunyahnya” (subyek belajar). Pada teori belajar modern yang memberikan banyak peran pada siswa sebagai subyek belajar secara lebih luas, maka guru memposisikan dirinya sebagai fasilitator. Guru memfasilitasi kebutuhan belajar muridnya. WF Connell (1972) membedakan tujuh peran seorang guru yaitu 1. Pendidik (nurturer), murid mengeluh menuturkan tidak maknanya sang pendapatmu, seorang kepadamu, kepada kepada banyak Gurunya cerita, pernah kami’ Guru: Nak, menawarkan namun dahulu 2. Model, 3. Pengajar dan pembimbing, 4. Pelajar (learner), 5. Komunikator terhadap masyarakat setempat, 6. Pekerja administrasi, serta 7. Kesetiaan terhadap lembaga. Guru killer adakah ? Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Tugas-tugas ini berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas tanggungjawab kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar, persiapan.untuk perkawinan dan hidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal dan spiritual. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkah laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada. Peran guru sebagai model atau menjadi contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Oleh karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan negara. Karena nilai nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila. Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman belajar. Setiap guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah seperti persiapan perkawinan dan kehidupan keluarga, hasil belajar yang berupa tingkah laku pribadi dan spiritual dan memilih pekerjaan di masyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial tingkah laku sosial anak. Kurikulum harus berisi hal-hal tersebut di atas sehingga anak memiliki pribadi yang sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dianut oleh bangsa dan negaranya, mempunyai pengetahuan dan keterampilan dasar untuk hidup dalam masyarakat dan pengetahuan untuk mengembangkan kemampuannya lebih lanjut. Peran guru sebagai pelajar (learner). Seorang guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan dan keterampilan yang dirnilikinya tidak ketinggalan jaman. Pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang berkaitan dengan pengembangan tugas profesional, tetapi juga tugas kemasyarakatan maupun tugas kemanusiaan. Peran guru sebagai setiawan dalam lembaga pendidikan. Seorang guru diharapkan dapat membantu kawannya yang memerlukan bantuan dalam mengembangkan kemampuannya. Bantuan dapat secara langsung melalui pertemuan-pertemuan resmi maupun pertemuan insidental. Peranan guru sebagai komunikator pembangunan masyarakat. Seorang guru diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan di segala bidang yang sedang dilakukan. Ia dapat mengembangkan kemampuannya pada bidang-bidang dikuasainya. Guru sebagai administrator. Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu seorang guru dituntut bekerja secara administrasi teratur. Segala pelaksanaan dalam kaitannya proses belajar mengajar perlu diadministrasikan secara baik. Sebab administrasi yang dikerjakan seperti membuat rencana mengajar, mencatat hasil belajar dan sebagainya merupakan dokumen yang berharga bahwa ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik. SIAPA YANG BERHASIL dan SIAPA YANG GAGAL ? Ada banyak ukuran/kriteria berhasil dalam masyarakat. Berhasil dari ukuran materi atau kekayaan, ukuran pangkat dan jabatan, sampai ukuran yang sangat subyektif yang bersifat rohani. (misalnya sering kita dengar pernyataan percuma kaya raya kalau tidak bahagia hidupnya). Apa yang dicari manusia dalam hidupnya? Kan kebahagiaan (lahirbathin)!! …. lalu apa ukuran kebahagiaan lahir-bathin itu? Setiap insan tentulah punya ukuran yang bersifat subyektif. Pada tulisan ini berhasil dan gagal diinterpretasikan dengan diukur dari nilai angka siswa pada rapor, yang menentukan naik/lulus tidaknya siswa itu. Salah satu peran guru adalah sebagai pengajar dan pembimbing. Pada peran mengajar, guru berkewajiban (berperan) memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman berkenaan dengan kompetensi-kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa pada materi ajar sesuai dengan kurikulum. Waktu yang dialokasikan untuk guru menjalankan peran ini sudah ditentukan oleh kurikulum. Misalkan waktu untuk belajar IPS di SD-YPJ-KK kelas V (lima) per minggu adalah 4 jam pelajaran (@ 40 menit), demikian pula mata pelajaran yang lainnya. Pada kegiatan belajar mengajar di kelas, guru juga menjalankan perannya sebagai ‘pembimbing’. Pembimbing berasal dari kata bimbing yang berarti pimpin, asuh, tuntun. Membimbing sama dengan menuntun, sebagaimana Ibu menuntun anaknya yang baru belajar berjalan. Sang Ibu dapat membawa anak itu kemana saja dikehendakinya. Namun ketika sang anak sudah berjalan sendiri, peran Ibu menjadi mengawasi dan menjaga agar si anak tidak berjalan ke arah yang dapat mencelakakan, tetapi ke jalan yang seharusnya. Demikian pula guru adalah pembimbing yang menunjukkan jalan dalam proses belajar mengajar, dengan pengetahuan dan pengalamannya. Membimbing merupakan upaya guru membantu siswanya dalam mencapai tujuan belajarnya. Guru adalah panggilan Dapatkah kita katakan bahwa apabila guru sudah secara penuh menjalankan perannya mengajar dan membimbing, dan karenanya seorang siswa berhasil mencapai prestasi gemilang lalu keberhasilan itu dialamatkan bahwa guru tersebut berhasil? Bagaimana mengukurnya? Adakah keberhasilan siswa itu didorong oleh faktor-faktor dari luar campur tangan guru? Misalkan faktor intern siswa dari sikap dan perilakunya yang rajin belajar, tekun dan minat serta talenta? Atau faktor ekstern misalkan ikut les/privat, belajar kelompok, kepedulian dan pendampingan orangtua yang sabar dan kontinue? Atau sebaliknya, apabila guru sudah menjalankan perannya secara penuh mengajar dan membimbing (sebagaimana dialami siswa yang berhasil di atas), dapatkah pula kita menjustifikasi jika seorang siswa gagal, tidak naik kelas atau tidak lulus lalu kesalahan kita alamatkan pada guru? Benarkah bahwa kegagalan siswa adalah karena gurunya? Bagaimana mengukur bahwa yang gagal adalah guru? Bukankah kelasnya sama, gurunya sama, bukunya sama, materi ajarnya sama, soal dan alat evaluasinya sama, yang diajarkan sama, perlakuan yang diperankan guru sama? Singkatnya guru menjalankan peran kepada siswa-siswinya secara adil dan sama. Lalu mengapa ada siswa gagal diantara teman-temannya yang berhasil? Adakah faktor kegagalan yang ada pada siswa itu sendiri?, misalkan faktor intern kepribadian, sikap dan tingkah laku siswa malas, sering tidak masuk sekolah atau bolos, tidak mengerjakan tugas maupun pekerjaan yang diberikan guru (PR) dll? Siswa yang sering tidak masuk sekolah karena sakit, ijin, bolos atau alasan lainnya pastilah ketinggalan banyak materi pelajaran. Satu hari saja siswa tidak masuk sekolah maka pukul rata siswa itu ketinggalan 3-4 bidang studi materi ajar. Andai minggu berikutnya diadakan uji kompetensi atas materi ajar dimana ketika itu siswa tidak masuk sekolah, akankah siswa dimaksud dapat mengerjakannya?, apalagi jika di rumah tidak belajar atau menanyakan pada teman sekelasnya, dan pada ke empat bidang studi itu diadakan ujian. Bayangkan jika siswa sering tidak masuk sekolah, tidak mengerjakan tugas dan PR-nya yang diberikan guru, padahal semua assesment (evaluasi) dalam bentuk tugas, PR, latihan, ujian dimasukkan integral ke dalam rapor. Kegiatan belajar mengajar di sekolah bersifat klasikal. Waktu yang dialokasikan untuk guru dalam mengajar dan membimbing terbatas, dan tidak dapat optimal melayani klasikal manakala dalam waktu bersamaan memperhatikan individu khusus untuk seorang siswa yang terlambat pelajarannya karena tidak masuk sekolah. Jika pun keadaan semacam itu dijalankan, pasti terjadi ketimpangan/tidak ideal atau terganggu. Dalam usaha mengejar ketertinggalan yang dialami siswa karena ketidakhadiran, biasanya guru memberikan tugas atau memberikan remidial pembelajaran jika guru punya waktu di luar tugas mengajarnya. Namun kita semua memahami bahwa di luar waktu tugasnya seorang guru memiliki privasi. Bergantung pada kesediaan guru meluangkan waktunya. Sebagai orangtua, tidaklah mungkin menuntut guru memberikan waktu khusus untuk melayani mengejar ketertinggalan anaknya pada jam tugas mengajar. BESARAN PERAN GURU Untuk memahami seberapa besar peran yang menjadi tanggungjawab guru dalam andil atas berhasil dan gagalnya seorang siswa, kita tetap memakaikan batasan-batasan yang telah dituliskan di atas. Guru hanyalah satu dari banyak komponen yang ikut andil memainkan peran mempengaruhi keberhasilan.Terdapat banyak komponen yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar, diantaranya Komponen fisik seperti tempat dan fasilitas belajar, ketersediaan buku, seragam/alat, kesehatan si anak/siswa, asupan gizi makanan, gangguan saat belajar dari TV atau media lainnya; komponen sosial seperti lingkungan keluarga, masyarakat, teman sebaya yang menjadi ’model’ bagi terbentuknya tingkah laku dan sifat anak ; komponen waktu yang digunakan siswa dalam belajar; dan komponen psikis berupa perlakuan lingkungan sosialnya terutama orangtua terhadap kejiwaan anak/siswa. Apabila tinjauan peran guru kita ukur dari waktu yang dialokasikan untuk mengajar dan membimbing siswa pada bidang studinya, maka besaran peran guru tidak terlalu signifikan dalam menentukan keberhasilan dan gagalnya siswa. Idealnya jika alokasi belajar IPS di sekolah 4 jam (@ 40 menit) per minggu, maka siswa belajar IPS secara mandiri 4 jam, ditambah latihan soal-soal minimal 2 jam, dalam keadaan ada, ataupun tidak ada tugas/PR. Ketika siswa belajar secara mandiri di rumah, maka peran orangtua menjadi dominan. Seberapa besar perhatian orangtua, pendampingan orangtua dan bimbingan yang diberikan orangtua dalam belajar mandiri di rumah, memiliki pengaruh yang besar. Kalau kita perbandingkan dimana keberadaan anak dalam sehari, maka waktu yang menjadi tanggung jawab guru/sekolah lebih pendek dari waktu yang digunakan siswa diluar tanggungjawab sekolah/guru. Perhatikan ilustrasi di bawah: WAKTU YANG DIGUNAKAN SISWA SD-YPJ-KK KELAS V (FIVE DAY SCHOOL) 07.00 14.05 21.00 06.00 Catatan Hari Liburan WITA WITA WITA : besar semester (2kali) – WITA – 21.00 – 07.00 Hari (libur rata-rata 45 – WITA 06.00 WITA Sabtu – 14.05 Di Rumah WITA Persiapan dan nasional) 50 hari WITA (bersama / pergi Minggu ikut dalam dan Tidur Sekolah orangtua) istirahat sekolah libur libur setahun. Alokasi kegiatan siswa yang menjadi tanggungjawab guru/sekolah adalah antara 6,5 – 7 jam. X 5 hari sekolah = 35 jam ( 40 jam pelajaran @ 40 menit). Jadi rata-rata belajar per minggu adalah 35 jam : 7 hari = 5 jam (@ 60 menit). Dari alokasi waktu dalam sehari, maka guru/sekolah hanya mengambil tanggungjawab sebesar 5 jam : 24 jam/hari X 100% = 28,33%. Lebih dari 71% waktu siswa dalam sehari berada di bawah tanggungjawab orangtua. Dari besaran peran guru 28,33% itu, masih dibagi-bagi lagi ke dalam setidaknya 10 mata pelajaran! Makin tambah kecil waktu guru memerankan perannya mengajar bidang studi yang diampu. Dan ingat, kita masih belum menghitung hari libur serta liburan semester pada catatan di atas. Acapkali masyarakat, pers/media “melempar” bahwa sekolah harus bertanggungjawab atas kegagalan siswa. Guru harus bertanggungjawab atas kegagalan siswanya. Semantara apabila siswa memperoleh prestasi semua pihak mengklaim bahwa keberhasilan siswa itu adalah karena peran dan campur tangan mereka. Terlepas persoalan besar kecilnya peran kita, baik guru, orangtua, masyarakat, pemerintah dan siswa itu sendiri sebagai subyek belajar, apabila salah satu komponen dalam belajar tidak menjalankan perannya dengan baik, maka kemungkinan berhasil menjadi mengecil. Karenanya, sekecil apapun tugas dan peranan guru harus diperankan dengan baik dan profesional. Demikian komponen lainnya. Bagi penulis, subyek belajar (siswa) itu sendiri yang paling menentukan berhasil tidaknya dia dalam belajar. Bukan semua hal di luar siswa. Peran guru terbatas pada mentransfer dan memfasilitasi dalam proses belajar mengajar. Siswa yang merupakan subyek belajar! bukan guru! Bagaikan seorang anak yang akan makan, Seorang ibu menyiapkan hidangan makanannya (nasi, sayur dan lauk-pauknya = materi ajar/knowledge), menyiapkan piring, sendok, gelas dan garpu = alat/perangkat ajar misalkan worksheet, tts, buku, dll. Pada ahirnya yang menentukan adalah akankah anak makan? Bagaimana anak makan? Jika si anak makan, apa yang dia makan? berapa banyak dan seberapa cepat dia makan, akan mempengaruhi pertumbuhannya = akan mempengaruhi ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Siapa sich yang tidak ingin menjadi guru profesional, apa lagi yang memiliki nilai tambah dalam segala hal. oke, setelah kemarin memposting tentang Kiat menjadi guru profesional pada kesempatan kali ini saya ingin memberikan ringkasannya saja yaitu inti dari postingan sebelumnya. Berikut adalah beberapa hal yang harus dimiliki oleh guru profesional : 1. Selalu punya energi untuk siswanya Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama. 2. bekerja 3. Punya untuk Punya tujuan memenuhi keterampilan perubahan keterampilan jelas tujuan untuk tertentu dalam yang di kelas Pelajaran setiap efektif dalam yang kelas. baik kelas. Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan mendisiplinkan perilaku positif Seorang guru yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa mempromosikan 4. Punya manajemen Seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif, membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas. 5. Bisa berkomunikasi dengan Baik Orang Tua Seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi 6. Punya panggilan telepon, yang rapat, email dan pada sekarang, siswa twitter. nya harapan tinggi Seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan mendorong semua siswa dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka. 7. Pengetahuan tentang Kurikulum Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga memastikan pengajaran mereka 8. Pengetahuan memenuhi tentang standar-standar subyek yang diajarkan itu. Hal ini mungkin sudah jelas, tetapi kadang-kadang diabaikan. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan. Mereka siap untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa, bahkan bekerja sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboratif. 9. Selalu memberikan yang terbaik untuk Anak-anak dan proses Pengajaran Seorang guru yang baik bergairah mengajar dan bekerja dengan anak-anak. Mereka gembira bisa mempengaruhi siswa dalam kehidupan mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang mereka miliki dalam kehidupan siswanya, sekarang dan nanti ketika siswanya sudah beranjak dewasa. 10. Punya hubungan yang berkualitas dengan Siswa Seorang guru yang baik mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat menghormati dengan siswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya. Tambahan... Kiat menjadi guru yang menyenangkan : • • • 3 S (Senyum, Sapa, dan Salam ). Bersikap cerialah selalu. Ingat nama siswa. Kenali mereka secara pribadi. Beri kejutan siswa Anda sekali-sekali dengan hal-hal yang kreatif. Berceritalah sesekali. Hargai dan hormati siswa sebagai mana Anda hendak dihargai (pendapat, sikap pribadi, pilihan, asal-usul, kebiasaan, dll) Seringlah memuji siswa jika melakukan hal yang baik. Cari kesempatan untuk memuji mereka. Bantu kesulitan mereka (belajar, komunikasi, ekonomi, sosial, dll) Jadilah guru yang humoris. Berguraulah dengan siswa Anda. Ketahui hal-hal yang disukai/tidak disukai, hobi dan minat mereka. Gunakan humor dalam berkomunikasi dengan siswa. Beri teka-teki sesekali. Selalu pikirkan hal-hal untuk kebaikan siswa. Bersikaplah proaktif dan positif. Dengarkan siswa Anda sebagai seorang individu • • • • • • • Salam sukses untuk pendidik indonesia... Setiap orang adalah individu yang unik. Setiap orang juga bertanggung jawab atas dirinya sendiri untuk menemukan misi hidupnya masing-masing. Agar kita bisa berkontribusi maksimal, tentunya akan sangat baik bila kita bekerja di bidang yang paling sesuai dengan keunikan kita. Ibaratnya bisa menjadi ikan dalam air, atau burung di udara. Mengenali bakat merupakan hal yang gampang-gampang susah. Kenalkah Anda dengan JK Rowling? Itu loh, penulis Harry Potter yang buku terakhirnya terjual 8.9 juta hanya dalam waktu semalam di Amerika dan Inggris saja. Semula dia kerja sebagai pelayan toko. Hidupnya susah karena pendapatan yang pas-pasan. Tak disangka dia ternyata berbakat mendongeng. Setiap malam dia mendongeng kepada anaknya, yang kemudian oleh anaknya diceritakan kembali kepada teman-temannya. Tak disangka, dari sanalah muncul motivasi menulis buku fiksi Harry Potter yang ternyata sukses luar biasa di pasaran. Bagaimana kita bisa mengenali bakat kita sendiri? Berikut ini empat hal yang bisa dijadikan dugaan awal terhadap apa bakat kita, yaitu : reaksi spontan, tanda masa kecil, cepat belajar, dan kepuasan. Reaksi spontan Langkah pertama mengenali bakat adalah memperhatikan reaksi spontan kita terhadap situasi yang muncul. MIsalnya Anda sedang berjalan-jalan di keramaian. Tiba-tiba ada teriakan keras, “Copeet…!” Apa reaksi Anda? Lari mengejar copet? Menghibur korban? Berdiri mematung menganalisa situasi? Bertanya-tanya ke beberapa orang, membuat konfirmasi atas kejadian sebenarnya? Semua itu adalah pilihan yang mungkin diambil. Manakah pilihan spontan Anda? Kalau Anda langsung bertindak, berarti Anda orang yang praktis dan desisif (membuat keputusan cepat). Pada satu situasi yang mendesak bakat mental seperti ini sangat berguna, karena Anda segera bertindak. Pada situasi yang lain, bakat ini justru merugikan, misalnya karena tidak melakukan konfirmasi maka bisa terjebak pada kesalahan penilaian. Bukankah bisa saja yang teriak “copeet..” itu ternyata adalah temannya si copet yang mengalihkan perhatian? Bisa saja ada orang lain yang kemudian menjadi salah sasaran Anda gebukin padahal dialah korban copet yang sesungguhnya. Yang penting adalah, mengenali reaksi spontan kita. Apakah kita orang praktis? Apakah kita orang analitis? Apakah kita orang yang waspada (sehingga melakukan konfirmasi lebih dahulu)? Contoh lain, misalnya Anda diajak datang ke sebuah pesta. Apakah Anda akan langsung berbaur dan mengobrol dengan orang lain, bahkan dengan orang yang baru Anda kenal? Ataukah Anda mengambil segelas minuman, lalu berdiri di pojok mengamati orang-orang lain? Atau Anda sibuk dengan ponsel Anda sendiri kirim-kirim SMS ke orang lain dan tidak peduli dengan pesta? Hal ini menunjukkan apakah pribadi Anda introvert (cenderung ke dalam) atau extrovert (cenderung ke luar). Semua reaksi spontan Anda menunjukkan bakat mental yang sering disebut kepribadian. Tanda masa kecil Tanda masa kecil (yearnings) menunjukkan apa bakat natural Anda. Von Neumann, lahir di Hungaria tahun 1903, adalah perumus dasar-dasar komputer. Pada usia 6 tahun telah mampu menghitung pembagian 8 angka hanya di kepala. Pada usia 8 tahun dia sudah belajar kalkulus. Dia juga punya ingatan fotografik, cukup membaca sekilas buku telepon, dia bisa mengingatnya kembali dengan persis. Von Neumann menjadi peletak dasar-dasar komputer. Dia juga arsitek yang merancang bom atom Fat man, yang dijatuhkan di Nagasaki oleh tentara sekutu. Anna Mary Robertson Moses lahir di pertanian dekat New York. Sejak kecil dia senang mencampur warna, dan membuat sketsa indah dari berbagai buah-buahan. Namun kehidupan pertanian membuatnya tak lagi melukis hingga 40 tahun lamanya. Pada usia 78 tahun barulah dia memiliki waktunya untuk melukis. Selama 23 tahun kemudian hingga saat kematiannya, Moses melukis ribuan karya, dan kemudian terkenal sebagai artis lukis Grandma Moses. Apa ciri bakat kita saat masa kecil? Pada bidang apa karya Anda masa kecil diakui oleh lingkungan? Cepat belajar Cepat belajar (rapid learning/ fast learning) merupakan tanda bahwa Anda berbakat pada bidang tersebut. Terkadang kita sendiri tidak tahu, sampai suatu ketika mendapat kesempatan mempelajari hal baru, dan… blam! rasanya begitu mudah menguasainya. Henri Matisse tidak pernah menyentuh kuas hingga usia 21 tahun. Pekerjaan seharihari adalah klerk seorang pengacara. Sampai suatu ketika dia sakit flu berat, sehingga harus istirahat di tempat tidur. Ibunya berusaha mencarikan kegiatan pengisi waktu. Saat itulah ibunya memberikan seperangkat kuas dan cat. Empat tahun berikutnya dia diterima sebagai mahasiswa berbakat di sekolah seni Paris. JK Rowling, penulis Harry Potter, juga tidak menyadari punya bakat mendongeng hingga teman-teman anaknya menyatakan begitu menariknya kisah Harry Potter. Kini dia wanita kedua terkaya di Inggris, kalah hanya oleh Ratu Elizabeth. Jim Clark, seorang dosen yang jenius namun hidupnya kacau balau hingga 2 kali perkawinannya hancur. Lulus SMA dia melamar sebagai tentara Navy. Prestasinya sebagai kelasi begitu buruk sehingga sering dibilang bodoh oleh para atasannya. Sampai suatu ketika salah seorang instrukturnya bilang sebaiknya dia kuliah saja, karena tampaknya dia punya bakat matematika. Dan benar, dia meraih PhD di Computer Science! Setelah itu dia menjadi dosen. namun kebiasaan buruknya yang sering mengabaikan keluarga membuatnya bercerai. Tahun 1978 dia juga dipecat dari New York Institute of technology karena membangkang. Tak dijelaskan bagaimana, dia bergabung ke Stanford University. Pada usia 38 tahun, Clark yang menderita depresi berat, tiba-tiba menemukan pencerahan. Ternyata kehidupan kacaunya itu dikarenakan dia terlalu kreatif sehingga selalu mencari hal baru. Clark terlalu banyak ide. Sejak itu dia mendirikan perusahaan bernilai milyaran dolar, mulai dari Silicon Graphic Inc. (SGI), Netscape (pembuat browser internet), hingga Healtheon (perusahaan medical di internet) yang semuanya sukses besar jual saham dalam IPO. Bakat Jim Clark adalah ide dan visinya. Tentunya Anda juga ingat dengan Kolonel Sanders. Dia memulai bisnis ayam goreng di usia 66 tahun. Ternyata bisnis restoran adalah hal yang menarik dan mudah dia pelajari. Kalau ada bidang yang Anda begitu cepat menguasainya, mungkin di situlah bakat Anda. Kepuasan Ciri-ciri kita berada di jalur yang benar adalah kalau kita merasa puas dengan apa yang kita lakukan. Orang-orang yang sukses di berbagai bidang menunjukkan kepuasan terhadap pekerjaan mereka, baik pekerjaan itu menghasilkan banyak uang maupun tidak. Kalau Anda senang melihat orang lain tumbuh karena bimbingan kita, maka Anda berbakat menajdi pembina/pendidik. Kalau Anda puas dengan menciptakan hal baru, yang unik dan beda, mungkin Anda berbakat menjadi kreator. Kalau Anda puas bisa traveling ke berbagai penjuru dunia, mungkin Anda berbakat menjadi explorer, seperti Marco Polo dan Ibnu Batutah. Seringkali yang membuat puas bukanlah sesuatu yang tampak secara fisik. Anda mungkin dosen, yang kadang suka kadang tidak dengan pekerjaan Anda. Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata Anda malas mengajar, tapi selalu tertarik dengan beritaberita riset terbaru. Jadi sebenarnya bakat Anda ada di riset, jadi bisa berada dimana saja, misalnya bergabung dengan grup riset di perusahaan besar. Seingat saya, Bondan Winarno adalah seorang pegawai maskapai penerbangan (atau di sekitar itu) yang melakukan banyak perjalanan ke luar negeri. Namun dia lebih dikenal sebagai kolumnis di majalah, yang menceritakan banyak pengalamannya saat pergi ke berbagai negara. Ternyata hobi dia yang lain adalah makanan (kuliner), bukan sebagai pembuat tapi sebagai penikmat makanan. Sekarang dia mengasuh rubrik kuliner di salah satu stasiun TV. Mungkin dia memang berbakat menjadi seorang explorer. Apa saja yang membuat Anda puas? Apapun kondisi dan pekerjaan Anda sekarang, tidak ada salahnya untuk terus mencari bakat terbaik kita. Kadang memang kita sendiri, entah kenapa, tidak peka dengan panggilan bakat kita. Tugas kita menemukannya, sampai kapanpun itu akan ditemukan. Seperti kata bijak dari timur, ” Setiap diri kita ini mempunyai misi, tugas kita adalah menemukan dan menjalaninya.” Disarikan dari buku Now, Discover Your Strengths karya Marcus Buckingham. Semua kita pasti ingin menjadi guru yang profesional, yang ditambah lagi dengan kreatifitas yang tinggi agar dapat menjadi guru teladan dan plus plus bagi setiap siswa kita.. nah berikut kisah guru yang patut kita contoh berdasarkan kutipan dari siswa yang pengalaman siswa yang bersangkutan. Guru Supel Plus Ramah Pak Ngadmin adalah guru di Sekolahku, sebuah sekolah SD di kota Bandung, sepintas ia sama sekali tidak menarik. Pakaian yang dikenakannya terkesan sederhana alias tak bermerk tapi rapi dan bersih. Sepatunya, kadang disemir kadang tidak. Rambutnya selalu tercukur rapi. Tubuhnya sedikit pendek tapi langsing. Dan wajahnya, ehm…tidak tampan tapi juga nggak jelek. Biasa aja. Jadi wajar kalau pertama ketemu tak ada kesan yang membekas. Jadi pendapat bahwa kesan pertama cukup menentukan, belakangan baru ku tahu ternyata tidak kena untuk sosok Pak Ngadmin. Saat kutahu bahwa wali kelasku di kelas lima adalah Pak Ngadmin, jujur saja aku merasa sedikit kecewa. Wah, orangnya nggak asyik! Pikirku. Tapi, yaa…apa boleh buat. Dengan lesu aku duduki bangku di sudut kelas seraya merebahkan daguku di atas meja. Beberapa temanku terlihat asyik bercanda, yang lain tertawa-tawa senang karena sebagian besar mereka berada dalam kelas yang sama saat kelas empat. Sementara aku, bukannya aku tak kenal mereka, tapi sahabat-sahabatku tidak lagi sekelas denganku. Mereka terpencar di kelas yang lain. “Halo anak-anak, selamat pagi semuanya,” suara yang ringan dan ramah tiba-tiba menyeruak di tengah kebisingan kelas. Sesaat aku tersentak, kuangkat kepalaku lalu kurebahkan lagi. Pak Ngadmin melangkah ke depan kelas dengan tegap dan pasti. Senyum tulus tampak menghias wajahnya. Berdasarkan tulisan di kertas yang ia pegang, Pak Ngadmin mulai memanggil nama murid-muridnya satu persatu dan menanyakan nama panggilan masing-masing. Ketika giliran namaku dipanggil, aku mengangkat tanganku dan hanya mengangkat daguku beberapa sentimeter dari meja. Dahi Pak Ngadmin tampak berkerut memandangiku. “Kamu sakit?” tanyanya ramah. Ia melangkah tenang ke arahku. Tangannya yang bekulit sawo matang meraba dahi dan leherku. “Nggak panas kok. Kenapa, nak, kok lesu? Ayo, coba duduknya tegak dan perlihatkan senyummu,” ajaknya lembut. Kuikuti saran Pak Ngadmin walaupun rasanya sulit mengukir senyum dengan bibir yang kaku. “Nah….gitu dong! Kalau senyum kamu kelihatan lebih cakep, lho.” Pak Ngadmin berkomentar sambil mengusap rambutku. Kulihat beberapa temanku tertawa geli mendengar ucapan Pak Ngadmin. Tanpa kuduga, sikap Pak Ngadmin tadi menghapus sedikit rasa kecewaku. Semangat mulai mewarnai hatiku di tengah gumpalan asap kelabu yang memenuhi perasaanku. Hehe…baru sekarang ada yang bilang aku cakep. Kukejap-kejapkan mataku membuang kantuk. Guru Tegas Plus Berwibawa Hari pertama sekolah itu, aku hanya mencatat jadwal pelajaran dan mendengarkan beberapa peraturan yang diberikan Pak Ngadmin. Rasanya, semua peraturan yang disampaikan cukup klise dengan kelas-kelas sebelumnya. Ah, bosan! Keluhku. Semangatku pagi itu sepertinya hampir terbang. Tapi…belum lagi daguku menyentuh meja, tiba-tiba Pak Ngadmin memanggilku. “Komar…” Suaranya cukup keras tapi tetap tenang. Aku tersentak. Sorot matanya tajam menatapku. Tak ada kemarahan tapi sanggup membuatku ciut. “Pergilah ke toilet dan basuh mukamu, agar kamu lebih segar dan tidak lesu,” perintahnya datar. Tak ada kekesalan atau kemarahan yang tersirat baik dalam suara maupun wajahnya, tapi nada suaranya tampak sungguh-sungguh dan mengandung magnet yang membuatku merasa tak benyali untuk menentangnya. Instingku mengatakan bahwa Pak Ngadmin adalah guru yang tidak bisa dipermainkan murid, seperti guru-guru lainnya. Tanpa berpikir dua kali, aku segera melakukan perintahnya dan cepat-cepat aku kembali ke kelas tanpa pedulikan wajahku yang masih basah. “Sudah? Nah, kelihatan lebih segar sekarang,” pujinya sambil tersenyum. Sekarang aku merasa semakin tertarik mendengarkan penjelasan dari setiap peraturan yang akan beliau terapkan. Rasa lesuku menguap pergi, entah kemana. Setelah kusimak, ternyata ada banyak perbedaan dengan peraturan yang kuterima di kelas-kelas sebelumnya. Aku jadi penasaran… “Anak-anak…,” seru Pak Ngadmin lantang. Semua mata memandang kearahnya tanpa terkecuali. ” Di kelas empat ini, Bapak meminta kalian untuk tidak memegang alat tulis apapun jika Bapak sedang menerangkan. Semuanya harus belajar untuk menyimak dan mendengarkan setiap pelajaran yang Bapak jelaskan di depan. Apa kalian mengerti..?”suaranya begitu keras dan jelas. Sejenak Pak Ngadmin memandang setiap anak yang duduk mematung dengan wajah tegang. “Mengerti…atau tidaaakk…..!” Anak-anak tersentak. Volume suara Pak Ngadmin terdengar lebih keras tapi tak ada nada marah di dalamnya. Dan seperti sebuah paduan suara, semua murid menjawab serempak,” Mengertiiiii……..!” Pak Ngadmin memperlihatkan rangkaian giginya yang rapih dan bersih. Dia tertawa lepas sejenak. “Haha…anak-anak, kalian tidak usah tegang begitu. Jangan takut. Selama ini Bapak masih makan nasi kok, bukan makan orang…” canda Pak Ngadmin dengan ekspresi yang lucu. Wajah-wajah kecil yang ketakutan tadi kini tampak tenang dan kembali ceria. Semua tertawa menimpali gurauan Pak Ngadmin. “Ya…Bapak paling tidak suka kalau sedang menerangkan suatu pelajaran di kelas, lalu ada yang asyik menulis, menggambar atau bermain. Anak seperti itu, seringkali tidak dapat menyimak dengan baik. Tapi, bukan berarti kalian tidak boleh bicara. Kalian boleh bicara…asal berkaitan dengan topik pelajaran yang sedang kita bahas. Bahkan Bapak paling senang jika kalian mau bertanya. Jangan malu! Kalau kalian bertanya, itu artinya kalian menyimak. Jangan takut untuk bertanya kalau ada pelajaran yang belum dimengerti. Paham..?” Semua mengangguk. Kesan pertama mulai sedikit tebentuk di hatiku. Kata-katanya jelas dan tegas. Suaranya lantang. Matanya menatap langsung ke mata murid-muridnya. Tidak tampak ragu. Senyumnya tampak tulus, tidak dipaksakan. Pak Ngadmin bisa menguasai kelas dan mengendalikannya! Sekalipun dikenal sebagai guru yang sabar dan suka bergurau, bukan berarti Pak Ngadmin tidak bisa marah. Beliau bisa marah bahkan berteriak dengan suara sangat keras. Dan biasanya, kalau sudah begitu, tak ada satupun murid yang berani menentang. Tetapi kemarahannya sangat cepat reda, tak sampai berlarut-larut. Diakhir pelajaran, beliau selalu menjelaskan alasan dari kemarahannya, sehingga kami tahu kesalahan yang telah kami lakukan dan berusaha untuk tidak mengulanginya. Satu hal yang kupelajari dari Pak Ngadmin adalah beliau hanya berteriak keras bila ada muridnya yang tidak dapat menguasai emosi dan menangis sambil berteriak-teriak sehingga cukup sulit dikendalikan. Seperti temanku Icang. Icang adalah temanku yang sangat mudah terpancing emosinya. Hal sepele saja bisa membuatnya mengamuk, menangis meraung-raung dengan duduk di lantai, bahkan melemparkan benda apapun yang ada di dekatnya, termasuk kursi di kelas. Aku dan teman-temanku hanya memandangi Icang dari jauh dengan perasaan bingung bercampur takut. Tak lama, kulihat Pak Ngadmin datang tergesa diikuti beberapa temanku yang mengadukan hal Icang. Awalnya, Pak Ngadmin mencoba menegur dan bertanya pada Icang tanpa nada tinggi. Tetapi ketika dilihatnya Icang tak mau mendengar bahkan semakin menjadi dan bermaksud memukul Budi dengan tasnya, tiba-tiba Pak Ngadmin bersuara menggelegar memanggil nama Icang. Tangis Icang langsung berhenti. Matanya menatap terkejut ke arah asal suara. Begitu juga aku dan teman-temanku. Hening. Sepi. Pak Ngadmin menatap tajam dan lekat ke arah Icang. Tangisnya yang tadi keras kini berganti dengan isakan kecil. Kurasa tak ada satupun yang mengira, bahwa Pak Ngadmin bisa marah seperti itu. Perlahan Pak Ngadmin mendekat ke arah Icang, lalu menuntunnya dengan lembut keluar dari kerumunan. Dengan tenang, Pak Ngadmin menyuruh semua murid duduk di tempatnya masing-masing dan memberi tugas untuk dikerjakan. Sementara itu, Pak Ngadmin mengajak Icang keluar dari kelas untuk berbicara dengannya. Kurang lebih satu jam kemudian, Icang bersama Pak Ngadmin masuk kembali ke dalam kelas. Entah apa yang dibicarakan, tapi kini Icang tampak lebih tenang. Semua mata tertuju pada Icang. Kami ingin tahu, apa yang terjadi. Mengapa Icang bisa tenang seperti itu? Seringkali, dengan kebiasaan buruk Icang tadi, tak ada yang bisa membuatnya berhenti menangis meraung-raung, apalagi membuatnya tenang. Bahkan bisa dipastikan, Icang akan menolak untuk masuk kembali ke kelas serta memilih duduk di teras kelas atau meja piket guru sampai bel tanda pulang berbunyi. Tapi yang kali ini, kok aneh….? Pikiran buruk mulai melintas di benakku. Apa yang dilakukan Pak Ngadmin terhadap Icang? Apakah beliau memukulnya, sehingga Icang tidak berani melanjutkan tangisnya? Hii…, seram! Segera aku menulis di bagian belakang buku tulisku dengan tulisan besar-besar: Kesan kedua: jangan bangunkan harimau tidur!….. Saat bel tanda istirahat kedua berbunyi, segera aku melesat mendekati Icang. Icang tertawa melihatku yang hampir terpeleset. “Cang, kamu nggak apa-apa? Tadi kamu diapain sama Pak Ngadmin?” tanyaku tak sabar. Rupanya teman-teman yang lain berpikiran sama denganku. Dalam sekejap saja mereka sudah mengerumuni kami. “Diapain..? Nggak kok, nggak diapa-apain…,” sahut Icang bingung. “Nggak dicubit, dipukul atau…diancam, gitu?” tanya Adi menimpali. Icang menggeleng. Semua saling menatap tak percaya. “Tenang…aku baik-baik aja. Tadi aku cuma ngobrol sama Pak Ngadmin.” Icang menjelaskan dengan tenang seraya mencoba menyeruak keluar dari lingkaran kami. “Haaa……..?” Tanpa sadar, hanya satu suara itu yang keluar dari mulutku dan temanteman. Kulihat Icang mendekati Budi, yang hampir jadi sasaran tasnya. Semua tegang… “Maaf-in aku ya, Bud..,” ujar Icang tenang seraya mengulurkan tangannya menjabat tangan Budi. “Haaa…….?!” Semua makin heran dan bingung. Serempak mata kami terarah kepada Pak Ngadmin, yang sejak tadi berdiri mengawasi di depan kelas. Beliau menatap Icang dengan lembut seraya mengacungkan jempolnya. Aku penasaran, rumus apa yang dipakai Pak Ngadmin untuk merubah perilaku Icang? Selama di kelas lima aku menghitung, perilaku Icang mengamuk terjadi hanya dua kali. Padahal di kelas-kelas sebelumnya, Icang selalu mengamuk hampir tiap bulan. Kini, Icang tidak lagi mengalami masalah dalam bersosialisasi. Hari-harinya diisi dengan ceria dan tawa. Icang yang kulihat sekarang sangat berbeda dengan Icang yang dulu. Segera aku menulis lagi di halaman berikutnya tulisanku yang dulu: Harimau tidur, perlu sekali-kali dibangunkan……:) Guru Kreatif Plus Inovatif Seminggu pertama belajar dalam asuhan Pak Ngadmin, mampu membuatku merasa lebih bersemangat untuk bekajar. Pak Ngadmin selalu berhasil membawa suasana ceria di dalam kelas, apapun pelajarannya. Terkadang, di tengah-tengah pelajaran beliau menyisipkan cerita yang menarik bahkan terkadang lucu, namun sarat dengan pesan moral. Pagi ini, usai upacara rutin hari Senin, Pak Ngadmin masuk sambil membawa gulungan karton berwarna orange. Tak lama kemudian, beliau menempelkannya di dinding dekat mejanya. Semua siswa mengamati. Tak ada gambar apapun pada karton itu, kecuali tulisan besar yang berbunyi: “POJOK HUKUMAN’. Semua murid meringis. Kami tahu sekarang, minggu lalu Pak Ngadmin sudah menjelaskan tentang salah satu peraturan mengenai pojok hukuman. Selesai menempel karton tadi, segera Pak Ngadmin memberi perintah untuk mengeluarkan buku pelajaran yang akan dibahas. Semua terlihat tertib dan tenang merogoh buku di dalam tas masing-masing. Tiba-tiba, tampak Sanip melangkah dengan ragu ke arah Pak Ngadmin. Tangannya yang saling meremas menunjukkan kecemasan. Sanip terlihat menggumankan sesuatu. “Ya. Suaramu kurang keras, nak. Ada apa?” sahut Pak Ngadmin. Semua mata tertuju ke arah Sanip. Sekarang suaranya terdengar lebih keras tapi sedikit bergetar. Pak Ngadmin tersenyum seraya menanyakan alasan Sanip tidak membawa buku pelajaran. “Lain kali jangan ketinggalan, ya,” ujar Pak Ngadmin tenang. Murid-murid tertawa geli ketika melihat Pak Ngadmin menggambar sebuah wajah murung berbentuk lingkaran, dan pada dahinya ditulis SANIP, kemudian membubuhkan sebuah jerawat pada wajah itu. Semakin sering seorang murid ketinggalan buku pelajaran atau lupa mengerjakan tugas, maka semakin banyak pula jerawat pada gambar wajah dengan nama siswa tersebut. Sudah barang tentu, hal ini memberikan efek jera para siswa. Tak seorangpun mau dikenali sebagai pemalas atau pelupa melalui gambar di pojok hukuman. Apa jadinya, bila orang tua mereka mengetahui melalui pojok hukuman itu, bahwa ternyata anaknya banyak melalaikan tugas. Wah, bisa BAHAYA! Hal yang menarik, Pak Ngadmin bukan hanya menyediakan sebuah karton bertulis POJOK HUKUMAN, tapi di bagian dinding yang lain ada sebuah karton yang berisi tulisan nama-nama siswa dengan ruang kosong yang cukup untuk membubuhkan puluhan cap ukuran kecil di dalamnya. Karton itu berjudul “PRESTASIKU”. Setiap siswa yang mendapat nilai 8 - 10 akan mendapat hadiah cap pada ruang kosong yang berisi namanya. Setiap nilai mempunyai bentuk cap yang berbeda. Aku selalu mengincar cap ‘Bintang’ yang menjadi kesukaanku, begitu pula halnya dengan teman-temanku. Karena semakin banyak bintang pada namaku, hal itu menunjukkan prestasi yang kubuat. Betapa bangganya orang tuaku bila melihat cap bintang bertaburan di ruang namaku. Tak berhenti sampai di situ. Setiap bulan, Pak Ngadmin selalu memberikan sertifikat yang dirancangnya sendiri, sebagai penghargaan atas prestasi murid-muridnya dalam setiap masa pelajaran aktif 30 hari. Program sertifikat ini bernama KID’S THIS MONTH. Sedangkan untuk siswa yang menyenangkan dalam bergaul dan suka menolong, akan mendapat sertifikat THE FAVOURITE KID’S. Juga untuk siswa yang menunjukkan peningkatan pesat dalam kemajuan belajarnya meskipun nilainya tidak sepuluh, akan mendapat sertifikat Spesial. Semua siswa berlomba mendapatkan sertifikat ini, apalagi foto mereka akan terpampang di kelas sampai pemberian sertifikat berikutnya. Aku dan semua teman-temanku di kelas tahu bahwa Adam adalah satu-satunya murid di kelas kami yang sangat membenci pelajaran matematika. Bahkan saking bencinya dia pada pelajaran ini, di setiap buku dan dinding di kamarnya, ada tanda tulisannya yang berbunyi; ADAM BENCI MATEMATIKA!! Pak Ngadmin hanya mengangkat alisnya dengan wajah berhias senyum seraya menatap Adam yang tertunduk kaku, ketika beliau tahu kebencian itu. Dipanggilmya Adam mendekat. Kulihat Pak Ngadmin bicara berbisik pada temanku itu, sambil sesekali diiringi anggukkan kepala Adam. Entah apa yang disampaikan guruku, tapi kulihat wajahnya begitu tenang. Tak lama kemuadian, Adam kembali duduk di bangkunya. Dia tidak terlihat sedih tapi justru seperti baru terlepas dari beban yang begitu berat. Aku penasaran. Apa sebenarnya yang dikatakan Pak Ngadmin padanya?. Saat istirahat segera kudekati Adam. “Dam, Pak Ngadmin bilang apa, sih..?” tanyaku penasaran. Kutarik Adam ke sudut kelas. Adam hanya tersenyum menggeleng. Aku desak dia. Akhirnya temanku itu menyerah. “Pak Ngadmin bilang, beliau juga dulu seperti aku, benci matematika. Menurut beliau, tidak apa-apa aku benci matematika. Itu hal biasa.” Aku bingung….lalu katanya lagi, “Dam, Bapak tahu sebenarnya kamu anak yang cerdas. Hasil test IQ-mu menunjukkan itu…Apa kamu mau dikalahkan oleh rangkaian huruf dari M-A-T-E-M-A-T-I-K-A..?” “Terus……terus…?” desakku lagi. Aku semakin penasaran. “Pak Ngadmin bilang, justru kalau aku benci matematika, aku harus bisa menaklukkannya dengan mendapat nilai terbaik. Kalau nilaiku jelek, berarti aku membiarkan diriku dikalahkan oleh si matematika ini tanpa perlawanan.” Aku makin bengong…. Bel tanda usai istirahat menghentikan segala kegiatan di luar kelas, tapi aku masih tidak mengerti maksud kata-kata Pak Ngadmin pada Adam. “Anak-anak, Bapak ingin memperkenalkan kalian pada seorang ahli matematika yang sangat hebat. Beliau memang tidak ada disini. Tapi Bapak akan ceritakan siapa orang yang Bapak maksud. Tokoh ini bernama Ni Ing Han. Dia seorang warga Negara Indonesia. Apa kehebatannya? Ni Ing Han, awalnya adalah seorang pria yang tidak mempunyai kekurangan fisik. Tapi suatu pagi, dia mengalami kebutaan. Dari hasil pemeriksaan, dokter yang memeriksanya mengatakan bahwa dia mengalami kebutaan secara permanen. Tentu saja ini merupakan pukulan yang berat untuk seorang Ni Ing Han. Tapi dia tidak membiarkan dirinya terpuruk terlalu lama. Singkat cerita, dalam kebutaan yang dialaminya itu, Ni Ing Han kini menjadi seorang guru matematika yang sangat handal. Bahkan, menurut kabar burung, dia bisa membuat murid yang semula sangat kurang dalam matematika menjadi murid yang pandai mengerjakan soal matematika. Artinya, inti dari cerita ini adalah apapun tantangan yang kalian hadapi, percayalah Tuhan sudah menyediakan jalan keluarnya. Tinggal kita yang harus mau berusaha dan tidak putus asa.” Aku tertegun. Ingin rasanya aku bertemu tokoh itu. Hari-hari selanjutnya, kulihat Adam selalu menggunakan waktu istirahat pertamanya untuk menanyakan soal matematika pada Pak Ngadmin. Perlahan, dia mulai dapat menjawab dengan tepat setiap soal matematika yang diberikan Pak Ngadmin. Dia juga tidak lagi malu untuk mengangkat jarinya, bila ada pelajaran yang belum ia mengerti. Aku dan teman-temanku terpana tak percaya, ketika kami tahu nilai matematika Adam saat ulangan tengah semester adalah delapan setengah. Secara spontan kami semua berteriak dan bertepuk tangan. Adam tampak tersipu tapi rasa bahagia di wajahnya tak dapat ia sembunyikan. Sementara, Pak Ngadmin juga tak ketinggalan ikut bertepuk tangan sambil mengangguk-angguk dengan senyum khasnya. Kutatap Adam dengan kagum. Yang kutahu, selama ini nilai matematika yang diperolehnya berkisar pada angka lima ke bawah. Adam terlihat begitu senang, ketika di akhir bulan, dia juga mendapat Sertifikat Istimewa, atas upaya dan keberhasilannya meraih nilai baik dalam matematika. Sekarang, dia selalu bersemangat mengerjakan soal-soal matematika. Guru Hati Plus Surat Aku merasa begitu terharu dan terperanjat ketika usai pelajaran terakhir, Pak Ngadmin memanggil murid-muridnya satu persatu serta memberikan sepucuk surat bertuliskan nama masing-masing muridnya. Semua menerimanya dengan penuh antusias, tak terkecuali aku. Tanpa menunggu aba-aba, setiap siswa yang telah mendapatkan surat segera membacanya, meskipun Pak Ngadmin meminta kami untuk membaca di rumah saja. Tapi rasa gembira membuat kami tak sabar untuk segera mengetahui isi surat itu. Ternyata surat itu berisi tulisan tangan Pak Ngadmin, dan bukan ketikkan atau hasil print out. Setiap surat berisi rangkaian kata-kata yang berbeda, disesuaikan dengan karakter setiap siswa. Tiga puluh empat pucuk surat untuk tiga puluh empat siswa dengan tulisan yang rapi dengan kata-kata “tepat sasaran”, yang dibutuhkan siswa sebagai penggugah semangat untuk belajar. Kutatap Pak Ngadmin dengan rasa yang sulit kuungkapkan, namun tekadku terasa begitu besar untuk membuat beliau bangga padaku. Yang lebih menyenangkan, kami menerima surat setiap kali akan menghadapi ulangan tengah semester atau ulangan semester. Isi surat itu begitu menyentuh dan mengena di hatiku. Aku menyadari kelalaian yang sering kulakukan, dan aku berjanji untuk memperbaikinya. Tak ada satupun siswa yang terluput dari perhatian Pak Ngadmin. Ia selalu mengetahui saat kami gelisah, sedih, tak nyaman, tak konsentrasi atau bahkan saat kami mulai merasa sakit. Apapun persoalan yang kami hadapi, baik di kelas maupun di rumah, bila itu mempengaruhi kemajuan belajar kami, beliau tak segan berusaha membantu. Menurut Pak Ngadmin, sorot mata seseorang menggambarkan keadaan orang tersebut pada saat itu. Kutempel surat ‘cinta’ Pak Ngadmin di lemari kulkas. Kalau aku mau belajar, kuambil surat itu dan kuletakkan di atas meja belajarku di tempat yang mudah terbaca olehku. Ajaib! Sepertinya rasa kantuk enggan mendatangiku saat aku sedang belajar, karena aku ingin Pak Ngadmin merasa bangga padaku. Surat itu membuatku merasa bahwa aku adalah salah satu muridnya yang sangat berarti untuk beliau. Itu sebabnya, aku tak ingin mengecewakan guruku yang satu ini. Surat dari Pak Ngadmin tak akan kubuang. Aku akan terus menyimpannya sampai kapanpun. Disaat semangatku merosot, surat itu mampu membangun keinginanku untuk kembali giat. Guru Inspiratif Plus Imaginatif Suatu hari, saat pelajaran Bahasa Indonesia, Pak Ngadmin menyuruhku membacakan sebuah cerita dalam lembar kerja siswa. Pak Ngadmin tersenyum-senyum mendengar aku membaca. Lalu beliau mencoba mengulang membaca cerita tadi sesuai dengan ekspresi yang digambarkan penulis pada isi cerita tersebut. Pak Ngadmin menunjukkan contoh-contoh ekspresi sedih, menangis, atau ekspresi gembira, marah, lesu, dan sebagainya. Intinya, ekspresi-ekspresi itu selalu muncul sesuai dengan isi karakter setiap tokoh dalam cerita. Beliau membuatku menyadari, bahwa ternyata membaca cerita bukanlah hal yang mudah, bila aku harus membacakan cerita itu untuk orang lain. Pak Ngadmin juga mengajarkan kami untuk membaca dengan intonasi yang benar, bukan seperti anak TK, sebagaimana yang selalu kami lakukan selama ini. Untuk itu, agar lebih jelas Pak Ngadmin menugaskan kami untuk mengamati setiap reporter berita di televise, bagaimana sikap dan intonasinya, kemudian kami harus mempraktekkannya di dalam kelas. Ah! Lagi-lagi bukan tugas yang mudah tapi menantang dan menyenangkan. Pada kesempatan lain Pak Ngadmin mengajarkan kami untuk berpidato dengan baik dan benar lalu mempraktekkannya di kelas. Juga beliau mengajarkan kami untuk menjadi MC dalam suatu acara, tentu saja di dalam kelas. Kini Bahasa Indonesia bukan lagi pelajaran yang membosankan, tetapi menjadi salah satu pelajaran yang selalu kami tunggu. Suatu hari dalam pelajaran IPS, Pak Ngadmin memberi kami tantangan baru. Kami harus mengumpulkan materi mengenai masalah-masalah social dan bekerja dalam kelompok belajar IPS. Masalah social yang akan di bahas adalah: Kemiskinan, Pengangguran, Anak Jalanan, Narkoba, dan Korupsi. Khusus untuk masalah yang terakhir ini, adalah permintaan para murid, meskipun awalnya Pak Ngadmin agak keberatan namun akhirnya beliau setuju. Kami mendapat waktu cukup lama sekitar dua minggu untuk mengumpulkan bahan-bahan sesuai dengan masalah social yang menjadi tugas kelompok belajar kami. Kebetulan, kelompok kami mendapat bagian membahas masalah social tentang Narkoba. Sementara mengumpulkan bahan-bahan materi yang diperlukan, di dalam kelas kami belajar untuk menjadi moderator dan penyaji/pemrasaran. Adapun nilai yang akan diberikan mencakup nilai untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, yaitu untuk segi penyampaian makalah dan etika berbicara. Nilai ini untuk perorangan, begitu pula untuk nilai IPS dalam penguasaan materi. Sedangkan nilai kelompok adalah kekompakkan dan ketepatan waktu penyerahan tugas. Lebih seru lagi, di akhir semester menjelang kenaikan kelas, kami mendapat tugas untuk mewawancarai beberapa orang disekitar kami, misalnya: tukang bakso, guru private, dan lain-lain. Terlebih dahulu kami belajar tentang etika dalam wawancara termasuk cara kami bersikap, juga mengenai pertanyaan-pertanyaan yang boleh dan tidak boleh kami ajukan, serta membuat sebuah out line karena hasil wawancara ini harus kami susun dalam sebuah laporan seperti makalah, lengkap dengan lampiran foto-foto hasil wawancara kami. Agar kami lebih memahami pelaksanaan tugas ini, Pak Ngadmin mencoba simulasi bermain peran. Wah, kegiatan bermain peran ini, benar-benar seru dan menyenangkan! Bermain peran ini banyak membantu kami saat harus terjun ke lapangan. Semula aku ragu akan kemampuanku, tapi lagi-lagi Pak Ngadmin mengingatkan: TAK ADA KATA TIDAK BISA SEBELUM KITA BERUSAHA SUNGGUH-SUNGGUH. Ya, kata-kata ini selalu disampaikan Pak Ngadmin berulang kali. Beliau tidak suka bila ada muridnya yang mudah menyerah. Guru Moving in Class Plus Gaul Suatu hari Pak Ngadmin mengamati salah seorang muridnya yang hanya bermain sendiri. Ia tidak penah terlihat berkomunikasi, bercanda atau bermain dengan temanteman di kelasnya. Akhirnya Pak Ngadmin membentuk kelompok belajar yang selalu berganti-ganti kelompoknya sesuai dengan mata pelajaran yang beliau ajarkan. Misalnya, untuk pelajaran Matematika, aku mendapat tempat di kelompok dua, pelajaran IPA di kelompok empat, pelajaran IPS di kelompok satu, pelajaran Bahasa Indonesia di kelompok lima, dan pelajaran PKN di kelompok tiga. Teman kelompokku juga berbeda dalam setiap mata pelajaran itu. Jadi kalau jam pelajaran pertama aku belajar matematika, maka aku berada di kelompok dua. Saat pelajaran berikutnya IPS, maka aku pindah ke kelompok satu. Begitu seterusnya. Aku bertanya kepada Pak Ngadmin, alasan beliau untuk selalu meminta kami berpindah saat pergantian mata pelajaran pokok. Ternyata kegiatan berpindah ini meliputi banyak hal. Pertama, membuat siswa tidak mengantuk dan jenuh. Kedua, meng-olahragakan mata dan leher, kecuali siswa yang berkacamata, semua mendapat pengalaman duduk di barisan belakang. Ketiga, melatih siswa untuk teliti terhadap barang-barang miliknya. Keempat, cara ini sangat menolong siswa penyendiri dalam bergaul dan berkomunikasi, karena ia tidak perlu merasa malu dan terasing. Dalam kelompok belajar ini semua harus saling mendukung secara positif sehingga bila ada siswa yang mendapat nilai buruk, tidak ada ejekan atau sikap menertawakan. Bahkan Pak Ngadmin pernah menjelaskan bahwa sesekali perlu mendapat nilai buruk, agar kita jedi lebih tangguh dan tidak meremehkan siapapun. Dampak lain yang kurasakan dari kegiatan berpindah ini adalah aku jadi lebih lincah, enerjik dan bersemangat, karena harus bersaing memperebutkan posisi tempat duduk yang “strategis”. Terkadang, Pak Ngadmin membuat sebuah game yang jadi salah satu kegiatan kesukaanku. Game ini berupa kuis antar kelompok. Jadi kami harus cepat bergerak untuk masuk dalam kelompok kami, karena jika terlambat maka kami tidak dapat masuk kelompok manapun. Misalnya, aku sedang berada dalam kelompok IPA, usai pertanyaan tentang IPA Pak Ngadmin menyampaikan bahwa berikutnya adalah pertanyaan untuk pelajaran matematika. Maka kami harus cepat bergerak mencari kelompok matematika kami. Bila setelah hitungan ketiga ada yang belum masuk kelompoknya, maka ia harus masuk area eliminasi sementara, dan setelah berganti kelompok, anak yang tereliminasi nasi kembali bergabung. Game ini sangat menyenangkan. Dalam sebuah game pelajaran Bahasa Indonesia misalnya, salah satu kegiatannya adalah menulis sebuah surat. Setiap anak dalam satu kelompok diminta membuat surat estafet. Artinya, tiap anak menuliskan satu kalimat yang kemudian dilanjutkan oleh teman dibelakangnya. Hasilnya sangat bervariasi. Kelompok yang satu isi suratnya tidak saling berkaitan, sementara surat yang lain berisi tulisan yang tidak dapat dimengerti karena tulisan yang tidak dapat dibaca, dan sebagainya. Tentu saja kelompok yang mendapat score tertinggi adalah kelompok yang isi suratnya saling berkaitan dan rapih. Tapi inti dari permainan ini bukanlah pada isi surat yang dihasilkan oleh kelompok, melainkan kekompakkan dan kesediaan untuk saling mendukung dan memaafkan. Pernah aku memberanikan diri bertanya kepada Pak Ngadmin,” Mengapa game semacam ini diterapkan Pak, bukankah kelas jadi gaduh..?” Seperti biasa, Pak Ngadmin tersenyum dan dengan tenang balik bertanya,” Kamu suka…? Nah…mana yang kamu suka, kelas yang hidup, bersemangat tapi gaduh atau kelas yang mati, membosankan tapi sepi..?” Tidak diragukan lagi, aku pasti memilih yang pertama! Ternyata ide Pak Ngadmin tidak sia-sia. Temanku, Icang, yang semula penyendiri dan pemurung kini lebih ceria dan punya banyak teman. Dan aku, yang semula sangat takut untuk bertanya termasuk beberapa temanku, sekarang tidak lagi ragu atau takut untuk menanyakan pelajaran yang belum kami mengerti. Memang Pak Ngadmin sangat senang bila ada muridnya yang bertanya. Juga untuk pelajaran matematika, beliau tidak pernah keberatan untuk menjelaskan berulang-ulang bila ada muridnya yang belum mengerti, sekalipun itu hanya satu orang. Biasanya beliau akan menjelaskan lagi secara perorangan saat jam istirahat, seperti yang selalu dilakukannya pada Adam, temanku itu. Guru Etika Plus Moral Sekalipun dikenal sebagai guru yang dekat dengan murid-muridnya, Pak Ngadmin sangat perhatian terhadap sikap atau perilaku murid-muridnya yang tidak sesuai dengan tata cara bersopan santun. Pak Ngadmin selalu menegur bila ada muridnya yang berdoa sambil tangannya mempermainkan alat tulis atau apapun. “Apapun agama kalian, berdoalah dengan sikap yang sopan dan baik, jangan sambil mengganggu teman, bermain pensil, atau tindakan lain yang tidak perlu. Mengapa? Karena saat kalian berdoa, artinya kalian sedang berkomunikasi dengan Tuhan Sang Pencipta.” Kulirik Malik yang tertunduk ketika Pak Ngadmin menatap ke arahnya. Sebelum kami mulai belajar, kami bertadarus terlebih dahulu. Pak Ngadmin yang semula berdiri mengawasi di depan kelas, berjalan mendekati Malik dan meletakkan tangannya pada punggung Malik. Malik yang sejak tadi mengganggu Susi dengan pensilnyapun terpaksa menghentikan tingkahnya lalu ikut bertadarus. “Kalau kalian berbicara dengan orang lain yang lebih tua saja kalian harus selalu menjaga sopan santun, apalagi saat kalian berbicara dengan Allah. Mengerti?” tanya Pak Ngadmin lagi. Kembali pandangannya tertuju kepada Malik. Malik mengangguk. “Anak-anak, apa perlunya bersikap sopan ?” “Biar nggak dimarahi orang lain,” sahut seorang temanku. Pak Ngadmin tertawa. “Ya, biar tidak dimarahi orang lain. Ada lagi yang berpendapat lain?” Setelah menunggu sejenak, Pak Ngadmin melanjutkan, “Anak-anakku, kalau kalian bersikap tidak sopan, siapa yang harus menanggung malu?” “Diri sendiri,” ujarku mantap. “Ya, pasti dirimu sendiri, kalau kamu merasa…, tapi ada orang lain yang harus menanggung malu karena tindakan kalian. Siapa….?” Tak ada jawaban. ” Orang tuamu! Kalau kalian melakukan tindakan yang tidak sopan, maka orang akan bertanya, siapa sih orang tuanya…kok anaknya tidak sopan? Nah itu artinya secara tidak langsung kalian mempermalukan orang tua kalian. Paham?” Semua mengangguk. “Jadi anak-anak, sekalipun teknologi semakin maju, sopan santun tetap harus dijaga, jangan diabaikan. Berbicaralah dengan tutur yang sopan dan kata-kata yang benar. Jaga sikapmu agar tetap rendah hati. Misalnya, kamu berniat membantu seseorang. Tapi orang yang akan kamu bantu justru marah dan menolak uluran tanganmu, mengapa? Mungkin kita berbicara dengan kata-kata yang merendahkan orang itu, atau kita menunjukkan sikap yang sombong saat menawarkan bantuan, sehingga orang itu menjadi tersinggung dan menolak tawaran bantuan kita, sekalipun kita ingin menolongnya dengan tulus.” Hampir setiap hari, Pak Ngadmin selalu menyelipkan tata cara bersopan santun, mulai dari cara kita makan yang baik, berbicara dengan yang lebih tua, cara bertamu, dan sebagainya. Hal lain, setiap kami selesai berdoa usai pelajaran, sebelum pulang beliau selalu mengulang pesan yang sama: jangan berani melawan orang tua, jangan sakiti orang lain kalau kamu tidak mau disakiti tetapi perlakukan orang lain dengan baik sebagaimana kamu ingin diperlakukan, jangan bilang tidak bisa sebelum kamu berusaha dengan sungguh-sungguh. Pada awalnya, aku tak mengerti pesan Pak Ngadmin yang selalu mengatakan “jangan sakiti orang lain kalau kamu tidak mau disakiti, tetapi perlakukanlah orang lain dengan baik sebagaimana kamu ingin diperlakukan”, sampai suatu saat setelah usai jam istirahat pertama, kulihat Asni, temanku menangis di bangkunya. Tubuhnya yang gemuk tampak berguncang mengikuti isakan tangisnya. “Ada apa, As..?” tanya Pak Ngadmin tenang seraya memasuki ruang kelas. Langkahnya berhenti di bangku tempat duduk Asni. Anak-anak perempuan saling berebut untuk mengadukan keadaan yang telah terjadi. Pak Ngadmin menggeleng dan memberi tanda agar semua duduk. Tanpa diperintah dua kali, semua langsung menuju kursinya masing-masing dan duduk tenang. Tetapi beberapa anak perempuan terlihat tidak sabar, kembali beradu suara agar didengar. “Bisakah kalian diam…?!” hardik Pak Ngadmin lebih keras. Sekarang tak ada satupun yang berani bersuara, kecuali Asni. Isakan tangisnya belum berhenti. “Bapak ingin satu orang saja yang menceritakan apa yang terjadi… Rina?” pandangan mata guruku tertuju pada temanku yang duduk di sebelah Asni. Rina tampak terkejut. Dengan suara pelan Rina mengatakan bahwa ia sedang berada di luar kelas saat itu. Tiba-tiba, Ferdi mengangkat tangannya. ” Maaf, Pak. Boleh saya jelaskan?” Pak Ngadmin mengangguk. Dengan lancar Ferdi menceritakan, bahwa tadi Malik mengejek Asni dengan sebutan Karung, karena tubuhnya yang gemuk. “Benar itu, Malik…?” tanya Pak Ngadmin yang menatap tajam kearah Malik. Malik tampak gugup dan mengangguk cemas. “Mengapa?” “Karena tadi Asni memukul punggung saya, Pak. Keras sekali,” sahut Malik parau. “Mengapa kamu memukul Malik, As….?” tanya Pak Ngadmin. “Tadi dia menginjak kaki saya, Pak…,” sahut Asni sedikit terbata. Isaknya kini mulai reda. “Saya tidak sengaja, Pak!” Malik berusaha membela diri. Pak Ngadmin menganggukanggukkan kepalanya. Nampaknya beliau mulai mengerti duduk permasalahannya. “Baik, anak-anakku. Setiap hari menjelang pulang, Bapak selalu berpesan Jangan sakiti orang lain kalau kamu tidak mau disakiti, perlakukanlah orang lain dengan baik sebagaimana kamu ingin diperlakukan. Masih ingat?” Semua mengangguk. “Apa artinya?” Sorot mata Pak Ngadmin berkeliling memandang kami satu persatu. “Malik, maukah kamu dipukul temanmu?” Malik menggeleng. “Manakah yang kamu pilih Asni, dipukul atau diejek?” Tanya Pak Ngadmin lagi. “Tidak mau dua-duanya, Pak.” “Kalau begitu, apa yang kamu mau? Dipukul atau disayang?” Beberapa temanku menahan senyum mendengar ucapan Pak Ngadmin. “Disayang…” “Nah, kalau kalian tidak ingin dipukul ya jangan memukul, kalau kalian tidak ingin diejek ya jangan mengejek, kalau kalian tidak suka disakiti…ya jangan menyakiti. Jadi kalau kalian ingin disayang, ya sayangilah orang lain, kalau ingin orang lain berbuat baik pada kalian ya kalianpun harus berbuat baik dulu pada orang lain. Itu arti pesan yang selalu Bapak sampaikan…! Mengerti?” Semua mengangguk tanda mengerti. “Jadi kepada siapa kalian harus berbuat baik?” “Teman,” celetuk Icang. Pak Ngadmin tersenyum mendengar jawaban spontan itu. “Ya, pada semua teman kita harus berbuat baik. Tapi bukan hanya teman saja, melainkan pada siapa saja, misalnya orang tua, adik, kakak, pembantu, supir,…ya pokoknya dengan siapa saja. Mengerti…?” Temanku saling berpandangan. Masak sih pembantu? Bisik temanku pelan. Aku hanya mengangkat bahu. “Komar,” panggil Pak Ngadmin tiba-tiba. Aku mendekat, dan Pak Ngadmin membisikkan perintah agar aku mengambil kain pel yang dibasahi, di dapur sekolah. “Coba Komar, kamu berdiri di dekat pintu. Lalu beberapa anak Bapak minta keluar dulu dari kelas….Nah, sekarang, Komar, coba kamu pel lantai di dekat pintu.” Aku melakukan perintah Pak Ngadmin dengan tanda tanya penuh di benakku. Saat aku sedang mengepel, Pak Ngadmin memanggil dua orang temanku untuk masuk. Gerakanku terhenti sementara temanku lewat. Lantai basah yang diinjak sepatu temanku kini kotor lagi. Sekali lagi aku bersihkan lantai itu. Kembali Pak Ngadmin memanggil seorang temanku. Aku berhenti. Lantai itu kotor lagi. Kubersihkan lagi….terus begitu berulang-ulang. Akhirnya emosiku memuncak. Dengan rasa marah dan kesal, aku melempar kain pel itu ke lantai, lalu berjongkok menutupi wajahku. Pak Ngadmin berjalan mendekat ke arahku. Diraihnya bahuku lalu dituntunnya aku ke tempat dudukku. “Bagaimana perasaanmu, Komar?” suaranya tenang. Dadaku terasa sesak. Kutatap guruku dengan kesal. “Marah! Terhina! Saya kan capek, Pak…,” keluhku penuh emosi. Pak Ngadmin tersenyum mengangguk. “Anak-anak, pernahkah kalian lakukan perbuatan tadi?” Aku tersentak. Pertanyaan Pak Ngadmin mengubah rasa marah dan kesalku tadi menjadi malu. Kulihat beberapa temanku menunduk. “Anak-anak, perlakukanlah orang lain dengan baik sebagaimana kamu ingin diperlakukan.” Pesan itu terasa meresap begitu dalam di hatiku. Tidak lagi hanya lewat di telingaku, karena kini aku mengerti makna yang begitu dalam dari pesan itu. Guru Kaset Plus Solusi Aku tahu ini terdengar sedikit aneh, tapi begitulah adanya. Seperti kemarin ketika kami sedang tenang belajar di kelas, tiba-tiba Pak Ngadmin memanggil nama temanku. “Alvin, mana kacamatamu. Mengapa kamu tidak memakai kacamatamu..?” tanya Pak Ngadmin tenang. ” Ada, Pak. Tapi tadi rusak, karena bautnya lepas.” Alvin merogoh kacamatanya dari tas. “Boleh Bapak lihat? Pasti sulit buatmu untuk membaca tanpa kacamata….,” Alvin mengangguk. Dia berjalan ke arah Pak Ngadmin lalu menyerahkan kacamata miliknya. “Kenapa kamu diam saja?” Sejenak Pak Ngadmin mengamati kacamata itu lalu menyuruh Alvin untuk kembali duduk. Tak lama kemudian Pak Ngadmin beranjak keluar dengan membawa kacamata Alvin. Setelah beberapa saat, guruku datang mendekati Alvin dan menyerahkan kacamata yang sudah diperbaikinya. “Coba kamu pakai,” suara Pak Ngadmin nyaris tak terdengar. Alvin segera memakai kacamatanya. “Bagaimana…enak tidak dipakainya?” tanya Pak Ngadmin lembut. Alvin menoleh ke kanan dan kiri beberapa kali. “Enak Pak. Terima kasih, Pak,” ujar Alvin senang. Pak Ngadmin mengangguk dan menepuk punggungnya. Sejenak semua mata tertuju pada Alvin, lalu kembali menyelesaikan soal-soal latihan yang sedang dikerjakan. Untuk kelasku yang walinya Pak Ngadmin, tindakan yang dilakukan Pak Ngadmin tadi bukanlah sesuatu yang baru. Banyak hal selain mengajar beliau lakukan, mulai dari memperbaiki retsluiting tas sekolah, mengakali sepatu temanku yang rusak agar bisa tetap dipakai selama belajar satu hari itu, termasuk mencabut gigi muridnya yang sudah sangat goyang tapi temanku begitu ketakutan untuk ke dokter. Entah bagaimana caranya, Pak Ngadmin juga selalu bisa memberikan rasa nyaman pada muridnya yang sedang galau atau ketakutan. Pak Ngadmin juga dapat membaca keadaan muridnya yang mengalami stress karena suatu hal. Karenanya, menjadi kebiasaanku dan teman-temanku untuk selalu bercerita kepadanya tentang berbagai hal yang kami alami. Kini aku tidak lagi heran bila kulihat kakak-kakak kelas yang ingin bertemu Pak Ngadmin untuk sekedar bercerita. Pak Ngadmin adalah guru yang sangat menyukai musik. Musik apapun beliau suka terutama musik jazz. Bahkan saat di kelaspun, kegemarannya akan musik tidak ditinggalkan. Bila kami ulangan, mengerjakan soal-soal latihan atau mengarang yang menjadi tugas pelajaran Bahasa Indonesia, Pak Ngadmin selalu membawa kaset dan memperdengarkan alunan musik-musik instrumental yang lembut di dalam kelas. Tapi untuk mendidik temanku Ferdi, Pak Ngadmin punya cara lain lagi. Karakter Ferdi hampir seperti Icang. Temanku yang satu ini jauh lebih sulit dalam bersosialisasi. Temannya sehari-hari hanyalah buku dan ilmu pengetahuan. Sulit baginya untuk berinteraksi dengan siapapun, dia begitu mudah marah. Tak pernah ada senyum di bibirnya. Untuk teman-temanku, Ferdi adalah anak yang aneh, karena dia lebih suka mengamati semut yang berjalan beriringan, pipa-pipa air yang saling bersambungan, kabel-kabel listrik yang rumit, atau antenna-antena televisi. Hampir semua orang menganggapnya aneh. Hanya Pak Ngadmin yang tidak. Pak Ngadmin sering mengajaknya berbicara berdua. Hanya pada saat seperti inilah aku bisa melihat Ferdi sesekali tersenyum. “Fer, kamu bisa main catur?” tanya Pak Ngadmin tiba-tiba di tengah pelajaran kami, suatu hari. “Nggak, Pak. Nggak penting,” sahut Ferdi lugas. Hanya sekilas ia menatap Pak Ngadmin untuk kemudian terpaku lagi pada buku dihadapannya. “O ya..? Kata siapa nggak penting. Bagaimana kalau kamu buktikan kata-katamu….. berani?” tantang Pak Ngadmin dengan wajah yang ramah. Sejenak Ferdi menatap Pak Ngadmin, lalu mengangguk dan meneruskan lagi membaca buku di tangannya. Mendadak murid yang lain saling berebut agar diijinkan membawa juga papan catur dan ikut bermain. Kelas jadi begitu gaduh. Akhirnya Pak Ngadmin mengijinkan dengan satu syarat hanya bermain catur saat istirahat atau setelah tugas yang diberikan selesai dikerjakan. Keesokkan harinya, banyak teman-temanku yang membawa papan catur. Kebanyakan anak laki-laki, begitu juga Ferdi. Tapi Ferdi tak mengijinkan siapapun menyentuh papan catur miliknya. Ferdi adalah anak yang sangat pandai. Tugas apapun yang diberikan selalu dikerjakanya dalam waktu yang sangat cepat dengan hasil yang sangat memuaskan. Seperti hari ini, soal-soal matematika yang diberikan Pak Ngadmin cukup sulit dengan jumlah dua puluh soal. Tapi bagi Ferdi, soal-soal itu dapat diselesaikannya hanya dalam waktu kurang dari setengah jam Pak Ngadmin memanggil Ferdi untuk membawa papan caturnya ke tempat beliau duduk. “Boleh Bapak pegang papan catur milikmu?” Pak Ngadmin bertanya dengan hati-hati. Sementara papan catur itu masih dalam pelukan temanku yang aneh. Ragu-ragu Ferdi mengangguk. “Tapi hati-hati, ya Pak. Nanti rusak…,” ujarnya lirih. Pak Ngadmin tersenyum lalu mengangguk. “Kamu tahu nama-nama dari biji catur ini?” “Punya nama…?” Ferdi balik bertanya dengan wajah bingung. “Yap. Mau kenalan? Nah, perkenalkan…ini pion, tempatnya di sini.” Pak Ngadmin mengambil sebuah pion lalu meletakkan di tempat semestinya. “Kamu lihat, biji catur ini ada dua warna. Ada kubu warna putih dan kubu warna hitam. Kedua kubu ini akan selalu berperang untuk menjadi pemenang. Jumlah anggota tiap kubu sama, masing-masing namanya juga sama, yang membedakan adalah warnanya. Biasanya yang mendapat kesempatan untuk bergerak lebih dulu adalah putih. Nah, sekarang kita lihat tiap biji catur ini ya. Tadi kamu sudah berkenalan dengan satu pion putih. Masih ada pion-pion……,” Pak Ngadmin menjelaskan secara detil mulai dari biji catur, jumlahnya, tempat masing-masing biji catur, dan langkah setiap biji catur itu. Untunglah aku duduk di barisan terdepan dekat meja guruku, sehingga aku bisa mendengarkan juga penjelasan Pak Ngadmin. Ferdi tampak begitu sungguh-sungguh memperhatikan setiap penjelasan yang diberikan Pak Ngadmin. Ia terlihat begitu antusias. Tak sulit baginya untuk mengingat setiap penjelasan yang diberikan Pak Ngadmin. Aku memandang temanku yang jenius ini dengan takjub. Tanpa menunggu lama, Ferdi sudah mulai terlibat permainan catur bersama Pak Ngadmin. Melihat hal itu, murid yang lain makin bersemangat untuk menyelesaikan soal-soal matematika tadi, begitu juga aku. Alhasil, hanya dalam waktu satu jam pelajaran, banyak yang sudah selesai dengan tugasnya. Aku melihat sekeliling, masih ada bebeapa temanku terutama yang tidak suka permainan catur, masih berkutat dengan soal-soal tadi, tetapi yang lain tampak mulai menggelar caturnya.Seru sekali! Sejak itu, kelas kami mempunyai ‘pelajaran tambahan’ di waktu luang, yaitu CATUR! Aku masih belum mengerti, mengapa Pak Ngadmin memberi ide agar Ferdi belajar catur. Sampai keesokkan harinya, Ferdi yang begitu antusias bermain catur mengeluh dan mengadu kepada Pak Ngadmin bahwa tak satupun dari kami teman sekelasnya yang bersedia bermain catur dengannya. Wajahnya tampak sangat gusar. Siapapun yang mendekat, hendak ia pukul dengan kayu di tangannya. Jam istirahat jadi saat yang sangat menegangkan. Suasana mulai reda ketika Pak Ngadmin datang. Kami semua bersembunyi di balik punggung beliau. “Perlukah kayu itu, nak…?” tanya Pak Ngadmin lembut dan tegas. Sesaat Ferdi memandang kayu di tangannya, kemudian ia buang ke lantai dengan lesu. Pak Ngadmin mengajak temanku yang tertunduk sedih itu duduk di salah satu bangku sementara beliau menarik sebuah bangku lain dan duduk di depannya. Dengan sabar beliau mendengarkan semua curahan kekesalan Ferdi. “Kamu tahu mengapa Bapak suruh kamu belajar catur?” Pak Ngadmin bertanya sambil menatap Ferdi dalam-dalam. Temanku itu menggeleng. Kami semua menatap beliau penuh rasa ingin tahu. “Untuk bermain catur, kamu harus punya sparing. Memang kamu bisa bermain sendiri dan memegang dua kubu itu, tapi itu hanya untuk latihan. Permainan catur yang sebenarnya adalah bila kamu punya lawan. Semakin pandai lawanmu, maka permainan caturmupun semakin terasah. Artinya, kamu perlu orang lain. Masalahnya sekarang, tidak ada temanmu yang bersedia menjadi lawanmu. Benar?” Ferdi mengangguk mengiyakan. “Mengapa?” “Seharusnya Bapak tanya mereka, bukan saya!” sahut Ferdi marah seraya menuding kami semua. “Sudahkah kamu bertanya dulu pada dirimu sendiri?” Ferdi terperangah mendengar ucapan Pak Ngadmin, dan segera membuang pandangannya ke papan tulis. Napasnya mulai sedikit tersengal, tanda bahwa emosinya meninggi. “Ferdi….Bapak pasti akan bertanya juga pada temanmu nanti, dan supaya adil Bapak juga harus bertanya padamu. Bagaimana?” ujar Pak Ngadmin dengan sabar. Beberapa saat Ferdi terdiam. Berangsur-angsur napasnya mulai teratur. “Mereka semua selalu menertawakan saya kalau saya bercerita tentang apa saja. Sepertinya saya ini orang yang aneh. Saya jadi malas berteman dengan mereka. Lebih baik say a membaca buku.” Nada suaranya terdengar sedih dan Pak Ngadmin menatapnya dengan iba. Pak Ngadmin memeluk bahu Ferdi yang tertunduk lesu. “Anak-anak, tidak ada orang yang suka ditertawakan, diasingkan, dan dianggap aneh. Kalau kalian hendak berbuat seperti itu pada orang lain, cobalah bertanya dulu pada dirimu sendiri, bagaimana jika kamu yang diperlakukan begitu. Kalau kalian tidak mau ditertawakan, diasingkan atau dianggap aneh, ya jangan menempatkan orang lain pada posisi itu.” Ujar Pak Ngadmin menjelaskan. Semua terdiam. Kemudian pandangan guruku itu beralih pada Ferdi yang bediri di sampingnya. “Kamu tahu mengapa biji catur itu terdiri dari pion, raja, mentri, kuda, gajah, dan benteng? Kalau kamu bermain catur dengan pion saja, atau kuda saja…atau raja saja sendiri..menurutmu, bisakah kamu menang?” Ferdi menggeleng. “Nah, catur ini mengingatkan bahwa kita tidak bisa hidup sendiri. Kita juga perlu orang lain untuk bisa berkembang menjadi lebih baik. Mengapa? Karena dari pandangan, kritik atau saran orang lain terhadap kita, juga dari contoh-contoh kehidupan sehari-hari yang kita lihat, kita akan mengerti dan belajar untuk lebih baik. Kecerdasanmu tidak ada artinya kalau kamu mengisolir diri dan tidak peduli akan sekitarmu. Terimalah setiap kritik dan saran dengan lapang dada bukan dengan prasangka. Cobalah…dan kamu akan merasakan perbedaannya.” Pak Ngadmin mengakhiri nasihatnya sambil tersenyum. Ferdi menatap Pak Ngadmin penuh rasa haru. Ia mengangguk sambil berucap lirih,” terima kasih, Pak.” Atas nasihat guruku tadi, sejak saat itu tidak ada lagi diantara kami yang keberatan bermain catur dengan Ferdi. Dan berangsur-angsur, kulihat kini menjadi pribadi yang sangat berbeda. Dia lebih terbuka, senang tertawa dan bercanda, serta tidak lagi mudah tersinggung. Guru Motivator Plus Optimis Suatu hari, sebagaimana biasa Pak Ngadmin memasang alat infokus pada laptop yang dibawanya. Wah, ada film lagi, nih! pikirku. Tapi hari itu tidak ada pelajaran IPA atau IPS. Yang ada hari ini adalah pelajaran matematika dan bahasa Indonesia serta pelajaran dari guru bidang studi. Semua murid duduk tenang sambil bertanya-tanya, kejutan apa lagi yang akan diberikan guru kami. Selesai memasang alat-alat itu, sejenak Pak Ngadmin menatap kami satu persatu. Hal itu biasa beliau lakukan bila hendak mengawali pelajaran. Menurut beliau, ia ingin memastikan bahwa murid-muridnya siap mengikuti pelajaran dengan baik, tidak ada yang lesu atau mengantuk. “Nah, anak-anak, Bapak tahu sekarang ini seharusnya kita belajar matematika tiga jam. Tapi Bapak lihat kalian sudah cukup menguasai materinya, jadi dengan persetujuan kalian Bapak mau menggunakan waktu dua jam untuk film yang sudah Bapak siapkan ini. Untuk apa? Nanti kalian akan tahu maksud Bapak setelah kalian menyaksikan film ini. Bagaimana? tanya Pak Ngadmin seraya menatap keliling. “Setuju Pak…!” semua menjawab serempak. “Tiga jam juga nggak apa-apa, Pak,” celetuk Udin. Pak Ngadmin tersenyum menanggapi celoteh Udin. “Baik. Bapak akan putar film ini, coba kalian simak baik-baik. Nanti Bapak akan menanyakan tanggapan kalian setelah menyaksikannya.” Penuh rasa ingin tahu, semua menyaksikan film itu dengan tenang. Film itu berisi tentang seorang anak laki-laki di Amerika, yang mengalami Cerebral Parsy atau kelainan pada otak, sehingga ia tidak dapat bertumbuh secara normal. Ia tidak dapat berdiri sehingga harus selalu duduk di kursi roda. Begitupun kedua tangannya tak dapat ia gunakan sebagaimana mestinya, sehingga untuk membersihkan air liurnya yang selalu menetespun cukup sulit baginya. Untuk berkomunikasi, ia menggunakan computer yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat digunakannya dengan mudah. Film kedua yang disajikan Pak Ngadmin, adalah film seorang gadis bernama Hee Ah Lee, gadis dengan tinggi tidak lebih dari 103 cm, tidak memiliki jari dan juga tidak memiliki kaki. Jari yang ia miliki di kanan dan kiri hanyalah dua buah. Tapi gadis ini sangat mahir bermain piano dengan jenis-jenis lagu yang cukup sulit karena memerlukan ketrampilan jari. Durasi film ini kurang lebih sama dengan film pertama, sekitar sepuluh menit. Selesai memutar film, kembali Pak Ngadmin mengamati kami satu persatu. “Bagaimana tanggapan kalian?” Hampir semua menjawab sama yaitu kasihan. Ada juga yang menjawab tidak tega. “Ya…, ada punya tanggapan lain?” tanya Pak Ngadmin. Semua diam. “Mengapa harus kasihan?” Semua terperangah dan merasa heran atas ucapan beliau. “Apakah dalam film tadi kalian melihat wajah yang minta dikasihani? Tidak, bukan…? Bagaimana wajah dua tokoh dalam film tadi?” Semua masih diam, tidak mengerti. Pak Ngadmin tersenyum. “Anak-anak, wajah kedua tokoh dalam film tadi memperlihatkan wajah yang begitu penuh semangat, penuh rasa percaya diri dan tidak pernah murung juga tidak mengeluh. Betul….?” Semua mengangguk. Ya, yang diceritakan dalam film tadi bukanlah tentang kesedihan. “Nah, mengapa kita tidak perlu kasihan?” Tak satupun menjawab. “Baik. Untuk menjelaskan mengapa kita tidak perlu mengasihani orang dengan keadaan fisik seperti tokoh tadi, Bapak akan ceritakan lagi tentang seorang pemuda Jepang yang hebat, bernama Hirotada Ototake.” Pak Ngadmin selalu berhasil membuat semua murid terpikat bila bercerita. Sama seperti saat ini, ketika beliau menceritakan kisah kehidupan pemuda Jepang tadi. Tak ada satupun suara nakal yang terlontar atau tingkah-tingkah kecil yang mengganggu. Inti ceritanya, Oto, demikian nama panggilan pemuda Jepang itu, adalah seorang pria yang terlahir tanpa kedua lengan dan dua kaki. Tangan dan kaki yang dimilikinya, tak lebih dari segumpal daging seukuran kentang besar. Tapi luar biasanya, Oto dapat mengerjakan kegiatan apapun sebagaimana yang biasa dilakukan orang-orang yang tidak mengalami cacat fisik. Oto dapat bermain basket, memanjat tali, berenang, lomba lari bahkan berkelahi. Oto bersekolah di sekolah biasa, bukan sekolah khusus anak cacat, tapi tidak ada satupun kegiatan di sekolah itu yang ‘dikecualikan’ bagi Oto. Ia tetap mengikuti seluruh kegiatan belajar juga ekstrakurikuler yang ada. Seorang gurunya, tetap mendidik Oto dengan keras dan disiplin sama seperti terhadap murid yang lain. Tapi justru sikap inilah yang kemudian sangat membantu Oto menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri dan selalu optimis. “Anak-anakku…masih ingat seorang ahli matematika bernama Ni Ing Han? Ada kesamaan yang bisa kita lihat dengan ketiga tokoh tadi. Apa…ada yang bisa ..?” tanya Pak Ngadmin. “Cacat fisik,” sahutku ragu. Pak Ngadmin tersenyum. “Ya, mereka memang mengalami cacat fisik. Tapi bukan itu yang Bapak maksud. Ada yang bisa…?” “Kesamaan yang bisa kita lihat dari keempat tokoh tadi, pertama mereka mendapat kasih sayang dan perhatian yang tulus dari orang yang terdekat. Ini penting. Itu sebabnya Bapak selalu berpesan perlakukan orang lain dengan baik sebagaimana kamu ingin diperlakukan. Kedua, mereka tidak diperlakukan secara istimewa dan tidak dimanja sekalipun mereka tidak sempurna fisiknya. Bukannya tidak ada rasa kasihan. Rasa kasihan pasti ada, tapi cukup disimpan dalam hati. Mengapa? Karena rasa kasihan itu justru akan menghambat keempat tokoh tadi untuk maju. Bayangkan, bagaimana kalau selalu dikasihani? Rasa kasihan akan membuat mereka selalu mendapat perkecualian, boleh tidak mengerjakan tugas, selalu mendapat tugas yang ringan, harus selalu dilayani, bahkan mungkin hanya boleh bermain di dalam rumah, dan masih banyak contoh rasa kasihan yang lain. Akibatnya apa? Mereka akan menjadi pribadi yang selalu bergantung pada orang lain, egois, malas, tidak tangguh, kurang percaya diri dan …selalu bermasalah dalam bersosialisasi dengan orang lain…” Aku termangu merenungkan setiap kata yang disampaikan guruku. “Itu sebabnya Bapak berpendapat, kita tidak perlu menunjukkan rasa kasihan. Simpan rasa kasihan itu dalam hati, dan tunjukkan dukungan serta perhatian yang tulus agar orang-orang yang tidak sempurna fisiknya itu tidak merasa lemah tetapi merasa bahwa dia sangat berarti bagi sekelilingnya dan dapat memberi yang terbaik bagi siapapun. Dukungan dan sikap yang baik akan menumbuhkan rasa percaya diri serta rasa optimis yang tinggi pada orang yang menerimanya.” Aku terpekur. Kata-kata Pak Ngadmin begitu sederhana tapi sangat dalam artinya. Aku berharap Pak Ngadmin akan memutar lagi film-film lain yang sejenis. Sekarang aku tidak lagi merasa malas berangkat sekolah karena setiap hari selalu ada hal baru yang menyenangkan terjadi, atau kalaupun tak ada peristiwa baru, cerita-cerita berisi nasehat selalu disampaikan Pak Ngadmin dengan menarik. Itulah Pak Ngadmin, guru yang selalu membuatku ingin belajar dan melakukan yang terbaik. Sekarang, setiap kali aku mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugasku, aku tidak lagi menangis atau menyerah. Empat tokoh yang diceritakan Pak Ngadmin menyadarkanku, kalau mereka yang mengalami kekurangsempurnaan fisik saja bisa dan berani menghadapi tantangan, masakan aku yang diberi anugerah fisik sempurna ini mudah menyerah dan takut menghadapi tantangan. Di samping itu, pesan Pak Ngadmin agar tidak berkata tidak bisa belum berusaha, membuatku terpacu untuk berusaha dan terus berusaha tanpa mudah menyerah.
Fly UP